Part 5

1514 Words
Keesokan harinya. Rayhan bertekat akan memberitahu maksud kedatanganya kepada Ibuk dan Bapak Kinan. Masalah lain akan diurus Rayhan belakangan.  Agak seram juga kalau membayangkan bagaimana murkanya Pak Tono kalau Rayhan menceraikan Kinan. Tapi bagaimana lagi. Rayhan merasa sudah tidak ingin bersama Kinan. Mereka sudah tidak cocok. Apalagi Kinan dekat dengan Rama. Sial! Mengingat Rama dia jadi ingin membunuh sahabat dari kecilnya itu. Sudah tau Kinan istri Rayhan. Tapi dengan brengseknya. Rama menyukai Kinan.  Bahkan pernah Rayhan mendengar Rama sempat menyatakan perasaanya. Egonya sebagai laki-laki terluka. Dia sudah dikhianati. Dia tidak akan menerima Kinan kembali apapun alasanya. "Pa nanti sore kita pulang ya?" Tanya Dea yang tiba-tiba saja duduk dipangkuan Rayhan.  "Iya cantiknya Papa. Nanti sore kita berdua pulang."  "Berdua? Mama nggak ikut Pa?"  Rayhan melihat wajah Dea berubah sedih. Sejujurnya Rayhan kasihan melihat Dea sebentar lagi tidak memiliki sosok ibu yang 24 jam mengurusnya. Tapi itu lebih baik. Daripada Dea hidup dalam lingkup keluarga yang tidak saling mencintai. Lebih tepatnya Kinan yang tidak mencintai Rayhan. "Mama jagain Eyang putri sama Eyang kakung disini. Dea kan tau Eyang Kakung udah tua dan sakit-sakitan. Jadi Dea pulangnya sama Papa dulu ya."  "Ahh nggak seru Pa. Nanti Dea main sama siapa dong?" "Kan ada Papa." Jawab Rayhan sambil menyingkirkan rambut Dea yang menutupi wajah cantik putrinya. Dea semakin menekuk wajahnya. Main dengan Papanya sama saja main dengan patung.  "Yaudah deh Pa. Terus yang antar jemput Dea kalau nggak ada Mama siapa?"  Belum saatnya Dea tau kalau Rayhan dan Kinan akan bercerai. Itu akan membuat Dea histeris dan kehilangan semangat. Dan Rayhan akan menyembunyikan fakta ini sampai Dea sudah dapat menerima Kinan dan Rayhan sudah tidak bisa hidup bersama lagi. "Kan ada Mbak. Nanti Dea sama Mbak ya. Kalau Papa lagi nggak sibuk pasti Papa yang antar jemput. Dea jangan sedih dong." Kata Rayhan menangkup pipi chubby Dea.  "Yaudah deh. Tapi sekarang Dea mau main kuda-kudaan. Papa yang jadi kudanya." Dea meringis senang lalu turun dari pangkuan Rayhan.  Yeee!!! Ujung-ujungnya Rayhan juga yang tersiksa. Dea Dea.. **** 5 tahun kemudian... "Hiks.. hiks.. Bunda Dami ndak mau cekolah. Teman-teman Dami di cekolah nakal. Meleka ngatain Dami ndak punya Ayah. Meleka jahat Bunda. Dami ndak mau cekolah lagi pokoknya."  Kinan mengusap wajah anaknya yang berlinang air mata dengan sedih. Ya.. Kinan bercerai dengan Rayhan saat dia hamil. Setelah 2 bulan perceraian barulah Kinan tau kalau dirahimnya ada seorang janin.  Selama 3 tahun belakangan ini. Mati-matian Kinan menyembunyikan anaknya dari Rayhan. Jika Rayhan berkunjung dengan Dea. Kinan akan menitipkan anaknya kerumah Nanda.  Kinan tidak ingin Rayhan tau mengenai anaknya. Dia takut Rayhan menolak anaknya. Itu akan membuat Kinan sakit hati dan tidak akan pernah memaafkan Rayhan.  Sudah cukup air mata yang Kinan tumpahkan untuk Rayhan. Meski Kinan masih mencintai Rayhan.. tidak.. bahkan Kinan masih sangat mencintai Rayhan. Tapi dia tidak ingin memohon kepada lelaki itu lagi. Dan merendahkan harga dirinya. Dia sudah dibuang, oleh suaminya sendiri dengan alasan yang sama sekali tidak masuk akal. Hidup berdua dengan Damian saja sudah cukup. Karena Ibu Bapak Kinan telah berpulang setelah usia anak Kinan satu tahun.  "Ayah Dami ada kok. Nanti kita pasti ketemu Ayah. Dami yang sabar ya. Dami harus rajin shalat. Berdo'a sama Allah supaya cepat di pertemukan sama Ayah. Ya Dami. Jangan sedih dong. Nanti Bunda ikut sedih. Dami mau Bunda sedih?"  "Endak.. Dami cayang cama Bunda. Dami janji ndak akan nangis lagi. Dami mau cekolah Bunda. Bialin aja meleka ngejek Dami. Bial Allah yang balas bunda." Jawab Dami menghapus jejak-jejak air matanya. Kemudian memeluk Kinan kuat. Air mata Kinan ikut kenetes mendengarnya. Damian Genandra nama anak Kinan. Usianya masih 4 tahun. Wajah Damian sangat mirip dengan Rayhan. Dari mata, alis, hidung, mata, bahkan sifat. Mungkin Kinan hanya sebagai perantara Damian lahir kedunia. Karena wajah Damian sama sekali tidak mirip denganya. Hanya kulit Dami yang menurun Kinan. Dami berkulit putih. Sedangkan Rayhan memiliki kulit sawo matang.  Tok tok tok "Assalamu'alaikum Mbak Kinan. Mbak Kinan."  "Bunda buka pintu dulu. Dami cuci muka sana. Malu ih dilihat Mbak Nanda. Masak laki-laki nangis."  Dami berlari menuju kamar mandi. Dan Kinan membukakan pintu untuk Nanda. Dari suaranya saja Kinan sudah tau. Siapa lagi yang memiliki suara cempreng seperti suara Nanda.  "Eh ada Mas Dhanis juga? Ayo Mas mlebet (masuk)." Kaget Kinan melihat Dhanis berdiri di belakang Nanda.  "Masak cuman Mas Dhanis sih Mbak yang disuruh masuk. Masak akunya berdiri terus disini." Bibir Nanda sudah manyun lima centi. Kinan tertawa lalu menarik tangan Nanda untuk masuk kedalam rumah. Tidak lama Nanda juga ikut tertawa dan duduk lesehan di atas karpet. "Loh Dami mana Nan? Udah pulang sekolah kan?" Tanya Dhanis menoleh kesana kemari. Mencari anak laki-laki Kinan yang sudah dia anggap anaknya sendiri. "Udah Mas. Tapi tadi pulang-pulang nangis. Biasa berantem sama temen-temenya."  "Sebel deh aku Mbak sama temen-temenya Dami. Sok semua Mbak. Masih kecil-kecil lambenya nyinyir semua Mbak. Kan aku jadi kesel banget." Oceh Nanda meninju-ninju tanganya sendiri. "Nggak papa Nan. Wong namanya anak kecil ya begitu."  Diam-diam Dhanis menatap Kinan yang tersenyum lembut. Sudah lama Dhanis menganggumi sosok Kinan. Kinan wanita yang kuat dan tegar. Dia juga sangat cantik dan kalem. Tipe ideal Dhanis.  Tapi Dhanis takut menyatakan perasaanya. Takut ditolak untuk yang kesekian kalinya.  "Ih Mas Dhanis kok bengong sih! Kasih dong oleh-olehnya ke mbak Kinan." Lamunan Dhanis buyar ketika Nanda memukul bahunya keras. Astaga... bisa tukar tambah adik tidak sih? Dhanis pengen punya adik seperti Kinan rasanya.  "Oh iya Mas lupa. Ini Nan aku ada oleh-oleh buat kamu sama Dami." Dhanis memberikan paper bag kepada Kinan.  "Ya Allah Mas repot-repot banget sih."  "Tapi kamu suka kan?" Goda Dhanis. "Ya suka lah Mas. Makasih banget loh Mas. Sering-sering aja."  Ya Allah.. Kinan sangat bersyukur memiliki orang-orang terdekat yang menyayanginya juga Damian. Kinan juga tau Dhanis menyukainya. Tapi Kinan belum ingin menjalin hubungan dengan siapapun. Masih trauma untuk gagal kembali. Dihatinya nama Rayhan juga masih bertahta.  "Papiiii!!!!"  "Yakk jagoanya Papi."  Hati Kinan menghangat melihat Dhanis yang memangku dan memeluk Damian. Seandainya saja dia sudah tidak mencintai Rayhan. Dia tidak akan ragu menerima Dhanis. "Udah makan belum anak ganteng?"  "Udah Pi tadi Dami dicuapin cama Bunda."  "Papi juga mau dong disuapin sama Bundanya Dami hehe."  Pipi putih Kinan memerah mendengar perkataan Dhanis. Sedangkan Nanda sudah berpura-pura batuk seperti orang kena struk saja."Apaansih Mas." Kinan yang malu menatap tajam Dhanis yang hanya terkekeh menggoyangkan Dami kekanan dan kekiri. "Dami cetuju. Ayo Bunda cuapin Papi. Bial Papi cobain macakan Bunda yang enak." Paksa Dami polos menarik-narik tangan Kinan. "Iya Mbak Nanda juga setuju hihi." Sahut Nanda sambil tertawa melihat wajah Kinan yang semakin memerah. "Ayo Bunda suapin Papi." Kata Dhanis mendapatkan pukulan dari Kinan. "Maaaaas!!!!"  Dhanis dan Nanda tertawa nyaring sedangkan Kinan ngambek. Dan Damian yang menepuk kedua tanganya senang. "Semoga senyum dibibir kamu nggak akan pernah luntur Nan." Batin Dhanis menatap Kinan yang tertawa lepas. **** "Dea sudah berapa kali Papa bilang. Jangan buat masalah! Jangan berantem! Kenapa kamu susah banget di kasih tau. Kalau udah di skors begini kamu mau gimana?"  Amarah Rayhan memuncak. Sudah 2 kali dia dipanggil guru Dea selama sebulan ini. Masalahnya selalu sama. Berkelahi dengan teman. Dan tidur saat jam pelajaran. Entah dengan cara apalagi Rayhan mendidik putrinya supaya berkelakuan baik.  Semenjak Dea tau Rayhan dan Kinan bercerai. Dea menjadi anak yang pemberontak. Berbeda dengan Dea anak manis empat tahun silam. Dea yang manis seakan sudah mati digantikan dengan Dea yang tempramental dan pembangkang. Rayhan menghela napas berat. "Mulai besok Tante Sivia akan temani kamu di rumah. Papa ada perjalan bisnis ke Jerman. Kamu jangan bantah perkataan Tante Sivia." Ucap Rayhan mengelus rambut putrinya. Tapi tanganya langsung di tepis. "NGGAK! DEA BENCI TANTE SIVIA! DEA BENCI PAPA. NGGAK ADA YANG SAYANG SAMA DEA." Teriak Dea menangis kencang lalu berlari masuk kedalam kamarnya. Rayhan mengusap wajahnya kasar. Lalu menelpon Sivia. "Vi besok kamu bisa kan kerumah?"  "...." "Makasih Vi. Aku udah banyak ngerepotin kamu."  "...."  "Iya, love you too. Aku tutup dulu." Rayhan berjalan menyusul Dea. Dilihatnya Dea tidur bergelung didalam selimut sambil menangis sesenggukan. "Maafin Papa ya sayang." "Hiks.. hiks.. Papa cuman peduli sama Sivia. Nggak pernah peduliin Dea. Dea nggak punya siapa-siapa lagi. Nggak ada yang sayang Dea." Isak Dea. Mata Rayhan tertutup rapat.  "Tante Dea. Papa nggak pernah ajarin kamu kurang ajar."  "Iya Dea emang kurang ajar. Dea nggak suka Tante Sivia."  "Tante Sivia orang baik Dea."  "Dea nggak peduli. Pokoknya besok Dea mau ketemu Mama Kinan." Ucap Dea menatap memohon pada Rayhan. "Papa sibuk. Minggu depan papa janji kita ketempat mamamu."  "Dea sama Tante Sivia aja ke Jogja." Sahut Dea membuat Rayhan terdiam. Gimana jadinya kalau Kinan bertemu dengan Sivia? Oh iya.. Sivia adalah calon istri Rayhan. Masih calon belum tentu Rayhan menikahi Sivia.  Karena Rayhan belum yakin akan perasaanya. Dia hanya menggunakan Sivia sebagai pemuas nafsunya. Dan mereka melakukan itu atas dasar suka sama suka.. Rayhan tidak memiliki perasaan apapun pada Sivia. Begitu pula sebaliknya. Tapi perasaan orang siapa yang tau.  "Oke.. besok kita ke Jogja."  Dea mengangguk singjat. Menarik selimut lalu tidur memunggungi Rayhan sambil terisak pelan. Sangat merindukan hangat rumahnya sebelum badai memporak porandakan semua.  Mama, Dea rindu.. lebih baik Dea hidup miskin sama mama, daripada hidup kaya tapi penuh kesedihan. Hiks.. Dea rindu... ****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD