Dhanis: Kinan
Kinan: tumben Mas? Kenapa?
Dhanis: nggak papa Nan lagi iseng aja. Oh iya besok aku ada kerjaan di Jakarta 3 hari. Kamu mau oleh-oleh apa Nan?
Kinan: nggak mau apa-apa Mas. Nanti ngerepotin
Dhanis: buat Dami Nan. Dia lagi pengen apa?
Kinan: beneran nggak usah Mas. Nanti Dami manja
Dhanis: please, nan jangan tolak aku lagi.. sakit loh nan
Kinan tertawa geli membaca pesan tersirat dari Dhanis.
Kinan: yaudah nanti aku tanyain ke Dami, Mas dia mau apa
Dhanis: sip.. udah dulu ya Nan. Udah malem.. selamat tidur Kinanku
Kinan: Mas Dhanis genit banget deh
Dhanis:
"Bundaaaaaaa." Kinan menoleh kebawah di mana Dami menarik-narik roknya sambil menguap. "Bunda kok cenyum-cenyum cendili cih? Kata Mbak Nanan cenyum cendili itu kayak olang gila. Olang gila itu apa cih Bun?"
Waduh.. Nandaaaaaaa. Ini anak aku diajarin apa aja sama dia. Batin Kinan. Kemudian dia mengangkat Dami kepangkuanya. Menggoyangkan badan Dami kekanan dan kekiri.
Dami sampai menguap ngantuk karena Kinan mengelus rambut tebalnya terus-menerus. Tapi Dami tetap kekeuh dengan pertanyaanya. Kinan sampai geleng kepala. Satu lagi sifat yang Rayhan turunkan untuk Dami. Keras kepala dan selalu ingin tau. Istilah gaulnya sih kepo.
Tapi mungkin Bapaknya lebih kepo sih hihi. Kinan memukul kepalanya sendiri. Kenapa ujung-ujungnya jadi mikirin Rayhan sih?
"Dami bobok ya. Besok katanya mau ikut Bunda kepasar. Kalau Dami kesiangan Bunda tinggal."
"Ini kan Dami mau tidul Bunda. Tapi Bunda elus-elus kepala Dami ya." Rengek Dami meletakan kepalanya ke bahu Kinan. Tanganya dia lingkarkan ke leher sang Bunda.
"Yaudah Bunda elus-elus." Ucap Kinan sambil mengelus naik turun punggung Dami. Sampai napas Dami teratur yang menandakan sudah tertidur.
Kinan menghela napasnya. Menumpukan dagunya ke puncak kepala Dami. Hari sudah malam. Dia belum ingin tidur. Dan ini menyiksa dirinya. Memaksanya memikirkan Rayhan dan Dea. Apa Dea baik-baik aja hidup bersama Papanya? Tidak.. bukanya Kinan meragukan Rayhan. Tapi Rayhan bukan pengacara alias pengangguran banyak acara. Dia memiliki perusahaan yang harus diurus. Kinan takut Dea terabaikan.
Terakhir kali Dea berkunjung kesini. Wajahnya tidak ceria seperti biasanya. Begitu juga dengan Rayhan. Lelaki itu semakin kurus dan tidak terawat. Bulu-bulu halus yang biasanya tidak pernah dia biarkan tumbuh di rahangnya. Tapi sekarang tumbuh agak lebat di rahang lelaki itu. Matanya saja sampai hitam seperti mata panda.
Kinan melirik ponselnya yang menyala. Lalu segera mengambilnya dan melihat ada satu pesan. Dadanya bergetar begitu melihat nama Rayhan terpampang di layar ponselnya. Pelan-pelan Kinan menyentuhkan telunjuknya membuka pesan dari Rayhan yang berjumlah dua.
Mas Re: Dea kangen kamu
Mas Re: besok aku ke Jogja. Mungkin sampainya sore
Kinan mendesah kecewa. Jadi hanya Dea yang merindukan dirinya? Rayhan tidak? Lagi-lagi Kinan memukul kepalanya yang sudah tidak waras. Ngapain juga Rayhan kangen. Toh lelaki itu sudah tidak memiliki perasaan apapun padanya.
Kenyataan itu mau tak mau membuat dadanya seperti dicubit kecil. Sakit.
Kinan: iya Mas.. aku nggak sabar ketemu Dea
Mas Re: hm
Ahh dasar Mas Rayhan sok cool banget sih! Udahlah ngapain di bales. Kinan meletakan ponselnya dengan kesal. Lebih baik tidak membalasnya daripada cuman di read. Kan makan hati! Kalau hati ayam sih masih enak. Kalau hati yang ini kan nggak enak. Bikin kesal aja.
Kinan beranjak dari duduknya masih sambil menggendong Dami. Untuk membawa Dami ke kamarnya.
***
Berkali-kali Rayhan melirik ponselnya. Belum ada notifikasi yang masuk. Aduh kenapa dia jadi berharap menadapat balasan dari Kinan. Lagian ini sudah malam. Pasti Kinan sudah tidur.
"Re kamu laper nggak? Mau aku masakin?" Rayhan beringsut duduk saat mendengar suara lembut itu mengusik lamunanya.
"Aku lagi nggak nafsu makan."
"Kamu tambah kurus lho Re. Aku takut kamu kenapa-napa. Tadi Dea juga nggak makan malam. Kalian kenapa sih sebenernya? Coba cerita sama aku."
"Udah malem VAku ngantuk. Kamu bisa pulang sendiri kan?"
"Yaudah kamu tidur yang nyenyak ya Re. Jangan mimpi indah. Mimpi Sivia aja." Ucap Sivia mengelus rahang Rayhan lembut. Dia ingin mencium bibir Rayhan. Tapi lelaki itu menolehkan kepalanya kesamping. Sehingga Sivia hanya menyentuh ringan pipinya.
Sivia menatap nanar Rayhan yang enggan menatapnya. Kalau sudah seperti ini Rayhan pasti sedang kalut memikirkan mantan istrinya. Dan itu membuat bibirnya menipis menahan kesal
"Yaudah aku pulang dulu."
Sepeninggal Sivia. Rayhan membentur-benturkan kepalanya di kepala ranjang. Tangan Rayhan terulur menyentuh rahangnya. Sangat kasar dan dia yakin wajahnya yang sekarang sangat berantakan.
Rayhan bangkit dari tidur nya menuju kamar mandi. Dia berdecak melihat bayanganya sendiri. Seperti bukan dirinya saja. Benar-benar berantakan dan tidak terawat.
"Gue mau kerumah Kinan. Terus ngapain gue dandan kayak anak perawan coba?" Rayhan terkekeh geli lalu mengambil krim pencukur dan alat cukurnya di dalam almari. Yang terletak di atas kepalanya.
Demi apa! Rayhan juga menyanyi-nyanyi tidak jelas. Perasaan bahagia tiba-tiba membuncah tatkala memikirkan pertemuannya besok dengan Kinan.
***
Kinan memakaikan jaket kepada Dami yang sudah sangat ganteng dengan bedak bayi membaluri wajahnya. Harum cologne bayi semerbak sehingga Kinan mengecupi pipi dan leher putranya gemas.
Jam sudah menunjukan pukul 7. Kinan segera menggandeng tangan mungil Dami. Mereka harus berangkat sekarang atau pasar semakin ramai. Dan berakhir dengan berdesak-desakan.
"Bunda nanti Dami mau beli balon yang gede ya Bunda." Pinta Dami dengan mata besarnya menatap Kinan memohon.
"Segede apa emangnya?"
"Segeda rasa sayangnya Dami cama Bunda." Dami tersenyum memeluk pinggang Kinan. Sedangkan Kinan tertawa pelan.
Di sepanjang jalan menuju pasar ada saja yang menyapa mereka. Bahkan ada tetangga yang gemas kepada Dami dan mencium-cium serta mencubit-cubit pipi Dami. Memang anaknya Kinan kue cubit apa dicubit-cubit.
Bisa dibilang Dami menjadi primadona kampung. Soalnya wajah anak Kinan begitu menggemaskan. Matanya jernih dan besar. Bibirnya pink mungil dan bulu matanya yang lebat dan lentik. Pipinya chubby. Siapa yang tidak ingin menyentuh dan mencium Damian? Kinan saja yang setiap harinya bertemu seringkali memeluk dan menciumi anaknya gemas.
BROOOM... BROOOM...
"Papi!!!" Teriak Dami senang menunjuk-nunjuk Dhanis yang masih berada lumayan jauh dari mereka berdiri. Dhanis menggunakan motor gedenya yang berwarna merah. Dan Dhanis berhenti tepat di samping Dami dan Kinan berdiri.
"Wahh anak ganteng mau kemana?" Tanya Dhanis sambil membuka helmnya.
"Ini Mas mau ke pasar. Nanti sore Papanya Dea sama Dea mau kerumah." Jelas Kinan membuat wajah Dhanis yang semula tersenyum bahagia menjadi murung. Tapi tidak berlangsung lama. Dia tetap menunjukan senyum ramahnya seperti biasa. "Mas nggak jadi ke Jakarta?" Heran Kinan melihat Dhanis yang masih menggunakan baju kaos dan celana jeans.
"Agak sorean Nan. Ayo aku anter ke pasar. Mumpung lagi baik nih." Dhanis tertawa saat Kinan memutar bola matanya.
"Nggak ngerepotin kan Mas?"
"Udahlah kamu kayak sama siapa aja Nan." Dhanis mengibaskan tanganya di depan wajah. "Sini Dami duduk depan ya. Biar Bunda bisa peluk perut Papi hehe." Ucap Dhanis sambil mengangkat Dami untuk dia dudukan di depan.
"Nggak Mas makasih." Kinan cemberut dan memukul bahu Dhanis sebelum naik ke atas motor dengan dibantu Dhanis.
"Pegangan yang kuat Nan. Aku mau ngebut loh ini." Dhanis memperingatkan. Sebenarnya biar di peluk dari belakang sih. Ya salam!! Tapi Kinan malah memilih pegangan pada jok motor ketimbang memeluk perutnya. Yaelah percuma Dhanis punya perut nggak sixpack-sixpack amat. Tapi kalah sama jok motor.
Nasib-nasib!
***
"Nda Mbak nitip Dami ya. Ayahnya Dami mau dateng. 2 hari aja kok Nda. Nanti Mbak buatin lemper kesukaan kamu deh." Ucap Kinan sambil memberikan sogokan lemper. Karena Kinan tidak akan menolak kalau sudah di sogok makanan yang terbuat dari ketan tersebut.
Nanda mengangguk senang. Lumayan ada teman dirumah. Kan Dhanis sudah pergi ke Jakarta. Jadi nggak ngenes-ngenes amat lah hidupnya. Udah jones. Dirumah sendirian. Lengkap banget penderitaanya. Dapet lemper lagi.
"Siap Mbak! Nanda juga lagi free Mbak hehe. Sini Dami sama Mbak ya." Nanda menarik-narik kecil kelingking Dami. Tapi anak lelaki itu masih menempelkan kepalanya di pangkuan Kinan. Seperti enggan berpisah.
"Mau ikut cama Bunda aja." Rengek Dami.
"Mbak Nanda punya permen lho Dam. Emang kamu nggak mau?" Nanda menyodorkan permen bertangkai kesukaan Dami. Tetap saja Dami melengos. Menggusel perut Kinan. "Gimana nih Mbak? Dami biasanya mau aja kok sama aku. Apa dia pengen ketemu ayahnya?" Ucap Nanda yang diakhiri bisikan supaya Dami tidak mendengar.
"Hush.. nggak mungkin Nda. Aku nggak akan pernah nunjukin anak aku ke Mas Re. Dami anak aku." Kinan memeluk Dami posesif. Seolah takut ada seseorang yang akan merebutnya.
"Tapi Mas Rayhan kan ayahnya Mbak. Cepat atau lambat Mas Rayhan bakalan tau. Kebohongan nggak akan selamanya bisa tersimpan Mbak. Lebih baik Mbak kasih tau Mas Rayhan. Dami juga harus tau ayahnya." Nanda menyentuh punggung tangan Kinan mengusapnya lembut.
"Mbak takut Nda." Mata Kinan semakin kabur. Dia selalu emosional kalau sudah menyangkut Dami.
"Ada Nanda sama Mas Dhanis disini Mbak. Mas Rayhan harus tau keberadaan anaknya."
"Tapi Mbak belum siap. Mbak masih sakit hati, Nda."
Nanda menarik napasnya. Sedikit tidak dia bisa merasakan apa yang Kinan rasakan. Menjadi single parent memanglah tidak mudah.
"Terserah Mbak deh. Yuk Dami sama Mbak Nanda." Nanda mengulurkan tanganya dan disambut oleh Dami.
"Bunda nanti jemput Dami kan?" Tanya Dami.
"Iya dong anak Bunda masa ditinggal sama Mbak Nanda sih. Nanti kamu di ajari macam-macam lagi sama Mbakmu." Kinan tertawa keras saat Nanda memelototkan matanya seperti terciduk maling ayam tetangga. "Mbak nitip Dami ya Nda. Jangan di ajari macam-macam atau Mbak adukan sama Mas Dhanis."
Nanda meneguk ludahnya lalu mengangguk. Ih Mbak Kinan beneran curang banget. Apa-apa Mas Dhanis. Kan Nanda takut banget sama Mamas Dhanis. Apalagi Dhanis katanya lebih sayang sama Kinan ketimbang sama Nanda. Sakit tapi tidak berdarah. Gitu kata anak alay jaman sekarang.
Setelah itu Kinan segera pulang. Takutnya nanti Dea dan Rayhan sudah datang dan menunggu. Kalau Rayhan sih terserah saja. Tapi kalau Dea kan kasihan.
Benar saja. Radius beberapa meter. Kinan sudah dapat melihat sebuah mobil terparkir di depan rumahnya. Pantes datangnya sore. Wong naik mobil.
Tapi tunggu dulu. Kinan mengedarkan pandanganya. Dia tidak menemukan keberadaan Rayhan dan Dea di teras rumah. Apa masih di dalam mobil ya?
Akhirnya Kinan mendekati mobil dan mengetuk jendela gelap tersebut. Kaca mobil turun perlahan-lahan. Bukan Dea atau Rayhan yang Kinan lihat pertama kali. Tetapi seorang wanita cantik dan s*****l. d**a Kinan serasa diremas. Panggilan demi panggilan Dea pun tidak masuk ke gendang telinganya. Dirinya fokus memandangi sosok wanita di sebelah Rayhan.
Ternyata Rayhan dengan gampangnya menemukan pasangan baru. Dan melupakan dirinya. Kinan meremas jarinya. Emang kamu siapa sih Nan! Batin Kinan berusaha tegar.
Dia lalu tersenyum dan membuka pintu bagian belakang. Dea langsung melompat kedalam pelukanya.
"Mama Dea kangen." Dea melompat-lompat kecil.
"Mama juga kangen Dea." Ucap Kinan terbata, menyembunyikan wajahnya kerambut Dea. Tidak terasa airmatanya menetes satu yang langsung dia hapus cepat. "Dea gimana? Sehat nak?"
"Iya ma. Dea selalu sehat dan bahagia kalau ketemu mama." Kinan semakin memeluk putrinya. Menyalurkan kerinduan yang mengunung.
"Ma ayo dong masuk. Dea udah capek ni pengen tidur di peluk Mama." Paksa Dea menarik-narik tangan Kinan. Dea mendongak menatap Kinan yang sedang melihat kedalam mobil. Dea mendengus kesal. "Udah ah Ma. Biarin aja Papa sama dia. Nggak ikut masuk juga nggak papa."
Kinan dapat menangkap nada kesinisan dari dari Dea. Rayhan turun dari mobil lalu memegang bahu Dea.
"Dea jaga bicara kamu." Tegas Rayhan.
"Kan bener Pa. Papa kan cuman mau berduaan sama dia. Kalau Dea sih nggak mau deket-deket sama dia."
"Dea!"
Kinan mundur kebelakang mendengar bentakan Rayhan. Reflek tangan Kinan memeluk Dea erat.
"Mas, jangan bentak anakku!" Tegur Kinan lembut. Sisi keibuanya tidak terima Dea di bentak kasar seperti tadi.
"Tuh kan Ma. Papa selalu kayak gitu semenjak ada Tante Sivia."
"Dea kamu apa-apaan sih!" Rayhan hendak merenggut bahu Dea. Namun tanganya ditahan oleh Sivia.
"Udah Mas. Inget Dea cuman anak-anak. Wajar aja dia kayak gini."
Kinan bergetar sewaktu tangan terawat Sivia mengelus pundak Rayhan lembut. Ya Allah kenapa rasanya sangat sakit?
"Oh iya Mama udah masak makanan kesukaan Dea. Kita semua masuk yuk. Udah hampir maghrib. Nggak baik maghrib-maghrib masih di luar." Kinan menuntun Dea masuk kedalam rumah. Diikuti Rayhan dan juga Sivia.
Ini semakin memperkuat tekat aku buat ngerahasiain tentang Dami...
Semoga kamu bahagia sama wanita pilihanmu Mas..
***