Part 8

1765 Words
Loh... kok sepi ya? Kinan mengucap salam sampai tiga kali tapi tidak ada yang menjawab. Apa mereka jalan-jalan? Bibir Kinan mengerucut. Ternyata dia di tinggal sendiri. Dan mereka bertiga jalan-jalan layaknya keluarga bahagia. Sedangkan dia? Bagaikan pembantu yang menyajikan makanan sehabis mereka piknik.  Kinan mengalihkan pikiranya dengan menyusun bahan masakan yang baru dia beli ke dalam kulkas. Tapi pikiranya masih kemana-mana. Kenapa dia jadi kesal kalau mengingat mereka jalan-jalan tanpa dirinya.  "Ya Allah Nan. Nggak boleh gini, aku udah nggak ada hak buat kesel." Kinan mengelus dadanya yang panas. Benar.. Rayhan juga butuh pendamping hidup. Untuk mengurusnya dan Dea.  Dea tumbuh semakin besar. Dan membutuhkan sosok ibu disampingnya. Walaupun Kinan sangat ingin mengurus Dea. Tapi apa boleh buat. Untuk membiayai Dami saja dia harus bekerja banting tulang. Apalagi untuk membiayai Dea. Mungkin dia tidak akan sanggup. Lagipula dia lihat Sivia orang baik. Hanya kadang Kinan lihat sikapnya sedikit arogan dan memandangnya rendah. Tidak apa-apa, yang terpenting Sivia kelihatan menyayangi putrinya. Tuling..tuling.. Ponsel Kinan bergetar di saku dressnya. Dia membuang napas saat dia tau yang menelpon adalah Dea.  "Iya Assalamu'alaikum Sayang. Dea kemana? Mama pulang dari pasar kok rumah sepi?" Kinan memberondong putrinya dengan pertanyaan. Habis dia kesal sih di tinggalin.  "Maaf ya Mama cantik. Ini gara-gara Tante Sivia ngajakin jalan. Jadi nggak nunggu Mama deh. Maaf ya Ma." Jawab Dea menyesal. "Iyaudah nggak papa. Sekarang Dea dimana?" "Oh aku lagi di rumah Mbak Nanda Ma. Ayo Ma kesini. Ada dedek Dami. Mama kenal nggak?" Ya Allah! Kinan membekap mulutnya sendiri. Matanya tiba-tiba berkunang-kunang. Dan jantungnya berdetak dua kali lebih cepat. Kalau Dea bertemu dengan Damian. Itu artinya Rayhan juga bertemu dengan anaknya. Mas Re nggak mungkin tau kan kalau itu anaknya?  Otak Kinan terasa kosong. Walaupun Dami memiliki kemiripan 85% dengan Rayhan. Tidak mungkin kan Rayhan mengetahui itu anaknya dalam satu kali tatap? Semoga saja Nanda bisa beralibi. Kinan masih belum siap jika Rayhan tau Kinan memiliki anak setelah mereka bercerai. Apa yang harus dia katakan nanti. "Ma! Helloww!"  Ish Dea. Disaat-saat Mamanya ingin menangis masih bisa dia lebay.  "I.. iya... Ma.. Mama kesana sekarang." Sambungan telepon diputus Dea secara sepihak. Wajah Kinan semakin pucat saat dia berlari keluar dari rumahnya. Menyusuri jalanan raya yang tidak terlalu besar. Hanya orang-orang kampung yang melewatinya. Itupun tidak banyak.  "Mbak." Ternyata Nanda menunggu di luar rumahnya. Wajahnya tidak beda jauh dengan Kinan. Pucat dan penuh ketakutan. Sebenarnya Nanda tidak takut diamuk Kinan. Dia hanya takut Kinan mengadu pada Mamas Dhanis. Dan alhasil motornya di sita. Terus dia ke kampus naik apa? Jalan gitu? Ogah! Masa orang cantik jalan panas-panasan. Atau desak-desakan di dalam angkot. "Kok bisa sih Nda. Ya Allah.." bisik Kinan menarik tangan Nanda yang ketakutan setengah mati. "Maafin Nanda Mbak. Tadi Dami minta es krim terus Nanda ajak keluar deh. Rombongan Mas Rayhan tiba-tiba aja lewat depan rumah terus mampir Mbak."  "Kamu bilang apa sama Mas Rayhan, Nda. Apa dia curiga?"  "Aku bilang Dami anak Mas Dhanis Mbak. Au bingung banget mau alasan apalagi." Nanda meringis menunjukan deretan giginya. Kinan menyibakan rambut panjangnya kebelakang sambil mendesah panjang. Lagi-lagi Mas Dhanis dijadikan kambing hitam. Dia jadi merasa tidak enak kepada laki-laki itu. "Ya Allah Nda. Masmu kan belum nikah."  "Maaf mbak. Cuma kepikiran itu tadi." "Ngawur kamu Nda. Kalau Mas Dhanis tau Mbak nggak bisa bayangin kamu diapain sama Masmu itu."  "Ih Mbak. Gimana dong." Nanda meremas-remas tangannya khawatir. Kinan mengendikan bahunya lalu masuk kedalam rumah untuk melihat situasi. "Mbak jangan aduin ke Mamas Dhanis ya Mbak. Nanti Nanda diamuk Mbak." Kinan menarik lengan Kinan. "Iya Mbak nggak akan bilang. Tapi kalau Mbak keceplosan ya nggak tau." Kinan terkekeh. Beban yang berada di pundaknya sudah menghilang. Tidak apa-apa Nanda memakai nama Mas Dhanis. Toh Dhanis juga menganggap Dami seperti anaknya sendiri. "Assalamu'alaikum." "Bundaaaa!!!!!"  *** Sebelum kedatangan Kinan... "Ihh dedek namanya siapa? Ganteng banget." Dea menyentuh pipi Dami yang terdiam dan memandang satu-persatu orang-orang berwajah asing dihadapanya.  "Da-mi." Balas Dami malu-malu. "Sumpah?! Dami apa?" Dea tertawa mencium-cium wajah Damian. Tangan mungil Damian menyentuh wajah Dea lalu mendorongnya menjauh. "Bacah. Dami ndak cuka di cium."  Rayhan sama sekali tidak bisa mengalihkan pandanganya dari Damian. Dia seakan melihat dirinya versi 4 tahun. Dami sangat tampan. Dan memiliki kulit putih bersih. Entah kenapa d**a Rayhan terasa nyeri. Dia baru saja bertemu bocah ini. Tapi dia seakan memiliki kesalahan besar dan akan menebus kesalahan itu dengan apapun. "Em... ini anaknya Mas Dhanis."  Jadi Dhanis udah punya anak? Terus selama ini rasa cemburunya kepada Dhanis sia-sia saja. Ah.. tapi kalau Rayhan perhatikan. Dami sama sekali tidak memiliki kemiripan dengan Dhanis. Malah dia berpikir bahwa Dami sangat mirip dengan dirinya. Sudahlah dia memang gila akhir-akhir ini. Jadi tidak bisa membedakan mana anak orang dan mana anaknya sendiri "Re, aku laper. Pulang yuk. Kaki aku juga pegel daritadi muter-muter." Ujar Sivia memeluk lengan Rayhan.  "Bentar Vi." Rayhan mengelak dari pelukan Sivia.  "Kamu kenapa sih. Jadi aneh tau nggak!" Teriak Sivia kesal karena Rayhan melepaskan tanganya dan memilih berjongkok di hadapan Dami.  Rayhan meletakan tanganya pada pinggang Dami. Tubuhnya tiba-tiba kaku dan seperti tersengat listrik. Ini sebenarnya ada apa Ya Allah.. "Pa.. Papa.. kenapa nangis Pa!!"  Nangis? Rayhan mengusap sudut matanya yang berair. Hah kenapa bisa dia menangis disaat dia sedang tidak merasa sedih ataupun tertekan. Kenapa dia bisa seemosional ini saat menatap manik mata Dami yang sejernih air laut.  "Oh, papa kelilipan." Ucap Rayhan berbohong sambil mengacak-acak rambut hitam tebal milik Dami. Sampai Dami tersenyum malu-malu. Menatap Rayhan melalui bulu matanya yang lentik dan indah. Bulu mata yang sama sekali tidak asing untuk Rayhan. Bulu mata Dami seperti bulu mata Kinan. Ah.. mungkin hanya perasaan Rayhan saja. "Dami ganteng." "Bener Pa. Dea setuju." Dea memeluk punggung Rayhan. Matanya terus mengawasi Rayhan yang menyentuh-nyentuh pipi Dami.  "Dami udah sekolah?" Tanya Rayhan. "Udah Om. Dami udah cekolah. Kata Bunda. Bial Dami pintel. Bial bica ketemu Ayah." Ucap Dami polos. Tapi Rayhan dapat merasakan rasa sayang Dami untuk Ayahnya. Sungguh beruntung Dhanis memiliki Dami. Sedari dulu Rayhan sangat mengharapkan bocah laki-laki mengisi hidupnya. Mendukungnya sewaktu bertengkar dengan Dea. Atau bersama-sama belajar bela diri.  "Reeeeee." Rengek Sivia lagi. "Ih Tante berisik banget sih. Kalau mau pulang. Kan tinggal pulang sendiri. Nggak naik pesawat kok." Kesal Dea. Kenapa Papanya bisa memiliki pacar seperti Sivia. Nemu dimana sih. Heran deh. Sivia langsung diam dan tidak merengek lagi. Tapi bibirnya terus menggerutu saat di abaikan oleh Rayhan. Sivia sampai heran. Ada apa dengan Rayhan akhir-akhir ini. Akhirnya dia memikih duduk dengan menopang dagu. Merasa bosan. "Bunda, Dami kemana?" Tanya Rayhan penasaran. Setahunya kan Dhanis tidak pernah menggandeng perempuan.  "Bunda di lumah." Rayhan celingukan kekanan dan kekiri. Siapa tau dapat menemukan keberadaan Bundanya Dami. Kalau Bundanya ada dirumah. Kenapa tidak keluar.  "Kok Bundanya Dami nggak ada?"  "Di lumah Dami, om. Bukan dicini."  Rayhan menganggukan kepalanya mengerti. Mungkin Dhanis tinggal terpisah dengan Nanda.  "Dami suka superhero nggak?" Tanya Rayhan. Dami mengangguk antusias. Dan tersenyum lebar. "Dami suka apa?"" Dami cuka Thor Om. Cama cepildemen."  "Wah kalau om suka ironman. Nanti kapan-kapan om bawakan Thor buat Dami. Oke?"  "Wahhh Papa curang! Dedek Dami baru ketemu udah di beliin macem-macem. Sedangkan Dea minta dua boneka aja di omelin tujuh hari tujuh malem." Omel Dea memukuli bahu Rayhan. "Boneka kamu kan sudsh banyak."  Dea mencibir lalu berpindah duduk disamping Dami yang masih bersikap malu-malu kucing. Apalagi Rayhan yang terus mengelus kepalanya. "Assalamu'alaikum."  Rayhan menegakan badanya menoleh kebelakang. Dia melihat Kinan yang tersenyum teduh dan terlihat sangat cantik dengan dress sederhana bermotif bunga. Melihat itu sedikit perasaan menyesal menelusup dalam benak Rayhan. "Bundaaa!!!!" Teriak Dami bahagia melompat turun dari kursi lalu memeluk kaki Kinan.  Alis Rayhan berkerut sampai menyatu. Otaknya berpikir keras. Jadi Kinan bundanya Dami. Terus Ayahnya Dhanis. Jadi Kinan dan Dhanis sudah menikah? Mata Rayhan mengerjap beberapa kali. Ah tidak mungkin mereka menikah tanpa mengundangnya. Tapi kalau mereka menikah diam-diam tanpa sepengetahuan Rayhan bagaimana? Rayhan mengepalkan tanganya. Bagaimana bisa mereka menikah secara sembunyi-sembunyi. "Loh kok... Bunda? Ini kan bundannya mbak." Tanya Dea bingung. Kinan melingkarkan tanganya ke bahu Dami. Sambil tersenyum lembut. Rayhan berdiri dengan emosi menggumpal di ubun-ubun. Dia berlalu begitu saja meninggalkan rumah Nanda tanpa mempedulikan Dea yang berteriak lebay memanggilinya. Serta Sivia yang berlari terpincang-pincang untuk mengejarnya.  "Mama nikah sama om Dhan?" Tanya Dea mengintimidasi.  "Nggak sayang." Jawab Kinan mengelus rambut Dea sayang. "Terus?"  "Udah ya. Kamu kan belum makan. Nanti Mama jelasin sama kamu. Tapi kita pulang dulu." Ucap Kinan sambil menggandeng tangan Dea yang masih merengut tidak suka membayangkan Mamanya menikah dengan Om Dhanis. Sama sekali tidak ikhlas. "Mbak Kinan mau pulang? Dami Mbak bawa?" Tanya Nanda. "Iya Nda Dami, Mbak bawa pulang."  "Hati-hati ya Mbak." Kinan mengangguk mengerti ucapan Nanda yang bermaksud lain. *** Rayhan merogoh saku bajunya. Mengeluarkaan sebungkus rokok. Lalu menyulutnya dan menempelkan ke apitan bibirnya. Setelah sekian lama akhirnya Rayhan kembali merokok. Hanya dengan merokok perasaan sesak yang menyinggahi perasaannya sedikit demi sedikit hilang. "Mas?" Rayhan mengabaikan panggilan Kinan. Asyik menikmati batang rokok kedua. "Mas Re sejak kapan merokok? Di sini ada Dami Mas. Nanti dia bisa tiru." Rayhan membuang rokoknya dan diinjak sampai apinya padam.  Kepalanya menunduk menatap kakinya. Dia tidak berani menatap Kinan. Ternyata benar! Dia menyesal melepaskan Kinan dan berselingkuh. Arghhh Rayhan kenapa lo b**o banget. b**o sebego begonya orang b**o. Dia melepaskan berlian. Demi sebongkah batu kerikil. Haha miris banget. "Makan malam dulu mas." Rayhan menatap Kinan tanpa berkedip. Dia tersenyum kecil. "Nanti." Gumam Rayhan pelan tapi masih bisa di dengar oleh Kinan. Suara deheman Rayhan memecah keheningan.  "Kamu nikah sama Dhanis?" Tanya Rayhan. Dan demi apa! Kinan sampai terdiam dan berdegup karena suara serak dan dalam milik Rayhan. Mata hitam Rayhan terus menatapnya. Sampai Kinan salah tingkah. "Nggak Mas."  "Terus Dami anak siapa?"  "Itu... Dami... Dami anaknya Mas Dhanis."  Terdengar Rayhan menghembuskan napas lega. Entah dia merasa lega karena apa. Tapi ada yang mengganjal dihatinya. Dia tidak terima kalau Dami adalah anak Dhanis. Rayhan melirik Kinan. Bibir Kinan terbuka dan tertutup. Terbuka lagi lalu tertutup lagi. Kinan ingin menanyakan sesuatu tapi dia takut mencampuri urusan pribadi Rayhan. Padahal dia sudah tidak berhak lagi atas diri Rayhan. "Tanya aja apa yang mau kamu tanyain Nan." Ucap Rayhan serius. "Mas nggak bakal marah kan?" Rayhan menggeleng. "Mas kumpul kebo sama Sivia?" Tanya Kinan polos. "Haha nggak Nan. Aku sama dia tinggal sendiri-sendiri. Tapi ya kalau lagi pengen ya.." Rayhan tertawa keras melihat raut penasaran dan ingin mengamuk Kinan. "Cemburu Nan?" Goda Rayhan. "Nggak! Apaansih Mas Re!" Kinan masuk kedalam rumah meninggalkan Rayhan yang tidak berhenti tertawa. Baru kali ini dia tertawa lepas setelah empat tahun tersiksa. Rayhan menatap punggung kecil Kinan yang sudah menghilang di balik pintu. Gila! Dia jatuh cinta. Dan parahnya dia jatuh cinta dengan mantan istri yang sudah dia buang. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD