"Tentu saja. Aku yakin. Tapi, apakah aku masih boleh bekerja?" izin Diane kemudian sambil melanjutkan menyisir rambutnya menghadap cermin.
Meski pernikahan mereka berawal dari paksaan dan terasa begitu tidak adil, namun tetap saja dia kini menjadi seorang istri. Jadi apa pun yang akan dia lakukan haruslah mendapat izin dari suaminya.
"Tidak, bulan depan kamu harus segera kuliah. Bulan depan sudah tahun akademi baru bukan?" Arsenio melepas baju pengantin yang sedari tadi membuatnya tidak nyaman.
"Aku tidak ingin memberatkanmu, Kak. Kalau begitu biarlah aku cukup di rumah melayanimu," balas Diane kembali menoleh ke ara suaminya.
Dalam hati Diane juga berpikir soal kuliahnya yang tidak pernah terbayang sebelumnya itu. Benarkah Arsenio bersungguh-sungguh dengan kalimatnya? Atau hanya bualan agar dirinya tertarik padanya?
Entahlah. Yang ada di dalam pikiran Diane saat ini hanyalah kekacauan yang luar biasa hingga dirinya tidak bisa berpikir cukup rasional.
Menikah dengan pria asing, satu kamar dengannya, dan saat ini sedang membicarakan tempat tinggal bersama.
Semua terdengar aneh di telinga Diane.
"Aaarrrhhh!" jerit Diane saat mendapati suaminya kini hanya mengenakan celana kolor pendek tanpa mengenakan baju atasan.
Nampak body goals milik Arsenio yang nyaris sempurna. Otot perut yang berbentuk kotak-kotak hingga lengan kekar dan d**a yang terlihat sangat berotot jelas hasil dari latihan yang mungkin rutin dilakukan suaminya.
"Eh, kenapa?" tanya Arsenio kebingungan melihat reaksi istrinya yang menutupi wajah dengan kedua telapak tangannya.
"Kenapa gak bilang kalau gak pake baju?" sungut Diane merajuk, merutuki kelakuan suaminya yang berhasil membuatnya malu.
"Kita sudah menikah loh, Diane. Lalu salahku di mana?" goda Arsenio pada istrinya yang kini tengah merajuk karena malu. Bagi Arsenio pemandangan itu sungguh menggemaskan.
Dia berpikir sangat beruntung mendapatkan Diane, seorang gadis yang masih polos dan lugu. Lain dengan para wanita yang selama ini bersamanya, agresif, tidak pernah punya rasa malu bahkan terkadang sedikit liar. Arsenio saat ini seperti sedang mendapatkan sebuah mainan baru.
"Iya, tapi kan...."
"Tapi apa?"
Hari begitu cepatnya berlalu. Malam yang melelahkan kini telah berakhir dan pagi siap menyongsong harapan baru yang mungkin akan membawa kehidupan seorang Diane kian membaik.
Status baru kini telah dia dapatkan meski bukan atas kemauannya sendiri. Pernikahan mendadak dan dengan pria asing saat ini benar-benar akan menguji kekuatan mentalnya. Akankah dirinya bisa menjadi istri yang baik? Akankah pria yang menikahinya ini akan bersikap baik pula padanya? Entahlah.
Terlepas dari apa pun yang mungkin akan terjadi, Diane memilih untuk tidak repot memikirkan masa depan apa yang telah menunggunya.
Gadis yang baru saja melepas status lajangnya kemarin siang ini tidak menuntut masa depan apa pun untuk dirinya. Dia bertekad akan menjalani kehidupan barunya itu seperti air yang mengalir tanpa harus bertanya akan di bawa ke mana dia.
"Sudah selesai berkemasnya?" tanya Arsenio membuyarkan lamunan istrinya yang sedang merapikan semua pakaiannya untuk di bawa ke tempat tinggal mereka yang baru.
Diane tak langsung menjawab pertanyaan suaminya. Menatap manik Arsenio sejenak.
Menyelami dan berusaha mencari tahu sebenarnya siapa suaminya ini? wajah tampan yang sepertinya tidak terlalu asing, nama yang asing juga membuat pikiran Diane bertanya-tanya siapa Arsenio sebenarnya.
Mengingat perlakuan manis Arsenio kemarin, sebenarnya sudah berhasil menggetarkan hati seorang Diane. Namun tentu saja itu tidak akan menyembuhkan luka karena harus menikah paksa oleh kedua orang tuanya. Menikah dengan lelaki yang tidak pernah dikenal, apa lagi dicintainya. Ini sungguh sangat menyakiti hati dan jiwa Diane.
Namun apalah daya, kedua orang tuanya bukanlah orang yang mudah di bantah apalagi ditolak kemauannya.
'Ini gara-gara Jenny!' Kalimat itulah yang ingin sekali dia teriakkan saat ini agar langit mendengar betapa tersiksanya dirinya saat ini.
"Sudah, kita akan segera pergi dari sini," jawab Diane mantap. Bahkan terdengar sangat yakin, seolah dia benar menginginkan hal ini terjadi meski sebenarnya tidak juga.
Dia seperti seorang anak gadis yang terbuang, yang tidak diinginkan oleh siapa pun yang ada di dunia ini. Menikah secara paksa dan dengan orang yang sama sekali dia tidak kenal bagaimana dan di mana latar belakang keluarga seolah bukan lagi pukulan berat dalam dirinya.
Justru Diane menganggap ini semua merupakan hal yang sangat lumrah bagi dirinya yang memang tidak pantas memiliki pilihan bahkan itu untuk dirinya sendiri.
Arsenio duduk di tepi ranjang kecil milik Diane, ranjang yang tidak akan cukup apa bila digunakan untuk tidur berdua. Bahkan semalam Arsenio harus tidur di lantai beralaskan tikar dan selimut yang sudah disediakan oleh Diane. Rupanya gadis itu memang sudah menyiapkan itu untuk berjaga-jaga agar Arsenio tidak satu ranjang dengannya.
Diane bersyukur betapa pengertiannya Arsenio sejauh ini, dia tidak menuntut hak apa pun setelah menjadi suaminya. Dan Diane berharap ini bukanlah hanya sikap manis di awal saja. Diane berharap Arsenio memang pria yang baik seperti ekspetasinya.
"Diane," panggil Arsenio sambil menatap istrinya itu dengan tatapan sedikit iba.
"Iya? Ada apa, Kak? Ah, iya maksud aku...."
"Ya. Panggil aku dengan sebutan itu. Aku suka," pungkas Arsenio.
"Ah, iya. Ada apa?" tanya Diane lagi sedikit canggung. Gadis ini paham kalau sepertinya Arsenio akan membahas sesuatu yang cukup serius.
"Maaf, aku tidak tahu bagaimana cara memanggil suami yang baik."
Arsenio tersenyum, tentu dia tidak mempermasalahkan panggilan untuk dirinya.
"Kita mungkin akan sangat lama tidak berkunjung ke sini. Apa kamu yakin akan pergi secepat ini setelah pernikahan kita?" tanya Arsenio sekali lagi ingin memastikan bahwa Diane tidak sedang dalam mode emosi sesaat yang mungkin akan membuatnya menyesal di kemudian hari.
Arsenio menyebut 'kita', entah kenapa hati Diane terasa sedikit menghangat hingga menjalar ke seluruh tubuhnya.
"Aku yakin, Kak. Aku sudah berjanji pada diriku sendiri bahwa aku akan berusaha menjadi istri yang baik untukmu. Dan aku harap kamu juga menerima apa kurang dan lebihnya aku. Meski aku yakin sebenarnya aku ini tidak ada kelebihan apa pun."
Arsenio lagi-lagi dibuat tersenyum oleh istrinya. Terlihat sangat lugu namun Arsenio tahu bagaimana karakter istrinya ini. Penurut, lugu, dan sepertinya bukan seorang wanita yang suka berbohong demi menutupi keburukannya.
"Baiklah. Kita pergi sekarang."
Keduanya keluar dari kamar pengantin mereka yang sangat sempit itu. Mencari kedua orang tuanya untuk pamit, Diane menuju dapur dan menemukan ayah, ibu dan kakak perempuannya sedang sarapan bersama.
"Kalian sudah bangun?" sambut Lucas saat mendapati sepasang pengantin baru itu muncul di ruang makan dekat dapur.
"Sudah dari tadi, Yah," balas Diane mencoba untuk terlihat tidak kesal di hadapan ayahnya yang jelas hanya sedang berbasa-basi itu.
"Kalian sarapan dulu, biar tidak usah perlu makan lagi di jalan biar lebih hemat," ujar Rossa sambil menyiapkan piring untuk putri dan juga anak menantunya.
Dalam hati Diane bertanya pada dirinya sendiri, 'tumben ibu bersikap baik seperti ini? Atau mungkin karena terlalu bahagianya berpisah denganku? Astaga jahat sekali' batin Diane sambil duduk di sebuah kursi yang telah di raih oleh Arsenio sebelumnya.
'Sok-sokan romantis!' sungut Jenny dalam hati saat melihat Arsenio menarik kursi untuk Diane duduk.
Arsenio duduk tepat di sebelah istrinya yang berhadapan langsung dengan Lucas dan Rossa, mertuanya.
Mereka melakukan sarapan tanpa ada kalimat sepatah pun dari mulut mereka. Lucas yang sedikit merasakan canggung hanya bisa melampiaskannya dengan mengunyah nasi beserta sayur yang sudah berada di dalam mulutnya.
Rossa dengan perasaan leganya, karena sudah lepas tanggung jawab sebagai ibu dari Diane. Meski sebenarnya jahat, namun Rossa tidak memungkiri betapa senangnya saat Diane akan dibawa pergi oleh suaminya.