Part 11

1322 Words
"Nan."  "Apa Mas?"  "Kamu cantik." Ujar Rayhan berdehem canggung dan melirik sedikit kearah Kinan yang masih asik melahap baksonya. Rayhan membuka mulutnya kesal. Ternyata Kinan tidak mendengarkan perkataan terakhirnya karena musik Jawa sudah tersetel dengan kerasnya. Ah sialan! Merusak momen.  "Mas ngomong apa sih tadi?" Tanya Kinan dengan penasaran.  "Nggak jadi." Gumam Rayhan mengaduk-aduk sotonya tidak bersemangat. Apa ya dia harus mengulangi perkataan tulusnya barusan? Bukanya tulus nanti dibilang modus.  "Lho kok Mas jadi ngambek gitu sih. " Rutuk Kinan sambik mengambil sesuatu di dalam tas tanganya. Dan mengeluarkan amplop putih. "Cepetan Mas."  "Iya iya." Jawab Rayhan singkat. Kinan menatap Rayhan panjang. Lalu menghela napasnya bingung.  Sepulangnya dari kondangan. Rayhan langsung masuk ke kamarnya. Membanting pintu agak keras. Kinan menggelengkan kepalanya sebelum masuk kedalam kamar. Menutup pintu perlahan-lahan agar tidak membangunkan kedua anaknya yang sedang terlelap sambil berpelukan.  Kinan duduk di ranjang mengusap rambut Dea. Semakin lama Dea akan bertambah besar. Dan akan mengenal yang namanya cinta. Air mata Kinan jatuh dengan deras. Jangankan untuk melihat Dea jatuh cinta. Melihat Dea mendapatkan halangan yang pertama saja dia tidak. Kinan nerasa gagal menjadi seorang Ibu. Lalu Kinan mengusap kepala Dami. Tangisnya semakin deras mengusap rambut Dami dan terisak-isak. Dami menginginkan sosok Ayah di dalam hidupnya. Dia sangat membutuhkanya. Tapi... Kinan tidak sanggup mengatakan semuanya kepada Rayhan.  Apa yang akan Rayhan pikirkan. Pasti dia marah besar Kinan menyembunyikan Dami selama ini. Dan Kinan tidak sanggup menerima amarah dari Rayhan. Rayhan menjadi orang yang berbeda ketika marah. Keras, dingin, dan kasar. Kinan tidak ingin menjumpai Rayhan yang seperti itu.  Lebih baik dia simpan rapat-rapat semuanya. Lihat saja bagaimana takdir membawa mereka. Biarkan takdir yang menyatukan bahkan memisahkan mereka.  Ya biarkan takdir yang menentukan. Kinan berdiri melepaskan satu-persatu jepitan yang ada dirambutnya. Dia berdiri di depan kaca. Menatap pantulan wajah sembabnya. Selalu saja dia menangis ketika menatap kedua buah hatinya.  Baru saja Kinan ingin membuka kancing baju terakhirnya. Pintu terbuka pelan menampilkan Rayhan yang berdiri dengan napas naik turun.  Rayhan terdiam di tempatnya. Matanya melotot melihat bagian depan tubuh Kinan yang terbuka. Lalu dia mengalihkan pandanganya kearah lain. Dia langsung merasa bersalah dan takut. Maksudnya takut khilap.  "Maaf Nan. Aku nggak tau kalau kamu.. kamu.. ah yasudah aku tunggu di depan. Aku mau ngomong." Rayhan menolehkan kepalanya sekali lagi kepada Kinan yang sepertinya belum paham akan situasi. Lalu Rayhan berputar dan meninggalkan kamar dengan mendesah perlahan. Menetralkan degup jantungnya yang rasanya hampir meledak. "Ya Allah!!!!!!" Jerit Kinan tertahan. Tanganya langsung menyatukan bajunya yang terbuka. Jadi sedari tadi Rayhan melihat dirinya setengah telanjang? Ahh betapa malunya Kinan. Kenapa dia bisa begitu bodoh dengan melupakan kegiatanya barusan yang membuka kancing baju. Pantas saja wajah Rayhan mupeng begitu.  "Mas Rayhan mesum." Kesal Kinan lalu dia masuk kedalam kamar mandi. Masih sambil mengomeli Rayhan yang masuk tanpa mengetuk pintu. Memang fungsi pintu untuk apa kalau bukan untuk diketuk.  Hah!       **** "Aku lihat!! Aku lihat!! Aku lihat!!" Gumam Rayhan sambil berjalan mondar mandir di depan kamar Kinan. Salahkan pikiran kotornya yang langsung membayangkan yang tidak-tidak.  Rayhan duduk di kursi. Masih sambil memegangi kepalanya. Berharap bayang-bayang d**a Kinan yang semakin membesar hilang dari kepalanya. Dia bukan lelaki m***m pengintip yang akan membayangkan tubuh molek Kinan. Tapi apa boleh buat. Kinan sendiri yang memberi Rayhan kesempatan untuk membayangkan yang tidak-tidak.  Kinan keluar dari kamar dengan wajahnya yang masih cemberut. Mungkin masih marah soal kejadian yang tadi. "Nan kamu marah?" Tanya Rayhan. "Menurut Mas gimana? Lagian Mas sih langsung masuk aja. Gimana kalau tadi aku telanjang. Enak di Mas. Nggak enak di aku." Omel Kinan panjang lebar. Rayhan menghela napasnya menatap Kinan bersalah.  "Justru aku malah berdoa nemuin kamu lagi telanjang Nan." Ujar Rayhan pelan.  "Ngomong apa sih Mas?" Tanya Kinan yang heran melihat mulut Rayhan bergerak-gerak tetapi tidak mengeluarkan suara. "Nggak tadi kumur-kumur."  Rayhan mengambil sesuatu dari dalam kantong celananya. Dia meletakan sebuah benda panjang di atas meja. Kinan membelalakan matanya dan menutup mulutnya dengan kedua tangan. Kinan menatap Rayhan dan benda itu bergantian.  "Apa maksudnya itu Nan? Kamu bisa jelasin sama aku?" Tanya Rayhan yang emosinya mulai terkumpul di kepala. "Mas kamu jangan lancang. Itu barang aku. Dan kamu udah nggak ada hak nanya-nanya sama aku. Kita udah nggak ada apa-apa lagi. Jalani kehidupan kita masing-masing Mas. " Tegas Kinan mengambil benda tersebut. Menggenggamnya kuat-kuat untuk menahan rasa amarah dan ketakutan.  "Nggak bisa Nan. Udah berulang kali aku coba buat nggak bertanya sama kamu. Tapi aku malah pusing main tebak-tebakan sendiri." Rayhan menghela napasnya yang terasa sesak. "Apa Dami anak kamu? Maksudnya anak kita.."  Bilang iya Nan. Dan aku akan maafin kamu. Aku mohon.  Kinan menundukan kepalanya lalu menggeleng. "Bukan Dami bukan anak aku."  "Pembohong! Kamu pembohong yang hebat Nan. Kamu pikir selama ini aku diam. Kamu salah Nan. Dari pertama aku ketemu Dami. Aku udah merasa dia itu bagian dari tubuh aku. Buah cinta aku sama kamu." "Jangan mengada-ada Mas!"  "Aku nyuruh orang buat cari tau Dami. Dan hari ini aku tau Nan. Dami dia... anak aku kan. Iya kan Nan!!" Teriak Rayhan emosi. Rayhan memegang pundak Kinan yang melemah. Lalu diguncangnya pelan karena Kinan hanya diam.  "Bukan. Bukan Mas! Bukan!!!!" Teriak Kinan menghempaskan tangan Rayhan dari bahunya. "Aku juga nemuin test pack di laci kamar kamu. Trus apa lagi yang perlu kamu tutupi. Kamu pembohong Nan! Rencananya sampai kapan kamu menutupi ini semua? Sampai aku mati?" Geram Rayhan. Dia melihat Kinan hanya berdiri kaku tidak mengeluarkan setetes air matapun. Ayo Kinan. Menangis! Menangis yang kencang. Agar aku bisa maafin kamu Nan. Aku akan peluk kamu dan lindungin kamu. Batin Rayhan memohon.  Tapi sayang. Kinan hanya menunduk dan tidak bisa berkata-kata. Rayhan maju satu langkah mendekati Kinan. Kinan yang terkejut memundurkan langkahnya sampai punggungnya menyentuh dinding.  Rayhan mengelus pipi putih Kinan lalu turun ke leher. "Jangan Mas." Elak Kinan saat Rayhan mulai mengecup rahangnya. Turun ke leher dan mencium berulang kali leher Kinan yang terasa memabukan.  Kinan menegakan tubuhnya saat merasakan lehernya ditetesi air. Rayhan memeluk Kinan sambil menangis sesenggukan.  "Maafin aku Nan. Maafin aku. Maafin aku. Maafin aku. Maafin aku." Racau Rayhan. Kinan tidak membalas pelukan Rayhan. Dia hanya ikut menangis. Dan pasrah saat Rayhan memeluknya lebih erat. "Dami anak aku kan Nan?" Tanya Rayhan lagi. Ia merasa tidak puas jika tidak mendengar langsung dari mulut Kinan.  Melihat anggukan Kinan membuat Rayhan menangis dan memeluk Kinan lagi. Pertahanan Kinan runtuh. Ia melingkarkan tanganya kepunggung Rayhan mengusapnya lembut. "Iya Dami anak kamu."  "Anak aku Nan. Dami anak aku."  Hiks.. Rayhan menangis di pelukan Kinan. Rayhan bahagia dan lega. Tapi ia juga merasa sangat bersalah. Kemana saja ia selama ini. Sampai tidak mengetahui bahwa Kinan hamil.  Pasti sangat sulit hamil sendirian tanpa didampingi sosok suami. Dan sekarang Rayhan tau. Ia tidak pantas bersanding dengan Kinan. Ia juga tidak pantas menjadi Ayah Dami. Ia hanya b******n hina yang berselingkuh dengan wanita lain.  Mungkin saat itu Kinan sudah mengandung anaknya. Rayhan terlalu masa bodoh. Dan larut dalam kemarahan dan keegoisanya.  Rayhan mencium kening Kinan saat wanita itu ia baringkan di atas ranjang. Rayhan menarik selimut sampai sebatas d**a Kinan.  "Jangan pergi. Aku.. aku.." Kinan menahan tangan Rayhan yang hendak pergi. Rayhan tersenyum melepaskan tangan Kinan dari lenganya.  "Sttt.. lebih baik kamu istirahat dulu. Aku nggak kemana-mana." Kinan memgangguk lalu mulai memejamkan matanya. Beberapa menit lalu membuat dirinya menjadi lelah dan sangat mengantuk.  Rayhan berdiri lalu keluar dari kamar.  "Maafin aku Nan. Aku bukan suami yang baik buat kamu. Semoga kelak kamu bertemu dengan lelaki baik pilihan kamu." Ujar Rayhan pedih. Menatap sekali lagi tubuh Kinan yang terbaring. "Maafin Ayah Dami. Maafin Ayah. Beribu-ribu maaf Ayah beri sama kamu. Ayah bukan Ayah yang baik seperti yang Dami mau." Setelah ini Rayhan akan pergi jauh. Jauh sekali.. sampai seua orangpun tidak ada yang tau kemana kepergianya. Ini yang terbaik. Kalau ia masih tinggal. Ia hanya akan menjadi penghalang Kinan untuk bahagia.  Rayhan telah ikhlas melepaskan Kinan. Semoga Kinan bahagia dengan pilihanya. Biarkan Rayhan yang menanggung semua sakit sendiri. Untuk menebus semua yang telah ia lakukan di masa lampau. "I love you Kinan. Ayah mencintai kalian."  ****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD