7. Uji Kompetensi Dokter Indonesia

1653 Words
eminggu sudah setelah peristiwa mengerikan yang terjadi pada Lashira Ghassani. Pagi-pagi sekali, wanita cantik itu harus bersiap-siap diri pada Uji Kompetensi Dokter yang harus dijalaninya untuk mendapatkan gelar dokter. Perjuangannya sebagai calon dokter pun berada di ambang pintu. Jika bisa melewati ujian ini dengan lancar, ia akan jadi lega. Tinggal menanti kelulusan sebagai dokter muda. Siap terjun ke rumah sakit sebagai Dokter Lashira. Begitu juga dengan Aga dan Damar yang juga harus ujian hari ini. “Pa, Ma, Shira berangkat ke kampus dulu ya, minta doa nya agar Shira bisa cepat lulus ujian,” celetuk wanita cantik yang tampak gugup ketika hendak menjalani ujian tersebut saat tengah sarapan bersama keluarganya. Abdullah mengangguk. “Iya, pasti. Papa Doakan yang terbaik untukmu Shira. Pagi ini Papa antarkan kamu ke kampus. Papa sudah ijin ke kantor untuk berangkat agak telat untukmu, Sayang. Doa Papa selalu menyertaimu. Selamat berjuang sebagai calon dokter Lashira Ghassani,” ucap pria itu yang tampak bangga karena sang putri kandung hendak berjuang di tahap akhir sebagai calon dokter. “Aamiin. Terima kasih doa-doanya untukku, Pa. Makasih banyak. Maafkan sudah harus merepotkan Papa yang harus mengantarku berangkat ke kampus. Tapi sebenarnya aku bisa naik kendaraan sendiri, Pa,” ujar Lashira. “Sudahlah Papa antar saja. Nggak repot kok, Shira,” ujar Abdullah yang kemudian ditimpali oleh Hilda. “Syukurlah Mama juga bisa datang ke rumah sakit agak siang seperti Papa. Sudah ijin dengan kepala bagian divisi perawat rumah sakit. Semua ini dilakukan demi kamu, Shira. Papa dan Mama ingin melihat kau bergelar dokter di keluarga Ghassani,” cerocos Hilda. Lashira mendesah pelan. “Iya, terima kasih, Ma.” “By the way, Aga apa juga akan diantar oleh Papa dan Mamanya sepertimu?” tanya Hilda yang antusias jika membahas tentang keluarga Daneswara yang baginya menyilaukan itu. Berharap bisa cepat menjadi besan dari sepasang suami istri yang berprofesi sebagai dokter terkenal itu. Lashira menggeleng. “Shira nggak tahu, Ma. Beberapa hari ini kami jarang komunikasi karena sibuk persiapan ujian. Tapi kalau dilihat dari kesibukan Om Iskandar dan Tante Hesti, sepertinya beliau takkan ikut.” Abdullah bersuara kembali. “Sudah-sudah nggak penting bahas orang lain. Sekarang yang penting, kita antarkan Lashira ke kampusnya dulu.” “Iya-iya, Pa. Ya sudah, setelah selesai sarapan, ayo kita berangkat,” ajak Hilda yang diangguki oleh Abdullah beserta Lashira. Saat sarapan pagi, raut muka Violetta semakin masam. Jika ujian kompetensi dokter Lashira dan Aga sudah terjadi, itu artinya mereka akan semakin dekat dengan pernikahan. Hal itu membuat Violetta tak suka karena baginya sebentar lagi saudara tirinya itu akan hidup bahagia sebagai istri dari Aga Daneswara, pria yang sesungguhnya disukai oleh wanita itu. Jika Shira dan Aga sudah bergelar dokter, mereka berdua akan menikah tak lama lagi. Mereka akan hidup bahagia sedangkan aku akan menderita. Batin Violetta. Sesampainya di kampus A fakultas kedokteran Universitas Airlangga, Lashira yang diantar oleh kedua orang tuanya tampak gugup karena hari ini adalah hari penentuan bagi dirinya untuk dilantik menjadi dokter. Ketika baru saja sampa di halaman kampus, tampak mobil mewah milik Bupati Gresik berjenis Mercedes Benz S-Class dengan plat nomor W untuk wilayah Gresik dan Sidoarjo pun tiba. Abdullah dan Hilda sempat melirik ke arah mobil tersebut. Apalagi saat sosok Damar selaku putra dari sang bupati turun dari mobil sedan mewah tersebut. Sedangkan Lashira masih sibuk mengambil barang-barang pribadinya untuk ujian di dalam mobil. Hilda tercengang melihat Damar yang berpenampilan rapi dan elegan. Mulai dari ujung kepala hingga ujung kaki terdapat barang mewah yang melekat di sana. “Pa, teman-teman kuliah Shira banyak yang berasal dari keluarga berada ya. Ini kalau nggak salah putra dari Bupati Gresik periode sekarang itu kan. Ya ampun, selain Aga, dia pasti jadi idaman banyak gadis di sana. Coba saja bisa dikenalkan dengan Violetta, Mama pasti senang sekali bisa punya besan pejabat pemerintahan. Punya dua besan yang berstatus sosial tinggi, bisa mengangkat derajat kita. Kita akan semakin disegani oleh orang lain,” cerocos Hilda dengan mata berbinar. Abdullah berdecak. “Hilda, kau ini jangan mimpi terlalu tinggi. Belum tentu pemuda itu mau dengan Vio. Jadi jangan berharap macam-macam.” “Lho, kan seandainya, Pa. Kan kita bisa seperti mendapat durian runtuh jika bisa menikahkan dua putri kita dengan orang-orang terkenal dan kaya seperti mereka. Mama mau bermimpi dulu,” tukas Hilda yang masih terpesona dengan Damar. Meski wajah Damar tak setampan Aga tapi pesona Damar terpancar dari penampilan pria itu yang bak pangeran dari sebuah kerajaan. Beberapa detik kemudian, Lashira turun dari mobil dan sepasang netra cokelat milik wanita itu menangkap sosok Damar hingga ia jadi ketakutan. Begitu pula sebaliknya, Damar sempat bersitatap dengan Lashira. Menatap sang wanita yang telah dinodai secara paksa tersebut. Untuk menghindari tatapan nanar dari seorang Damar, Lashira lekas membuang muka dari pria itu. Ia jadi bergidik setiap kali melihat pria keji itu. Rasa trauma masih tetap hadir. Lashira lebih memilih untuk berpamitan pada kedua orang tuanya sambil mencium punggung tangan mereka berdua sebelum memulai ujian. Hendak meminta doa agar bisa berhasil dalam ujiannya nanti. “Pa, Ma, Shira pamit mau ujian dulu. Terima kasih sudah diantarkan sampai ke sini. Shira minta doanya agar lancar waktu ujian nanti,” celetuk perempuan cantik itu. Abdullah lekas membalas ucapan sang anak. “Tentu saja, Shira. Pasti Papa dan Mama akan doakan ujianmu lancar. Dengan kamu jadi dokter sudah menjadi cita-citamu serta impian kami juga. Oh ya, sebelum ujian dimulai, jangan lupa berdoa dalam hati ya. Lafalkan ayat suci Al Qur'an agar kau diberi kemudahan,” pesan sang ayah sambil memberikan saran dan petuahnya demi keberhasilan anaknya. “Iya, Pa. Pasti. Kalau begitu, Shira pergi dulu, ya. W assalamu’alaikum,” pungkas Lashira yang segera beranjak dari sana. Ingin fokus pada ujiannya nanti. Melihat kepergian Lashira, Hilda menarik tangan suaminya. Berniat mengajak wanita cantik itu untuk pergi meninggalkan kampus Lashira. “Pa, ayo kita pergi dari sini! Ini sudah siang, nggak mungkin kan Mama izin telat masuk lama-lama. Sungkan sama atasan Mama,” ajak Hilda yang diangguki oleh Abdullah. “Iya, Hilda. Oke,” sahut Abdullah singkat. Mereka berdua pun pergi meninggalkan kampus Lashira. Dalam hati Abdullah mendoakan putri kandungnya itu untuk segera meraih cita-citanya sebagai seorang dokter. Sesuai keinginan sang ibunda yang telah meninggal dunia pula karena kecelakaan mobil beberapa tahun silam. Alya, dulu aku sudah berjanji padamu untuk membesarkan putri kita berdua hingga dewasa dan cita-citanya tercapai. Kini tinggal selangkah lagi untuk memenuhi keinginan terakhirmu saat sekarat dulu. Kau akan bangga di sana ketika melihat Lashira kita nanti resmi menjadi dokter dan itu takkan lama lagi. Gumam Abdullah dalam hati saat mobil melaju dengan kecepatan sedang. Abdullah hendak mengantarkan Hilda pergi menuju kantornya di rumah sakit terlebih dahulu sebelum menuju kantornya di kawasan Rungkut Industri. *** Lashira bergegas mengambil langkah seribu untuk bisa cepat sampai di ruang ujian. Ia mulai tampak deg-degan atas uji kompetensi dokter yang hendak dijalaninya itu. Saat ia mengambil langkah agak cepat, tiba-tiba ada yang menarik tangannya. Wanita itu terlonjak saat menyaksikan sosok Damar yang sudah menahan langkah wanita cantik itu. “Damar, apa yang mau kau lakukan? Aku mau ujian. Kau juga kan?” tanya Lashira panik. “Aku tadi melihat Papa dan Mamamu melihat ke arahku. Mereka seperti tertarik melihatku. Aku cuma ingatkan kamu jika kita pernah terlibat cinta satu malam, Shira Sayang. Jika akibat perbuatan kita malam itu bisa mengakibatkan kau sampai hamil, dengan sangat terpaksa kau harus mengakhiri rencana pernikahanmu dengan si keparatt Aga. Aku yang lebih berhak untuk menikahimu. Ingat itu!” tandas Damar sambil menatap wanita yang berdiri di hadapannya itu dengan tatapan mendamba. Sungguh menginginkan wanita yang selama 6 tahun ini menjalin hubungan kekasih dengan musuhnya sendiri, Aga Daneswara. Lashira menatap penuh kebencian terhadap Damar. Ia berkata dengan mata berkaca-kaca kembali. “Aku takkan mengandung anakmu, Damar. Perbuatanmu sungguh keterlaluan. Aku bisa melaporkan tindakan bejatmu itu jika aku mau,” ancam Lashira. Bukannya takut, Damar malah terkekeh. “Lho justru itu akan lebih bagus Shira Sayang. Jika kau laporan, aku langsung akan bertanggung jawab padamu. Kita akan menikah nantinya.” Lashira menggelengkan kepala. “Enggak. Yang ada kau akan dipenjara. Kau sudah melakukan pelecehan padaku dan itu ada hukumnya.” “Oh begitu, tapi kekuasaan keluargaku bisa kok, mengeluarkan aku dari penjara lebih cepat dari yang kau kira. Setelah itu baru kita menikah. Bagaimana, setuju?” tanya Damar yang sejak kecil memang terbiasa hidup penuh dengan kekuasaan dan wewenang dari sang ayah. “Enggak, Damar. Lebih baik aku tidak dinikahi oleh Aga daripada aku harus jadi istrimu. Aku benci padamu,” berontak Lashira sambil meneteskan air mata. “Ya sudah, nanti kita lanjutkan lagi pembicaraan kita ini. Sekarang kita harus siap-siap ujian ya Lashira Sayang. Semoga kita berdua sukses di ujian kali ini. Lalu bisa jadi sepasang dokter. Bye,” pungkas Damar yang sebelum ia pergi meninggalkan Lashira, wanita itu cepat mengambil langkah untuk pergi dari tempat itu. Lashira dan Damar pun berjalan terpisah untuk bisa sampai di ruangan yang dijadikan tempat ujian. Sesampainya di depan ruangan ujian, Lashira harus berpapasan dengan sang kekasih, Aga yang ternyata baru saja tiba ke kampus. Langkah mereka berdua sempat terhenti. “Aga, kau baru sampai?” tanya Lashira. Aga mengangguk. “Iya nih, tadi kena macet di tengah kota. Sepuluh menit lagi kita mulai ujian. Syukur aku bisa on time datangnya dan nggak terlambat.” Lashira mendesah lega. “Syukurlah kalau begitu. Ya sudah, kita harus segera masuk. Ujian mau dimulai.” “Iya, Shira. Semoga kita berdua sukses ya dalam ujian. Setelah itu kamu tunggu aku dulu ya,” pinta Aga pada wanita yang masih berstatus sebagai kekasihnya itu. “Aamiin. Tunggu buat apa, Ga?” tanya Lashira. “Mau ngajak kamu makan bareng, Shira. Selama ini kan kamu selalu beralasan karena sibuk persiapan ujian. Setelah ujian berakhir, sudah tak ada lagi alasan itu. Aku ingin membicarakan rencana pernikahan kita berdua. Oke?” Lashira meneguk ludah. Ia bingung harus bagaimana. Akankah jujur pada Aga dengan mengatakan telah diperkosa oleh Damar adalah solusi terbaik? Sanggupkah ia berkata demikian? Bagaimana kelanjutan Uji Kompetensi Dokter Indonesia hari ini? Apakah berjalan lancar?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD