Part 10

1544 Words
Rayhan keluar dari kamar dengan wajah kusut dan masih cemberut. Rambutnya masih basah setelah dia membersihkan diri tadi. Tapi tetap saja. Dia merasa lelah tidur berdua dengan Dhanis. Rayhan mengeringkan rambutnya dengan handuk. Lalu meletakan handuknya ketempat semula. "Kalau bunuh orang nggak dosa. Gue bunuh lo Dhanis." Ringis Rayhan memegangi lututnya yang luka semakin luka karena insiden semalam. Untung Rayhan tidak dendam dengan menyiram bensin ke badan Dhanis. Lalu membakarnya.  "Om Lele... mau antelin Dami beli es klim di cana nggak?"  Tarikan di celananya membuat Rayhan menunduk. Dan tersenyum hangat saat mengetahui Dami berdiri di bawahnya dengan menggenggam uang.. emm.. mungkin dua ribu. Tidak terlalu terlihat karena Dami menggenggamnya sampai lecek tidak berbentuk. Rayhan menunduk menyetarakan tingginya dengan tinggi badan Dami yang hanya sepahanya.  "Boleh.. ayo Om anterin. Tapi Dami udah bilang ke Bunda belum?" Rayhan merasa tergelitik saat memanggil Kinan dengan sebutan Bunda. "Nggak Om. Jangan kasih tau Bunda. Nanti Bunda malah." Dami meminta penuh harap. Rayhan mengacak-acak rambut Dami gemas. "Bukanya Bunda lebih marah kalau Dami nggak ijin dulu? Nanti kalau Om yang dimarahin Bunda gimana?" Tanya Rayhan gemas. Pipi montok Dami membuatnya teringat dengan pemain di serial Boboho.  "Om kan udah becal. Jadi nggak akan nangis kalau dimarahin sama Bunda. Tapi kalau Dami pasti nangis." Rayhan tertawa mendengar alasan polos Dami. "Ayo Om. Dami pengen es klim."  Rayhan menggelengkan kepalanya geli lalu mengangkat Dami kedalam gendonganya. Dami tersenyum senang menggerak-gerakan kakinya di dalam gendongan Rayhan.  Kelakuan Dami sangat mirip dengan Dea sewaktu kecil. Kinan juga melarang Dea membeli es krim karena Dea rentan terserang flu. Tapi Dea selalu meminta Rayhan membeli es krim diam-diam. Dan mereka berakhir disidang dan dihukum oleh Kinan.  "Mbak Dea sama Bunda kemana?" Tanya Rayhan memutus pikiranya yang mulai melantur kemana-mana.  "Mbak Dea lagi bantuin Bunda macak. Itu dicana Om walungnya. Ayo cepet-cepet Om." Tunjuk Dami pada sebuah warung kecil di ujung jalan. Rayhan melangkahkan kakinya kesana. Menghampiri box es krim dan tidak tanggung-tanggung. Dami mengambil dua es krim di kanan dan kiri tanganya. Dua-duanya rasa strawberry.  Seorang gadis kecil seumuran Dea dengan rambut keriting menggantung menjulang di hadapan Rayhan. Rayhan tertawa kecil ketika gadis kecil itu menaiki kursi demi bisa melihat Rayhan dan Dami.  "Wahhhhh Dami lagi sama siapa? Omnya ganteng loh." Tanya gadis itu penasaran.  "Ini namanya Om lehan. Temanya Bunda, Mbak Nazwa."  Gadis yang di panggil Nazwa itu ber-oh ria. Lalu tatapanya beralih ke Rayhan yang tersenyum. "Ini Mbak Nazwa uangnya Dami. Makacih ya." Dami memberikan uang dua ribu lecek. Nazwa memanyunkan bibirnya dan tertawa saat uang yang diberikan Dami robek. "Ini udah nggak laku. Uangnya robek."  "Kok bica lobek? Padahal tadi Dami ambil itu di kantongnya Bunda hiks... hiks.. jadi Dami nggak dapat es klimnya?" Dami menangis terisak memandangi es krim ditanganya.  Rayhan mengeluarkan dompetnya. Lalu memberikan selembar uang lima puluh. Dan meminta Nazwa mengambil kembalianya. Dami berhenti menangis saat Rayhan membukakan es krim untuknya. Dia mulai menggigit-gigit es krim dengan gigi susunya. "Makacih Om lele."  Rayhan terdiam menikmati rasa hangat yang mengaliri darahnya ketika Dami mencium pipinya.  "Kenapa aku nggak bisa lepas dari Dami. Seakan Dami bagian dari tubuhku?" Batin Rayhan frustasi memikirkan ada apa dengan dirinya sendiri. *** "Pa.. main yuk. Papa ih sibuk terus sama laptop. Emang laptop lebih menarik dibanding Dea." Rajuk Dea meremas-remas Popo di tanganya. Boneka teddy lusuh pemberian Kinan 5 tahun yang lalu. Rayhan melepas kacamatanya. Lalu memindahkan laptop dari pangkuanya. Dan menarik Dea untuk duduk di pangkuanya. Dea mengalungkan tanganya di leher sang Papa.  "Papa sibuk Dea. Nanti ya Papa main sama kamu. Kita kan masih lama di Jogja. Emang kamu mau kita cepet-cepet ke Jakarta terus ninggalin Mama disini? Kalau Papa sih nggak mau." Rayhan menyelipkan rambut Dea yang berserakan di kening.  "Papa bener. Dea juga masih mau disini sampai liburan Dea habis. Oh iya.. kenapa sih kita nggak tinggal serumah aja Pa? Dea kangen tinggal sama mama papa." Dea menyandarkan punggungnya ke d**a Rayhan. Mereka sama-sama merindukan Kinan ada di tengah-tengah mereka. Karena keegoisan Rayhan. Kebahagiaan seakan terenggut begitu saja."Dea mau bantu Papa deket sama Mama lagi nggak?" Tanya Rayhan. Dea menoleh ke arah Papanya. Matanya berbinar dan dia mengangguk semangat lalu memeluk Papanya. "Apapun yang terjadi. Dea akan selalu dukung Papa sama Mama. Dea bakalan seneng banget kalau Mama sama Papa kembali kayak dulu. Nggak ada bayang-bayang Om Dhanis itu." Dea mencebik mengingat Dhanis yang selalu mengganggu momen Rayhan dan Kinan.  Rayhan tertawa dan membenarkan perkataan Dea dalam hati.  "Dea masih marah sama Papa! Papa jahat!" Tiba-tiba saja Dea melompat dari pangkuan Rayhan. Menatap Rayhan penuh aura permusuhan. Dea menghentakan kakinya. "Emang Papa salah apa?" Tanya Rayhan geli. "Semua laki-laki itu emang nggak peka. Papa pikir aja sendiri. Dea sakit hati! Camkan Pa sakit hati!" Nafas Dea ngos-ngosan. Menekan-nekan dadanya yang sebenarnya tidak sesak-sesak banget sih. Tapi demi mendukung drama yang dibuatnya. Tidak salah kan? "Papa bukan dukun Dea. Papa nggak bisa baca pikiran kamu." Kekeh Rayhan berusaha menarik tubuh putrinya. Tapi Dea menghindar dan menginjak kaki Rayhan. "Papa jahat! Papa beliin Dami es krim. Sedangkan Dea enggak. Sakit banget Pa."  "Ya Allah Dea. Udah berapa kali kamu bahas itu. Kalau perlu besok Papa beli es krim satu truck buat kamu." Rayhan menarik pergelangan tangan Dea yang mulai pasrah. "Beneran ya?" "Nggak dong." Dea mendorong d**a Rayhan keras. "Iya... iya nanti Papa belikan. Tapi ya nggak satu truck juga. Itu kamu mau makan es krim atau mau bikin toko es krim."  "Tadi kan Papa yang bilang. Dea nggak mau tau. Atau Dea nggak akan bantu Papa." Rayhan menarik napas lalu mengangguk pasrah. "Apa yang enggak buat putri Papa yang cantik ini."  "Salah. Harusnya Papa bilang gini. Apa yang nggak buat Kinanku tersayang. Iya kan Pa?" Goda Dea. "Kamu emang yang paling tau Papa."  Rayhan mencium pipi Dea berkali-kali. Lalu mereka bercanda sampai lupa waktu makan malam. *** "Mama mau kemana? Sore-sore udah cantik aja." Dea menghampiri Kinan yang sangat cantik. Rambutnya yang hitam dan panjang di sanggul dan di kelabang sederhana. Kinan juga memakain riasan tipis dan terkesan alami. Menambah kecantikan Kinan. "Mama mau kondangan. Itu di sebelah. Dea mau ikut?" Tanya Kinan lembut. "Nggak ah Ma. Masa Dea ikut ke acaranya Ibuk-ibuk. Dea jadi kambing congek dong disana." Tolak Dea cepat. Kinan tertawa mengusap pipi Dea yang semakin berisi ketika berada di Jogja. "Gimana kalau Mama datang sama Papa? Dea sebel Papa diem di rumah terus. Sumpek liatnya Ma."  Dea tertawa di dalam hati. Misi pertama sudah dia lancarkan. Semoga saja berhasil. Dea melirik ke arah Papanya yang bersembunyi di balik pintu. Jari tangan Dea membentuk 'ok' dan dia melemparkan senyum kepada Rayhan yang juga tersenyum lebar. "De... Dea. Mana mungkin Mama datang sama Papa. Kamu ini aneh-aneh aja." Kinan salah tingkah. Membuat Rayhan tertawa pelan. Begitu juga dengan Dea.  "Ayolah Ma. Sekali ini aja. Biarkan Papa ikut sama Mama. Mama nggak kasihan sama Dea? Dea sumpek Ma lihat wajah Papa setiap hari." Dea sedikit melirik kearah Papanya.  Rayhan cemberut mendengar penuturan putrinya. Sumpek? Memang Rayhan sejelek apa. Sampai anaknya sampai sumpek begitu. "Tapi De-"  "Stop. Nggak ada tapi-tapian. PAPAA!!! PAAAA!!!!" Teriak Dea memanggil Rayhan sebelum Kinan kembali menolak. Kalau gagal kan bisa runyam masalahnya. Tidak lama kemudian Rayhan muncul. Sedikit agak lama karena dia tidak ingin menimbulkan kecurigaan Kinan. Untung saja istri- ralat mantan- ralat calon istrinya itu agak tidak peka. Alias loading lama. Kinan memicingkan matanya. Kebetulan seperti apa ini? Rayhan terlihat gagah, tampan, dan mempesona dengan baju batik berwarna ungunya. Warna bajunya sama pas dengan baju Kinan. Sehingga orang-orang mungkin akan berpikir bahwa mereka sengaja berpakaian dengan warna yang sama. "Kenapa sayang? Hoamzzz Papa ngantuk banget nih. Baru aja Papa mau tidur." Rayhan pura-pura menguap.  "Mama mau kondangan nih Pa. Tapi nggak ada partner. Masa sendirian aja sih. Nanti kaya jomblo banget gitu." Seru Dea sambil terkikik geli melihat raut wajah masam Kinan.  "Aduh gimana ya sayang. Papa banyak kerjaan banget. Terus Papa ngantuk." Dea menatap geram sang Papa. Kenapa Papanya harus sok jual mahal begini.  Kinan menghentakan kakinya kesal. "Kalau nggak mau. Nggak apa-apa. Aku bisa berangkat sendiri."  "Iya.. iya.. aku bercanda Nan. Aku temeni ya? Haha lucu deh kamu."  "Nggak ada yang lucu Mas. Udah deh berhenti ketawanya. Nanti Dami bangun." Kinan mencubit pinggang Rayhan lalu melangkah terlebih dahulu keluar dari rumah. Rayhan menatap Dea dan mereka bertos ria. Rayhan menunduk lalu memeluk singkat sang putri.  "Misi pertama berhasil Papa." Ujar Dea bahagia. "Cepetan Pa susulin Mama. Keburu ditikung Om jomblo."  "Siap laksanakan tuan putri." Rayhan berlari mengejar Kinan yang sudah melangkah agak jauh.  Di tengah-tengah keramian pesta pernikahan adat Jawa kental itu Rayhan menopang dagunya. Mengabaikan makanan yang sudah diambilkan Kinan di hadapanya. Dia tidak nafsu makan. Bagaimana tidak. Kinan tidak berada di sampingnya. Dia malah memilih mengobrol bersama Nanda dan entah siapa.  Orang setampan dirinya diabaikan. Kenyataan yang memilukan. Rayhan mengaduk-aduk soto dihadapanya. Dia ikut kekondangan bukan untuk di abaikan. Tetapi agar dia lebih dekat dengan Kinan seperti sedia kala.  Huhh.. "Mas kok nggak dimakan? Nanti dingin lho Mas." Kinan duduk di sebelah Kinan sambil membawa semangkuk bakso yang masih mengepul. Rayhan menoleh tidak semangat dan mulai menyendokan soto kedalam mulutnya dalam diam.  "Menurut kamu?" Rayhan malah bertanya balik dengan lesu sambil mengunyah.  Kinan menatap Rayhan heran. Dia mengangkat bahunya lalu mulai menyantap bakso yang membuatnya keroncongan. Karena kedatangan sahabat SMAnya. Dia jadi harus menunda memakan makanan kesukaanya ini. "Nan."  "Apa Mas?"  "Kamu cantik." 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD