Entah sudah berapa lama, Rizky memeluk tubuh mungil Krystal dengan erat. Laki-laki itu memejamkan kedua matanya dan menikmati kekuatan yang kembali hadir didalam tubuhnya hanya karena memeluk tubuh gadis itu. Semua rasa lelah, sakit dan lain sebagainya, akibat perkelahiannya dengan ketiga preman tadi seolah hilang tak berbekas. Apakah... ini semua karena pengaruh Krystal pada dirinya?
Entah apa yang akan terjadi pada dirinya sendiri kalau sampai tadi Krystal dijahati oleh ketiga preman tersebut. Membayangkannya saja sudah membuat tubuh Rizky menggigil dan bergidik ngeri. Dia tidak akan sanggup melihat apalagi menanggung semuanya nanti. Maka dari itu, meskipun sempat hampir kalah dari para preman itu, Rizky mampu bangkit dan menghabisi ketiganya dengan membabi-buta.
“Ky... gue... nggak bisa napas....”
Suara lirih Krystal itu membuat Rizky tersentak dan sadar. Laki-laki itu cepat-cepat menguraikan pelukannya dan mendapati Krystal langsung menghirup udara sebanyak-banyaknya. Sepertinya, dia terlalu lepas kontrol dan memeluk Krystal terlalu erat.
“Maaf, Krys... gue nggak sengaja,” ucap Rizky dengan nada menyesal dan memegang kedua bahu Krystal yang sedang menarik napas panjang. Gadis itu tersenyum tipis dan menggeleng.
“Nggak apa-apa,” balas gadis itu pelan. Terlalu pelan hingga Rizky menyangka bahwa Krystal baru saja berbisik padanya.
Baik Krystal maupun Rizky tidak ada yang bersuara setelahnya. Keduanya juga tidak membahas ucapan Rizky sebelum ini yang mengatakan kalau laki-laki itu selalu cemburu setiap kali melihat Krystal bersama Azka. Sebenarnya, banyak pertanyaan yang ingin dilontarkan Krystal tentang pernyataan Rizky barusan. Tapi, dia tidak tahu apakah Rizky memang serius dengan ucapannya tadi atau hanya bercanda. Bercanda untuk menjahilinya, mengingat mereka berdua memang bermusuhan. Atau... bisa jadi Rizky mengalami gegar otak ringan akibat perkelahiannya dengan ketiga preman tadi, sehingga dia tidak sadar dengan apa yang sudah dia katakan.
“Ayo,” ucap Rizky sambil mengulurkan tangan kanannya. Seketika itu juga, lamunan Krystal buyar semua. “Gue antar lo pulang. Motor gue diparkir di ruko dekat sekolah lo tadi.”
Krystal mengerutkan keningnya. Dia menatap tangan Rizky yang terulur dan wajah laki-laki secara bergantian. Ada desakan kuat dalam dirinya untuk menerima uluran tangan itu, tapi... jauh didalam lubuk hatinya, dia juga gengsi. Benar-benar gengsi. Seperti lirik lagu baru milik Syahrini. Cinta tapi gengsi.
What?! Gue jatuh cinta sama Rizky?! NO! Itu nggak mungkin banget! Gue nggak mungkin suka sama dia!
“Tenang aja,” ucap Rizky tiba-tiba. Krystal bisa melihat tatapan mata Rizky yang terlihat... entahlah. Tatapan mata itu terlihat sangat... geli? “Gue juga nggak mungkin suka, kok, sama elo. Lupain aja ucapan gue barusan yang bilang kalau gue suka cemburu misalkan gue ngeliat elo sama Azka. Mungkin, hantaman dari salah satu preman tadi yang mengenai kepala gue berakibat jelek sama otak gue.”
Krystal langsung menutup mulutnya dengan sebelah tangan. Sial! Tengsin, gila! Kenapa dia bisa-bisanya mengucapkan kalimat yang berseliweran di otaknya tadi? Harusnya, kalimat itu hanya boleh disimpan didalam otaknya, bukan untuk diumbar-umbar di depan sang objek langsung. Krystal Violina, elo emang benar-benar t***l!
“Ba... bagus kalau lo nggak suka sama gue,” ucap Krystal berusaha ketus. Namun, gadis itu tidak bisa menutupi nada suaranya yang bergetar dan terbata dari pendengaran Rizky. “Karena lo cuma akan sakit hati nantinya akibat penolakan gue. Gue itu nggak suka sama lo. Kita cuma cocok jadi musuh, nggak lebih. Jadi, jangan ngarep!”
“Iya, gue nggak ngarep, kok.” Rizky tersenyum tipis dan mengangguk. Ya, gue nggak akan ngarep, tapi gue akan berusaha. Berusaha untuk bikin lo suka sama gue! Karena, sepertinya, gue memang udah suka sama lo. “Pokoknya, lo tenang aja, deh. Cewek begajulan macam lo bukan tipe gue.”
Entahlah, tapi seperti ada sengatan listrik yang mengakibatkan rasa perih dan sakit didalam hatinya, ketika dia mendengar ucapan Rizky barusan. Aduh, Krystal, elo itu harus mantap, dong! Suka bilang suka, nggak bilang nggak! Jangan kayak gini! Bilang nggak suka sama dia, tapi, giliran dia bilang lo bukan tipenya, elo langsung nyesek! Krystal mengomel dalam hati, mengutuki dirinya sendiri karena merasa plin-plan dan bingung dengan perasaannya yang sebenarnya.
“Ayo, Krys,” ucap Rizky seraya merenggut tangan Krystal. Gadis itu terbelalak saat merasa tangannya digenggam dengan erat oleh Rizky. Seolah Rizky tidak akan pernah melepaskannya lagi. “Udah malam banget. Biar gue antar lo pulang. Gue emang nggak takut sama preman-preman, tapi, kalau sama Elang, itu beda urusan. Ini aja gue harus nyusun kalimat yang pas di otak gue untuk ngasih alasan ke kakak tercinta lo itu, kenapa lo bisa pulang sama gue.”
Krystal tidak menjawab. Gadis itu hanya diam dan membiarkan dirinya dibawa pergi oleh Rizky. Perasaan aneh itu kembali merayap dalam hatinya. Menggelitik, membelai bahkan terasa sangat hangat di dadanya. Debaran jantungnya pun semakin meliar, membuatnya terasa sesak. Sesak yang bahagia. Dia juga bisa merasakan bagai ada ribuan kupu-kupu yang berterbangan didalam perutnya.
Sekat antara benci dan cinta itu memang tipis. Tapi....
Apakah mungkin, predikat musuh itu bisa berganti dengan... pacar?
~~~
Tepat seperti dugaannya, Elang sudah berdiri di teras rumah dengan tampang sangar dan tatapan tajam, setajam nama laki-laki itu. Dan... tatapan itu tentu saja terarah untuk dirinya! Setelah mematikan mesin motornya, Rizky hanya bisa menahan tawa saat melihat langkah-langkah lebar Elang ketika laki-laki itu hendak menghampirinya dan Krystal. Sebelah tangan Rizky terulur ke belakang, berniat untuk membantu Krystal turun dari atas motor ninjanya, yang disambut dengan ragu oleh gadis itu. Bertepatan dengan menjejaknya kedua kaki Krystal di atas aspal, bertepatan juga dengan Elang yang sudah menjulangkan tubuh tingginya di depan Rizky dan gadis itu. Langsung saja, Elang menarik Krystal dengan paksa dan membawa tubuh gadis itu kedalam pelukannya. Pelukan yang posesif tentunya.
“Kenapa lo bisa pulang sama Krystal?” tanya Elang menyelidik. Tatapannya terus mengarah pada Rizky. Dia bisa melihat memar-memar di wajah Rizky, namun Elang sama sekali tidak tertarik. Sementara itu, Krystal yang berada dalam pelukan Elang, berusaha untuk melihat percakapan yang sedang terjadi antara kakaknya dan Rizky. Tapi, setiap kali Krystal berusaha untuk melihat, kepalanya selalu saja diputar oleh Elang, hingga gadis itu hanya bisa memberengut dan meronta-ronta, meminta untuk dibebaskan.
“Nggak kasihan sama dia?” tanya Rizky seraya menunjuk Krystal dengan dagunya. “Dia nggak bisa napas, tuh.”
“Jangan ngalihin pembicaraan.” Elang menatap Rizky dengan tatapan garang. Dia benar-benar tidak suka kalau musuh bebuyutannya itu selalu bersama dengan Krystal. “Kenapa elo bisa pulang sama adik gue? Lo nyulik dia di sekolahan, iya? Makanya tadi, pas elo ketemu sama gue di jalan, lo nanyain dia, iya?”
Didalam pelukan Elang, Krystal tersentak. Tidak menduga dengan ucapan kakaknya barusan. Jadi, tadi Rizky menanyakan dirinya pada Elang? Untuk apa? Kalau begitu... apa... Rizky memang sengaja menunggu dirinya tadi? Di ruko itu? Apa maksudnya semua ini?
“Gue cuma nggak sengaja ketemu sama dia tadi di jalan sewaktu dia hampir dijahatin sama tiga preman, itu aja,” balas Rizky cuek. Laki-laki itu kemudian menyalakan mesin motornya dan langsung pergi meninggalkan Elang yang sedikit terkejut ketika mendengar penjelasannya. Rizky juga sama sekali tidak berniat untuk pamit atau mengucapkan sapaan sedikitpun.
Ketika motor Rizky sudah hilang dari pandangan, Elang langsung menguraikan pelukannya pada Krystal. Laki-laki itu memegang kedua bahu Krystal, menatap Krystal dari ujung rambut hingga ujung kepala, berusaha mencari apapun yang bisa dikategorikan sebagai luka, di tubuh adiknya itu. Setelah yakin bahwa adiknya baik-baik saja, Elang menangkup wajah Krystal yang terasa dingin di kedua tangannya itu, mendongakkan kepala adiknya agar tatapan mereka bisa sejajar. Bisa dia lihat, wajah adiknya itu cemberut berat. Entah apa sebabnya. Mungkin, karena ulah dirinya yang langsung memarahi dan menuduh Rizky tanpa bukti apapun. Kalau memang karena hal itu, Elang harus mengakui bahwa dia memang sudah melakukan kesalahan. Menuduh orang yang sudah berbaik hati untuk menolong adiknya dari kejahatan.
“Kamu nggak apa-apa, kan, Krys?” tanya Elang cemas. “Ada yang sakit? Atau luka?”
Krystal berdecak kesal dan mengenyahkan kedua tangan Elang dari wajahnya. Dengan langkah cepat, gadis itu pergi meninggalkan Elang begitu saja, yang kini berdiri berkacak pinggang menatap punggung sang adik yang sudah memasuki rumah mereka.
“Kenapa dia jadi sensi begitu, sih?” gumam Elang heran seraya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Laki-laki itu kemudian mengangkat bahu tak acuh dan mengikuti Krystal untuk masuk kedalam rumah.
~~~
Jarum jam sudah menunjukkan angka delapan, ketika Rizky memarkir motornya di garasi rumahnya. Dia berani bertaruh, Papa dan Mamanya pasti akan langsung menginterogasi dirinya karena terlambat pulang hari ini. Kadang, Rizky sendiri heran. Bagaimana nanti reaksi teman-temannya saat mereka tahu kalau raja tawuran seperti dirinya ternyata masih diawasi ketat soal jam pulang dan semacamnya. Pastilah dia akan menerima olok-olok dari teman-temannya.
Rizky tidak langsung masuk kedalam rumah. Dia tertegun sejenak, ketika melihat sebuah mobil Jazz berwarna pink terparkir rapi di sebelah mobil orangtuanya. Laki-laki itu kemudian mengerutkan kening, melipat kedua tangannya di depan d**a dan menyipitkan kedua matanya. Sepertinya, dia pernah melihat mobil Jazz itu sebelumnya. Tapi... dimana?
Tanpa buang waktu lagi, Rizky langsung masuk kedalam rumah. Begitu pintu rumahnya terbuka, dia bisa mendengar suara-suara orang mengobrol dari arah ruang makan, disusul kemudian suara orang-orang yang tertawa. Kening Rizky makin berkerut. Dia mengenali dua suara itu. Suara Papa dan Mamanya. Lantas, suara yang satu lagi itu milik siapa? Suara itu begitu lembut dan menenangkan, jadi, Rizky bisa menebak bahwa pemilik suara itu adalah seorang perempuan. Yah, sebenarnya jika dilihat dari mobil Jazz berwarna pink itu, Rizky juga sudah bisa menebak bahwa tamu yang bertandang di rumahnya adalah perempuan. Tapi, bisa saja, kan, mobil pink itu milik laki-laki? Bukannya mau mencemooh, tapi, terkadang beberapa teman Papanya ada, kok, yang mengendarai mobil berwarna pink dan berdalih bahwa mobil itu milik anak perempuan mereka.
