bc

Kamu Mencintaiku, Tapi Dialah Jodohmu

book_age16+
0
FOLLOW
1K
READ
love-triangle
arranged marriage
kickass heroine
stepfather
sweet
city
like
intro-logo
Blurb

Mereka membangun segalanya dari nol—usaha, impian, dan rasa sayang yang tulus. Sampai sebuah kabar datang memisahkan mereka, yang ternyata hanyalah kebohongan. Janji yang diucapkan di pagi hari berubah menjadi kenyataan pahit di sore harinya. Ini bukan sekadar kisah perpisahan, tapi perjalanan panjang seorang wanita bernama Aisyah. Dari kehancuran hati, rasa malu, hingga bangkit kembali, belajar ikhlas, dan akhirnya menemukan makna bahagia yang sesungguhnya. Tidak semua cinta berakhir bersatu, dan melepaskan kadang adalah jalan terbaik untuk melindungi diri dan orang-orang yang kita sayangi.

chap-preview
Free preview
Bab 1 : JANJI DI TENGAH PERPISAHAN
Aisyah, wanita berparas cantik dengan senyum yang menenangkan dan kecerdasan yang terpancar dari tatapan matanya, baru saja menyandang gelar sarjana. Banyak orang mengira ia akan segera melamar pekerjaan di perusahaan besar, mengenakan pakaian rapi, dan menikmati kenyamanan karir yang menjanjikan. Namun, jalan yang dipilihnya justru berbeda. Alih-alih mengejar gaji besar dan jabatan mentereng, ia memutuskan untuk membangun sesuatu yang nyata, sesuatu yang tumbuh dari keringat dan kebersamaan. Ia memilih berjuang dari nol bersama Aris, kekasih yang telah mengisi hatinya selama bertahun-tahun. Selama tiga tahun perjalanan itu, mereka berjalan berdampingan, bukan hanya sebagai sepasang kekasih yang saling mencintai, tetapi juga sebagai sahabat dan rekan seperjuangan yang saling melengkapi. Di mata banyak orang, perjalanan mereka terasa sulit dan penuh ketidakpastian, namun bagi Aisyah, tidak ada hal yang lebih indah daripada membangun masa depan bersama orang yang dicintainya. Bermodalkan tekad yang kuat, keyakinan, dan kepercayaan satu sama lain yang tak tergoyahkan, mereka memulai segalanya dari ruang kecil yang sederhana. Hari demi hari, mereka bekerja tanpa mengenal lelah; pagi hingga malam tercurah untuk mengembangkan usaha kecil mereka. Perlahan namun pasti, benih yang mereka tanam mulai tumbuh. Usaha yang awalnya hanya melayani pelanggan di lingkungan sekitar, kini mulai dikenal luas. Kualitas pelayanan dan kejujuran yang mereka pegang teguh menjadi modal utama yang membuat pelanggan setia datang kembali. Tahun demi tahun berlalu, hingga akhirnya usaha itu berkembang pesat dan berhasil membuka cabang di beberapa kota terdekat. Setiap sudut tempat usaha itu menyimpan cerita; setiap tetes keringat yang jatuh, setiap senyum lelah yang terukir di wajah mereka, dan setiap harapan yang terus dipupuk, semuanya mereka bangun dan nikmati berdua. Bagi Aisyah, Aris bukan sekadar kekasih yang akan mendampingi hidupnya, melainkan rumah tempat hatinya pulang, tempat ia merasa aman, dimengerti, dan dicintai apa adanya. Namun, takdir sering kali bergerak dengan cara yang tak terduga. Segala ketenangan dan kebahagiaan yang mereka rasakan seketika terguncang pada suatu pagi yang cerah. Matahari baru saja terbit, menyinari halaman rumah dan toko mereka dengan cahaya keemasan, seolah melambangkan hari yang akan berjalan indah seperti biasanya. Namun, ketenangan itu segera pecah ketika telepon genggam Aris berdering panjang, memecah keheningan pagi. Aris yang sedang memeriksa daftar barang di rak segera meraih ponselnya. Begitu ia melihat nama yang tertera di layar, ia mengangkatnya dengan senyum ramah. Namun, seiring berjalannya percakapan, senyum itu perlahan memudar, digantikan oleh ekspresi kaget, khawatir, dan perlahan berubah menjadi pucat pasi. Wajahnya yang biasanya ceria dan penuh semangat kini tampak lesu, seolah baru saja menerima kabar terberat dalam hidupnya. Suara dari seberang telepon terdengar jelas meski tidak terlalu keras — suara kakaknya yang terdengar panik, tergesa-gesa, dan dipenuhi rasa khawatir yang mendalam. “Ris, kamu harus pulang secepatnya,” suara kakaknya terdengar bergetar. “Ibu sakit keras. Kondisinya tiba-tiba memburuk semalam. Dokter sudah memeriksanya dan berkata situasinya kritis. Kamu harus segera datang, sebelum terlambat.” Kalimat itu terasa seperti petir di siang bolong yang menyambar hati Aris. Ia merasa seolah napasnya tertahan, dan dadanya terasa sesak seolah dicengkeram oleh tangan raksasa yang kuat. Jantungnya berdebar kencang, bercampur antara rasa takut, sedih, dan rasa bersalah karena telah lama berada jauh dari kampung halaman. Ia menutup telepon perlahan, tangannya sedikit gemetar, lalu menatap Aisyah yang sedang duduk di meja kerja sambil merapikan catatan keuangan dan laporan penjualan. Di matanya yang biasanya penuh ketenangan, kini terpancar ketakutan dan kesedihan yang mendalam, seolah ia sedang menghadapi perpisahan yang berat. “Aisyah...” panggilnya pelan, suaranya terdengar berat dan sedikit bergetar, seolah ada beban besar yang tertahan di tenggorokannya. Aisyah segera menghentikan kegiatannya, merasakan ada yang tidak beres dari nada bicara Aris. Ia meletakkan pulpennya, berdiri, dan berjalan mendekat dengan tatapan penuh perhatian dan kekhawatiran. “Ada apa, Ris? Wajahmu pucat sekali. Ada kabar buruk dari kampung?” tanyanya lembut, berusaha menenangkan meski hatinya mulai ikut berdebar. Aris menarik napas panjang, berusaha menahan gejolak perasaannya agar tidak semakin terlihat. “Aku harus pulang ke kampung sekarang juga,” jawabnya perlahan. “Kakak baru menelpon, bilang Ibu sakit parah. Kondisinya kritis, dan aku harus segera menjenguknya.” Mendengar penjelasan itu, hati Aisyah ikut terasa perih. Ia tahu betapa besarnya rasa sayang Aris kepada ibunya, dan betapa beratnya perasaan pria itu saat ini. Tanpa ragu, ia mengangguk cepat dan meletakkan tangannya di lengan Aris untuk memberi kekuatan. “Baiklah, kalau begitu cepatlah berkemas dan berangkat. Jangan membuang waktu lagi. Jangan khawatir soal urusan usaha di sini, aku yang akan mengurus semuanya dengan baik. Fokuslah pada Ibu, semoga beliau segera membaik.” Aris menatap wajah Aisyah dengan tatapan yang sulit diartikan, campuran antara rasa terima kasih, kekhawatiran, dan sesuatu yang terasa lebih dalam namun tak sempat diucapkan. Ia lalu menggenggam kedua tangan Aisyah dengan erat, seolah tak ingin melepaskannya terlalu lama, seolah genggaman itu bisa menjadi jembatan yang menghubungkan mereka meski terpisah jarak. “Semua usaha yang kita bangun dari nol ini, mulai dari saat kita hanya punya mimpi hingga bisa menjadi sebesar ini, aku titipkan padamu,” ucapnya dengan suara tulus namun tetap berat. “Jaga baik-baik ya. Ingat, ini bukan milikku semata, ini milik kita berdua, hasil keringat dan doa kita bersama. Percayalah padaku, sesegera mungkin aku akan kembali ke sini. Aku janji, tidak akan lama.” Aisyah tersenyum tipis, berusaha menutupi sedikit rasa cemas yang mulai muncul di hatinya. Ia percaya sepenuhnya pada kata-kata Aris. Selama ini, pria itu selalu menepati janjinya, dan ia yakin kali ini pun akan sama. “Aku percaya padamu. Pergilah dengan hati tenang. Kabari aku sesampainya di sana, dan kabari terus perkembangan kondisi Ibu. Aku akan menunggumu kembali.” Setelah berpamitan dan meminta maaf kepada orang tua Aisyah yang tinggal tidak jauh dari tempat itu, Aris segera berkemas dan berangkat menuju terminal bus. Ia melambaikan tangan terakhir sebelum kendaraan yang ditumpanginya mulai melaju meninggalkan kota. Aisyah berdiri sejenak di depan toko, menatap kepergiannya hingga kendaraan itu menghilang di tikungan jalan. Di dalam hatinya, ia terus berdoa semoga ibunya Aris segera sembuh, dan semoga kekasihnya segera kembali seperti yang dijanjikannya. Hari-hari berikutnya, Aisyah menjalani rutinitas seperti biasa. Ia bangun pagi-pagi sekali, membuka toko, melayani pelanggan, memeriksa stok barang, dan mengatur keuangan dengan teliti. Setiap malam, ia selalu menunggu pesan atau telepon dari Aris, mendengarkan kabar dari kampung halaman. Komunikasi mereka berjalan lancar, meski Aris terkadang terdengar lelah dan jarang berbicara panjang lebar. Namun, hal itu dianggap wajar oleh Aisyah, mengingat beban yang sedang dihadapi Aris saat ini. Ia tetap percaya, menunggu waktu di mana Aris akan kembali dan mereka bisa melanjutkan perjuangan mereka seperti sedia kala. Ia tidak tahu, bahwa di balik janji yang terucap dengan tulus itu, ada sebuah kenyataan pahit yang sedang disiapkan untuk mengubah seluruh jalan hidupnya selamanya. Ia tidak tahu, bahwa di balik janji yang terucap dengan tulus itu, ada sebuah kenyataan pahit yang sedang disiapkan untuk mengubah seluruh jalan hidupnya selamanya. Satu minggu berlalu, kemudian berubah menjadi dua minggu. Komunikasi mereka masih terjalin, meski frekuensinya mulai berkurang. Aisyah mencoba memahami. Ia tahu, merawat orang sakit dan mengurus berbagai keperluan di kampung tentu menyita banyak waktu dan tenaga. Setiap kali Aris menelepon, suaranya terdengar lelah, namun selalu berusaha menenangkan Aisyah, mengatakan bahwa kondisi ibunya perlahan membaik, dan ia akan segera pulang. “Bersabarlah sedikit lagi, Sayang. Sebentar lagi aku kembali,” ucapnya setiap kali mereka mengakhiri percakapan. Dan Aisyah selalu percaya. Ia menganggap jarak ini hanyalah ujian kecil yang akan membuat ikatan mereka semakin kuat. Setiap malam, sebelum tidur, ia berdoa agar segala urusan di kampung segera selesai, agar Aris bisa kembali dan mereka bisa melanjutkan mimpi-mimpi yang telah dirancang bersama. Ia mengurus usaha itu dengan sepenuh hati, bahkan memperkenalkan beberapa inovasi baru yang membuat omzet penjualan meningkat. Ia yakin, saat Aris kembali, ia akan bangga melihat bahwa apa yang dititipkannya justru berkembang lebih pesat. Namun, seiring berjalannya waktu, perasaan tidak nyaman mulai menyelinap di relung hati Aisyah. Ada perubahan halus dalam cara Aris berbicara. Ia tidak lagi bertanya secara rinci tentang perkembangan usaha, tidak lagi bercerita panjang lebar seperti dulu. Percakapan mereka menjadi singkat, dangkal, dan seolah ada sesuatu yang disembunyikan. Saat Aisyah menanyakan kapan kepastian kepulangannya, jawaban Aris selalu berputar, tidak pernah ada tanggal pasti. “Aku belum bisa memastikan. Masih ada beberapa hal yang harus diselesaikan di sini,” jawabnya singkat. Aisyah mencoba mengesampingkan keraguannya. Ia berpikir mungkin Aris sedang tertekan, mungkin ada masalah ekonomi di keluarganya yang tidak ingin ia ceritakan. Ia memilih untuk memberikan ruang dan waktu, meyakinkan dirinya sendiri bahwa cinta mereka yang telah teruji selama tiga tahun tidak akan mudah goyah hanya karena jarak.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Unscentable

read
1.9M
bc

He's an Alpha: She doesn't Care

read
721.6K
bc

Claimed by the Biker Giant

read
1.5M
bc

Holiday Hockey Tale: The Icebreaker's Impasse

read
958.6K
bc

A Warrior's Second Chance

read
346.7K
bc

Not just, the Beta

read
342.2K
bc

The Broken Wolf

read
1.1M

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook