Bab 7. Makanan?

1323 Words
"Dan apakah Nyonya saat ini sedang berada di Rumah Indah?" tanya Darren. Saat ini mereka hanya bertiga untuk membahas bagaimana perkembangan misi yang dilakukan oleh Reynold di Kanada. "Ya, aku tidak mungkin membawa ke kamar kost yang menjijikkan dekat gudang pupuk itu," jawab Arsenio sambil menggerak-gerakkan mouse untuk mengecek sesuatu di dalam laptop. "Sebenarnya itu sedikit berbahaya, Tuan. Aku khawatir kalau mereka nekat mencari Nyonya di sana." "Tapi untuk saat ini aku tidak ada pilihan lain selain tempat itu," sahut Arsenio masih terfokus dengan layar monitor di hadapannya. Namun pikirannya saat ini sudah kembali pulang karena memikirkan istrinya yang saat ini sedang berada di rumah sendirian. "Bagaimana kalau Nyonya pindah ke rumah Tuan Nicho?" tanya Max memberikan ide untuk bosnya yang nampak tidak seperti sedang menganggap serius soal keselamatan istrinya itu. Padahal sebenarnya dalam hati pria itu sedang bergemuruh menahan amarah karena ternyata pernikahannya dengan Diane telah tercium sampai ke anak buah musuh bebuyutannya. "Apa kau gila? Mereka berdua belum tahu kalau aku sudah menikah. Bagaimana bisa aku menitipkan istriku pada mereka," sahut Arsenio yang kini mulai gusar dengan fakta yang mengusiknya. Di mana dia akan menyembunyikan istrinya dari incaran Luke dan anak buahnya? Haruskah dia langsung pulang saja ke Mansion miliknya? Namun dia rasa itu terlalu cepat untuk Diane tahu siapa dirinya yang sebenarnya. Dia tidak ingin dianggap penipu oleh Diane yang mana saat ini dia sendiri masih menyembunyikan identitas aslinya dari Diane, gadis yang baru kemarin dia nikahi. "Apa! Jadi Tuan dan Nyonya besar belum tahu soal pernikahan anda, Tuan? Astaga bagaimana bisa? Apa Tuan tidak khawatir andai mereka murka?" sahut Darren menimpali pembicaraan mereka. "Entahlah, aku belum bisa mengatakan semua ini kepada mereka. Meski aku tahu mereka tidak akan keberatan namun ada hal yang masih harus aku jaga dari Diane." Tentu saja mereka semua tidak ada yang berani membantah atau pun sekadar memberikan saran untuk Arsenio. Karena mereka yakin bosnya itu selalu mempunyai jalan keluar di setiap masalahnya sendiri. "Kami harap semua rencana Tuan berhasil tanpa ada halangan apa pun," sahut Max yang mulai pasrah dengan apa pun yang saat ini sedang dipikirkan oleh Arsenio. Karena entah bagaimana pun mereka tidak mungkin mencampuri urusan rumah tangga bosnya itu. Meski sebenarnya mereka sangat peduli, namun mereka yakin andai bosnya membutuhkan bantuannya barulah mereka bersedia untuk ikut campur. Dan sebelum itu tentu saja mereka tidak berani berbuat atau sekadar memberi saran apa pun. "Alangkah lebih baik kalau Tuan terus memantau keamanan Nyonya dengan cara sering menghubunginya meski hanya melalui sambungan telepon," saran Darren kepada bosnya yang saat ini sepertinya sedang sedikit merasa bimbang. "Kau benar, lebih baik aku menghubunginya sekarang untuk memastikan keadaannya." Arsenio berselancar menggunakan ponsel pintar miliknya untuk menghubungi istri yang saat ini sedang dia khawatirkan. Namun seketika wajah Arsenio berubah masam karena suatu hal. Max yang menyadari akan hal itu mencoba bertanya untuk memastikan. "Ada masalah, Tuan?" tanya Max. Arsenio hanya mendesah kesal. "Aku tidak punya nomor ponsel istriku." "Hah?!" Sementara Diane saat ini sedang kesal di dalam rumah karena menahan lapar. Tentu gadis itu tidak mau keluar rumah karena khawatir andai suaminya pulang namun dirinya tidak ada di rumah. Karena menurutnya itu bukanlah hal yang baik bagi seorang istri. "Astaga, sudah jam segini dia belum pulang," gerutu Diane menantikan kepulangan suaminya. Bukan karena rindu, bukan. Melainkan saat ini dia sudah sangat lapar. Sesaat seteah berguling di atas ranjang yang sangat empuk, Diane memilih beranjak pergi ke dapur untuk memeriksa mungkin saja ada bahan makanan yang bisa dia olah di sana. Berjalan malas ke arah dapur, Diane membuka sebuah lemari pendingin. "Astaga, kulkas sebesar ini hanya ada air mineral?" ucap Diane terkejut juga kesal karena ternyata lemari pendingin yang mewah itu rupanya tidak berisikan apa pun kecuali deretan botol beling berisikan air tawar. Benar-benar merasa kesal, Diane kembali ke kamar dengan perasaan yang semakin dongkol. Jam sudah menunjukkan pukul satu siang, tapi Arsenio belum juga pulang. Tidak ingin kesal sendiri karena menunggu kedatangan suaminya yang entah kapan, Diane berniat memesan makanan siap saji melalui sebuah aplikasi. Belum selesai Diane melakukan pemesanan, tiba-tiba bel pintu berbunyi. Diane tidak langsung menyahut atau bergegas membuka pintu. Karena menurutnya Arsenio tidak mungkin memencet bel, sedangkan lelaki itu punya kunci rumah ini. Memikirkan berbagai kemungkinan, pada akhirnya Diane memilih untuk bergegas membuka pintu dan memastikan siapa yang datang berkunjung ke rumah yang baru beberapa jam dia tempati. "Ya, siapa?" sambut Diane sambil membuka pintu. Dan ternyata seorang dengan pakaian rapi berwarna merah dengan sebuah logo bergambar ayam di d**a kirinya saat ini sedang tersenyum kepada Diane. "Benar ini rumah Mr. Arsenio?" tanya lelaki itu dengan sangat ramah. Membawa sebuah kotak yang berukuran cukup besar di tangan kanannya. Tidak menjawab pertanyaan petugas pengantar makanan itu, Diane justru berbalik bertanya. "Ada apa?" tanya Diane lugu. "Mr. Arsenio memesan makan siang untuk anda, Nyonya," jawab si lelaki pengantar makanan. Diane tampak sangat bingung. Benarkah ini dari Arsenio? Kenapa dia tidak membawanya sendiri dan malah menyewa jasa pengiriman makanan? "Nyonya," tegur lelaki itu sesaat memperhatikan Diane yang sedang termangu memikirkan sesuatu. "Ah, ya! Maaf. Apa sudah dibayar?" tanya Diane saat fokusnya telah kembali. "Sudah, Nyonya. Silakan." Kurir itu memberikan sebuah kotak kepada Diane kemudian pamit pergi meninggalkan wanita yang masih tenggelam dalam ribuan pertanyaan. Namun saat ini perutnya sudah sangat lapar, dari pada memikirkan hal yang menurutnya tidak terlalu penting, Diane memilih bergegas masuk ke dalam rumah. Namun saat hendak memalingkan wajah, Diane melihat seorang mengenakan hoody berwarna hitam tampak meliriknya sekilas. Kemudian orang misterius itu bergegas berlalu seolah sedang ketahuan melakukan sesuatu. Mengerutkan dahi, Diane merasa ada yang aneh di lingkungan ini. Entah kenapa dirinya merasa seperti sedang diawasi. Terlebih melihat gerak-gerik orang mencurigakan baru saja semakin membuat Diane resah. *** "Diane!" seru Arsenio terdengar membuka pintu rumah indah memanggil nama istrinya. "Ya!" sahut Diane dari arah dapur. "Sedang apa? Kenapa di dapur?" tanya Arsenio seperti seorang yang sedang waspada dan curiga, dan Diane merasakan hal itu. "Aku baru saja selesai makan kiriman makanan darimu. Bay the way terima kasih banyak, ya?" jawab Diane tersenyum manis ke arah suaminya. "Hah?" Seketika seluruh tubuh Arsenio menegang, kedua bola mata elangnya melotot seolah akan keluar dari sarangnya. Namun Diane berlalu begitu saja menuju kamar untuk mengambil ponsel miliknya dan tidak menghiraukan suaminya yang sedang mematung karena jawabannya. Arsenio merogoh ponsel mahal miliknya di balik saku celana. Mencari sebuah kontak nomor bernama Max dan segera menekan opsi memanggil. "Siapkan mobil, jemput aku sekarang juga!" perintah penuh dengan penekanan Arsenio memutus panggilan secara sepihak. Mengerang, menjambak rambutnya sendiri. Arsenio seperti orang yang sedang frustrasi. Memutar tubuh lalu bergegas menuju kamar untuk menemui istrinya. "Diane, kemasi barang-barang. Kita akan segera pindah," ucap Arsenio sambil sedikit tergesa membuka lemari pakaian dan mengeluarkan semua isinya dari sana dan melempar ke arah ranjang. Diane tertegun. Apa yang sedang dilakukan oleh suaminya? Kenapa? Ada apa? Baru saja mereka menempati rumah cantik ini, tapi kenapa harus pindah? Ada apa? Diane bertanya-tanya dalam hati. Ingin rasanya gadis muda itu bertanya kepada suaminya atas apa yang sebenarnya sedang terjadi. Namun nyatanya feeling Diane cukup bagus untuk merasakan keresahan yang sedang menguasai suaminya. Diane merasa dirinya lebih baik diam dan menuruti kemauan suaminya lebih dulu. Bergegas membantu suaminya berkemas, Diane terlihat biasa saja. Tidak menunjukkan wajahnya yang sedang penasaran. Diane menyimpan egonya cukup baik. Menurut dengan kemauan sang nahkoda adalah pilihan yang terbaik dalam rumah tangga. Max datang dengan Porsche 911 kesayangan Arsenio. Dan betapa jengkelnya Arsenio menyadari bahwa dia melewatkan sesuatu yang sangat penting. Ya, menyembunyikan identitas dirinya di hadapan Diane. Dan saat ini Max malah mengacaukan semuanya. Dengan rahang yang mengeras, Arsenio sedang berpikir keras bagaimana dia akan menjawab pertanyaan Diane yang pasti akan dia dapatkan karena memiliki mobil mewah. Sedangkan yang diketahui Diane adalah Arsenio hanya seorang supir. Tentu memiliki mobil seperti ini adalah hal yang sangat mustahil. "Kenapa bawa mobil yang ini, si*lan!" umpat Arsenio sambil mendesis di telinga Max. Wajah Max yang tadinya tersenyum begitu ceria karena untuk pertama kalinya dia bertemu dengan Nyonya Arthur seketika berubah datar dan semburat ketakutan menghiasi wajah sangar itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD