Bab 4. Pergi 2

1016 Words
Sedangkan Jenny saat ini masih fokus dengan sarapannya yang hampir selesai. Sesekali melirik ke arah adik satu-satunya. Menatap wajah cantik itu dari samping lalu memperhatikannya begitu lekat dengan smirk liciknya. 'Aku memang jahat, Diane. Tapi aku pikir kamu cukup bahagia punya suami payah seperti dia,' hina Jenny dalam hatinya. Gadis itu bersyukur karena ayahnya yang selalu membela dirinya dari pada Diane. Bahkan kegagalan pernikahannya yang sempat membuat geger seisi rumah itu tidak lagi dia pikirkan karena Diane telah bersedia menggantikannya. Acara sarapan mereka telah selesai, Arsenio menyampaikan kalimat pamitannya untuk semua penghuni rumah. "Yah," panggil Arsenio kepada ayah mertuanya. "Hmm?" sahut Lucas hanya dengan gumamannya. Dalam hati pria tua itu sudah tahu kalimat apa yang mungkin akan keluar dari mulut menantunya itu. "Kami akan segera berangkat. Kami mohon pamit dan minta doa restu dari kalian semua agar pernikahan kami diberkati Tuhan dan juga akan selalu bersama hingga saatnya kami menua bersama." Arsenio mengucapkan kalimat tulus untuk pertama kali selama hidupnya. Lucas tidak langsung menjawab, begitu juga Rossa yang ternyata sedikit merasakan kehampaan di ruang kecil di dalam hatinya yang mana bagaimana pun dirinya adalah seorang ibu. Meski sering bersikap tidak adil, namun tidak lantas hirau begitu saja soal keberadaan Diane. Lain halnya dengan Jenny yang menarik salah satu ujung bibirnya sambil berdecih, menganggap orang-orang seisi ruangan itu lebay dan melebih-lebihkan hal sepele. Karena Jenny memang sebenci itu terhadap Diane, entah apa penyebabnya dirinya sendiri pun tidak tahu. Mungkin melihat perlakuan Rossa terhadap Diane lah yang membuat Jenny mencontoh perilaku buruk ibunya. "Ehm. Semoga kalian selamat sampai tujuan. Dan kamu, Arsenio. Jangan lupa menghubungi Ayah setelah kamu sampai di tempat tinggal kalian. Dan jadilah suami yang baik untuk anak Ayah." "Iya, Yah. Pasti. Dan sekalian saya sampaikan, mungkin setelah ini kami tidak bisa sering berkunjung, Diane harus kuliah dan Arsenio harus bekerja." "Tidak apa-apa, yang penting kalian bahagia kami sudah cukup untuk itu," sahut Rossa menimpali percakapan mereka secara tiba-tiba. Diane tersenyum kecut melihat bagaimana respon ketiga orang yang selama ini berlaku tidak adil terhadap dirinya, namun kini justru seolah sedang bersedih karena harus melepasnya. Sungguh itu membuatnya semakin muak saja. Meski begitu, sebenarnya dalam hatinya pun merasakan sedikit cubitan kecil, dia kali ini benar-benar bebas dari orang-orang yang selama ini seperti sedang mencekik lehernya. Ada rasa lega dan sakit yang muncul secara bersamaan. Keduanya berangkat dengan mobil yang telah dipesan oleh Arsenio melalui aplikasi online milik Diane. Karena pria itu tidak memiliki aplikasi semacam itu di ponselnya. "Kamu baik-baik saja, Diane?" tanya Arsenio saat sudah sekitar tiga puluh menit perjalanan mereka. "Kenapa kamu tanya begitu, Kak? Aku jelas baik-baik saja," jawab Diane yakin. Gadis itu saat ini sedang mengedarkan pandangannya ke luar jendela untuk melihat betapa indahnya gedung yang berjejeran di Ibu Kota negara Amerika. "Aku takut saja kalau suatu hari mungkin kamu akan menyesal menikah denganku kalau kamu sudah tahu siapa aku yang sebenarnya," jawab Arsenio. Pria itu sepertinya sudah benar-benar jatuh cinta dengan Diane. Pandangan pria itu terlihat begitu mendamba saat menatap gadis manis keturunan Braxton yang saat ini telah sah menjadi istrinya secara agama. "Lalu apa aku boleh tahu siapa Kakak yang sebenarnya? Yang baru saja kamu katakan itu, Kak?" "Aku hanya orang biasa yang ingin membuatmu bahagia setelah apa yang telah kamu lalui selama ini bersama mereka," jawab Arsenio mantap dan sangat yakin. Diane berdecih, tertawa menanggapi jawaban suaminya yang justru terdengar seperti sedang mengasihani dirinya. "Kamu tidak percaya?" tanya Arsenio tidak terima. "Hahaha, iya Kak, iya. Maaf. Aku hanya sedih, aku kira kamu sedang mengasihani diriku," jawab Diane dengan tawanya. Meski di dalam hati gadis itu terbesit rasa ragu dan tentunya tidak percaya atas apa yang baru saja dikatakan oleh Arsenio. Se-tahu apa lelaki itu tentang kehidupannya? Tidak. Diane yakin Arsenio sebenarnya tidak tahu menahu soal apa yang telah menimpa hidupnya selama ini. Dan Diane yakin Arsenio hanyalah berucap demi menyenangkan hatinya. Entah mengapa suaminya saat mengucapkan kalimat protes itu terlihat begitu menggemaskan. Dan lihatlah, Arsenio ternyata memang sangat tampan kalau dilihat dari dekat seperti sekarang ini. Tunggu dulu, apa Diane sudah mulai memuji suaminya kali ini? Entahlah, semoga saja tawa yang mereka mulai bersama di dalam mobil menuju tempat tinggal barunya itu akan menjadi awal yang baik di hubungan mereka sampai ke depannya. "Aku tidak pernah mengasihanimu, Diane." "Iya, aku tahu. Maaf." "Baiklah, aku maafkan." Keduanya lalu tertawa begitu bahagianya di dalam mobil Toyota Avanza hitam. Bahkan mereka tidak peduli bahwa ada orang lain di dalam sana yaitu si sopir yang sejak tadi hanya diam dan merasa heran dengan penumpang yang sedang menyewa jasanya itu. Namun apa pedulinya, yang penting dia dibayar dengan tarif yang sesuai, bukan? Lima puluh menit berlalu dan akhirnya mereka telah sampai di sebuah rumah kecil di sebuah kampung yang cukup jauh dari keramaian kota Los Angeles. Arsenio tampak sibuk menurunkan barang bawaan milik Diane yang entah apa isinya dia pun tidak tahu. Mobil telah pergi meninggalkan mereka setelah Arsenio melakukan pembayaran dan memberikan uang tip beberapa lembar uang ratusan ribu yang mana Diane tidak tahu kalau dirinya punya uang sebanyak itu hanya untuk membayar jasa carter mobil. Diane tampak melihat tampilan halaman rumah yang terlihat tidak begitu modern, justru bisa dibilang bahwa rumah itu model jaman dulu yang masih terawat dengan baik. Cat berwarna putih bersih serta dua kursi rotan beserta satu meja kayu sengaja diletakkan di teras menambah kesan jadul rumah itu. "Maaf belum bisa kasih kamu hunian yang bagus, tapi aku janji kita di sini hanya sebentar. Kamu tenang saja," ujar Arsenio berhasil mengalihkan atensi Diane yang sejak tadi fokus melihat sekeliling rumah. "Aku suka, suasananya sangat sejuk karena banyak pohon di sini, tapi...." Diane menggantungkan kalimatnya "Ada masalah?" tanya Arsenio penasaran dengan kalimat yang menggantung dari bibir peach milik istrinya. "Ini cukup jauh dari tempat kerja aku, Kak," jawab Diane. Arsenio berjalan mendahului istrinya untuk membuka pintu agar mereka bisa segera istirahat. "Kita bahas nanti saja, oke?" Diane hanya mengangguk mengiyakan apa yang telah dikatakan oleh Arsenio. Meski dalam hati dia sangat cocok dengan hawa yang ada di lingkungan ini, namun tetap saja dia mengeluhkan bagaimana nanti dia bekerja kalau harus menempuh waktu satu jam lebih untuk sampai di pabrik tempatnya bekerja.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD