Kinan membawakan cemilan dan dua gelas s**u coklat untuk kedua anaknya. Kinan tersenyum menyadari banyaknya kesamaan antara Dea dan Dami. Yang pertama mereka suka s**u coklat dan alergi s**u kedelai. Yang kedua mereka sama-sama alergi udang dan segala masakan yang mengandung kacang-kacangan. Dan masih banyak lagi.
Sebenarnya Kinan merasa berdosa menyembunyikan fakta tentang Dami. Habis Rayhan akhir-akhir ini berubah menjadi aneh. Dan Kinan tidak ingin menambah resiko Rayhan bertambah aneh dengan mengetahui Dami adalah anaknya.
"Papa mana Ma? Kok dari Dea melek sampai sekarang Papa nggak kelihatan?" Tanya Dea yang sedari pagi tidak melihat kehadiran Rayhan. Dia mencolek-colek pipi Dami yang serius menyusun balok-balok lego.
"Tadi pagi habis anterin Tante Sivia. Papa Dea langsung joging." Jawab Kinan ikut bergabung duduk lesehan bersama kedua anaknya. Melihat mereka akur. Menjadi kebahagiaan tersendiri untuk Kinan.
"Yes! Tante Sivia udah pulang." Dea mengangkat tangan Dami ke atas. Tapi Dami cemberut dan menghempaskan tanganya. Karena legonya jadi berantakan tersenggol tangan Dea. "Ups... Mbak nggak sengaja Dami sayang."
"Mbak Dea cih. Dami kan udah cucun. Tapi jadi loboh gala-gala Mbak Dea." Ucap Dami merajuk melihat usahanya berakhir sia-sia. Bukanya merasa bersalah Dea malah tertawa geli karena aksen cadel Dami.
"Yeee Mbak kan nggak sengaja. Lagian tinggal di susun lagi kan beres."
"Bunda Mbak Dea nakal."
"Mbak Dea." Tegur Kinan lembut. Dea mencubit kedua pipi Dami sebelum membantu Dami menyeselaikan menyusun legonya.
"Ah Dami payah. Gini aja nggak bisa. Gini nih caranya." Dea berdiri lalu duduk di belakang Dami. Menggerakan tangan Dami untuk menyusun lego agar pas dan sesuai.
Suara motor yang berhenti di halaman rumah. Membuat Kinan mengernyit dan melongokan kepalanya demi melihat siapa yang bertamu. Dia lalu berdiri dan keluar rumah. Ternyata Rayhan yang datang dengan di bonceng seorang bapak-bapak yang wajahnya panik.
"Ya Allah kenapa kamu Mas?" Tanya Kinan khawatir. Gimana tidak khawatir. Kalau Rayhan menggulung celananya sampai lutut. Dan memperlihatkan lututnya yang berdarah.
"Tadi ada kecelakaan sedikit Nan."
"Sedikit gimana? Kamu ini ceroboh banget sih Mas."
"Saya tadi yang ndak sengaja nyerempet Masnya. Maaf yo Mbak Mas." Sahut bapak itu bersalah sambil mendudukan Rayhan pada salah satu bangku di teras.
"Bukan salah Bapak. Saya aja yang nyebrang nggak lihat-lihat jalan." Rayhan menepuk pundak bapak itu sebelum menyuruh bapak itu pergi saja. Karena hari sudah mulai siang. Dan bapak itu harus segera ke sawah untuk bekerja.
Rayhan mengangkat alisnya heran saat Kinan tidak berhenti menatapnya. Tanpa kata. Kinan masuk kedalam rumah. Dan setelah Kinan pergi barulah Rayhan meringis kesakitan. Demi menjaga image di depan Kinan. Dia sampai menggigit lidahnya untuk mengurangi rasa sakit.
"Shhh...." Rayhan meniup-niup lukanya supaya tidak perih. Eh tapi malah tambah perih.
"Aku obati."
Malas berdebat dengan Kinan yang wajahnya sudah berubah cemberut. Rayhan menyerahkan kakinya untuk diobati oleh Kinan. Kinan duduk beralaskan lututnya. Lalu dia mengambil kapas dan menuangkan cairan bening keatasnya. Sebelum mengusapkanya ke luka Rayhan. Lebih tepatnya di tekan-tekan. Bukan diusap.
"Erghh." Desis Rayhan sakit.
"Kalau mau teriak. Teriak aja Mas. Nggak usah ditahan-tahan." Ujar Kinan dingin sambil meniup-niup luka Rayhan.
"Auh sakit banget, Nan. Udah.." Jeda sebentar sebelum Kinan tertawa lepas dan semakin menekan-nekan luka Rayhan.
"Mama sama Papa kenapa sih?" Dea melongokan kepalanya sedikit. Diikuti Dami yang muncul di bawah Dea.
Kinan mengusap sudut matanya yang berair karena kebanyakan tertawa. Dia mendongak keatas. Dan hampir tertawa lagi saat Rayhan meniup-niupkan udara dari mulutnya karena merasa kesakitan.
"Kaki Papa Dea sakit." Kinan mengambil plaster dan menempelkanya di lutut Rayhan.
Masih saja Rayhan berteriak tidak jelas. Ya Allah... cuman luka kecil dia berteriak segininya. Benar-benar cemen. Tidak sesuai dengan badanya yang besar.
Dea masuk kembali kedalam rumah. Menarik tangan Dami untuk mengikutinya supaya tidak mengganggu Rayhan dan Kinan. Walaupun Dami sedikit merengek karena ingin bersama Kinan. Tapi Dea langsung saja menggendong Dami. Ya walaupun hampir jatuh.
"Assalamu'alaikum."
Kehadiran lelaki berpakaian santai dan mengendarai sebuah motor. Membuat Rayhan mendengus dan membuang wajahnya ke arah lain. Sial! Merusak suasana saja. Batin Rayhan geram saat lelaki itu duduk di sebelah Kinan dan tidak berhenti tebar pesona.
Rayhan melengos sewaktu Dhanis mengangguk padanya. Dhanis jadi menyesal sudah sok bersikap ramah kepada Rayhan.
"Waalaikumsalam Mas. Mas Dhanis kapan pulangnya?" Tanya Kinan.
"Semalem Nan. Aku sih pengenya mampir. Tapi udah malem banget. Ini buat kamu."
Sebuah bungkusan Dhanis berikan kepada Kinan. Kinan mengintip isinya dan tersenyum senang. Sedangkan Rayhan yang melirik tambah mendengus kesal. Apa sekarang dia jadi obat nyamuk bakar?"Oh iya nanti malam kamu ada acara nggak?"
"Nggak ada Mas. Emang kenapa?"
"Mau ajak kamu makan di warung Pakde Ashar. Udah lama loh Nan kita nggak kesana. Ajak Dea sama Dami sekalian."
Ya terusin! Terusin! Anggap Rayhan makhluk tak kasat mata. Rayhan berdiri kesal sebelum berjalan pincang masuk kedalam rumah. Dan sialnya. Mereka berdua tidak perduli dan tetap asik mengobrol.
"Arghhh bisa mati darah tinggi gue." Gumam Rayhan sambil membanting pintu kamar keras.
***
"Mau makan apa Mbak Kinan sama Mas Dhanis?" Tanya pakde Ashar gembira melihat kedatangan Dhanis dan Kinan yang sejak mereka duduk dibangku menengah, sudah menjadi pelanggan tetap warung sate Pakde Ashar.
"Sate ayam aja Pakde empat porsi." Kinan menepuk pundak Dhanis sambil menggeleng tidak setuju. Kinan mengangkat 3 jarinya. "Yaudah Pakde. Tiga porsi aja. Nanti ada yang cenberut." Ucapnya sambil tertawa.
Setelah itu Kinan memilih tempat yang lesehan. Suara bising kendaraan tidak membuat obrolan seru mereka terganggu. Warung Pakde Ashar ini terletak di pinggiran jalan besar. Maka tidak heran kalau warungnya tidak pernah sepi pengunjung. Selain makananya yang murah dan enak. Tempat Pak Ashar juga bersih dan nyaman.
"Ini Nan." Dhanis menyodorkan sate usus ke depan bibir Kinan. Kinan memundurkan kepalanya dan menggeleng. "Makan Nan. Aku tau kamu suka ini." Ucapnya masih memaksa Kinan. Hahh.. Kinan menghela napasnya sebelum menerima suapan dari Dhanis. Lelaki itu tersenyum lebar dan dengan lahap memakan sate ususnya.
"Ma satenya enak ya? Nanti Mama bungkusin buat Papa ya? Kasihan Papa dirumah sendirian." Dea mengangkat satenya dan memutar-mutarkanya. Dia agak tidak nafsu makan mengingat Papanya yang dirumah sendirian.
"Iya nanti kita bungkusin buat Papa Dea." Kinan mengangguk setuju sambil menyuapi Dami dengan sate.
"Kamu nggak masalahkan Nan kalau malam ini aku nginep dirumah kamu?" Kinan tersedak mendengar penuturan Dhanis. Dhanis mengulurkan Segelas es teh yang langsung di teguk Kinam sampai tandas.
"Dalam rangka apa Mas?" Tanyanya bingung. Dhanis menceritakan kekhawatiranya terhadap Kinan yang tinggal serumah dengan Rayhan. Bibir Kinan sampai berkedut karena geli. Mana mungkin Rayhan macam-macam sama dia. "Aneh-aneh aja kamu Mas." Kekeh Kinan.
"Please Nan."
"Yaudah terserah Mas Dhanis aja. Tapi apa Mas Dhanis mau tidur sakamar sama Mas Rayhan?" Tanya Kinan sambil tertawa.
"Nggak apa-apa Nan." Walaupun akan snagat canggung nanti. Tapi tidak apa-apa. Daripada mereka berduaan yang ketiganya setan. Amit amit.
Kinan mengangguk dan melanjutkan makanya kembali. Sampai sorot lampu mobil membuat Dea bersorak kegirangan. Dia berlari menghampiri mobil tersebut yang tidak lain adalah Rayhan.
"Aku juga mau makan." Ucap Rayhan cuek lalu duduk di sebelah Dhanis. Mengabaikan tatapan Dhanis yang ingin membunuhnya hidup-hidup. "Pakde satenya." Tangan Rayhan terangkat memanggil Pakde Ashar yang langsung menghampiri Rayhan setelah menyajikan sepiring sate dan juga lontongnya. Tidak lupa sambal kacang legendaris milik Pakde Ashar yang terkenal lezat.
"Lho Nak Rayhan ada di Jogja toh? Sejak kapan Nak?" Tanya Pakde Ashar menepuk bahu Rayhan.
"Udah tiga hari Pakde." Jawabnya sambil menyuapkan satu tusuk sate dan disusul tusukan yang lainya.
"Tambah mantap Pakde satenya. Nanti bungkusin 50 tusuk ya Pakde."
"Alhamdulillah.."
Pakde Ashar pun kembali melayani pengunjung lainya yang semakin malam semakin membludak. Bahkan ada yang tidak mendapat tempat duduk. Sehingga Pakde Ashar menggelar karpet dadakan. "Lho kok berhenti makanya? Tadi bukanya suap-suapan romantis ya?" Sindir Rayhan masih menekuri piringnya.
Kinan salah tingkah. Sedang Dhanis tidak peduli.
"Ma, Dea mau pipis."
"Dami juga Bunda."
Setelah Kinan dan bala-balanya pergi. Dhanis berkali-kali membuang napas canggung. Sedangkan Rayhan tidak peduli dan melanjutkan makananya.
"Pakde sudah. Semuanya berapa?" Rayhan mengeluarkan dompetnya. Begitu pula dengan Dhanis. "Saya aja yang bayar." Ucap Rayhan sambil menyodorkan beberapa lembar uang lima puluhan.
"Saya aja." Tidak mau kalah. Dhanis juga menyodorkan uang kepada Pakde Ashar sampai Pakde Ashar bingung menerima yang mana.
