Setelah menyerahkan kartu milik Dreyhan, Elvrince menghampiri kantong yang tadi Grace bawakan. Tanpa menoleh atau kata, Elvrince mengabaikan adanya Dreyhan di satu ruang dengannya. Ia melakukan apa yang akan menjadi tanggung jawabnya. Kata yang Dreyhan lontarkan bagaikan belati yang menusuk tepat di jantungnya. Tidak perlu dijelaskan ia pun tahu status dirinya yang miskin. Mulai saat ini ia akan diam. Tanpa kata. Sekalipun membuka mulut itu jika memang benar-benar perlu. “Nyonya Grace menitipkan ini untuk Anda. Anda mau makan di rumah atau membawanya?.” Seru Elvrince. Pertanyaan yang Elvrince serukan dengan nada datar, membuat Dreyhan terdiam. Hingga saat deheman membuyarkan lamunan. “Ekhm.” “Oh. Bawa.” Jawab Dreyhan singkat. Elvrince memasukkan makanan ke dalam kotak, tidak lupa ma

