Tiba di klub waktu telah menunjukkan pukul tujuh malam. Kini Vanie baru tahu jika ternyata kekuasaan Ardan tidak hanya di Indonesia saja, kota sebesar New York sanggup tunduk padanya. Hanya dengan sebuah anggukan, mereka langsung diantar ke ruang VIP di klub tersebut, padahal antrian di pintu masuk sudah mengular panjangnya. "Hei! Stevanie!" tetiba terdengar suara pria menyapanya. Suasana di dalam klub yang minim cahaya membuat Vanie harus extra keras mengenali wajahnya. "It's me! Michael!" "Ohh my God, Mike! How are you." seru Vanie setelah mengenali teman semasa di kampus dulu, setidaknya hari ini ada satu hal yang menggembirakan hatinya. Ardan yang berjalan di depan Vanie tidak menyadari jika wanita itu berhenti untuk menyapa kenalannya hingga dia masuk ke dalam ruang VIP. "Kemana

