Part 7

1392 Words
"Mama nggak lupa ulang tahun Dea kan?"  "20 September kan? Mana mungkin Mama lupa. Dea minta apa sayang?" "Dea cuma pingin sama-sama mama lagi. Dea pingin mama bahagia terus, jangan sedih-sedih lagi. Yang bikin mama sedih semoga cepat sadar." Dea berujar ketus diakhir sambil emamndang penuh permusuhan pada Rayhan. Rayhan menghentikan suapanya. Ish.. apa-apaan Dea itu. Malah bercerita ngalor-ngidul. Apalagi yang buruk mengenai Rayhan. Kalau bukan anaknya sudah Rayhan lelepin aja deh.  Sudut bibir Rayhan tertarik keatas. Nggak papa deh Dea ribut dan membahas apa saja. Yang terpenting suasana canggung antara dirinya, Kinan, dan Sivia lenyap.  Apalagi Sivia yang sepertinya terganggu dengan keberadaan Kinan. Ya Rayhan akui. Kinan lebih cantik dan keibuan sekarang. Benar apa yang sering dikoar-koarkan orang-orang. Bahwa pasangan akan lebih cantik berkali lipat setelah kita tidak memilikinya. "Tuh kan kamu ngelamun lagi Re!"  Sivia melemparkan sendok nya di atas piring agak keras. Sampai Rayhan tersentak dan kembali ke jalan yang benar. Eh gila! Dia baru saja melamunkan Kinan. Setan mana yang merasukinya tadi!  "Maaf Vi." "Udahlah aku nggak nafsu makan lagi! Makan aja tuh semuanya! Sepiring-piringnya kalau perlu." Sivia menghentakan kakinya keras dan melirik Kinan tajam sebelum pergi dari ruang makan. "Emang aku debus apa! Di suruh makan piring." Gumam Rayhan melanjutkan acara makanya. Males banget ngejar-ngejar orang ngambek. Masakan Kinan sayang untuk dilewatkan. Nah kan Rayhan mulai nggak waras lagi! "Re kok aku nggak di kejar sih!!!! Sebel!!!" Teriak Sivia yang muncul lagi di tengah-tengah mereka. "Aku lapar, Vi." Jawab Rayhan polos. "Terserah kamu deh Re! Jangan harap tidur sama aku!"  Heh tidur sama Sivia? Rayhan terkekeh. Dia kan bisa tidur di sofa. Di lantai. Di mana aja. Yang penting matanya terpejam..  Kinan mengerjapkan matanya beberapa kali. Menyaksikan perdebatan antara Rayhan dan Sivia. Kepalanya terasa pusing dan jantungnya bekerja dua kali dari biasanya. Kinan meletakan sendoknya pelan. Sebelum meminum air putih cepat-cepat. Siapa tau sesak di dadanya bisa berkurang. "Kejar tuh Pa tante Sivia." Dea melirik Papanya malas. "Nggak ah. Papa kan masih mau makan." Dengan cueknya Rayhan menambah nasi dan ayam sambal serta sayur nangka ke dalam piringnya. Lalu memakan itu dalam diam. Sesekali dia mengintip Kinan melalui ekor matanya. Hah... Rayhan sepertinya memang sudah gila. Dia sama sekali tidak bisa melepaskan pandanganya ke arah  Kinan duduk. Pipi Kinan yang chubby. Matanya yang besar dan jernih. Juga badannya yang semakin sintal, berisi dibagian yang tepat. Sanhat berbeda dengan Sivia yang bertubuh kurus dan tinggi. Rayhan akui Kinan lebih menggoda. "Enak banget ya Pa? Sampai nambah gitu." Dea tertawa melihat sang Papa yang terus menambah. "Enak mana sama nasi goreng garam bikinan tante Sivia?"  "Nggak boleh gitu sa-"  "Ya enak masakan Mamamu lah." Ujar Rayhan cuek memotong ucapan Kinan. Dia mengambil sepotong ikan asin dan menambahkan kedalam piringnya. Lagi! Kinan memeremas dress baby pink yang dia pakai. Matanya tidak bisa lepas dari Rayhan yang makan layaknya kesetanan. Kinan jadi heran. Apa perutnya terbuat dari karet? Habis nambah berkali-kali sih. Nggak takut sakit perut apa? Terdengar Dea tertawa geli sambil mengejek-ejek Rayhan.  "Papa kayak orang nggak makan bertahun-tahun."  "Biarin."  "Papa makanya belepotan kayak anak kecil deh."  "Biarin." "Dea udah selesai kan makanya? Ambil wudhu yuk. Bentar lagi masuk waktu isya'." Kinan mengelus rambit hitam putrinya. Menghentikan olokan-olokan yang Dea tujukan untuk Rayhan. Lama-lama Rayhan bisa tersedak kalau meladeni ocehan Dea. "Oke Ma." Dea menggandeng tangan Kinan.  "Tunggu Nan. Aku juga mau wudhu." Rayhan cepat-cepat menumpuk piring bekasnya bersama teman-temanya. Meminum air tergesa-gesa lalu berdiri di samping Dea. Mengacak-acak rambut Dea jahil. "Papa ih!!! Rambut Dea kan jadi berantakan."  "Biarin wle."  "Ma Papa nyebelin banget. Mama jangan diem aja dong. Ayo jewer kuping Papa kayak dulu Ma." Adu Dea pada Kinan yang masih terdiam.  Kening Rayhan mengerut dalam. Sedari tadi Kinan memang lebih banyak diam. Bahkan Kinan seperti tidak menganggap keberadaan dirinya. Dia hanya berbicara dengan Dea. Tidak dengan dirinya. Kinan seperti takut. Canggung. Merasa seperti dengan orang asing. Dan malu.  "Dea kamu duluan aja ya. Papa mau ngomong sama Mama kamu."  Dea tersenyum lebar sambil meletakan tanganya di atas kepala membentuk tanda hormat. Lalu dia berlari sambil berteriak-teriak tidak jelas. "Nan."  "Oh iya Mas aku lupa. Piring-piringnya tadi belum aku beresin." Kinan menepuk jidatnya seolah memang benar-benar lupa. Padahal dia hanya ingin menghindari berbicara berdua dengan Rayhan. Kinan takut keceplosan dengan bertanya siapa Sivia. Dan apa hubungan Rayhan dengan Sivia.  Yang paling terpenting. Dia takut tidak dapat menahan dirinya dan menangis di dalam pelukan Rayhan. Dia tidak mau merendahkan dirinya di hadapan Rayhan. "Nan aku mau ngomong. Please!" Rayhan menarik tangan. Kinan berusaha melepaskan pegangan Rayhan pada tanganya. Hah.. tenaganya tidak sebanding dengan Rayhan. Dia terlalu lemah. "Ada yang mau kamu tanyain ke aku?"  "Nggak ada Mas." Kinan menggelengkan kepalanya sambil menunduk.  "Nan." Bisik Rayhan lembut. "Ak..aku.. aku."  Rayhan menunggu dengan dahi berkerut.  "Aku harus nyusulin Dea Mas. Nanti dia main air lagi."  Rayhan menghembuskan napasnya lalu melepaskan tangan Kinan. Sedetik kemudian. Kinan berlari terbirit-b***t meninggalkanya. Rayhan menatap tanganya yang masih hangat bekas tangan Kinan tadi.  "Re kamu ngapain sih lama banget!" Sivia tiba-tiba muncul melingkarkan tanganya di lengan Rayhan. "Aku mau wudhu Vi."  "Hah? Sejak kapan Tuan Rayhan yang terhormat shalat? Aku nggak salah denger Re?" Sivia tertawa mengejek.  Benar! Rayhan sudah lama tidak menjalankan perintah Allah. Rayhan terlalu larut dengan dunianya sendiri. Bahkan mengingat Allah pun dia tidak.  "Maka dari itu aku mau mulai shalat lagi Vi." "Oh udah tobat? Yaudah sana shalat aku tunggu di kamar."  "Vi hari ini aku tidur di ruang tamu aja." Ucap Rayhan membuat mata Sivia terbelalak hampir keluar dari sarangnya. "Udahlah Re terserah kamu! Kamu aneh banget hari ini." Sivia menggelengkan kepalanya lalu pergi dari hadapan Rayhan.  *** Alunan merdu ayat Al-Qur'an membuat Rayhan membuka matanya lalu terduduk. Matanya melirik jam dinding. Masih jam 3. Untung belum masuk waktu subuh.  Rayhan meraba saklar sehingga ruang tamu menjadi terang. Suara lembut Kinan yang sedang membaca Al-Qur'an membuat Rayhan tersenyum. Sudah lama dia tidak mengalami ketenangan batin seperti ini. Bersama Sivia dia selalu mendengarkan alunan musik yang dimainkan oleh Dj ataupun musik Korea atau Korengan apalah itu.  Rayhan menangkup wajahnya dengan telapak tangan. Mengusapnya kasar lalu menuju ke sumber suara. Rayhan mengintip melalui celah pintu kamar. Kinan dengan khusyuk membaca ayat suci dengan memakai mukena putih.  Dimata Rayhan Kinan terlihat seperti bidadari. Sayangnya Rayhan sudah membuang kesempatan hidup bersama bidadari. Nyatanya dia sekarang malah hidup bersama iblis. Bagaimana tidak? Semenjak mengenal Sivia. Dia terjerumus dunia malam. Seks bebas. Dan meninggalkan shalat. "Mas Re?" Rayhan tergugu menatap Kinan yang melepaskan mukenanya. "Aku ganggu Mas Re ya? Suaraku kekencengan?" Kinan mulai panik. "Mm.." Rayhan menggaruk belakang kepalanya bingung. "Lanjutin aja Nan."  Alis Kinan terangkat membuat Rayhan semakin salah tingkah. Lalu dia menutuskan untuk pergi. Sial! Kenapa dia jadi kalut begini. Ada perasaan menyesal menelusup kedalam hatinya. Dia menyesal tidak mempertahankan pernikahanya. Karena ego dia melepaskan Kinan. Dan karena ego juga dia membalas perbuatan Kinan dengan berselingkuh dengan Sivia. "Hah! Gue kenapa sih?!" Rayhan menghembuskan napasnya kasar. Merasa aneh dengan dirinya sendiri.  "Mbak Nanda!! Dami mau itu Mbak."  "Nanti Mbak dimarahin Bundamu lagi kalau ngajak kamu jajan sembarangan."  Dami bergulung-gulung dilantai. Seperti anak kecil kebanyakan yang keinginanya di larang. "Iya deh. Mbak Nanda beliin."  Dengan berat hati. Nanda keluar dari rumahnya. Eh ternyata Dami mengikuti di belakangnya sambil tersenyum polos. "Dasar bocah. Sini gandeng tangan Mbak. Banyak motor." Dami menggenggam erat jempolan Nanda. Dan berteriak senang saat Pakde penjual es krim lewat sambil memukul kentongan nya. "Pakde beli es krimnya satu ya Pakde." Ucap Nanda sambil menunjuk es krim rasa coklat. "Di cekel wae. Nopo di kreseki Mbak Nanda? Di pegang aja atau di plastikin Mbak Nanda?" Tanya Pakde itu. "Di cekel mawon Pakde. Maturnuwon nggeh. Di peganh aja Pakde. Terimakasih ya."  "Kok laca coklat? Dami kan maunya laca lambutan Mbak Nanda." Tolak Damian dengan aksen cadelnya. Bibir Damian mengerucut menolak es krim yang disodorkan Nanda. Nanda mencubit pipi Dami sangking gemasnya. "Es krim rambutan kan nggak ada Dami."  "Kok nggak ada ya?"  "Nanti tunggu bapakmu yang bikin pabriknya baru ada." Nanda tertawa Dami pun ikut tertawa walaupun dia tidak mengerti apa yang nanda tertawakan.  Akhirnya bocah berumur 4 tahun 9 bulan 17 hari itu menerima es krim coklat yang dibelikan Nanda.  "Mbak Nandaaaaaaaaaa!!!!!!!!"  Gusti!!!!!! Nanda bergetar di tempatnya saat melihat Dea, Rayhan, dan perempuan entah siapa berjalan mendekatinya. Tanganya bergetar dan tiba-tiba tubuhnya dingin dan kaku. Habis ini dia bakalan di cincang Mbak Kinan nggak ya? Atau lebih parahnya diaduin ke Mamas Dhanis. Tidakkkkkk!!!!!! ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD