Part 4

972 Words
"Nduk.. suamimu belum bangun to?" Bu Narti bertanya sambil menampi beras di atas dipan bambu. Kinan yang telah menjemur pakaian. Bergabung bersama Bu Narti duduk di atas dipan. Kinan menggelengkan kepalanya. Dan Kinan memperhatikan sang ibu menampi beras. Tangan Kinan mengambil alih tampi di pangkuan Bu Narti. Dia merasa aneh kalau diam dan melihat saja. "Ndak usah Nduk. Biar Ibuk aja.. kamu bangunin suamimu sana. Ajak jalan-jalan pagi supaya sehat." Protes Bu Narti memegang pergelangan tangan Kinan yang mulai menggoyangkan tampi ke atas dan kebawah.  "Nggak papa Buk biar Kinan aja. Lagian Mas Re mungkin capek Buk." Bu Narti menghela napas pasrah. Kinan anak yang keras kepala.  Kinan menatap halaman rumah.  Dea berlarian kesana kemari mengejar anak ayam. Mungkin belum pernah di patuk sama induknya. Sebenarnya Kinan ingin menarik Dea supaya tidak mengejar anak ayam lagi. Tapi Dea pasti menangis. Kinan tau kalau Dea menangis pasti akan sulit untuk di berhentikan.  "Yaudah Nduk. Ibuk mau bantu bapakmu dulu di kebun." Ujar Bu Narti sambil menepuk bahu Kinan pelan. Kinan menganggukan kepalanya. Dia melihat Bu Narti sampai wanita setengah baya itu menghilang dari pandanganya.  Kedua orang tua Kinan memang memiliki kebun sayur kecil-kecilan di belakang rumah. Kalau panen kadang di jual ke pasar. Kadang juga ada tetangga yang membeli. Tidak hanya itu. Kedua orang tua Kinan berjualan makanan matang di pasar. Tapi khusus untuk hari ini. Bu Narti tidak berjualan. Karena ingin melepas rindu dengan putri dan cucunya. "Ma.. nasi goreng sosisnya Dea masih ada nggak?" Dea berlari menghampiri Kinan. Dengan ngos-ngosan Dea menyandarkan kepalanya di bahu Kinan.  Kinan meletakan tampi yang sudah selesai dia kerjakan. Tanganya terulur mengusap keringat Dea.  "Masih banyak. Kamu mau makan lagi?" Tanya Kinan. Kepala Dea terangguk beberapa kali. "Kamu bangunin Papa dulu gih. Ajak Papa sarapan bareng."  Sejujurnya Kinan ingin membangunkan Rayhan. Tapi... ah entahlah. Kinan merasa dirinya dan Rayhan sekarang ada jarak. Seperti ada sekat diantara mereka. "Nggak ah Ma. Papa susah dibangunin. Dea capek teriak-teriak." Dea mengerucutkan bibir kecilnya. Dia bergelayut di lengan Kinan yang menggeleng-geleng kecil. Memang benar.. Rayhan sangat sulit dibangunkan. Hanya orang yang memiliki tingkat kesabaran tinggi yang sanggup membangunkan Rayhan sampai lelaki itu terduduk dan berjalan kekamar mandi.   "Yaudah biar Mama yang bangunin. Kamu cuci tangan aja dulu sambil tungguin Mama."  "Iya Ma." Dea berlari masuk kedalam rumah. Meninggalkan Kinan yang menyapu beras-beras yang terjatuh ke lantai.  **** Sepiring nasi goreng hangat dengan telur ceplok setengah matang di atasnya Kinan letakan di hadapan Rayhan. Rayhan segera memakanya dalam keheningan sambil sesekali melirik Kinan yang sedang mencuci piring.  "Kapan kamu bilang?"  Suara Kinan membuat Rayhan menghentikan suapanya. Dia menatap punggung Kinan. Benar... kapan dia akan mengatakan kepada Bapak Ibuk Kinan mengenai perceraianya. Berbagai pertanyaan melintasi kepala Rayhan. Apa dia rela melepaskan Kinan? Apa dia sanggup melihat raut kekecewaan di wajah Buk Narti dan Pak Tomo yang sudah dia anggap sebagai orang tua kandung? Paling utamanya. Apa dia bisa hidup tanpa Kinan? "Nanti... sore." Ujar Rayhan membuat Kinan berbalik dan berdiri di samping Rayhan. Kepala Kinan mengangguk beberapa kali sebelum melangkah keluar dari dapur.  Berlama-lama berdekatan dengan Rayhan membuat dadanya penuh oleh rasa sesak, yang membuat hatinya seperti tercubit.  **** "Lho... Mbak Kinan pulang Bude?" Gadis mungil berwajah manis itu mencium tangan Bu Narti. Sambil memberikan rantang berisi makanan. "Iya Mbak Kinan pulang Nda. Ayo masuk ketemu Mbakmu." Bu Narti menggiring Nanda memasuki rumah sederhananya.  "Mbak Kinan pulang sama suaminya Bude?"  Belum Bu Narti menjawab pertanyaan Nanda. Suara lembut Kinan sudah terdengar terlebih dahulu. "Udah besar kamu Nan." Nanda berjalan menghampiri Kinan. Dipandanginya wajah Kinan yang semakin cantik dari terakhir Kinan berkunjung ke Jogja.  "Mbak Kinan tambah cantik."  "Nanti Mbakmu besar kepalanya Nan." Sahut Bu Narti sambil tertawa. Membuat Kinan ikut tertawa. Lalu Bu Narti kebelakang untuk mengambilkan Nanda air minum.  Sembari menunggu Bu Narti. Kinan mengajak Nanda duduk di karpet yang menghadap ke arah tv.  "Dea ndak ikut to Mbak?" Tanya Nanda yang sedari tadi tidak melihat kehadiran Dea.  "Ikut Nan lagi tidur siang." Jawab Kinan. "Gimana kabarnya Bude sama Pakde? Maaf ya Nan Mbak belum sempet main kerumahmu." Kinan menatap Nanda menyesal. Nanda ini adalah sepupu jauh Kinan. "Alhamdulillah sehat Mbak. Mas Dhanis juga sehat lho Mbak." Goda Nanda menyebutkan nama Kakaknya yang dulu sempat dekat dengan Kinan. Kinan mengibaskan tanganya malu. "Nanti Mas Dhanis aku kasih tau deh Mbak. Biar main kesini."  "Ini Nan diminum." Bu Ratri membawa es sirup yang langsung di ambil oleh Nanda.  "Makasih ya Bude."  "Bude tinggal dulu yo Nduk. Pakdemu isih ma'em."  "Nggeh Bude."  Sepeninggal Bu Ratri. Nanda dan Kinan bercerita apa saja yang bisa mereka ceritakan. Kinan terus saja memakan keripik pisang yang baru dia buar. Sekadar untung menghilangkan penat pikiran memikirkan peliknya rumah tangga. "Mbak Kinan.. Nanda pulang dulu ya. Besok kesini lagi." Nanda berpamitan lalu meninggalkan rumah Bu Ratri.  **** Dea menepuk-nepuk punggung Rayhan yang tengkurap. Punggung Papanya dia naiki sampai Rayhan meringis karena berat Dea yang semakin hari semakin bertambah.  Ceklek Kinan memasuki kamar. Rayhan dan Dea langsung menoleh. Kinan mendekati Dea lalu berbisik sesuatu pada putrinya sebelum Dea berlari keluar dari kamar. Suasana hening di antara Rayhan dan Kinan. Tidak ada yang membuka percakapan. Kinan menggigit bibirnya sambil menyusun kata-kata yang akan dia sampaikan pada Rayhan. "Aku mau bilang sama Bapak Ibuk sekarang." Ujar Rayhan memecah keheningan. Kinan menolehkan kepalanya sampai pandangan mereka bertemu. Tapi Rayhan membuang pandanganya terlebih dahulu. "Kalau itu maunya Mas nggak papa."  "Besok aku pulang ke Jakarta."  "Aku tetep disini." "Aku bawa Dea." Kinan mengangkat kepalanya. Seluruh tubuhnya menegang kaku.  Pipinya sudah basah. Dia tidak tau bagaimana hidupnya tanpa Dea dan Rayhan. Tapi sebisa mungkin Kinan menyembunyikan wajahnya. Dia tidak ingin terlihat cengeng di depan Rayhan. "Ya Mas. Kalau gitu aku mau bantu Ibuk dulu."  Tanpa mendengar jawaban Rayhan. Kinan segera pergi dari kamar. Sebenarnya dia hanya ingin menangis. Sebentar lagi, laki-laki yang dia cintai akan berubah status menjadi mantan suami, dan orang asing baginya. ****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD