Saat Arsenio membuka pintu, Diane masuk lebih dulu dan langsung dibuat kagum dengan interior yang terlihat di dalam rumah sederhana ini. Warna cat yang berwarna putih menyeluruh membuat tampilan interior menjadi terlihat sangat rapi dan bersih. Bahkan ada beberapa furnitur yang sepertinya bukan barang yang murah terpampang di beberapa bagian sudut rumah itu.
Hanya ada tiga kamar di rumah itu. Satu kamar utama yang cukup luas dan dua kamar tamu berukuran sedang.
Satu toilet di dalam kamar utama dan di dekat dapur.
Diane penasaran dengan desain dapur di bagian belakang, mungkinkah sama bagusnya seperti yang ada di bagian depan?
Dan ternyata benar, perabot semuanya terlihat bukan seperti barang yang biasa digunakannya di rumah. Dalam hati gadis itu sungguh penasaran sebenarnya milik siapa rumah apik ini?
"Diane!" seru Arsenio dari dalam kamar memanggilnya.
"Iya!" balas Diane. Dengan sedikit terburu gadis itu berbalik menuju suaminya berada.
"Kamu nanti lagi saja lihat-lihatnya. Lebih baik kamu tidur istirahat," saran Arsenio sambil mengemas pakaian milik istrinya.
Melihat suaminya tengah berdiri di depan lemari dan sibuk menata pakaian miliknya, tiba-tiba dia Diane melihat Arsenio sedang memegang sebuah pakaian dalam yang berbentuk cup kembar yang jelas itu adalah barang pribadi Diane.
"Biar aku sendiri yang menatanya, Kakak istirahat saja, ya?" sahut Diane sambil merebut benda yang dia anggap keramat itu.
Arsenio tersenyum jahil saat istrinya tampak malu saat dirinya sengaja memegang benda itu.
Arsenio tertawa kecil.
"Kenapa? Kamu malu? Aku ini suami kamu," balas Arsenio saat Diane kini sudah dengan sangat cepat memindahkan pakaiannya ke dalam lemari yang cukup besar berwarna putih di dalam kamar itu.
"Tidak! Siapa yang malu. Hanya saja aku tidak ingin menjadi istri yang tidak baik. Masa iya suami yang merapikan pakaian istrinya," kilah Diane dengan nada bicara yang sedikit gugup.
"Benarkah?" tanya Arsenio sambil meraih pinggang istrinya lalu merapatkan dengan tubuhnya yang kekar berisi.
Diane terdiam seketika, gadis itu seakan dibuat membeku saat Arsenio melakukan hal itu terhadap dirinya. Juga tatapan tajam manik elang milik Arsenio seakan mempunyai sihir yang berhasil membuat jantungnya memacu lebih cepat lagi dan lagi.
Tinggi badan mereka yang selisih cukup jauh, memudahkan Arsenio untuk menguasai tubuh istrinya.
Cup. Dan Arsenio berhasil mencuri satu ciuman di bibir Diane untuk pertama kalinya. Pria itu sejujurnya sudah sangat menahannya saat menggendong gadis itu saat resepsi pernikahan mereka kemarin. Namun tentu saja dia harus menahannya karena khawatir kalau Diane akan bersikap risih terhadap dirinya yang cenderung agresif, meski sebenarnya iya.
"Kak," cicit Diane. Dia seakan tersihir lebih dalam lagi saat menerima ciuman dari suaminya. Ciuman pertama kali bagi gadis yang lugu seperti dirinya bukanlah hal yang biasa. Ini sangat dahsyat hingga mampu menggetarkan hati dan jiwanya.
Jantung Diane berdetak begitu cepat, bahkan keduanya mampu mendengar degup jantung yang seperti sedang bersahutan.
"Maaf. Tapi aku ini suamimu, dan aku menginginkannya," ucap Arsenio masih belum melepaskan tangan kekarnya yang masih mengikat pinggang ramping milik tubuh Diane yang mungil.
Tersadar, Diane berusaha melepaskan diri dari dekapan suaminya, namun pastinya gagal. Karena kekuatannya tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan Arsenio.
"Tidak apa. Aku ini istrimu, kamu pun berhak atas tubuhku," balas Diane berusaha untuk bersikap biasa saja. Diane juga tidak kalah berani menjawab kalimat Arsenio demi menutupi kegugupannya.
Mendengar penuturan Diane, Arsenio seakan tertantang untuk melakukan lebih. Namun dia harus menahan diri, dia tidak ingin membuat kesan buruk di awal pernikahan mereka. Arsenio akan melakukannya dengan cara yang sangat halus dan berkelas. Tapi melakukan apa? Ah, tentu saja urusan ranjang mereka. Sejujurnya Arsenio sudah sangat menantikan hal itu.
"Benarkah? Aku menantikannya."
Deg!
Mendengar jawaban Arsenio yang terkesan menggoda membuat Diane merasa sangat menyesal dan merutuki dirinya sendiri karena telah begitu lancang mengatakan hal yang cukup berani di hadapan Arsenio.
Arsenio perlahan melepaskan tubuh istrinya. Dan akhirnya Diane pun merasa sangat lega telah terbebas dari tubuh wangi yang memabukkan itu.
Sungguh, berada di dalam dekapan Arsenio seolah dirinya sedang berada di sanggar senam, bukan aerobic, tapi senam jantung. Ya, jantung Diane saat ini rawan
"Segera rapikan dan istirahat, aku akan menemanimu seharian ini. Karena besok aku sudah mulai sibuk bekerja," ujar Arsenio sambil berjalan menjauhi istrinya menuju tempat tidur berukuran king size yang terlihat begitu empuk dan nyaman itu.
Diane berusaha mengondisikan degup jantungnya yang masih saja berdetak seperti genderang yang sedang bertalu. Sambil merapikan pakaian miliknya yang tidak banyak itu dia melakukannya dengan sangat pelan, sambil berharap detak jantungnya kembali normal dan dia tidak lagi merasa canggung apa lagi malu di hadapan Arsenio. Apa lagi setelah kejadian tadi, Diane sungguh seperti sedang dikuliti saat ini.
Dia merasa Arsenio yang sedang rebahan di ranjang tepat di belakang tubuhnya itu sedang mengamati gerak-geriknya. Dan itu sungguh membuat Diane semakin gila.
Butuh waktu yang cukup lama hanya untuk merapikan pakaian yang tidak memakan setengah tempat dari lemari pakaian itu. Akhirnya Diane tidak ada alasan lagi untuk dirinya tetap berdiam di depan lemari pakaian. Dia harus segera menyusul suaminya di atas ranjang yang sangat nyaman itu untuk beristirahat.
"Ini masih pagi, aku tentu saja tidak bisa tidur," beri tahu Diane sambil duduk di tepi ranjang.
Sedangkan Arsenio sebenarnya sedari tadi sibuk dengan ponsel pintar miliknya, namun karena tingkah istrinya yang terlihat seperti sedang salah tingkah itu justru membuatnya menjadi sayang apa bila tidak memperhatikan sikap Diane yang terlihat begitu menggemaskan itu.
"Setidaknya berbaringlah agar tubuhmu rileks. Atau mungkin kita bisa melakukan sesuatu?" tanya Arsenio dengan smirk yang terlihat sangat menakutkan bagi Diane.
Gadis itu merasa sedang berhadapan dengan seekor singa yang sedang kelaparan. Sangat mengerikan.
Pikiran Diane pun semakin melalang buana, memikirkan bagaimana kalau pada akhirnya Arsenio menerkamnya secara paksa? Oh tidak, itu tidak boleh terjadi!
"Hah! Apa? Tidak!"
"Kenapa?"
"Tidak, aku mau tidur saja."
"Ayolah, Diane. Kita sudah menikah."
'Astaga, apa yang sebenarnya dia inginkan?' cicit Diane dalam hati yang kini seperti sedang terkena serangan panik karena terus digoda oleh suaminya.
Arsenio hanya tersenyum menanggapi tingkah lucu istrinya yang menggemaskan itu.
Meski niat Diane adalah untuk tidur dan beristirahat, namun nyatanya dia tidak bisa memejamkan matanya di saat seperti ini.
Satu ranjang dengan seorang pria, yang mana dia tentu belum terbiasa dengan hal itu.
Melirik ke sebelah kirinya, Diane melihat suaminya sedang sibuk dengan ponsel dan mengetik sesuatu yang entah berisi soal apa Diane tidak tahu dan tidak mau tahu.
"Baru sadar kalau suamimu ini tampan?" tanya Arsenio tanpa melihat ke arah Diane yang saat ini sedang gugup karena ketahuan sedang memperhatikan suaminya.
"Apa sih," sungut Diane menutupi kegugupannya.
Diane saat ini sedang berpikir bagaimana bisa Arsenio tahu kalau dirinya sedang memperhatikan pria itu? Sedangkan jelas-jelas Arsenio sedang sibuk menatap ponsel miliknya.
"Mengaku saja," balas Arsenio mencebik.
"Ck. Apa kamu masih sibuk? Aku ingin membicarakan hal penting," ujar Diane berusaha mengalihkan pembicaraannya.
"Katakan saja, aku mendengar," sahut Arsenio masih tidak melihat ke arah istrinya sedikit pun.
"Soal pekerjaanku yang jauh dari sini." Diane membahas kembali apa yang sebelumnya dia sudah katakan namun belum mendapatkan waktu yang pas. Dan Diane merasa kali ini adalah waktu yang tepat untuk membahasnya kembali.
Tentu saja hal itu juga berkaitan dengan kegugupannya yang terus saja bersarang di dalam jiwanya. Meski awalnya Diane tampak menyepelekan Arsenio, namun nyatanya dia sendiri lah yang saat ini harus bersusah payah demi bisa terlihat biasa saja dan tidak gugup.
Gugup? Di hadapan Arsenio? Ah, itu tidak mungkin. Begitulah kira-kira yang ada di dalam pikiran Diane sebelumnya.
Namun nyatanya pesona Arsenio tidak semudah itu di abaikan. Justru kini Diane harus mengeluarkan banyak tenaga intuk bisa mengendalikan jantung yang terus tidak bisa dia atur kecepatan denyutnya.
Dan ini sebenarnya sungguh menyiksa.
"Berhentilah. Aku sangat sanggup kalau hanya memenuhi kebutuhan dan juga biaya kuliah." Arsenio menaruh ponselnya di atas nakas. Pria itu memiringkan badannya dan menghadap ke arah istrinya yang sedang tiduran di ranjang yang sama dengannya.
"Tapi, Kak...."
Belum sempat Diane melanjutkan kalimatnya, Arsenio lebih dulu meraih pinggang miliknya dan merapatkan tubuh mereka hingga tidak ada lagi jarak meski hanya satu centi. Entah kapan lelaki itu sudah tidak memegang ponsel dan tiba-tiba bisa memeluk Diane dengan posisi yang sangat intim seperti sekarang ini.
"Aku tidak suka melihat istriku bersusah payah saat aku mampu melakukan segalanya," ujar Arsenio tepat di depan wajah Diane yang kini sedang mematung dan terlihat mulai memerah karena perlakuan Arsenio yang begitu manis.
Diane tidak tahu harus menjawab apa, sungguh pergerakan Arsenio yang begitu cepat itu tidak bisa dia hindari. Dan akhirnya dia harus tenggelam dan membeku dalam dekapan pria yang sangat tampan itu.
Aroma woody musk kembali memanjakan indera penciumannya. Diane benar-benar terlena dengan pesona seorang Arsenio.
"A-ak hanya tidak ingin menyusahkanmu," sahut Diane lagi yang sedang berusaha untuk meyakinkan suaminya.
"Aku tidak susah dan aku tidak suka di bantah," tandas Arsenio tidak mau kalah.
"Aku hanya ingin...."
Cup.
Arsenio kembali mencuri satu ciuman singkat di bibir istrinya.
"Aku hanya ingin kamu fokus kuliah dan saat pulang hanya akan melayaniku. Di sini." Arsenio mengerlingkan sebelah matanya berniat menggoda istrinya yang sedang menahan kegugupan yang tentu saja Arsenio tahu akan hal itu.
Lalu jangan tanya bagaimana perasaan Diane saat ini. Ingin rasanya dia melompat ke dasar jurang saja dan lenyap dari pandangan Arsenio. Sungguh mendapat perlakuan yang menurutnya tidak wajar ini sangat menyiksa jiwanya.
Gadis yang belum pernah mengenal apa itu bersentuhan dengan lawan jenis, namun kini tiba-tiba dia berada di dalam dekapan seorang lelaki. Ah, Diane mungkin sebentar lagi akan gila.