Tadinya, Rizky mau langsung naik ke kamarnya. Dia benar-benar lelah dan capek. Otot-otot tubuhnya perlu direnggangkan sejenak, supaya dia bisa lebih rileks. Dia butuh air hangat untuk mandi, dia butuh kasurnya, semuanya. Dia ingin tidur dan melupakan semua kejadian hari ini. Kejadian saat dia melihat Krystal hampir saja menjadi korban kejahatan. Mengingat hal itu lagi, rasanya emosi Rizky mulai naik ke permukaan. Harusnya, dia benar-benar menghabisi ketiga preman itu, bukannya malah membiarkan mereka kabur begitu saja. Tapi, niatnya untuk masuk kedalam kamar harus terhenti saat sebuah suara merdu memanggi namanya.
Rizky memutar tubuhnya dan terpaku. Di depannya, berdiri sesosok gadis berambut cokelat gelap sepunggung yang tersenyum ke arahnya. Gadis itu memiliki dua mata bulat yang bersinar ramah dan berwarna sama dengan warna rambutnya. Hidung yang tidak terlalu besar juga tidak terlalu kecil alias sedang-sedang saja. Bibir mungil yang berwarna kemerahan. Kaus lengan panjang berwarna hijau muda, dipadu dengan rok jeans selutut. Tak lupa, bandana berwarna sama dengan kausnya yang dipakai untuk menghias rambutnya yang indah itu dan menyisakkan poni pinggir di kening gadis itu. Jika harus menilai, Rizky akan memberikan nilai sembilan untuk gadis tersebut. Nilai yang mendekati kata sempurna.
Dari arah belakang gadis itu, muncul sosok Kenzo dan Arny. Kedua orangtuanya itu memegang kedua bahu gadis tersebut dan tersenyum ke arah Rizky yang masih melongo. Lamunan Rizky buyar saat Arny memanggil namanya dan menyuruh Rizky untuk mendekat ke arah mereka.
“Kamu masih ingat, kan, sama dia?” tanya Arny lembut. Dibelainya rambut gadis itu dengan penuh kasih sayang.
Untuk sesaat lamanya, Rizky hanya sanggup terdiam. Dia mengamati lagi fisik gadis berambut cokelat di depannya itu. Dia memang cantik, tetapi Rizky cukup tahu diri untuk tidak menyukai gadis itu. Tidak ada debaran aneh, napas tercekat, dan lain sebagainya yang selalu dia rasakan ketika dia berada di dekat Krystal. Jelas saja, Rizky tidak akan berani untuk menyukai gadis berambut cokelat di depannya itu. Memangnya, dia mau, apa, dibantai habis oleh Mamanya?
“Inggit, right?” tanya Rizky memastikan. Meskipun dia sudah sangat yakin bahwa gadis yang berdiri di depannya itu adalah Inggit Gina Desita, tapi, penampilan gadis itu yang sudah berubah membuat Rizky sedikit pangling.
“Hei, cousin,” balas Inggit sambil nyengir kuda dan menjitak kepala sepupunya itu.
~~~
Pekerjaan kantor hari ini benar-benar membuat Azka kewalahan. Laki-laki itu langsung menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi dan melonggarkan dasi yang dikenakannya. Para karyawan sudah pulang ke rumah masing-masing sejak pukul lima sore, sedangkan dia harus lembur di kantor karena banyakanya pekerjaan yang harus segera dia selesaikan. Di kantor ini, masih ada beberapa OB dan satpam yang memang harus lembur juga.
“Besok, gue enaknya kemana, ya?” tanya Azka pada dirinya sendiri. Laki-laki itu mengusap dagunya dan berpikir sejenak.
Tiba-tiba saja, kilatan kejadian saat Rizky menolong Krystal yang akan terjatuh kembali hadir dalam benaknya. Terlebih saat Krystal jatuh di atas tubuh Rizky dan laki-laki itu menyampirkan anak rambut Krystal ke belakang telinga. Rasanya sangat kesal dan menjengkelkan. Darahnya mendidih dan dia harus bisa menahan diri untuk tidak menghajar Rizky secara membabi-buta dan membuat keributan di rumah orang lain.
“s**t!” umpat Azka kesal. Laki-laki itu meremas rambutnya dan meninju meja kerjanya dengan keras. Dia benar-benar cemburu pada bocah ingusan itu! Mungkin, dia memang sudah menyukai Krystal sejak pandangan pertama. Tapi, apakah gadis itu juga memiliki perasaan yang sama dengannya?
“Apa....” Azka merenung sejenak setelah emosinya sedikit mereda. “Gue tembak aja si Krystal besok siang? Gue jemput dia pulang sekolah, gue ajak makan siang bareng habis itu gue minta dia jadi cewek gue?”
Tapi... kalau gadis itu menolak, bagaimana? Bukankah setiap tindakan itu pasti ada konsekuensi yang harus dihadapi?
“Ah,” gumam Azka seraya mengibaskan sebelah tangannya. “Krystal pasti nggak akan nolak gue. Gue yakin, dia pasti nerima gue. Gue udah cukup matang. Gue tampan, punya pekerjaan yang menjamin, kurang apa lagi, coba? Umur juga masih muda. Paling, umur gue dan Krystal hanya terpaut tujuh tahun.”
Dan malam itu, dihabiskan oleh Azka untuk memikirkan rencananya mengajak Krystal kencan sepulang sekolah, didalam kantornya.
~~~
Kedua orangtuanya ternyata pulang lebih awal dari tugas dinas mereka di luar kota. Saat ini, Krystal sedang duduk di teras rumahnya sambil menatap bintang-bintang yang bertaburan di langit hitam sana dengan tatapan menerawang. Dia memang sempat diinterogasi oleh Ayah dan Bundanya karena pulang terlambat, namun, Elang berkata bahwa Krystal harus menyelesaikan tugas kelompok di sekolah. Setelah itu, kedua orangtuanya hanya menatapnya dengan tatapan menyelidik lantas membiarkannya untuk masuk kedalam kamar.
“Belum tidur, Krys?”
Suara berat itu membuat Krystal menoleh dan tersenyum saat melihat Ayahnya duduk tepat di sebelahnya. Reynald mengelus rambut puterinya itu dengan penuh kelembutan dan menyandarkan kepala gadis itu di dadanya. Inilah yang disukai Krystal dari Ayahnya. Pria itu mampu membuat Krystal merasa tenang dan nyaman.
“Baru juga jam setengah sembilan, Yah,” balas Krystal sopan. “Masih sore tau.”
“Tapi, kamu pasti sudah kecapekan karena harus pulang malam akibat ngerjain tugas kelompok, kan?”
Krystal hanya tertawa dan mengangguk pelan. Gadis itu memejamkan kedua matanya dan menarik napas panjang. Hal yang membuat Reynald mengerutkan keningnya dan menatap anak gadisnya yang sudah menarik kepalanya dari dadanya itu dengan tatapan bingung.
“Kenapa? Kamu ada masalah, Sayang?” tanya Reynald sambil mengelus rambut Krystal dengan manja.
Mulutnya sudah terbuka, siap untuk mengeluarkan kalimat-kalimat yang memenuhi otaknya, tetapi, Krystal malah kembali mengatupkan mulutnya. Saat dia hendak menggelengkan kepalanya, berniat untuk mengelak dari pertanyaan Ayahnya sekaligus untuk menginformasikan bahwa dia baik-baik saja, Reynald telah lebih dulu berkata, “Jangan bilang nggak ada apa-apa. Kamu anak Ayah dan Ayah selalu tau apa yang lagi dialamin sama anak-anak Ayah.”
Mendengar itu, Krystal memberengut dan mengerucutkan bibirnya. Reynald hanya tertawa dan mengacak rambut Krystal dengan gemas. “Ada apa?” tanya Reynald lagi.
Mungkin... tidak ada salahnya kalau dia bercerita kepada Ayahnya tentang perasaan aneh yang mulai hadir didalam hatinya.
“Yah... salah nggak sih, kalau... mmm... kalau....” Krystal mendadak jadi gugup dan kikuk. Gadis itu berdecak jengkel dan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. “Kalau... benci berubah jadi cinta?”
Reynald tidak langsung menjawab. Pria itu hanya menatap Krystal dengan tatapan geli dan senyum yang tertahan di bibirnya. Jengah dan risih ditatap seperti itu, Krystal akhirnya memukul punggung tangan Reynald dengan gemas yang akhirnya membuat tawa Reynald menyembur keluar.
“Ayah! Jahat banget, sih, malah ngetawain anaknya!” seru Krystal sambil cemberut berat.
“Hahahaa... maaf... maaf, Sayang,” ucap Reynald sambil mencium pipi Krystal sekilas. “Nggak ada yang salah, kok. Namanya cinta, siapa yang tau kapan datangnya? Iya, kan? Dulu, Ayah sama Bunda juga begitu, kok. Kamu nggak akan pernah tau seberapa besar bencinya Bunda kamu itu sama Ayah.”
Kali ini, ucapan Reynald berhasil membuat Krystal melongo. Dia tidak menyangka, orangtuanya yang terlihat sangat saling mencintai itu ternyata mempunyai kisah masa lalu yang sangat unik.
“Kenapa memangnya?” tanya Reynald lagi. “Kamu lagi jatuh cinta sama seseorang?”
“Eh? Itu....” Krystal mati kutu sekarang. Tidak menyangka bahwa Ayahnya akan menanyakan pertanyaan seperti itu.
“Krystal juga nggak tau, Yah,” ucap Krystal lagi. Wajahnya menjadi muram. Dia tiba-tiba saja teringat akan Rizky sekarang. Bagaimana sikap laki-laki itu yang mendadak berubah menjadi sedikit perhatian padanya. Selalu menolongnya dari hal-hal apapun yang akan membuatnya celaka. Dan masih banyak lagi keanehan lainnya. “Masalahnya, Krystal ngerasa Krystal nggak mungkin suka sama dia. Krystal yakin, dia juga nggak mungkin suka sama Krystal.”
“Kenapa?” tanya Reynald lagi dengan alis terangkat satu.
“Karena... kita berdua itu... musuh. Dia juga musuh Mas Elang.”
Hening.
Baik Krystal maupun Reynald tidak ada yang membuka suara. Keduanya terdiam cukup lama. Hanya hembusan angin malam yang menguasai keadaan dan suasana yang terjadi diantara Ayah dan anak itu. Sampai kemudian, Reynald menarik napas panjang dan membuangnya dengan keras. Membuat Krystal menoleh dan mendapati senyum lembut Reynald sudah tercetak di bibir pria itu.
“Cinta itu, sesuatu yang tidak akan pernah diduga oleh siapapun kedatangannya, Krystal,” ucap Reynald seraya menatap kedua mata cokelat terang milik anak gadisnya itu. “Kamu nggak akan pernah tau kapan dan pada siapa kamu akan jatuh cinta. Sekalipun dengan musuhmu sendiri. Tanpa kamu sadari, semakin lama kamu bermusuhan dengan orang itu, maka, semakin kamu akan memikirkannya. Awalnya, mungkin kamu akan memikirkan semua perbuatannya pada kamu yang menurut kamu sangat menyebalkan dan mengesalkan. Hingga rasanya kamu ingin sekali menendang dia sampai menjerit meminta ampun. Tapi, lama-kelamaan, kamu akan semakin memikirkan hal-hal lain yang sifatnya pribadi. Kamu akan mulai memikirkan wajahnya, kapan kalian akan bertemu lagi dan lain sebagainya. Dari situ, kamu baru sadar kalau kamu sudah terperangkap oleh cinta.”
Krystal sama sekali tidak menyahut ataupun menyela. Dia mendengarkan semua nasihat dan ucapan Ayahnya barusan. Dia juga heran, kenapa selama mendengarkan ucapan Ayahnya itu jantungnya berdebar-debar dan wajah Rizky sempat melintas di benaknya beberapa kali.
“Terkadang, kita akan lebih mudah jatuh cinta kepada musuh kita sendiri karena tanpa sadar kita sudah mengetahui semua sifat yang ada didalam diri musuh kita itu.”
Hening, lagi. Krystal tidak tahu harus berkomentar apa atas pernyataan Ayahnya itu. Gadis itu merasa semua yang diucapkan oleh Ayahnya memang benar adanya.
“Kamu tau, kenapa kamu diberi nama Krystal dan Elang diberi nama Elang oleh Ayah dan Bunda?”
Melihat gelengan di kepala Krystal, Reynald semakin tersenyum dan melanjutkan, “Ayah memberi kamu nama Krystal supaya kamu tumbuh menjadi sosok gadis yang kuat. Gadis yang tangguh. Seperti Krystal. Tapi, sewaktu-waktu, Krystal itu bisa saja diambil oleh tangan-tangan yang tidak bertanggung jawab yang nantinya bisa saja membuat Krystal itu hancur berkeping-keping atau rapuh karena tidak terjaga, seperti kamu sekarang ini....”
Alis Krystal terangkat satu ketika mendengar ucapan terakhir Ayahnya. Ayahnya berpikiran kalau dirinya saat ini sedang... rapuh?