"Saya aja."
"Saya."
"Saya aja.. kamu nggak ngerti bahasa manusia?" Sentak Rayhan.
"Nggak... saya yang akan bayar semuanya. Ini Pakde terima uang dari Dhanis aja."
"Yoalah seng pener seng endi? Yoalah yang bener yang mana?" Bingung Pakde Ashar melihat perdebatan antara Dhanis dan Rayhan. Mungkin sebentar lagi akan ada perang dunia ketiga kalau Kinan belum kembali juga dari toilet.
Tiba-tiba tangan Kinan terulur memberikan uang pas ke Pakde Ashar. Pakde Ashar menyengir menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ini kenapa Pakde Ashar melihat pancaran sinar laser dari kedua mata lelaki didepanya.
"Aku ganti uangnya Nan." Dengan polosnya Rayhan mengulurkan uang yang digenggamnya.
"Nggak usah Mas. Simpen aja. Biar Kinan kali ini yang traktir."
"Pulangnya bareng aku aja." Rayhan mengangkat Dami ke gendonganya. Sambil mencium pipi Dami gemas. "Pulang sama Om ya?" Dami mengangguk dan bertepuk tangan menunjuk mobil mewah Rayhan yang terparkir di luar tenda.
Bibir Dea mengerucut. Memeluk lengan Sang Mama. "Masa Dedek Dami aja Ma yang digendong. Papa masak lupa sama Dea."
"Dea kan berat. Beda lagi sama Dami." Sahut Rayhan mengacak rambut Dea.
"Yahhhh Papa rambut Deaaa. Kalau nggak cantik lagi gimana? Papa mau tanggung jawab?" Dea berusaha memperbaiki rambutnya. "Udah rapi belum Ma?"
"Udah sayang udah." Gemas Kinan.
"Tadi kan mereka berangkat sama saya. Pulangnya juga harus sama saya." Protes Dhanis berusaha merebut Dami dari gendongan Rayhan. Tapi Rayhan mundur menghindar. "Dami pulang sama Papi kan?" Satu-satunya cara adalah membujuk Dami. Tapi Dami menggeleng. Memeluk leher Rayhan lebih kuat."Mau naik mobil cama Om Lele."
Dhanis mendesah kecewa. Dia akhirnya pulang dengan mengawal mobil Rayhan. Yang artinya dia berada di belakang.
Nasib.. yang bermotor kodratnya kalah dengan yang bermobil. Itu artinya dia harus bekerja lebih giat lagi. Harus!
***
"Kamu bisa minggiran kesana dikit nggak sih? Sempit banget!" Rayhan menyenggol kaki Dhanis dengan kakinya. Miris banget hidupnya. Bukanya tidur bersama Kinan. Malah tidur bersama Dhanis. Inginya mawar malah dapat bunga bangkai. "Nis!"
Jawaban yang diberikan Dhanis adalah sebuah gumaman dan Dhanis hanya mengangguk sebelum menggulingkan badanya agak menjauh dari Rayhan.
"Hhh..." Rayhan menatap jam dinding. Tanganya naik menutupi matanya. Sudah tengah malam dia juga belum bisa tertidur. Ini akibatnya tidur dengan Dhanis yang tidak bisa diam. Memang sih Kinan hampir serupa dengan Dhanis yang tidurnya tidak bisa diam. Tapi Rayhan memilih tidur bersama Kinan sampai bokongnya di tendang dan jatuh. Daripada tidur bersama Dhanis.
PLAK
"Hishh k*****t!" Maki Rayhan mengusap wajahnya yang baru saja digeplak oleh Dhanis.
BUK
"Ya Allah ini orang! Bisa gila gue tidur sama lo." Seperti anak kecil. Rayhan turun dari kasur. Membawa serta bantal dan guling. Lalu dia tata di atas lantai tanpa alas. Dan dia pun tidur dengan tenang tanpa gangguan dari Dhanis.
BUGHH
"Setaaaaannnnn!!!!" Jerit Rayhan kalap sewaktu tubuh Dhanis jatuh menimpa punggungnya.
***