"Ck, tapi aku sebentar lagi akan menerima gaji. Itu sangat sayang untukku kalau aku harus berhenti sekarang," beri tahu Diane soal hal yang dia anggap sangat penting itu kepada suaminya. Berharap suaminya akan memberinya kesempatan sedikit untuknya dan tidak menyadari akan kegugupan yang terus melanda ini.
Arsenio menarik satu sisi alis miliknya, dia sedang mempertimbangkan apa yang baru saja dikatakan oleh Diane.
"Seberapa besar gajimu? Sampai kau begitu kekeh kembali ke tempat kerjamu yang melelahkan itu?" tanya Arsenio memastikan.
"Lima ratus dollar," jawab Diane berbinar. Terlihat dengan jelas bahwa dirinya saat ini sedang membanggakan dirinya sendiri karena berhasil mendapatkan gaji yang menurutnya jumlah itu cukup besar.
Arsenio tersenyum simpul. Meski dalam hati lelaki itu ingin sekali tertawa, karena istrinya yang begitu menyayangkan kehilangan uang yang menurutnya hanya bisa dia gunakan untuk membeli sebatang rokok.
Namun tentu saja dia tidak mau membuat Diane tersinggung dan mengetahui sebenarnya siapa dirinya dalam waktu dekat ini.
Memutar kedua bola mata elang, Arsenio tampak seperti seseorang yang sedang mempertimbangkan sesuatu. "Baik, tapi kamu harus berjanji hanya sampai di hari itu, bagaimana?"
Akhirnya Arsenio memberinya waktu untuk berangkat kerja yang mungkin tinggal beberapa hari menjelang tanggal di mana dia akan menerima gaji.
"Ilih, dengar soal gaji langsung boleh," seloroh Diane mengejek suaminya.
"Hei! Apa katamu? Kamu pikir aku mengizinkanmu hanya untuk uang itu? Astaga, Diane!" Arsenio semakin mengeratkan dekapannya, kedua matanya seperti akan keluar dari sarangnya karena kesal dengan apa yang baru saja dituduhkan oleh istrinya baru saja.
Diane justru tertawa melihat ekspresi Arsenio yang sedang kesal itu. Terlihat begitu menggemaskan di indera penglihatannya.
"Bilang saja, uangku sayang kalau di abaikan, bukan?" balas Diane di tengah gelak tawanya hingga memperlihatkan deretan giginya yang rapi dan berwarna putih.
Arsenio yang melihat ekspresi istrinya, sebuah sengatan listrik terasa mengalir di dalam aliran darahnya. Tawa Diane membuat dirinya merasa ada getaran s*****l di dalam dekapannya.
"Kau!" Kesal karena Diane justru menertawakan kekesalannya, Arsenio merubah posisinya yang tadinya hanya mendekap dari samping, kini pria itu sudah berada di atas tubuh wanita yang baru kemarin menjadi istrinya itu.
Dan jangan tanyakan lagi bagaimana ekspresi Diane saat ini. Tentu saja gadis itu sangat terkejut, merasa malu, khawatir dan menyesal. Dan hal itu datang secara bersamaan.
Malu karena merasakan sikap Arsenio yang mulai menunjukkan keagresifan terhadap dirinya. Khawatir andai Arsenio akan meminta haknya sebagai seorang suami saat ini juga yang mana dia merasa belum siap untuk melakukan hal intim itu.
Juga menyesal telah menertawakan suaminya. Sungguh Diane tidak pernah menyangka Arsenio akan melakukan hal nekat seperti ini.
"Ma-maaf, Kak," lirih Diane memohon pengampunan atas sikapnya terhadap pria yang saat ini sedang menindihnya.
Arsenio tidak mengindahkan kalimat maaf dari istrinya. Tatapannya menusuk tajam seakan mampu menghunus jantung Diane. Deru nafas yang semula hanya biasa saja, kini pria itu sudah mulai merasakan getaran aneh dalam tubuhnya.
Detak jantungnya mulai berpacu lebih cepat dan semakin cepat. Hembusan nafasnya kini sudah tidak beraturan seakan sedang berlari berkilo meter jauhnya.
"Kak, maafkan aku," ujar Diane lagi berusaha meraih kesadaran Arsenio yang kini sudah terselimuti oleh kabut hitam yang bernama gairah, dan Diane tentu tahu akan hal itu.
"Tidak. Tidak akan pernah, kau telah memulainya," desis Arsenio yang mencoba berbicara dengan baik di sela helaan nafas yang terus menggebu.
Arsenio seperti orang yang hilang kendali, tubuhnya seakan mengatakan dengan sangat jelas bahwa dirinya menginginkan seorang Diane untuk dia sentuh di atas ranjang ini.
Saat Arsenio mulai mendekatkan wajahnya ke bibir Diane.
Sang gadis tentu saja mulai panik dengan sikap dari sang suami. Tidak menyangka saat ejekannya akan berubah menjadi sebuah petaka.
"Kak, please! Maafin aku," ujar Diane memelas.
Berharap Arsenio akan tersadar dan mau menghentikan perbuatannya.
Cup!
Arsenio melumat bibir basah milik Diane, menyesap dan memainkannya perlahan.
Lelaki itu rupanya sudah benar-benar hilang akal. Merasa dipermainkann oleh sang istri, lelaki itu sepertinya sudah bertekat untuk memberikan hukuman untuk Diane.
Tangan Arsenio mulai andil dalam permainan. Menjajah tubuh bagian samping sang istri. Merasakan betapa indah lekuk tubuh milik wanitanya.
"Ah, Kak.... maafkan aku," lirih Diane memohon agar Arsenio segera menghentikan aktivitasnya. Diane merasa saat ini dirinya benar-benar belum siap untuk melakukan apa yang diinginkan oleh Arsenio saat ini.
Namun siapa sangka saat Arsenio sudah akan menyingkap baju milik Diane, tiba-tiba ponsel miliknya berdering begitu keras tanda seseorang sedang menghubunginya.
Tentu saja hasrat yang baru saja memuncak tiba-tiba menghilang begitu saja.
Bersamaan dengan kelegaan hati Diane yang merasa dirinya saat ini telah ditolong oleh seseorang entah siapa yang menghubungi suaminya itu.
Arsenio memejamkan matanya erat, masih berada di atas tubuh Diane yang masih mengenakan baju sempurna. Hanya perut putih mulus itu sudah terlihat karena ulah Arsenio yang ingin menyingkap kain itu.
"f**k!"
"Siapa pun kau akan ku bunuh hari ini juga!" umpat Arsenio sambil melepaskan Diane yang kini tampak sangat lega meski deru nafasnya masih kian memburu.
Meraih ponsel miliknya yang berada di atas nakas, Arsenio lalu menggeser lencana hijau pada layar ponselnya, Arsenio mengurut pelipis yang dia rasa sangat panas ingin meledak karena tidak tuntas menyalurkan hasrat.
"Kau ingin mati?"
Arsenio mendengus kesal karena sesuatu telah mengacaukan dirinya. Dia gagal untuk mendapatkan Diane hari ini. Ingin sekali rasanya lelaki itu mengunyah siapa pun yang berani mengacaukan keintimannya bersama Diane.
"s**t! Kau ingin mati?" sergah Arsenio langsung pada inti pembicaraan yang menunjukkan bahwa dirinya saat ini sedang murka karena telah diganggu.
Entah apa yang dibicarakan oleh seseorang di seberang sana, Arsenio tampak sedikit menegang terlihat dari raut wajahnya.
"f**k! Aku aku sedang tidak ingin di ganggu!" bentak Arsenio lagi menanggapi orang yang meneleponnya itu.
Tidak ingin berbicara lebih banyak lagi, Arsenio memilih untuk memutuskan panggilan secara sepihak. Melempar ponsel mahal miliknya kembali ke atas nakas.
Sementara Diane saat ini masih terpaku melihat betapa mengerikannya seorang Arsenio saat marah. Mungkinkah dia akan diperlakukan sedemikian kasar juga andai dirinya melakukan kesalahan?
Tubuh Diane terasa kebas dengan nyali yang sedikit menciut. Takut, ya. Kata itu adalah yang tepat untuk menamai perasaannya saat ini.
Arsenio menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang lalu menatap tajam manik istrinya yang sejak tadi masih membeku.
Menghela napas kesal.
"Rupanya aku tidak bisa menepati janjiku untuk menemanimu hari ini. Aku ada hal yang harus aku selesaikan," beri tahu Arsenio sambil membelai lembut pucuk kepala istrinya dengan sayang. Hasratnya kini benar-benar telah hilang.
"Oh, i-ya. Tidak apa-apa. Pergilah!" jawab Diane masih saja gugup. Namun di dalam hatinya begitu lega karena suaminya akhirnya akan pergi.
'Syukurlah, pergilah sekarang juga. Dan lupakan semua yang baru saja terjadi,' ucap Diane dalam hati.
"Kamu jangan senang dulu. Aku tetap akan memberikan hukuman untukmu," ujar Arsenio seakan mendengar apa yang baru saja dipikirkan oleh Diane.
'Sial!' umpat Diane lagi dalam hati.
"Jangan mengumpat, atau aku akan menambah hukuman untukmu," ancam Arsenio sambil mengedipkan sebelah matanya dengan nada bicaranya yang jahil.
"Aku menantikannya," sahut Diane dengan senyumnya yang sedikit dipaksakan karena ngeri melihat seringai suaminya.
Cup.
Arsenio mencium kening Diane sekilas. Dan seketika tubuh Diane menghangat bahkan sampai ke setiap aliran darahnya. Meski rasa takut yang menyelimuti hatinya masih belum juga hilang, namun mendapatkan perlakuan manis dari Arsenio sepertinya bisa jadi penawarnya.
Gadis itu tidak pernah mendapatkan perlakuan semanis itu dari seseorang. Dan kali ini Arsenio memberikannya dan terasa begitu tulus dirasakannya.
Arsenio pun akhirnya meraih ponsel miliknya di atas nakas, mengenakan jaket lalu sedikit tergesa keluar dari kamar yang kini terasa hangat itu.
Diane turun dari ranjang, membuka tirai jendela demi melihat kepergian suaminya yang tiba-tiba itu.
Sambil mengelus dahi miliknya, gadis itu kembali merasakan kehangatan yang luar biasa menyelimuti dirinya.
Apakah dia sudah jatuh cinta? Entahlah, Diane sendiri masih bingung dengan sikap Arsenio yang ternyata hangat terhadap dirinya. Karena sebelumnya dia berpikir akan menjalani kesehariannya dengan rasa canggung karena mereka tidak saling mengenal.
Namun rupanya Diane salah, justru dia merasaka debaran dan gelenyar aneh saat berada di dekat suaminya.
"Tuhan, sebenarnya siapa dia?" ucap Diane bermonolog.
Arsenio saat ini sedang berada di sebuah markas di mana biasa dia dan anak buahnya berkumpul untuk merencanakan aksinya.
"Tuan! Kenapa anda terlihat begitu kesal?" tanya salah seorang bawahannya yang bernama Max.
"Kau tahu? Kau baru saja mengacaukan acara romantis dengan istriku," sungut Arsenio yang kini mulai duduk dan meraih laptop dan memerksa deretan angka di layar monitornya.
"Maaf, saya tidak tahu kalau tenyata anda sedang bersama Nyonya," ucap Max mengutarakan rasa penyesalannya. Namun sebenarnya dia sedang menertawakan kekesalan bosnya itu.
"Reynold bagaimana?" tanya Arsenio mengalihkan pembicaraan mereka.
"Saat ini misinya berhasil, Tuan. Tapi sepertinya saat ini anak buah Luke sedang mengintainya. Jadi dia tidak bisa melakukan pergerakan yang berarti untuk mengirimkan file itu."
"Jadi?" tanya Arsenio.
"Jadi mungkin akan membutuhkan waktu lebih untuknya kembali ke Los Angeles."
"Tanyakan apakah dia membutuhkan bantuan!" titah Arsenio.
"Sudah, Tuan. Dia bilang tidak perlu. Hanya saja dia meminta untuk sedikit bersabar," jawab Max.
Arsenio diam dan hanya menatap kurva yang terus menunjukkan angka yang naik. Itu adalah update harga saham di perusahaannya.
"Lalu kenapa kau mengatakan ada hal darurat yang terjadi?" tanya Arsenio mulai kesal.
"Darren baru saja bertemu dengan salah seorang yang dulu pernah menjadi anak buah Luke. Orang itu mengatakan bahwa mereka mengetahui soal pernikahan anda, Tuan. Dan kami khawatir itu akan mengancam keselamatan Nyonya." Max mengutarakan hal yang menurutnya sangat penting itu.
Arsenio tampak mengepalkan jemarinya menahan amarah, namun tentu saja saat ini dia belum bisa berbuat apa-apa. Hanya lebih berhati-hati dalam menjaga istrinya adalah hal yang paling tepat saat ini.