“Saat itulah, kakakmu akan melaksanakan tugasnya sebagai seorang kakak, juga sebagai seorang laki-laki. Untuk melindungi kamu. Ayah dan Bunda memberinya nama Elang supaya dia bisa menjaga Krystal Ayah dan Bunda, yaitu kamu, dari jamahan tangan-tangan yang tidak bertanggung jawab, Sayang.”
Krystal mengerjapkan matanya dan tersenyum manis. Dia tidak menyangka, ada maksud dibalik nama yang diberikan oleh orangtuanya kepada dirinya juga kakaknya. Tanpa pikir panjang, Krystal langsung menghambur kedalam pelukan Reynald. Gadis itu menangis di d**a bidang Reynald. Reynald dengan penuh kasih sayang membelai rambut anak gadisnya itu dan mendekapnya dengan erat.
“Makasih, Ayah... buat semuanya.”
“Sama-sama, Sayang,” balas Reynald sambil mencium kening Krystal dengan penuh kelembutan. “Tapi, satu hal yang harus kamu ingat. Diantara tangan-tangan yang tidak bertanggung jawab itu, terdapat satu tangan yang nantinya akan menjaga dan melindungi Krystal tersebut. Kalau saat itu tiba, berarti, Ayah dan Bunda harus melepaskan kamu kepada orang yang tepat itu. Begitu juga dengan tugas sang Elang. Karena, tugas kami semua akan digantikan oleh orang itu.”
~~~
Murid-murid SMA Bianca keluar dari dalam sekolah dengan suara teriakan dan seruan. Mereka merayakan kebebasan mereka karena bisa terlepas dari pelajaran-pelajaran yang memusingkan otak selama tujuh jam tanpa henti. Kecuali saat jam istirahat. Diantara gerombolan murid SMA Bianca itu, terdapat sosok Krystal. Gadis itu berjalan disamping Elang dan Septi.
“Terus, kamu pulangnya gimana?” tanya Elang cemas.
“Ya elah, Mas....” Krystal mengibaskan sebelah tangannya di depan wajah Elang. “Krystal udah gede, kali. Krystal bisa pulang sendiri.”
“Tapi....”
“Udah, deh,” potong Krystal cepat. “Kasihan, tuh, Septi. Dia kan lagi kurang enak badan. Daripada dia kenapa-napa? Emangnya, Mas mau kayak gitu?”
Ugh! Elang merutuk dalam hati. Adiknya itu memang pandai bermain dengan kata-kata. Sepertinya, sifat Ayahnya semua mendominasi pada diri adiknya itu. Seperti sedang menghadapi duplikat Ayahnya saja.
“Ya udah,” ucap Elang ketika mereka bertiga sudah sampai di pelataran parkir. “Hati-hati, ya!”
Krystal mengangguk patuh dan memberi hormat pada Elang. Setelah menyalakan mesin motor dan membantu Septi duduk di jok motornya, Elang langsung menjalankan motornya dan meninggalkan Krystal yang masih berdiri di tempatnya sambil melambaikan tangan ke arah kakaknya dan Septi.
“Butuh tumpangan?”
Satu suara bernada ramah itu membuat Krystal menoleh. Gadis itu tersenyum lebar dan mendekati sosok Azka yang hari itu tampak keren dengan kemeja berwarna biru dongker dan dipadu dengan celana jeans dengan warna yang sama. Dua kancing atas kemejanya dibiarkan terbuka hingga memperlihatkan potongan segitiga putih didalamnya.
“Hai!” seru Krystal senang. Dan gadis itu langsung mengikuti Azka ke arah mobil sedan silvernya.
~~~
Mobil sedan itu melaju dengan kecepatan sedang. Alunan lagu Can’t Let You Go milik Jesse Mccartney terdengar membahana didalam mobil. Sesekali, Azka ikut bernyanyi bersama Jesse dan memukul-mukul kemudi mobilnya, membuat Krystal yang duduk di samping laki-laki itu tertawa renyah.
“Suka lagunya Jesse, Ka?” tanya Krystal. Gadis itu sudah memanggil Azka hanya dengan nama saja, tanpa menggunakan embel-embel Oom dan semacamnya.
“Yup!” tandas Azka langsung. “Paling suka sama lagu ini, Just So You Know sama Gone.”
“Itu, kan, lagu galau semua.” Krystal terlihat sedang berpikir sambil mengetuk dagunya dengan jari telunjuk. “Iya, bukan, sih? Terutama lagu Just So You Know.”
“Iya, sih,” balas Azka sambil nyengir kuda. “Tapi, nggak galau-galau banget, kok.”
Mobil berhenti tepat ketika lampu lalu lintas berubah merah. Krystal sudah setuju ketika Azka berniat untuk mengajaknya makan siang di sebuah rumah makan Jepang di daerah kantornya. Tadi, dia juga sudah memberitahu keluarganya bahwa dia akan makan siang diluar bersama temannya. Tentu saja, Elang yang paling curiga. Kakaknya itu sampai menanyakan hal-hal mendetail lainnya, mengenai si ‘teman makan siang’ gadis itu.
Saat itulah, tatapan Krystal beralih ke arah jendela. Disana, tepat di ujung jalan, terdapat sebuah rumah makan siap saji yang dipenuhi oleh orang-orang. Bukan padatnya pengunjung yang membuat Krystal terbelalak, melainkan, dua orang berbeda jenis kelamin yang saat ini sedang makan sambil tertawa bersama di tempat outdoor dari rumah makan siap saji tersebut.
Dia kenal dengan wajah itu. Matanya yang tajam... rahangnya yang keras... hidungnya... bibirnya... senyumnya... bahkan tawanya... orang itu... Rizky!
Saat ini, Rizky sedang bercanda dengan gadis berambut cokelat itu. Keduanya tertawa keras. Rizky bahkan mengacak rambut gadis itu dan menyampirkannya ke belakang telinga si gadis. Kemudian, Rizky mengelus pipi gadis itu dan mengusap sudut bibir gadis itu!
Astaga!
Tanpa sadar, Krystal menutup mulutnya dengan sebelah tangan. Mengapa rasanya seperti ada ribuan pisau yang menghujam jantungnya. Mengoyak hatinya. Membuat matanya terasa panas dan berkaca. Kenapa dia menjadi sesak dan sedikit tidak... rela?
Apa... apa yang terjadi padanya...?
“Krystal?”
Suara cemas Azka membuat Krystal langsung menoleh ke arah laki-laki itu. Wajah Azka tampak khawatir, begitu juga dengan tatapan mata laki-laki itu. Kemudian, Krystal mengerjapkan kedua matanya, berusaha mengusir airmata yang tiba-tiba saja mengancam untuk tumpah keluar. Gadis itu juga memaksakan seulas senyum untuk Azka.
“Lo... nggak pa-pa?” tanya Azka lagi. Masih dengan nada cemas yang sama.
Krystal tidak langsung menjawab. Gadis itu melirik sekilas ke arah Rizky dan gadis berambut cokelat itu, namun sudah tidak menemukan sosok keduanya disana. Krystal kembali menoleh ke arah Azka dan menggelengkan kepalanya pelan.
“Mm-hm... gue nggak apa-apa,” ucap gadis itu lirih.
“Boleh gue ngomong sesuatu?”
Suara Azka yang kini berubah serius itu membuat Krystal mengerutkan keningnya. Gadis itu akhirnya mengangguk dan bisa melihat Azka menarik napas panjang dan membuangnya. Kemudian, laki-laki itu tersenyum padanya. Senyuman yang sangat ramah dan lembut.
“Gue suka sama lo. Sejak pertama kita ketemu. Lo... bersedia nggak jadi cewek gue?”
Pertanyaan sederhana namun sanggup membuat Krystal tersentak hebat. Gadis itu menyelami kedua mata Azka dan mendapatkan kejujuran serta kesungguhan disana. Setelah beberapa detik lamanya gadis itu berdebat dengan pikirannya sendiri, akhirnya, dia mengambil satu keputusan.
~~~
Kalau ada yang bisa memberitahunya apa yang sedang dia rasakan saat ini sebenarnya, Krystal pastinya akan langsung mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya pada orang itu. Pasalnya, gadis itu sendiri jadi tidak mengerti akan perasaan aneh yang saat ini sedang menggelora didalam dadanya. Bukannya apa-apa, tapi, dia merasa kesal dan jengkel setengah mati saat tidak sengaja melihat Rizky sedang mengobrol sambil bercanda dan berjalan dengan sangat akrab dan mesra dengan gadis berambut cokelat itu.
Bukan hanya Elang yang mengomentari sikapnya yang jadi uring-uringan beberapa hari ini, melainkan juga Edward dan kedua orangtuanya sendiri. Mereka berkata kalau dirinya jadi pribadi yang gampang emosi, suka marah-marah nggak jelas dan lain sebagainya deh. Ucapan yang langsung membuat Krystal sewot mendadak dan mengunci diri didalam kamar karena kesal. Kalau bukan karena Elang dan Edward yang memanjat genteng demi masuk kedalam kamar Krystal melalui jendela kamar gadis itu, mungkin, Krystal akan mengurung diri disana terus-menerus dan menolak untuk makan.
Sore ini, Krystal memutuskan untuk berjalan-jalan ke taman kota. Gadis itu ingin menyegarkan pikirannya juga memulihkan perasaannya yang tidak karuan itu. Semenjak insiden malam itu, ketika Rizky menolongnya dari ketiga preman yang berniat tidak baik padanya, juga pengakuan Rizky kalau laki-laki itu cemburu kalau dia melihat dirinya bersama Azka, Krystal jadi bingung sendiri. Gadis itu bertanya-tanya terus didalam hatinya, apakah itu artinya Rizky menyukai dirinya? Hanya saja, bagaimana mungkin? Maksudnya, mereka berdua kan musuh, jadi, tidak mungkin memiliki perasaan seperti itu, deh!
Kalau ditanya bagaimana perasaannya pada Rizky, jujur, Krystal tidak tahu. Dia tidak merasakan perasaan suka atau semacamnya. Hanya saja, sekarang dia akan selalu gugup kalau bertatapan atau bertemu dengan Rizky. Dan yang lebih aneh, ketika kemunculan gadis berambut cokelat itu, dia... entahlah.
Langkah kaki Krystal tiba-tiba terhenti saat gadis itu melihat Rizky sedang duduk di bangku taman dengan gadis berambut cokelat yang sama dengan yang dilihatnya waktu itu. Kakinya tiba-tiba saja sulit untuk digerakan. Bangku taman itu hanya berjarak beberapa langkah di depannya. Dan yang lebih parah lagi, Rizky tidak menyadari kehadirannya meskipun posisi duduk laki-laki itu menghadap ke arahnya. Sepertinya, Rizky terlalu sibuk tertawa bersama gadis itu.
Tidak mengerti dengan gemuruh yang tiba-tiba muncul di dadanya, juga dengan rasa sakit dan perih yang tiba-tiba membuatnya sesak, Krystal mengambil langkah mundur. Sialnya, dia menginjak sebuah ranting, menimbulkan bunyi berisik dan membuat perhatian Rizky kini terpusat padanya. Senyum dan tawa laki-laki itu yang sempat terlihat di kedua mata Krystal tadi, kini telah menghilang. Laki-laki itu langsung bangkit dari duduknya dan mengangkat satu alisnya saat menatap ke arah Krystal. Gadis berambut cokelat yang duduk di sebelahnya pun ikut berdiri dan memandang ke arahnya dengan tatapan heran.
“Krystal?” panggil Rizky. “Lo ngapain disitu?”
“Suka-suka gue, dong!” gerutu Krystal ketus. Gadis itu berusaha mengatur napasnya yang tiba-tiba saja terasa berat. Matanya juga mulai memanas dan berkaca. Astaga, ada apa ini? “Ini kan tempat umum!”
“Siapa, Ky?” tanya gadis berambut cokelat itu.
“Bukan siapa-siapa,” balas Rizky seraya menatap gadis di sebelahnya dan tersenyum tipis. “Cuma cewek begajulan yang doyan tawuran.”
PLAK!
Rasanya benar-benar seperti tamparan bagi Krystal. Ucapan Rizky tadi benar-benar menohoknya. Membuat hatinya tiba-tiba saja teriris. Apakah Rizky harus mengatakan hal seperti itu? Apakah hanya dengan menyebutkan namanya saja, tanpa ada embel-embel seperti itu, terasa sangat berat bagi Rizky? Rizky pernah berkata kalau dia cemburu padanya karena selalu berdekatan dengan Azka. Cemburu itu adalah tanda sayang. Tapi, sepertinya itu tidak berlaku pada Rizky. Kemungkinan besar, Rizky hanya bercanda ketika mengatakan hal itu. Mana mungkin dia cemburu padanya dan Azka sedangkan saat ini dia sedang berduaan dan bermesraan dengan gadis lain? Dasar laki-laki b******k!
“Ya,” ucap Krystal pelan. Gadis itu tersenyum pahit. Tenang, Krystal... tenang... lo nggak suka sama dia. Lo cuma nggak terima dia bilang lo cewek begajulan dan doyan tawuran. Lo nggak sakit hati dan cemburu liat dia sama cewek lain. Jangan nangis di depan dia atau lo akan kalah dan liat dia tertawa puas. “Gue cuma cewek begajulan yang doyan tawuran. Dan kebetulan musuh bebuyutan gue adalah cowok lo itu.” Krystal menunjuk wajah Rizky lurus-lurus. “Maaf udah ganggu acara lo berdua.”
Tanpa menunggu balasan dari Rizky, Krystal langsung memutar tubuhnya dan pergi dari sana. Dia pergi dengan kedua tangan terkepal kuat dan perasaan sakit yang menghujam hatinya. Sakit sekali. Dia belum pernah merasakan sakit seperti ini sebelumnya. Tuhan... apakah dia memang sudah menyukai laki-laki itu?
Tanpa sadar, airmatanya mengalir turun. Krystal langsung menghapus airmata itu dengan kasar menggunakan punggung tangannya. Kemudian, gadis itu mengubah jalannya menjadi berlari. Berlari yang terus berlari. Berlari membelah jalan raya di depannya. Sama sekali tidak sadar bahwa ada sesuatu yang menunggunya disana.
Suara klakson yang melengking itulah yang menyadarkan Krystal. Gadis itu berhenti berlari tepat di tengah jalan dan menoleh. Matanya terbelalak ketika melihat sebuah mobil Jeep melaju kencang ke arahnya. Dia ingin menghindar, kabur atau semacamnya, tetapi, kedua kakinya sulit untuk digerakkan.
Kemudian, tubuhnya diterjang dengan kuat dari belakang. Krystal merasa tubuhnya berguling-guling di atas aspal dan didekap dengan erat oleh dua tangan kokoh, entah milik siapa. Ketika akhirnya guncangan pada tubuhnya berhenti, dia mengerang pelan karena merasakan sedikit sakit pada kepalanya. Beban berat di atas tubuhnya juga membuat Krystal sadar bahwa ada seseorang yang sudah menyelamatkannya dari insiden tabrakan yang hampir saja dia alami.
“Terima ka—“
Ucapan Krystal terhenti saat dia menyadari siapa yang sudah menolongnya. Orang itu menatapnya dengan tajam. Ada sorot cemas, takut dan kesal yang terlihat pada kedua mata orang tersebut. Napas orang itu terengah-engah. Dan untuk sesaat, Krystal lupa bagaimana caranya bernapas dengan benar, karena posisi tubuh mereka yang teramat dekat, begitu juga dengan wajah mereka.
“Lo tau seberapa khawatirnya gue waktu liat lo hampir ketabrak tadi?!” seru Rizky kalut. “Apa lo senang bikin gue selalu cemas karena lo? Apa lo nggak bisa liat kalau gue itu mulai suka dan sayang sama lo, hah?! Dasar cewek t***l!”
Mendengar itu, Krystal kontan mendadak emosi. Dengan satu dorongan kuat, dia menjauhkan tubuh Rizky dari atas tubuhnya lalu bangkit berdiri. Krystal kini menatap tajam Rizky yang terlihat bingung dengan sikapnya. Laki-laki itu membersihkan bagian belakang celana jeansnya dan melihat Inggit sudah muncul di dekat mereka. Menatap ke arahnya juga Krystal dengan tatapan heran.
“Elo?! Suka sama gue?!” seru Krystal berang. Dan dia membiarkan linangan airmatanya kini tumpah keluar. “Oh, elo mau menjebak gue, iya?! Lo tolong gue setiap gue kena masalah, lo bilang lo cemburu kalau lo liat gue sama Azka dan sekarang lo bilang lo suka sama gue! Jebakan yang bagus, Rizky Aprilio! Lo mau ngejatuhin gue, kan, dengan cara itu? Dengan cara bikin gue jatuh cinta sama lo, iya, kan?! Seperti yang lo bilang waktu itu ke gue, iya, kan?!”
Astaga, kenapa Krystal jadi emosi seperti ini? Rizky bertanya-tanya mengenai sikap Krystal yang meledak-ledak saat ini. Jujur, dia tidak mengerti. Apa maksud gadis itu?
“Gue? Mau ngejebak lo? Dengan cara bikin lo jatuh cinta sama gue?” tanya Rizky bertubi-tubi. “Tapi, gue nggak per—“
Atau... gue bikin lo jatuh cinta aja sama gue? Setelah itu, gue tinggal ninggalin lo dan nyampakin elo begitu aja? Kayaknya, alternatif yang kedua itu yang lebih mengasyikan, deh!
Ya Tuhan! Ucapan itu... Krystal masih mengingat ucapan yang pernah dia katakan untuk gadis itu pada saat tawuran?
“Krystal... gue bisa jelasin... gue benar-benar udah jatuh cinta sama lo...,” ucap Rizky seraya mengambil langkah maju untuk mendekati Krystal. Gadis itu mengusap airmatanya dengan kasar menggunakan punggung tangan dan mengisyaratkan Rizky untuk berhenti mendekatinya. Sementara itu, Inggit yang tidak tahu apa yang sedang terjadi dengan sepupunya itu hanya bisa mengerutkan keningnya.
“Stop disana!” seru Krystal berang. “Gue nggak butuh penjelasan apapun dari lo! Sampai kapanpun, kita akan tetap menjadi musuh. Selamanya!”
Selesai berkata demikian, Krystal membalikkan tubuhnya dan berlari sambil menangis. Rizky yang beniat untuk mengejar gadis itu, langsung ditahan langkahnya oleh Inggit. Rizky menoleh dengan gusar dan melihat Inggit menggelengkan kepalanya.
“Biarin dia sendiri dulu,” kata Inggit bijak. “Dia butuh waktu buat berpikir.”
~~~
Bukan Azka Calvaro namanya kalau dia menyerah begitu saja. Dia memang sempat menyatakan cintanya pada Krystal dan gadis itu menolaknya. Alasannya, Krystal tidak memiliki perasaan lebih pada laki-laki itu. Azka sebenarnya kecewa, namun laki-laki itu bertekad akan terus berjuang untuk mendapatkan cinta Krystal.
Seperti malam ini. Azka baru saja menelepon Krystal dan mengajak gadis itu pergi ke kafe. Dia memang sudah bertukar nomor ponsel dengan gadis itu saat dia menyatakan cintanya, sekitar beberapa hari yang lalu.
Ada satu yang mengganggu pikiran Azka saat ini. Tadi, saat dia menelepon Krystal, suara gadis itu terdengar serak dan parau. Seperti habis menangis. Namun, Krystal mengatakan bahwa dia hanya merasa sedikit flu dan tidak enak badan. Azka sempat menawarkan untuk menunda kepergian mereka ke kafe malam ini, namun gadis itu menolaknya. Krystal berkata bahwa dia sedang membutuhkan teman untuk mengobrol.
Dan... disinilah mereka sekarang. Di sebuah kafe yang cukup terkenal di bilangan Jakarta Selatan. Suara musik terdengar membahana di seluruh penjuru kafe. Azka menuntun Krystal dengan hati-hati agar gadis itu tidak terpisah darinya. Kemudian, kedua orang itu mengambil tempat yang tidak jauh dari panggung. Tepatnya di pojok depan kafe.
“Mau minum apa, Krys?” tanya Azka
Krystal hanya terdiam. Gadis itu menatap panggung di depannya dengan tatapan menerawang. Sampai kemudian, sentuhan ringan Azka pada lengannya membuat Krystal tersadar dan cepat-cepat menoleh.
“Hah? Apa?” tanya gadis itu linglung.
“Mau minum apa?” ulang Azka sambil tersenyum.
“Samain aja, deh.”
Setelah memesan minuman, Krystal mengedarkan pandangannya keseluruh ruangan dan berhenti pada satu titik. Tak jauh dari tempatnya, dia bisa melihat Rizky sedang duduk di sebuah meja dengan gadis berambut cokelat itu lagi.
Tanpa peringatan, sakit itu kembali menerjang hatinya. Krystal mengalihkan pandangan dan berusaha bersikap biasa saja. Namun, ternyata tidak bisa. Dia harus keluar secepatnya dari tempat ini.
“Krystal? Mau kemana?” tanya Azka bingung saat melihat Krystal tiba-tiba saja bangkit dari duduknya.
“Gue mau pulang,” jawab Krystal lirih. “Gue... rada nggak enak badan.”
Mengerti dengan kondisi Krystal saat ini, Azka mengangguk dan ikut berdiri. Ketika mereka akan berjalan keluar dari kafe, saat itulah, Krystal tidak sengaja menabrak salah satu pegawai hingga menyebabkan gelas yang berada di atas nampan yang sedang dibawa oleh pegawai tersebut jatuh dan menimbulkan bunyi berisik. Langsung saja, seluruh perhatian pengunjung kafe terpusat ke arahnya.
“Krystal?”
Suara itu membuat Krystal tercekat. Gadis itu langsung mengambil langkah lebar dan bergegas untuk keluar dari kafe. Namun, satu tarikan keras di lengannya membuat tubuh Krystal berputar cepat dan berhadapan langsung dengan sosok... Rizky.
“Lepasin gue!” desis Krystal.
“Nggak, sebelum lo dengarin semua penjelasan gue,” balas Rizky. Dia berusaha mempertahankan cekalan tangannya pada lengan Krystal, ketika laki-laki itu merasa tangannya yang sedang mencekal lengan Krystal ditarik paksa. Rizky menoleh dan bertemu pandang dengan tatapan tajam Azka.
“Dia udah nyuruh lo buat ngelepasin tangannya.”
“Apa hak lo?” tanya Rizky ketus. “Ini urusan gue sama Krystal. Lo nggak usah ikut campur.”
“Jelas gue harus ikut campur,” balas Azka. “ Dia cewek gue sekarang!”
Rizky tersentak. Laki-laki itu menatap Krystal dengan tatapan tidak percaya. Ada rasa sesak dan perih yang menjalar dari hatinya.
“Is... that... true?” tanya Rizky dengan suara tercekat.
Tanpa menatap Rizky, Krystal berkata, “Gue yakin pendengaran lo masih berfungsi dengan baik.”
Setelah berkata demikian, Krystal memutar tubuhnya lagi dan berjalan dengan pelan menuju pintu kafe. Rasanya sangat lama sekali untuk sampai kesana. Airmatanya kini mengalir bebas di pipinya. Hatinya berdenyut sakit dan terasa sangat nyeri. Apa ini yang dinamakan dengan... sakit hati?
Saat kau pergi
Berlinanglah air mataku
Betapa singkat ku rasakan
Kebahagiaan itu
Kini lenyaplah sudah
Suara nyanyian itu membuat langkah Krystal terhenti. Gadis itu mengetahui dengan jelas siapa pemilik suara itu. Perlahan, dia memutar tubuhnya untuk berbalik, namun, Azka yang masih berada di belakangnya, menahan tubuh gadis itu dan berbisik., “Do not turn around....”
Rizky memang langsung naik ke atas panggung saat melihat Krystal mulai berjalan menjauh darinya dan mengambil gitar yang sedang dipakai oleh salah satu anggota band yang berada disana. Dia langsung memetik senar gitar itu dan menyanyikan sebuah lagu.
Tak pernah ku inginkan
Perpisahan ini terjadi
Ku hanya bisa merelakan
Jika memang kau pikir
Ini lah yang terbaik
Di kejauhan, Inggit menyaksikan itu semua dalam diam. Dia mengerti perasaan Rizky, saudara sepupunya itu, untuk Krystal, karena Rizky sudah menceritakan semuanya tadi sore, setelah pertemuan mereka dengan Krystal di taman kota. Rizky memang benar-benar sudah jatuh cinta pada rival tawurannya itu. Dan, kalau Inggit tidak salah lihat, sepertinya, dari tatapan mata yang dilayangkan Krystal untuk sepupunya itu, sepertinya, gadis itu juga memiliki perasaan yang sama dengan Rizky.
Tak perlu kau beri alasan
Mengapa kau ingin pergi meninggalkan diriku
Karena ku yakin mungkin semuanya itu bisa
Membuatmu bahagia
Sepenuhnya ku menyadari
Bahwa cinta itu tak mesti harus memiliki
Namun ku akan terus selalu menyayangimu
Setulusnya hati
(Vagetoz-Saat Kau Pergi)
Sampai Rizky selesai menyanyikan lagu itu, Krystal sama sekali tidak menoleh ke arah Rizky, karena Azka yang memegang kedua bahunya dari belakang. Kemudian, setelah jeda selama beberapa detik, Krystal kembali mendengar suara Rizky. Suara itu begitu lirih dan lelah. Dan hati Krystal serasa ditusuk dengan pisau, ketika dia mendengar ucapan yang dilontarkan laki-laki itu.
“Apa yang harus gue lakuin supaya lo percaya kalau perasaan ini benar-benar sudah lahir dan tumbuh didalam hati gue?” tanya Rizky pelan. “Gue benar-benar sudah jatuh cinta sama lo, Krystal Violina... dari lubuk hati gue yang paling dalam....”
~~~