#5-It's Not Denying, Just Stating A Fact

4550 Words
Harusnya, saat dia melihat tampang horor kelima orang di depannya, dia berseru keras atau minimal melemparkan bungkusan Pizza di tangannya ke arah orang-orang di depannya. Tapi, ketika sadar bahwa wajah kelima orang di depannya itu bukanlah wajah horor, melainkan wajah yang sedang ketakutan karena melihatnya, Edward langsung tertawa. Laki-laki berumur dua puluh tahun itu menunjuk wajah-wajah di depannya dengan tatapan geli. Suasana memang gelap, tapi, Edward yang memiliki mata tajam sejak kecil, mampu melihat ketakutan dari kelima orang di depannya itu.             “Lo semua kenapa ketakutan gitu?” tanya Edward dengan nada suara geli. “Nyangkain gue Edward Cullen, ya?”             Mendengar suara itu dan mengenali bahwa sosok di depannya adalah manusia sekaligus sepupunya, Elang dan Krystal langsung menghembuskan napas lega. Langsung saja, Elang dan Krystal berjalan ke arah Elang dan memukul kedua bahu laki-laki itu dari samping kiri dan kanan, membuat Edward mengaduh disela tawa gelinya.             “Gue pikir maling berdarah dingin yang haus darah demi menjarah barang-barang di rumah ini, tau!” seru Elang dongkol.             “Masih mending ketemu Edward Cullen, deh, Mas, ketimbang ketemu manusia-manusia yang sekarang lebih jahat daripada Cullen clan dan sebangsanya!” Krystal ikut mendumel sambil memeluk tubuh Edward, kakak sepupunya dari pihak Ayahnya itu.             “Sorry,” ucap Edward sambil balas memeluk Krystal dengan sebelah tangannya yang bebas, karena tangan yang satunya sibuk memegang bungkusan plastik berisikan Pizza, “tiba-tiba lampu mati. Mobil Mas diparkir nggak jauh dari rumah kamu karena ada mobil sedan dan motor ninja yang udah duluan ngambil tempat parkir di depan. Terus, Mas jalan kedalam pelan-pelan karena takut nubruk atau semacamnya. Bisa hilang kegantengan Mas-mu ini kalau sampai nubruk dinding.”             Saat itulah, lampu kembali menyala. Semua orang mendesah lega di tempat mereka masing-masing. Edward menatap ketiga orang di depannya dengan alis terangkat satu dan tersenyum ramah.             “Who are they, anyway?”             Krystal dan Elang menoleh ke arah Azka, Rizky dan Septi, lantas kembali memusatkan perhatian mereka ke arah Edward yang masih memeluk Krystal. Dari dulu, Krystal dan Edward memang sudah sangat dekat. Orang-orang bahkan banyak yang mengira mereka berdua adalah sepasang kekasih.             “Yang cewek, cewek gue. Namanya Septi,” ucap Elang santai, lalu berjalan ke arah Septi dan merangkul bahu gadis itu. Septi menganggukkan kepalanya sebentar, sekedar memberi salam kepada Edward dan tersenyum. “Kalau yang itu, Rizky dan yang satunya lagi, Azka. Kenalannya si Krystal.”             Ucapan Elang yang terakhir membuat Edward menatap Azka dan Rizky dengan tatapan menyelidik. Dia meneliti keseluruhan fisik kedua laki-laki itu. Di matanya, Edward bisa menilai bahwa Rizky merupakan sosok yang keras kepala, sama seperti pribadi Krystal, namun terselip juga keramahan dan kepedulian. Sedangkan Azka... Edward meneliti laki-laki itu dengan seksama. Azka memiliki aura kepemimpinan yang tinggi. Ciri laki-laki yang tidak suka dibantah dan selalu bersikap sempurna. Wajahnya terkesan angkuh namun bukan berarti benar-benar memiliki sifat angkuh tersebut. Entahlah, tapi menurut Edward, kesan angkuh yang dilihatnya dari wajah Azka seperti sebuah topeng. Topeng yang sengaja dikenakan untuk menutupi semua kebaikan dan keramahannya. Yah, mungkin itu semua untuk mendukung sikap perfectionist laki-laki itu.             “Sembarangan!” tegas Krystal keras. “Kenalan aku itu cuma Oom, eh... Azka maksud aku! Si curut Rizky mah musuh!”             Mendengar itu, Azka tersenyum sinis sambil melirik ke arah Rizky yang dibalas dengan lirikan cuek oleh laki-laki itu. Kemudian, Rizky mengangkat bahu dan melenggang pergi meninggalkan kerumunan tersebut. Tepat ketika Rizky melewati Edward, sepupu Krystal itu langsung menahan langkah Rizky.             “Lo mau kemana?” tanya Edward dengan kening berkerut. Rizky menoleh dan menaikkan satu alisnya. Dia tidak langsung menjawab. Ditatapnya Krystal yang masih betah berada di pelukan Edward dengan tatapan yang sulit untuk diartikan. Hal itu membuat Krystal lagi-lagi merasa janggal dan anehnya juga merasa tenang. Gadis itu balas menatap Rizky sebentar, lantas langsung membuang mukanya. Kesal dengan debaran aneh pada jantungnya saat Rizky menatapnya barusan.             “Mau pulang,” balas Rizky cuek dan menatap Edward. “Gue nggak ada keperluan lain disini selain mengantar si cewek begajulan ini pulang.”             “Jangan,” bujuk Edward. “Kita makan dulu aja ramai-ramai disini. Kebetulan, gue bawa Pizza banyak banget.”             Debaran aneh di jantungnya itu semakin menguat. Krystal mati-matian memasang wajah dan sikap yang biasa saja, ditengah kegugupan yang mulai melandanya. Ini tidak benar! Ada yang salah pada dirinya! Dia tidak boleh dan tidak mungkin memiliki debaran khusus untuk musuh bebuyutannya itu. Bisa habis digantung Elang dia nanti. Lagipula, seperti tidak ada laki-laki lain yang jauh lebih baik dan lebih bagus saja selain Rizky. Seperti Azka misalnya. Krystal harusnya menyukai Azka dan menyayangi laki-laki itu karena Azka jelas-jelas jauh lebih sempurna dibandingkan dengan Rizky. Jadi, dia tidak mungkin menyukai Rizky.             WHAT?! Suka sama Rizky?!             Jeritan didalam otaknya itu membuat Krystal menggeleng tegas didalam pelukan Edward. Tingkahnya yang aneh itu tanpa sadar membuat semua orang menatap ke arahnya, termasuk dua objek yang sedang dibandingkan oleh Krystal didalam otaknya, Rizky dan Azka.             “Kamu kenapa geleng-geleng kepala gitu, Krys?”             Suara bernada heran dari Edward membuat Krystal tersadar dan langsung mengedarkan pandangannya. Sial! Dia kini menjadi objek menarik di hadapan semua orang. Tak ada kata-kata yang bisa dia keluarkan untuk menjawab pertanyaan Edward, Krystal lebih memilih untuk cengengesan dan menggelengkan kepala untuk memberitahu semua orang bahwa dia tidak kenapa-napa.             Saat itulah, Krystal kembali beradu tatap dengan Rizky. Ada senyuman tertahan di bibir laki-laki itu. Mata yang menatap lembut, berbeda dari biasanya. Dan itu semua lagi-lagi membuat kegugupan kembali menyerang Krystal. Dia melepaskan diri dari pelukan Edward dan berdeham pelan.             “Lebih baik,” ucap gadis itu terbata, “lo ikutin aja apa maunya Mas Edward. Sekedar info aja, Mas Edward paling nggak suka ajakannya ditolak orang lain. Sifat aneh yang diturunin sama Oom Rizko, Ayahnya Mas Edward.”             Setelah berkata demikian, Krystal langsung pergi dari hadapan Edward dan Rizky. Dia melewati Elang dan Septi begitu saja dengan wajah yang menunduk. Rizky tidak tahu bahwa wajah yang menunduk itu diakibatkan oleh tatapan matanya yang tidak biasa kepada gadis itu. Sebelum benar-benar naik ke lantai dua, Azka telah lebih dulu mencekal lengan Krystal, menghentikan langkah gadis itu. Krystal menoleh dan anehnya, dia sama sekali tidak merasa gugup ataupun merasakan debaran aneh pada jantungnya, saat Azka menatapnya dengan ramah dan tersenyum dengan penuh kelembutan. Hal yang tidak jauh berbeda seperti yang dilakukan oleh Rizky beberapa detik yang lalu. Namun, jelas memiliki hasil dan efek yang berbeda bagi diri gadis itu.             “Bisa kita bicara sebentar diluar?” tanya Azka lembut.             Tak perlu berpikir panjang bagi Krystal untuk menyetujui ajakan Azka itu. Krystal membiarkan dirinya diajak keluar oleh Azka. Saat mereka melewati Edward dan Rizky yang memang masih berdiri di ambang pintu, Edward langsung memberi akses jalan bagi kedua orang itu sambil menyunggingkan seulas senyum untuk Azka yang dibalas juga oleh laki-laki itu.             Berbeda dengan Edward, Rizky menatap Azka dengan tatapan tajam. Ada perasaan aneh yang menggelitik hatinya, yang tidak bisa dia jelaskan, ketika Azka membawa pergi Krystal dan laki-laki itu menggenggam tangan Krystal. Seperti ada desakan hebat dalam tubuhnya untuk menghajar Azka detik ini juga. Alih-alih melaksanakan niatnya untuk menghajar Azka, Rizky justru mencekal pergelangan tangan Krystal yang satunya, membuat langkah Krystal dan Azka kontan berhenti.             Edward, Elang dan Septi kontan melongo melihat pemandangan itu. Seperti disuguhkan dengan sebuah adegan romantis didalam FTV murahan yang sering ditayangkan di televisi. Kini, mereka bertiga bisa melihat wajah bingung Krystal, juga tatapan tajam dan tidak suka yang saling dilemparkan oleh Rizky dan Azka.             “Bisa ngomongnya nanti aja?” tanya Rizky dengan nada suara datar.             “Kenapa?” balas Azka sama datarnya. “Lo cemburu?”             “Tuduhan yang sangat tidak mendasar,” balas Rizky sambil menyeringai sinis. “Udah gue bilang kalau gue sama sekali nggak suka sama cewek begajulan itu.”             “Lantas, kenapa lo harus nyuruh gue untuk menunda percakapan gue sama Krystal?”             “Karena....” Rizky menatap Edward. “Kita semua udah mau makan malam. Apa sopan, ngajak yang punya rumah ngobrol, sementara yang punya rumah sudah dibelikan makan malam oleh saudaranya?”             Untuk beberapa detik lamanya, tidak ada yang membuka suara. Sampai akhirnya, Azka terpaksa mengalah dan memutuskan untuk masuk kedalam rumah, mengikuti Krystal yang telah lebih dulu ngacir kedalam, setelah dia melepaskan genggaman tangannya pada tangan gadis itu. Ditatapnya Rizky dengan tatapan membunuh dan berbisik di depan wajah laki-laki itu.             “Urusan kita belum selesai,” kata Azka dengan nada rendah, yang disambut dengan senyuman miring dari Rizky dan alis yang terangkat satu.             “Oke,” balas Rizky singkat, lalu melenggang masuk kedalam rumah. Elang menyuruh Septi untuk mengikuti Krystal sekaligus mengantar Rizky dan Azka ke ruang makan. Kemudian, laki-laki itu mendekati Edward yang sedang menatap punggung Rizky dan Azka yang mulai menjauh sambil mengusap dagunya.                        “Adik lo direbutin dua laki-laki, ya?” tanya Edward penasaran. Di sebelahnya, Elang menghela napas berat, disusul kemudian dia berdecak jengkel.             “Kayaknya sih begitu,” sahut Elang muram. “Yang satu musuh bebuyutan gue sama Krystal yang notabene adalah anak dari sahabat Ayah sama Bunda, yang satu lagi Oom-Oom kece yang masih muda. Gimana bisa, gue ngebiarin adik kembar gue dimangsa sama dua orang tidak berperikemanusiaan begitu?”             “Maksud lo dengan tidak berperikemanusiaan, apa?”             Elang melirik Edward dengan dongkol dan melipat kedua tangannya di depan d**a. “Iyalah, tidak berperikemanusiaan! Yang satu raja tawuran, yang satu Oom-Oom penghisap darah gadis muda!”             Tawa Edward langsung menyembur ketika mendengar istilah yang dikeluarkan oleh sepupunya itu. Ditepuknya pundak Elang beberapa kali, lalu Edward menarik napas panjang.             “Lo terlalu berlebihan,” kata Edward disela tawanya. “Biarin Krystal yang memilih. Tapi, kalau gue sih, gue lebih prefer ke si Azka itu. Entahlah, tapi, gue ngerasa kalau akhirnya nanti, dia akan keluar sebagai pemenang.”             “Jadi, Krystal bakalan terikat sumpah sehidup semati sama si Azka?” tanya Elang langsung. Belum apa-apa, dia sudah tidak rela kalau adiknya menjadi barang rebutan dua laki-laki yang kurang disukainya, seperti Rizky dan Azka itu.             “Nggak tau juga, sih,” ucap Edward sambil merenung. “Cuma, menurut gue, bakalan ada kejadian-kejadian menarik diantara cinta segitiga itu nantinya.” ~~~ Acara makan Pizza di rumah Krystal itu lumayan ramai. Ramai dengan tawa, canda dan obrolan-obrolan seru. Yang menyumbang suara tentu saja hanya Elang, Edward dan Septi. Selebihnya? Sepi bagaikan kuburan. Tentu saja hal tersebut berasal dari Rizky, Krystal dan Azka. Ketiga orang itu hanya diam dan menikmati potongan demi potongan Meat Lovers yang dibawa oleh Edward. Bahkan, Krystal yang biasanya melahap Oriental Chicken Spaghetty pun, kini hanya membiarkan makanan itu tidak tersentuh di atas meja. Sementara Pizza yang ada di atas piringnya, hanya dibiarkannya termakan setengah.             “Kita asyik ngobrol, sementara ketiga orang itu diam aja.”             Celetukan Edward itu membuat kepala Krystal, Rizky dan Azka menoleh bersamaan ke arah Edward. Mereka bisa melihat laki-laki itu tersenyum geli ke arah mereka sambil melipat kedua tangannya di depan d**a. Elang dan Septi juga melakukan hal serupa. Bedanya, Septi ikut tersenyum seperti Edward, sementara Elang menatap Rizky dan Azka dengan tatapan garang.             “Maksud Mas Edward, apa?” tanya Krystal berusaha cuek. Gadis itu melirik Azka sekilas. Kemudian, ketika lirikannya beralih pada Rizky yang ternyata sedang menatap ke arahnya, Krystal langsung mengalihkan pandangannya kembali ke arah Edward. “Kita cuma lagi nikmatin Pizza yang super enak ini, kok.”             “Oke, kalau itu emang kenyataannya,” ucap Edward sambil mengangguk.             “Maaf....”             Suara berat Azka membuat semua perhatiaan kini tertuju ke arahnya. Sadar bahwa kini dia sudah mendapatkan semua perhatian dari orang-orang yang berada di ruang makan ini, Azka berkata,”Boleh gue bawa Krystal ke teras sebentar? Gue mesti ngomong sesuatu sama dia. Penting.”             Tadinya, Elang mau memprotes. Dia ingin mengatakan bahwa dia keberatan kalau adiknya itu dibawa Azka meski hanya ke teras rumah mereka. Pokoknya, Azka akan berusaha sekuat tenaga untuk menjauhkan Azka, juga Rizky dari Krystal. Tapi, satu tepukan tegas di bahunya membuat Elang menoleh dan mendapati raut wajah Edward yang serius sedang menatap ke arahnya. Edward seolah memberikan sebuah isyarat pada Elang agar laki-laki itu mengizinkan Azka untuk membawa Krystal keluar.             “Boleh,” jawab Elang akhirnya. Bisa apa, dia, kalau Edward sudah mengambil sikap? Elang sangat mempercayai Edward. Edward termasuk orang yang tegas dan bisa berpikir rasional serta bisa mengambil keputusan yang tepat. Jadi, Elang yakin, keputusan Edward yang menyuruhnya untuk mengizinkan Azka dan Krystal berbicara berdua saja, pasti tidak akan menimbulkan masalah apa-apa.             Azka mengangguk dan berterima kasih pada Elang atas izin laki-laki itu pada Krystal. Dia bangkit dari duduknya dan mengisyaratkan Krystal agar ikut padanya. Krystal memundurkan kursinya dan bangkit berdiri. Namun, sebelum dia melangkah lebih jauh, sesuatu sudah terjadi.             Saat sedang berjalan, Krystal tidak menyadari bahwa di atas lantai di depannya terdapat sebuah kantong plastik kecil berwarna putih. Keseimbangan tubuh Krystal kontan hilang dan tubuhnya limbung ke belakang saat dia menginjak kantong plastik yang licin itu. Elang dan Edward langsung bangkit dari duduknya, berniat untuk membantu Krystal agar tubuh gadis itu tidak jatuh ke atas kerasnya lantai marmer. Begitu juga dengan Azka yang langsung memutar tubuhnya ketika mendengar suara jeritan tertahan Krystal.             Namun, gerakan Elang, Edward dan Azka terhenti kala mereka melihat Rizky—yang memang berada paling dekat dengan Krystal karena duduk di samping gadis itu—telah bertindak lebih dulu. Laki-laki itu langsung bangkit dari duduknya dan melingkarkan lengannya ke pinggang Krystal dan menahan tubuh gadis itu agar tidak jatuh.             Didalam pelukan Rizky, Krystal menahan napasnya. Tadi, saat masih berada di rumah Rizky, kejadian seperti ini juga terjadi. Kini, kejadian yang sama terulang kembali. Debaran keras di jantungnya membuat Krystal semakin bertanya-tanya. Sebenarnya, apa pengaruh Rizky padanya? Apa benar jeritan di otaknya beberapa saat lalu kalau dia sebenarnya sudah menyukai... Rizky?             “Lo nggak apa-apa?”             Suara Rizky yang sarat akan kekhawatiran membuat Krystal tersadar. Gadis itu berpegangan pada kedua lengan atas Rizky. Wajah keduanya begitu dekat sampai Krystal bisa menghirup aroma maskulin milik tubuh Rizky. Aroma itu begitu memabukkan dan membuatnya melayang. HOLY CRAP! Apa benar, dia sudah jatuh cinta pada Rizky! Ini nggak mungkin! Tidak! Dia tidak menyukai Rizky! Rizky adalah musuh terbesarnya! Musuh bebuyutannya! Dia tidak sudi menyukai setan bin iblis macam Rizky ini!             Tiba-tiba, Rizky merasa tangannya yang melingkar pada pinggang Krystal, yang menahan beban tubuh Krystal sepenuhnya, terasa kram. Kaki kanannya juga terasa kesemutan. Akibatnya, keseimbangan tubuhnya hilang dengan Krystal yang masih berada dalam pelukannya.             Tidak mau mengambil resiko Krystal terluka dan membentur kerasnya lantai, Rizky langsung memutar tubuh Krystal hingga memposisikan tubuhnya sendiri yang akan menghantam kerasnya lantai. Dan begitu punggung Rizky menghantam kerasnya lantai marmer, laki-laki itu meringis kesakitan dan sedikit mengerang. Namun, dia tidak melepaskan tangannya yang melingkar pada pinggang Krystal, sekalipun gadis itu kini sudah dalam keadaan aman karena jatuh di atas tubuhnya.             “Rizky!” seru Krystal cemas. Entah gadis itu sadar atau tidak dengan nada ucapannya. “Lo nggak apa-apa?”             Rizky yang memang memejamkan kedua matanya karena menahan rasa sakit yang menjalar di punggungnya kini perlahan mulai membuka kelopak matanya. Dia bisa melihat tatapan yang tidak biasa di kedua mata cokelat Krystal. Melihat itu, jantungnya berdegup dengan liarnya. Dia merasa terbang melayang saat mencium aroma tubuh Krystal yang seperti bungan mawar. Jemarinya kini tanpa sadar mengelus pipi Krystal dan menyampirkan anak rambut yang berada di wajah Krystal, ke belakang telinganya. Hal itu membuat napas Krystal kontan tercekat di tenggorokan.             “Si cewek begajulan ternyata cantik juga kalau diliat dari sedekat ini,” ucap Rizky lembut.             Krystal tidak berkata apa-apa. Yang jelas jantungnya semakin berdetak tidak karuan. Rasanya seperti mau meledak atau seperti akan terkena serangan jantung mendadak. Sampai kemudian, Krystal merasa lengannya ditarik paksa oleh seseorang yang ternyata adalah Elang. Elang kini menatap Rizky dengan tatapan ganas, sambil menunjuk wajah musuhnya itu lurus-lurus.             “Elo! Ngambil kesempatan dalam kesempitan! Kampret dasar lo! Kalau sampai adik gue kena rabies, gue sunat lo untuk yang kedua kalinya!” sungut Elang berapi-api, membuat Edward dan Septi tertawa keras. Rizky sendiri hanya mengangkat bahu tak acuh.             Seakan tersadar bahwa sebelum ini, Azka berniat mengajak dirinya untuk berbicara, Krystal langsung menoleh. Namun, dia tidak menemukan sosok Azka dimanapun. ~~~ “SIAL!”             Mobil sedan itu melaju dengan kencang membelah jalan malam itu. Azka mencengkram kemudi mobilnya dengan kuat sampai buku-buku jarinya memutih. Amarahnya memuncak. Dia benar-benar tidak suka dengan pemandangan kacangan yang baru saja disuguhkan oleh si bocah SMA ingusan yang baru dia ketahui bernama Rizky itu.             Bisa-bisanya Rizky memeluk tubuh Krystal di depannya? Juga di depan semua orang?!             Dia memang sudah berkata dalam hati bahwa dia akan bersaing secara sehat untuk mendapatkan hati Krystal, dan dia tetap akan menepati janji itu. Dia sendiri sebenarnya belum terlalu yakin apakah dia memang menyukai Krystal atau tidak. Mengingat mereka baru bertemu dua kali.             Tapi, dia selalu memikirkan Krystal sejak kemarin. Dan setiap kali dia memikirkan gadis itu, dia akan selalu tersenyum dan merasa bersemangat. Astaga, apakah cinta pada pandangan pertama itu memang benar-benar ada? Dan sekarang dia sedang mengalaminya?             “SIAL! SIAL! SIAAAAL!” seru Azka lagi dengan berangnya. Kecepatan mobilnya semakin bertambah. Dia tidak peduli dengan suara-suara klakson kendaraan yang berada disekitar mobilnya.             Ini  berarti hanya ada satu cara... Azka bergumam didalam hatinya sambil tersenyum. Dia harus menambah pesona dirinya lagi agar Krystal jatuh hati padanya. ~~~ Setelah melempar jaket kulitnya yang dipakai oleh Krystal dalam perjalanan pulang ke atas kasur, Rizky ikut menghempaskan tubuhnya ke atas kasur tersebut. Dia mendesah keras dan menatap langit-langit kamarnya dengan tatapan menerawang. Kemudian, bibirnya menyunggingkan seulas senyum ketika dia mengingat kejadian yang terjadi di rumah Krystal barusan.             “Nggak gue sangka, tuh cewek cantik juga ternyata,” gumam Rizky sambil tertawa renyah. Hanya bertahan sebentar, karena detik berikutnya Rizky langsung terbelalak dan bangkit dari posisi tidurnya.             “WHAT?! Krystal Violina cantik?! CANTIK?!” seru Rizky sambil menatap pantulan dirinya di cermin. “Cantik darimananya coba? Diliat dari sisi mananya?! Dari ujung sedotan dan diliat dari ujung monas sih iya! Alias nggak mungkin banget!”             Teriakan keras itu membuat napas Rizky tersengal. Laki-laki itu mendesis jengkel dan mencibir. Dia pasti sudah diracuni dengan Pizza tadi, makanya dia bisa berkata bahwa sang musuh bebuyutan alias si cewek begajulan Krystal itu cantik.             “Kok...,” gumam Rizky heran. “Kesannya gue kayak yang lagi nyangkal kenyataan, ya?” Rizky menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.             Detik berikutnya, Rizky mengerjapkan mata dan tersentak hebat. Laki-laki itu mengambil bantal dan menggigit ujung bantal tersebut serta memukul-mukul bantal tersebut. “Siapa yang nyangkal, coba?! Orang itu emang kenyataan!!!” teriak Rizky keras dan kembali menjatuhkan tubuhnya di atas kasur dengan bantal yang menutup wajahnya. ~~~ Keesokan harinya, anak-anak di kelas Krystal baru pulang sekolah saat jarum jam menunjukkan angka enam sore. Mereka semua pulang dengan kendaraan masing-masing dan beberapa diantara teman sekelas Krystal ada yang menawari gadis itu untuk diantar pulang oleh mereka. Namun, Krystal menolak tawaran-tawaran itu dengan senyum sopan dan dengan alasan tidak ingin merepotkan mereka. Kini, jarum jam sudah berada pada angka tujuh malam dan Krystal masih berjalan di jalan alternatif yang akan membawanya ke rumah. Dia memang terpaksa berjalan kaki karena jalan alternatif yang dipilihnya adalah jalan di daerah perumahan yang berada disekitar sekolahnya. Jalan itu adalah jalan tercepat menuju rumahnya. Jalanan yang sepi, suara-suara aneh yang terdengar disekitarnya, langit malam yang begitu gelap tanpa diterangi cahaya bulan maupun bintang, membuat Krystal bergidik ngeri. Gadis itu merutuki nasib sialnya karena harus pulang sendirian, akibat tugas-tugas sekolah yang harus diselesaikan di sekolah tadi siang bersama teman-temannya, untuk dikumpulkan besok hari. Awalnya, Elang berniat untuk menemani gadis itu dan menunggunya sampai tugas sekolahnya selesai. Namun, Krystal menolak tawaran itu dan menyuruh Elang untuk pulang lebih dulu karena tidak ingin merepotkan Elang.             “Harusnya, gue terima aja tawaran si Rizky tadi!” gerutu Krystal sambil mengentakkan kakinya di atas aspal kemudian menendang kerikil-kerikil kecil yang ada di depannya.             Ya. Rizky memang sempat datang ke sekolah Krystal tadi. Sekitar pukul enam sore. Krystal sendiri bingung mengapa Rizky bisa berada di sekolahnya dan muncul di depannya saat dia hendak keluar dari gerbang sekolah. Rizky hanya bilang bahwa dia sedang berada di daerah sekolah Krystal karena laki-laki itu disuruh Mamanya untuk membeli es pisang ijo yang berada di daerah tersebut. Dan Krystal memang tahu tentang tempat itu. Sebuah kedai es pisang ijo yang terkenal paling enak disekitar sini. Namun, yang membuat Krystal heran, Rizky tidak membawa benda apapun yang bisa dikategorikan sebagai es pisang ijo. Laki-laki itu hanya membawa ransel. Itu saja. Dan lagi, dari mana Mama laki-laki itu tahu mengenai kedai es pisang ijo tersebut?             “Mau pulang, kan?” tanya Rizky saat itu. Krystal hanya terdiam dan menatap laki-laki di depannya dengan raut wajah heran. “Biar gue antar. Sebentar lagi gelap,” sambungnya.             “Gue bisa pulang sendiri,” jawab Krystal ketus. “Gue bukan anak kecil.”             Rizky hanya menatap kedua mata Krystal lekat-lekat, membuat Krystal mendadak menjadi gugup. Entah mengapa, sejak kemarin, kalau Krystal berada di dekat Rizky atau minimal saling tatap dengan laki-laki itu, meskipun saling melempar tatapan tajam, Krystal akan merasa sangat gugup dan sulit bernapas dengan benar.             “Ya sudah,” balas Rizky seraya menyalakan mesin motor ninjanya yang sempat dia matikan tadi. “Gue juga cuma sekedar basa-basi tadi.” Dan laki-laki itu akhirnya pergi meninggalkan Krystal yang melongo karena tingkahnya.             Sedang memikirkan keanehan sikap Rizky yang terjadi sejak kemarin, langkah Krystal tiba-tiba terhenti. Gadis itu memasang sikap waspada ketika di depannya berdiri tiga orang laki-laki bertampang seram dengan motor gede yang berada di samping mereka. Para laki-laki itu menyadari kehadiran Krystal dan tersenyum sinis ke arah gadis itu. Melihat hal itu, Krystal menelan ludah susah payah dan menatap ketiga orang di depannya dengan tatapan menantang. Ralat. Tatapan yang dianggap Krystal cukup untuk menantang ketiga laki-laki itu.             “Wah, ada cewek cakep,” ucap salah satu dari ketiga laki-laki itu. Rambutnya gondrong, dan terdapat sebuah rokok yang terselip di bibirnya. Matanya menelanjangi tubuh Krystal dari ujung rambut hingga ujung kaki.             Harus Krystal akui, dia memang bisa tawuran. Dia sanggup menumbangkan setidaknya beberapa murid dari sekolah musuh. Tapi, gadis itu selalu takut dengan pria-pria bertampang seram dan bertubuh kekar. Apalagi, di tempat sesepi ini dan di malam hari. Pikirannya sudah melayang kemana-mana. Bagaimana kalau dia tidak bisa lolos dari tempat ini? Bagaimana kalau mereka menyerang dan membuat dirinya terluka? Krystal menggeleng tegas dan berusaha mengusir pikiran jeleknya yang baru saja melintas di benaknya. Kalau terluka, itu masih mending. Tapi... bagaimana kalau dia... diperkosa?             “Jangan maju lagi atau lo semua gue habisin!” teriak Krystal keras. Keras dan terdengar gemetar. Tentu saja akibatnya, ketiga laki-laki itu langsung terbahak setelah mendengar gertakan dengan nada gemetar milik gadis itu.             “Wah, ceweknya galak, loh!” seru si gondrong lagi. Sementara itu, mereka bertiga kini mulai maju mendekati Krystal. Otomatis, Krystal mundur untuk menjauhi ketiga laki-laki itu. Degup jantungnya mulai terdengar tidak beraturan. Keringat dingin mulai membasahi pelipisnya. Ya Tuhan, dia benar-benar ketakutan sekarang!             “Hei, cewek cantik,” ucap laki-laki yang memiliki tato bergambar tengkorak di lengan atasnya yang berotot. Senyumnya semakin terlihat kurang ajar saja di mata Krystal. “Udah malam, nih... kita bertiga kedinginan. Gimana, kalau lo angetin kita-kita?” tanya si laki-laki tersebut dengan kurang ajar.             “Boleh,” sahut sebuah suara yang membuat langkah mundur Krystal terhenti. Bukan karena suara bernada rendah dan berbahaya itu, tetapi karena punggungnya membentur sesuatu. Krystal menoleh dan mendongak. Kedua matanya terbelalak saat melihat sosok Rizky yang sedang menatap ketiga laki-laki di depan mereka dengan tatapan membunuh.             “Tinggal pilih,” sambung Rizky lagi. Masih dengan nada suara rendah dan berbahaya yang sama. Hawa membunuh yang terasa begitu kental di raut wajah Rizky, membuat Krystal sempat bergidik. “Mau gue angetin pakai bogeman mentah gue atau tendangan gue? Hmm?” ~~~ Rizky memang tidak sengaja melewati daerah sekolah Krystal saat itu. Ralat. Dia memang sengaja. Dia sempat bertemu dengan Elang siang tadi dan heran karena melihat Elang pulang sendirian, tidak bersama Krystal. Akhirnya, Rizky memberanikan diri menghampiri Elang dan menanyakan perihal Krystal pada laki-laki itu.             “Ada tugas kelompok sama teman-temannya,” jawab Elang saat Rizky bertanya pada laki-laki itu. Rizky juga bisa melihat tatapan heran yang dilayangkan oleh Elang padanya. Mungkin, Elang tidak menyangka akan bertemu dengannya dan mendapat pertanyaan darinya mengenai keberadaan Krystal. “Kenapa emanganya?” tanya Elang.             “Nggak apa-apa,” balas Rizky cuek. “Cuma heran aja, biasanya lo berdua kemana-mana bareng. Kayak kembar siam.”             Selesai berkata demikian, Rizky langsung meninggalkan Elang. Tanpa Elang tahu, Rizky sebenarnya pergi ke sekolah Krystal, menunggu gadis itu di sebuah ruko tak jauh dari gedung sekolah SMA Bianca dan baru keluar saat melihat gerombolan siswa-siswi berseragam abu-abu mulai berhamburan keluar ketika jarum jam di arlojinya menunjukkan angka enam.             Ketika Krystal menolak ajakannya untuk mengantar gadis itu pulang, Rizky tidak benar-benar pergi. Dia memang pergi dari hadapan Krystal, namun dia kembali ke tempat persembunyiannya selama menunggu Krystal tadi. Dia menaruh motornya disana dan meninggalkan kendaraan mahal itu tanpa peduli kalau motornya bisa saja dicuri oleh orang lain. Lantas, Rizky langsung mengikuti Krystal secara diam-diam.             Dan disinilah dia sekarang. Di belakang tubuh gadis itu. Mendengarkan semua ucapan tidak senonoh tiga preman di depannya terhadap Krystal. Dia sendiri bingung ketika mendapati dirinya begitu emosi dan darahnya terasa mendidih saat melihat bagaimana ketiga preman itu menggoda bahkan mengajak Krystal untuk melakukan hal-hal yang tidak benar.             “Wah... wah...,” ucap si preman gondrong sambil menggelengkan kepalanya dan tersenyum mengejek ke arah Rizky. “Ada yang mau jadi pahlawan kesiangan rupanya.”             “Heh, t***l!” maki Rizky. “Ini udah malam. Yang bener tuh, pahlawan kemalaman, bukan pahlawan kesiangan.”             Mendengar itu, Krystal kontan memukul jidatnya. Entah si Rizky ini memang t***l atau berpura-pura t***l. Omongannya si preman tadi itu, kan cuma sekedar istilah. Maksudnya, Rizky itu orang yang ingin ikut campur dengan urusan orang lain.             “Nggak usah banyak omong!” seru si lengan bertato. Dia menatap Rizky dengan ganas. “Jangan ikut campur kalau nggak mau gue bikin mampus!”             “Wah, jadi tertarik,” balas Rizky dengan nada mencemooh. Otomatis, Krystal yang berada di depannya kembali menoleh dan mendongak. Dilihatnya, Rizky menatap ke arahnya sambil mengedipkan sebelah matanya dan mendekatkan kepalanya ke telinga gadis itu. “Lari dan sembunyi. Tunggu gue di tempat yang aman,” bisik Rizky.             Krystal belum sempat menjawab atau berpikir lebih jauh, ketika tiba-tiba saja Rizky menarik lengannya dan menghajar salah satu preman yang ternyata sudah mendekat ke arah mereka. Kemudian, Rizky mendorong tubuh Krystal agar menjauh dan menyerukan perintah agar gadis itu berlari sejauh-jauhnya. Dan semuanya menjadi kacau-balau. ~~~ Di lorong kecil itu, Krystal bersembunyi. Sudah setengah jam berlalu, namun dia belum melihat tanda-tanda kemunculan Rizky. Krystal mulai cemas. Dia hanya bisa memanjatkan do’a dalam hati agar laki-laki itu baik-baik saja. Lupakan dulu permusuhannya dengan laki-laki itu. Yang paling penting saat ini adalah keselamatan Rizky. Krystal sendiri heran, kenapa Rizky bisa muncul disana.             Tiba-tiba, terdengar suara langkah kaki mendekat. Otomatis, Krystal mulai bersikap waspada. Dia mengambil sebatang kayu yang teronggok begitu saja di atas aspal. Dengan tangan gemetar, dia mengacungkan kayu tersebut, bersiap menghantam kepala siapapun yang akan muncul nantinya. Dan kayu itupun langsung jatuh kembali ke aspal tatkala Krystal melihat Rizky yang muncul dengan darah di sudut bibir dan pelipisnya. Langkah laki-laki itupun tertatih.             “Rizky!” seru Krystal dan langsung membantu Rizky. Disandarkannya tubuh Rizky pada dinding lorong tersebut. Krystal langsung mengeluarkan sapu tangan yang selalu dibawanya dari saku rok seragamnya dan gadis itu mengelap darah yang terlihat di wajah Rizky. Laki-laki itu mendesis kecil saat merasakan perih pada wajahnya. “Lo nggak apa-apa, kan, Ky?”             Rizky tidak menjawab. Laki-laki itu hanya diam dan memejamkan kedua matanya. Kemudian, dengan satu gerakan cepat, Rizky memegang kedua lengan atas Krystal dan memutar tubuh gadis itu hingga kini, tubuh Krystal yang bersandar pada dinding dan Rizky berada tepat di depannya.             “Gue yang harusnya tanya,” ucap Rizky terbata. “Lo... nggak apa-apa? Ada yang luka? Mereka nggak sempat ngapa-ngapain lo, kan?”             Entah karena tidak bisa menemukan kata-kata yang tepat atau karena suaranya tercekat di tenggorokan, yang dilakukan oleh Krystal hanyalah mengangguk pelan. Kegugupan itu kembali menyerangnya. Apalagi, ketika Rizky tersenyum lega dan mengusap wajahnya dengan lembut.             “Bagus,” kata Rizky lagi. “Karena... gue nggak tau apa yang akan terjadi sama gue kalau lo sampai kenapa-napa tadi.”                DEG!             Pernyataan itu membuat Krystal menahan napasnya. Wajahnya mulai memanas. Jantungnya berdetak kencang. Aduh, ada apa dengannya saat ini? Dan keadaan yang dialaminya semakin parah, ketika perlahan, Krystal mendapati wajah Rizky semakin dekat ke arahnya. Masih dengan senyum lembut yang sama.             “Gue nggak tau apa yang terjadi sama gue, tapi....” Rizky menghentikan wajahnya tepat satu senti di depan wajah Krystal yang semakin menahan napasnya. “Entah kenapa gue nggak suka kalau lo dekat sama Azka. Apa itu artinya... gue cemburu, ya?”             Belum sempat Krystal bersuara, Rizky sudah lebih dulu meraih tubuhnya dan memeluknya dengan sangat erat. ~~~    
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD