"Papa!!! Ma Papa kemana? Baju-baju Papa udah nggak ada Ma. Kemana? Aaaaaaa!!!! Papa kemana!! Hiks Papa. Hiks.. Hiks Mama." Isak Dea membuka-buka lemari yang dipakai Rayhan. Baju-baju Papanya yang semalam masih tersusun rapi disana. Sudah raib dan hanya tersisa bermacam-macam boneka dan robot-robotan.
Kinan mendekap Dea kedalam pelukanya. Menenangkan sang putri yang panik karena tidak menemukan Rayhan dimanapun. Kinan mengusap air matanya pedih. Hatinya terasa sesak.
Kenapa? Kenapa Rayhan pergi disaat ia ingin memperbaiki semuanya. Ingin membangun semuanya dari awal bersama Dea dan Dami. Menjadi keluarga bahagia dan utuh. Kenapa Rayhan harus melakukan ini semua.
Kinan menghapus air mata Dea. Tetapi air matanya sendiri tidak berhenti mengalir. "Papa kerja Dea. Papa kerja. Nanti Papa pulang."
"Enggak Mama. Papa pergi. Papa ninggalin Dea. Dea mau Papa." Dea berusaha melepaskan tangan Kinan yang mendekap perutnya. Kinan mengelus kepala Dea yang sekarang sudah terkulai di bahunya. Suaranya masih sesenggukan. Dan meracaukan Papa.. Papa..
"Sabar ya Sayang. Papa pasti pulang. Ya pasti pulang." Suara Kinan terdengar ragu. Entah nanti Rayhan kembali atau tidak. Kinan berjanji akan menunggu pria itu sampai kembali. Karena cinta Kinan hanya untuk Rayhan.
"Dea benci Papa! Papa ninggalin Dea. Papa emang nyebelin, narsis, tapi Papa tetep Papa terbaik yang Dea punya. Papa pergi dan Dea belum pernah bilang sayang ke Papa. Dea selalu bantah Papa. Kenapa Papa pergi Ma?"
Kinan menangkup pipi Dea lalu menatap Dea lembut. "Janji sama Mama. Dea nggak boleh benci Papa. Apapun yang terjadi Papa Dea tetep Papa Dea. Ya sayang." Ujar Kinan. Dea menganggukan kepalanya.
Ia berjalan mendekati lemari yang terdapat banyak boneka. Pandangan Dea jatuh pada sebuah boneka panda hampir sebesar dirinya. Memeluknya kuat seakan itu adalah Papanya.
"Semoga Papa baik-baik aja disana. Dea kangeeeeennn banget sama Papa. Papa cepet kembali ya. Pasti Dea akan pukul Papa karena tinggalin Dea diam-diam. Makasih semua bonekanya Papa. I love you my Daddy." Ujar Dea berbicara kepada bonekanya seakan itu adalah Rayhan.
Dea mengusap air nata di ujung matanya sambil tersenyum. Banyak sekali boneka yang diberikan Rayhan. Padahal dulu Rayhan melarang keras Dea membeli boneka terlalu banyak. Karena tidak perlu.
Tapi lihat sekarang? Haha bahkan Papanya hampir memberikan boneka kepada Dea satu lemari. Dea berjanji saat Papanya kembali. Ia akan memukul Papanya sampai Papanya minta ampun dan berjanji tidak akan pergi lagi.
Kinan memeluk pundak Dea dari belakang. Menguatkan putrinya padahal dirinya sendiri hancur. "Dea seneng nggak tinggal sama Mama?" Tanya Kinan.
"Seneng Ma."
"Tapi Dea nggak boleh cemberut dong. Harus senyum. Cantiknya hilang lho nanti."
Dea tersenyum kecil dan langsung memeluk Kinan lagi. Tapi kali ini ia tidak menangis. Kinan mengusap punggung Dea dan air matanya kembali mengalir.
"Cepat kembali Mas."
****
Sudah lewat satu bulan kepergian Rayhan. Pria itu seperti hilang ditelan bumi. Tidak ada kabar apapun dari dirinya. Walaupun Rayhan menghilang. Tapi ia masih memenuhi kewajibanya dengan selalu mengirimkan uang dan mainan kepada Dami dan Dea.
Kinan marah. Ingin sekali marah. Seandainya Rayhan tau. Bukan materi yang kedua anaknya inginkan. Namun kehadiran Rayhan. Tapi Kinan yakin Rayhan memiliki alasan tersendiri mengapa ia pergi. Dan Kinan yakin suatu saat Rayhan pasti kembali.
Kinan melihat jam di pergelangan tanganya. Jam sudah menunjukan angka dimana ia harus cepat menjemput Dami. Kinan menatap setumpuk kertas-kertas yang berserakan di meja kerjanya.
Maafkan Bunda Dami. Bunda terlambat jemput lagi. Batin Kinan dan ia segera membereskan semua pekerjaanya. Mendapat pekerjaan kantoran seperti ini sangat sulit. Maka dari itu Kinan tidak ingin menyia-nyiakan pekerjaanya. Ini semua demi Dea dan Dami. Walaupun uang yang Rayhan kirimkan setiap bulan lebih dari cukup. Kinan lebih memilih menabungnya. Dan menggunakan uang pribadinya sebagai biaya hidup mereka.
"Kinan kamu belum pulang? Ini udah jam pulang anak sekolah lho." suara bariton itu membuat Kinan mendongak. Menemukan senyum cerah khas milik Tio. Atasan di kantor Kinan.
"Sebentar lagi Pak." Jawab Kinan sungkan.
"Kalo kamu mau pulang nggak apa-apa kok Nan. Dan satu lagi. Jangan panggil saya Pak kalau lagi berdua. Panggil saja Tio." Ujarnya sambil bergelayut pada pembatas kubikel Kinan.
"Nggak enak Pak. Pak Tio lebih tua dari saya."
"Kalau gitu Mas Tio. Bolehkan?" Tanya Tio berharap. Kinan mengangguk pasrah. Daripada atasanya ini memohon-mohon tidak jelas seperti ini. "Yaudah Nan. Kamu pulang aja. Dilanjut besok. Kasihan anak kamu."
Tio tersenyum lagi. Membantu Kinan membereskan kertas yang berserakan. "Makasih Mas Tio." Ujar Kinan sebelum pergi dari hadapan Tio yang menggaruk lehernya salah tingkah saat dipanggil Mas oleh Kinan.
Kinan melangkah tergesa. Ia mengeluarkan kunci mobil dari dalam tasnya. Mobil Rayhan yang mungkin sengaja pria itu tinggalkan. Kinan melajukan mobilnya dalam kecepatan sedang.
Beberapa menit kemudian. Ia sampai di depan sekolah Dami. Dahi Kinan berkerut saat melihat Dami berbincang dengan seorang pria dewasa. Pria itu berjongkok dihadapan Dami. Sambil memegang botol air mineral.
"Mas Re." Gumam Kinan tidak percaya dengan apa yang ia lihat. Kinan langsung keluar dari mobilnya. Berlari menghampiri Dami dan Mas Re.
Nafas Kinan tersengal. Tidak ia hiraukan kakinya yang perih karena lecet memakai heel. Air matanya sudah mengumpul dan ingin keluar. Akhirnya penantianya selama satu bulan berbuah manis. Rayhan benar-benar kembali.
"Bunda pelut Dami cakit. Bunda kok lama cih jemput Dami. Untung ada Om Ge." Ujar Dami lemas sambil memegang perutnya.
Senyum Kinan luntur saat pria itu membalik badanya dan memberikan senyuman kepada Kinan. Pria itu bukan Rayhan. Rasa kecewa menggelayutinya. Ia terlalu berharap. Dan akhirnya ia sendiri yang kecewa.
"Dami kenapa sayang. Kenapa perutnya bisa sakit. Dami makan apa?" Tanya Kinan sambil menggendong Dami khawatir. Sambil sesekali melirik pria yang dipanggil Om Ge oleh Dami.
"Dami nggak makan apa-apa. Tiba-tiba pelut Dami cakit. Maksud Dami.. Dami lapel Bunda. Makanya pelut Dami cakit. Untung ada Om Ge kasih Dami loti cama minum tadi." Dami meringis saat Kinan melongo tidak percaya.
"Saya Genan. Maaf saya lancang kasih makanan sama Dami." Ujar Genan tapi Kinan tidak melihat raut menyesal dari wajah Genan. Genan malah tersenyum seakan itu memang tugasnya. "Kalau begitu saya permisi."
Kinan mengawasi Genan sampai pria itu menghilang masuk ke mobilnya. Kinan menatap Dami yang memeluk lehernya erat.
"Ayo pulang Bunda. Kacihan Mbak Dea cendilian di lumah. Ayo Bunda." Rengek Dami menunjuk mobil.
"Dami laper atau mau ketemu Mbak Dea. Mbak Dea kan masih sekolah." Goda Kinan.
"Mau makan cih cebenelnya Bunda. Dami lapeeeelllll banget."
Kinan membawa Dami masuk kedalam mobil. Di dalam mobil Dami hanya diam melihat lalu lalang kendaraan bermotor. Tidak lama mobil berhenti di depan sekolah Dea. Kinan menurunkan kaca mobilnya. Melambaikan tanganya memanggil Dea yang duduk di kursi menunduk sambil memilin-milin tali tasnya.
"Mama ih sebel! Mama terlambat 10 menit. Tau nggak banyak banget Ma Kakak kelas yang mau antar Dea. Dea kan ogah Ma pulag bareng mereka. Memang Dea cewek apaan." Oceh Dea begitu ia menghempaskan punggungnya pada sandaran kursi.
"Memang ada ya yang mau sama Dea. Dea aja cerewet banget." Ucap Kinan mulai menjalankan mobil menuju rumah makan terdekat. Karena perut mereka bertiga yang sudah keroncongan meminta diisi.
"Mama jangan salah. Anak Mama ini laku keras. Lihat tuh tas Dea penuh sama surat-surat cinta. Kalau bisa dimakan sih nggak papa Ma. Nah ini... ckckck.. bikin sampah Dea makin numpuk aja Ma." Gerutu Dea kesal. Ia membuka tasnya. Mengeluarkan satu persatu surat yang membuatnya geli sendiri saat membacanya.
"Dami mau!!" Teriak Dami merebut satu surat dari tangan Dea.
"Jangaaaaann.. noooooo itu dari Kakak idola Dea. Balikin Dami. Ayo balikin." Dea berusaha merebut surat berwarna biru itu dari tangan adiknya. Dan terjadilah tarik menarik surat. "Dami kembalikan surat Mbak. Atau Mbak nggak akan nemenin Dami ke kamar mandi malem-malem." Ancam Dea.
"Bisa sama Bunda wle. Iya kan Bunda." Dami mencari pembelaan dari Kinan. Kinan hanya tertawa mengelus kepala Dami.
Perlahan Dami membuka surat biru itu. Dea pasrah saja. Toh Dami belum lancar membaca. Membaca satu surat mungkin butih waktu berjam-jam.
"Bunda bisa bacakan untuk Dami?" Pinta Dami polos.
"Curang! Dilarang minta bantuan Mama. Dami kalau mau tau harus baca sendiri dong." Dea cemberut melipat tanganya di depan d**a.
"Ayo kita turun. Bunda Mama udah laper banget. Cacing-cacingnya udah pada demo. Ayo.. ayo.."
Meski masih kesal. Dea turun dari mobil karena perutnya juga sudah keroncongan. Kalau meladeni Dami yang ada dia bisa mati kalaparan.
****
"Huwaaaaaa... Bunda mau lagi Bunda. Dami belum puas makanya. Pokoknya Dami akan duduk cehalian dicini campai Bunda ajak Dami macuk kedalam lagi." Dami berjongkok di depan pintu masuk rumah makan. Sambil memainkan batu-batu kecil menghiraukan bujukan Kinan dan olokan Dea.
"Ya ampun dedek Dami. Kamu itu sudah gembul. Kalau makin gembul gimana. Nanti susah jalan loh. Mau emang kayak sumo kemana-mana nggak pake baju?"
Pfffftttt... Dea menahan tawanya melihat Dami makin cemberut dan menatap mengiba pada Kinan. Tekad Dami sudah bulat. Kalau tidak masuk lagi. Ia akan duduk seharian disini.
"Bener kata Mbak Dea. Dami kan sudah gembul. Nanti deh Bunda masak makanan sehat dirumah. Buat Dami nyemil." Ujar Kinan lembut mencubit pipi gembil Dami yang semakin gembil saat tertekuk.
"Janji ya Bunda... atau Dami akan marah mogok makan catu minggu." Kinan menganguk mengulurkan tanganya. Dami bergegas menggandeng tangan Kinan masuk kedalam mobil.
"Yakin mogok makan satu minggu. Satu jam nggak makan aja Dami udah lemes tuh hahaha." Dea memegangi perutnya yang sakit karena kebanyakan tertawa.
"Bialin. Dalipada Mbak Dea kulus kelempeng wekss." Dami menjulurkan lidahnya. Dan perjalanan kali ini diwarnai olok mengolok Kinan dan Dami yang terjadi hampir setiap hari.
Ckckck... Kinan jadi heran. Dulu saja bermanis-manis. Sekarang tingkah mereka layaknya Tom&Jerry.
Tarikan di bajunya membuat Kinan melirik sekilas Dami yang duduk di kursi sebelahnya. Dami merapatkan tubuhnya kepada Kinan. Sehingga Dea yang berada di jok belakang memajukan badanya kepo. Tapi segera mundur saat Dami menatapnya mengejek.
"Bunda nanti bacakan culatnya Mbak Dea ya."
"Damiiiiiiiiiiiiii Mbak pites kamu!!!!!"
Kinan dan dami tertawa saat Dea berteriak dan merebut surat itu dari tangan Dami. Dea mengelus-elus suratnya lalu dicium-ciumnya penuh sayang.
"Bunda.. Mbak Dea gila ya?" Tanya Dami. Kinan terlihat menahan tawanya. Dan mengangkat bahu.
"Biarin Dami. Biarin!" Jawab Dea ketus.
"Bunda kok kayak ada yang ngomong. Ciapa cih Bunda."
"Iya ya... Bunda juga denger ada yang ngomong tapi nggak ada wujudnya sayang."
"Au ah.. Mama sama Dami resek banget deh. Jelas- jelas orang cantik lagi duduk dibelakang. Malah digosipin." Sahut Dea sambil mengibaskan rambut hitam panjang mengkilapnya layaknya bintang iklan shampoo gagal.
"Hoaammm ngantuk ya Bunda." Dea semakin cemberut mendengar Dami berpura-pura menguap. Kinan tertawa mengerlingkan sebelah matanya kepada Dea yang melukis jendela mobil dengan wajah juteknya.
Nggak Mama... Nggak Adek sama ngeselinya.
****
"Apa saja dokter lakukan. Asal Kakak saya bisa sembuh. Berapapun biayanya akan saya tanggung. Kalau bisa siapkan perpindahan Kakak saya ke Singapura supaya pengobatanya tidak jalan ditempat." Ujar Genan sambil melihat tubuh Kakaknya terbaring di ranjang pesakitan.
"Dok pasien anfal lagi." Teriak seorang wanita berpakian putih-putih. Kecemasan tercetak jelas pada raut wajahnya.
Ruang ICU seketika menjadi panas dan penuh ketegangan. Beberapa suster terlihat mengecek kondisi seorang pasien yang ditubuhnya terpasang alat bantu pernapasan dan alat-alat yang tertempel di dadanya.
Beberapa menit terasa berjam-jam. Genan meremas jarinya untuk menghilangkan ketakutan dan kegugupan. Dirinya juga sudah tidak tahan untuk menghubungi seseorang yang mungkin bisa membantu Kakaknya sadar dari komanya.
Tapi pesan yang di katakan kakaknya sebelum tidak sadarkan diri membuatnya mengurunkan niat liciknya.Ketika detak jantung mulai stabil. Dokter menyeka keringat di keningnya. Dokter menatap miris tubuh yang dulunya gagah terbaring lemah dan semakin kurus. Genan menghela napas lega lalu mengucap syukur sebanyak yang ia bisa.
"Segera siapkan perpindahan Bapak Rayhan ke Singapura sesuai arahan keluarganya."
****