Fatih melirik jam tangannya sekilas, waktu telah menunjukkan pukul 7 pagi dan sepagi ini ia telah disibukkan dengan persiapan akad nikah jam 8 nanti. Ia berpikir sejenak, meresapi semua perkataan sepupu dan kedua orang tuanya. Tenang dan itu akan lebih baik, dan semua ini pun akibat dari perbuatannya yang tiba-tiba jatuh cinta dan melamar gadis itu.
What you did to me, Killa? Keluhnya dalam hati saat menatap pantulan dirinya pada cermin besar yang tepasang di dinding hotel. Sekali lagi ia memperhatikan pakaian, tatanan rambut dan wajahnya yang sedari tadi tegang. Hampir semalaman suntuk ia berlatih untuk melafalkan ijab kabul di depan penghulu nanti. Dan saat ini matanya nampak lelah akibat kurang tidur dan banyak pikiran.
“Ternyata lebih mudah menyelesaikan proyek-proyek besar daripada berhadapan dengan penghulu ya, Don,” katanya pada Donny yang berdiri di belakangnya, ia hanya melirik sekilas bayangan Donny di cermin.
“Mana gue tahu. Nikah saja belum pernah, lah lo malah ngomong gitu ke gue. Ngelawak lo, Bro?” kekehnya geli melihat wajah tidak suka Fatih.
“Serah lo deh. Yuk berangkat sekarang...” ajaknya sembari berjalan melangkahkan kaki, keluar kamar hotel. Menyusul keluarganya yang menunggu di lobby sejak tadi. Fatih sama sekali tidak bisa mengendalikan degupan jantungnya yang semakin ke sini semakin tak beraturan. Sebentar lagi ia akan membawa gadis pujahaan hatinya masuk ke dalam hidupnya.
“Alhamdulillah. Mommy kira kamu melarikan diri,” kata Riana memeluk Fatih setibanya di lobby hotel.
“Of course no, Mom. Susah buat dapetin perempuan spesial seperti Syakilla. Tidak mungkin lah semudah itu melarikan diri dari keindahannya,” Fatih terkekeh geli saat mengucapkan kalimat terakhirnya. Indah? Ya! Syakilla sangat indah, bahkan terlalu indah baginya.
“Ya sudah kita berangkat sekarang!” Murat mengakhiri percakapan ibu dan anak tersebut, mengajak mereka segera berangkat. Tanpa membuang waktu lagi mereka bertolak dari hotel menuju kediaman Keluarga Iskandar. Selama perjalanan Fatih sibuk memandangi foto wajah penuh senyum milik gadis yang akan segera jadi istrinya.
“Ummi deg-degan, Bi,” kata Hamidah yang sedari tadi sudah mondar-mandir di depan layar televisi di ruang keluarga lantai 2 kediaman Keluarga Iskandar. Mahmoud segera merengkuh pinggang istrinya yang sama sekali tidak bisa menyembunyikan kegugupannya.
“Syarief, bisa bilang ke Ummimu untuk diam? Pusing Jidda lihatnya dari tadi,” ucap Jidda yang sedari tadi duduk bersisian dengan Syakilla.
“Iya, Mi, kan yang mau nikah itu Noura. Tapi kenapa Ummi yang dari tadi seliweran begitu?” tanya Syakilla dengan wajah heran melihat tingkah Hamidah.
“Ya Ummi takut saja kalau Fatih tiba-tiba hilang dihari pernikahan kalian,” kalimat Hamidah barusan sontak membuat orang-orang di ruangan tersebut terngaga. Bukan apa-apa, tapi perkataan Hamidah barusan seperti sedang melemparkan batu ke air yang tenang. Seketika itu juga mereka semua melirik Syakilla yang terlihat gusar. Sedari tadi ia nampak sangat tenang dan mampu mengendalikan kegugupannya, tapi kalimat Hamidah tadi seperti sedang menarik paksa rohnya keluar dari tubuh.
Helwa yang menyadari perubahan raut wajah adik iparnya itu langsung menyerahkan Haidar pada sang suami. Ia segera menghampiri Syakilla dan menggenggam kedua tangan gadis itu. Tangannya terasa lembab dan bergetar, itulah yang dirasakan oleh Helwa.
Mata Syakilla nampak berkaca-kaca melihat ke arah orang tuanya yang mematung sedari tadi. Hingga ponselnya berdering dengan sangat kencang memecah keheningan, Syakilla segera mengambil ponsel yang tergeletak di meja rendah di depannya. Dilihatnya nama pada layar pemanggil, kepanikan itu semakin nampak dari wajahnya. Membuat beberapa anggota keluarga Iskandar dan Nabila yang juga ada di sana khawatir.
Mr. Spontan
“Assalamu’allaikum, Sayang...”
“Wa’allaikum sallam. Sudah di mana?” suaranya sedikit bergetar ketika berbicara dengan Fatih yang ada dibalik sambungan.
“Sudah dekat kok, mungkin 5 menit lagi sampai. Tapi aku deg-degan, Sayang, takut waktu penghulu tanya terus kamu bilang belum siap.”
“Fatih!!! Shut up your mouth, she’ll not do something like that,” teriak Abba yang terdengar berada didekat Fatih.
“Tahu tuh Kakak, harusnya bersyukur itu Kak Syakilla sudah mau nikah sama orang seperti Kakak,” suara Furqan terdengar lebih jelas, karena memang saat ini ia tengah duduk tepat di belakang Fatih.
Perlahan kegundahan itu sirna dari wajah cantik Syakilla, yang ada hanya senyum mengembang. Bahkan tangannya yang sejak tadi gemetar di dalam genggaman Helwa pun sudah tenang. Jelas saja perubahan air muka Syakilla itu membawa perasaan lega bagi seluruh keluarga Iskandar dan juga Nabila sahabatnya.
“Hati-hati ya, Mr. Spontan,” ucapnya mendapatkan lirikan menggoda dari Syarief yang tengah menggendong Haidar.
“Wah sudah bisa kasih gelar ya, tunggu aku ya, Sayang. I love you, Miss Grumpy.”
“Menggelikan!!!” Teriak Fatimah dan Furqan bersamaan dari belakang Fatih.
“Assalamu’allaikum,” suara Syakilla kembali melembut seperti sebelumnya, jauh lebih tenang.
“Wa’allaikum sallam, Sayangku.”
Syakilla menatap layar ponselnya yang telah kembali menjadi hitam karena Fatih memutus sambungan. Suasana ruangan yang tadi sempat memiliki hawa dingin dengan kekhawatiran milik Hamidah dan Syakilla, berubah hangat kembali. Hamidah yang sedari tadi tegang pun telah dapat duduk tenang di sisi kanan Syakilla.
Mata mereka memperhatikan layar televisi besar yang terdapat di ruangan itu. Menyorot ke arah gerbang rumah mereka dan melihat tanda-tanda kehadiaran Fatih dan keluarga. Senyum Syakilla dan keluarganya semakin merekah. Mahmoud dan Syarief sudah turun kelantai dasar untuk menemui Keluarga Iskandar dan Khair dari pihak Hamidah. Bersiap menyambut calon menantu beserta keluarganya.
Keluarga Demirci cukup merasa terkejut dengan penyambutan yang diberikan keluarga Iskandar. Mereka bersholawat dengan melemparkan beras kuning dengan potongan pandan. Entah apa maksudnya, tetapi mereka cukup menerima saja perlakuan tersebut. Karena sebelumnya Hamidah telah menjelaskan jika nanti akan ada hal seperti itu.
Tanpa sadar pelipis Fatih telah basah oleh keringat, tangannya meraih sapu tangan dalam saku celana. Berjaga-jaga kalau ia berkeringat melebihi batas normal saking groginya. Di depannya telah ada penghulu, Mahmoud dan 2 orang saksi dari Keluarga Demirci dan Iskandar.
Jantungnya terus berdegup kencang saat mendengarkan sighat taklik yang dibacakan penghulu. Beruntunglah ia tidak perlu dibuat semakin gugup kalau penghulu dan Mahmoud untuk menanyakan kesediaan Syakilla atas pernikahan ini. Karena yang ia dengar dari Syarief bahwa Syakilla telah mengungkapkan kesiapannya sesaat sebelum dirinya dan keluarga memasuki rumah.
Tibalah saatnya Fatih harus menjabat tangan Mahmoud dengan tangan yang sedikit bergetar dan lembab. Hatinya memantapkan diri untuk mengucapkan ijab kabul dihadapan ayah dan keluarga besar gadisnya. Bahkan Pak Anwar dan istri pun menghadiri akad nikah mereka. Membuktikan bahwa Syakilla memiliki tempat bagi atasannya itu.
“Saya nikahkan engkau Fatih Ahmed Demirci bin Murat Demirci dengan putri kandung saya, Syakilla Noura Iskandar binti Mahmoud Ali Iskandar dengan mas kawin logam mulia 150 gram dibayar tunai,” ucap Mahmoud sebelum menggerakkan tangan Fatih untuk memberikan isyarat ijab kabulnya.
“Saya terima nikah dan kawinnya Syakilla Noura Iskandar binti Mahmoud Ali Iskandar dengan mas kawin logam mulia 150 gram dibayar tunai,” suara Fatih terdengar lantang dan dengan sekali tarikan nafas ia mampu mengucapkan ijab kabulnya atas Syakilla.
“Bagaimana, saksi?” tanya penghulu kepada saksi pernikahan dari Keluarga Iskandar dan Demirci.
“SAH!!!” Suara lantang kedua saksi itu membuat semua yang hadir menyucap syukur.
“Barakallah...”
Suara itu menggema diseluruh ruangan, tanpa terkecuali dilantai atas tempat Syakilla berada. Gadis itu menitikkan air mata haru sembari memeluk Jidda dan ibunya bergantian. Helwa dan Nabila pun tidak mau ketinggalan memeluk gadis itu. Mereka terlalu bahagia sampai ikut menitukkan air mata haru. Buah kesabaran dan ketegaran Syakilla terasa sangat manis pagi ini. Lelaki yang tidak terduga mengajaknya menikah dan menjadikannya seorang istri. Dialah Fatih Ahmed Demirci, lelaki spontan dengan pernikahan tak terduganya.
Di bawah suasana haru pun terasa sama dan tidak jauh berbeda dengan di atas. Fatih mencium tangan Abi yang telah resmi menjadi ayah mertuanya. Memeluk Abba dan juga Mommy yang duduk tepat di belakangnya. Matanya berkaca-kaca ketika Syarief yang sekarang adalah kakak iparnya datang menghampirinya. Memeluknya dengan hangat dan memberikan petuah untuknya.
“Welcome to Iskandar family, Bro. I wish you can make my princess happy. Even she’s strong, but she's still a women,” kata-kata itu menyentuh Fatih tepat dihatinya. Syarief benar tentang adiknya, Syakilla adalah gadis yang kuat tapi walau bagaimanapun ia tetaplah seorang wanita yang butuh dilindungi dengan rasa nyaman.
Fatih kembali duduk untuk menandatangani beberapa dokumen pernikahan, hingga semua orang berkasak-kusuk di belakangnya. Matanya mengikuti arah pandang semua orang diruangan itu. Seorang wanita cantik dengan gaun putih yang anggun menuruni tangga. Tatanan kerudung yang sangat sederhana dengan hiasan tiara di atasnya. Riasan yang biasa tipis kini lebih tebal tapi tidak mengurangi tingkat kecantikan Syakilla.
Syakilla duduk tepat di sisi Fatih, tangannya meraih pulpen yang diberikan penghulu. Fatih tidak berkedip dari memandang Syakilla yang tengah sibuk menandatangani dokumen pernikahan mereka. Namun ia segera tersadar ketika Mahmoud membuka suara.
“Nak Fatih, nanti kalau sudah selesai acara silakan pandangi Syakilla sepuasnya. Karena sekarang anak Abi ini resmi istrimu,” kata-kata Mahmoud tersebut sontak saja membuat semua yang ada diruangan tersebut tertawa. Bagaiman seorang Mahmoud yang tenang membuat lelucon. Bahkan menantu barunya itu pun dibuat speechless olehnya.
Fatih hanya mengulum senyum ketika mendengar perkataan mertuanya. Kini ia sedikit tertegun ketika dengan mudahnya Syakilla menyentuh tangannya. Sesuatu yang baru pertama kali dirasakannya, darahnya berdesir. Gadis yang selama ini selalu menolak untuk memiliki kontak fisik itu menyentuhnya. Perasaan hangat itu menyentuh hatinya sekali lagi.
Syakilla bergetar ketika menyentuh tangan Fatih, mencium dengan keningnya. Hatinya berdesir ketika merasakan tangan lelaki lain selain Mahmoud, Syarief, Jiddi, dan sepupu-sepupunya. Rasanya hangat dan Fatih seperti sedang menyalurkan energi positifnya.
Semua orang bersorak saat melihat hal tersebut, menyaksikan penyatuan 2 insan, yang tidak saling mengenal sebelumnya dalam ikatan pernikahan yang suci. Syakilla yang tenang dengan Fatih yang berombak. Kalau salah mengikuti arus kedua orang ini sudah dipastikan akan tersesat.
Fatih mengecup singkat kening Syakilla dan berhasil membuat wajah itu bersemu merah. Bukan karena blush on, melainkan ia benar-benar sedang blushing saat ini. Matanya berkaca-kaca sebelum akhirnya ia mengucapkan satu kalimat yang berhasil membuat Fatih bersemu merah sama sepertinya.
“Terima kasih telah memilihku, Sayang...” suara Syakilla pelan nyaris tak terdengar ditengah keramaian tempat ini.
“Terima kasih telah membuatku yakin Sayang...” sekali kali kalimat itu nyaris tak terdengar tapi dapat didengar dengan baik oleh telinga Fatih.
Sudah cukup lama Fatih menunggu untuk mendengar Syakilla memanggilnya dengan kata ‘Sayang’. Dan hari ini ia mendengarnya, tanpa harus membujuk merayu seperti biasanya. Gadis yang anggun ini akhirnya resmi menjadi istri seorang Fatih Ahmed Demirci. Mereka memang memilih untuk tidak menggunakan cincin pernikahan seperti kebanyakan orang, karena itu permintaan Syakilla akhirnya Fatih menurut saja.
Setelah akad nikah yang berjalan sangat lancar, seluruh keluarga dan kerabat yang hadir sibuk menikmati makanan yang dihidangkan. Ada yang bercengkrama dengan bebas dan ada juga yang melepas rindu. Tanpa terkecuali pengantin baru itu.
Sedari tadi Syakilla hanya berdiri mematung di depan jendela kamarnya yang menghadap taman belakang. Matanya terus memperhatikan kerabatnya yang sedang bercengkrama sambil menikmati santapan mereka. Hingga tubuhnya menegang saat sebuah tangan besar, kekar dan hangat melingkar tepat diperutnya.
“Maaf kalau aku membuatmu tidak nyaman dengan melakukan ini,” Fatih meletakkan kepalanya dicuruk leher Syakilla, menghirup aroma gadis yang kini berstatus sebagai istrinya. Sejujurnya ia merasakan tubuh Syakilla menegang, namun ia tetap melingkarkan tangannya diperut ramping istrinya. Karena merasakan tidak ada penolakan dari istrinya yang sempat terkejut diawal, ia tetap melanjutkan aksinya.
“Aku akan berusaha tetap nyaman berada didekatmu dengan segala perlakuanmu. Karena sekarang kamu suamiku,” ucap Syakilla lirih.
Fatih membalikkan tubuh Syakilla untuk menghadapnya, dengan tangan yang sekarang merangkul pinggang istrinya. Mata mereka bertemu dan saling tatap. Tanpa sadar Syakilla menitikkan air matanya, membuat Fatih mengecup sudut mata yang mengeluarkan air mata.
“Jangan menangis atau sedih, karena aku juga merasakannya. Aku tidak akan memaksamu untuk melakukan sesuatu yang kamu tidak merasa nyaman karenanya. Percayalah Syakilla, aku mencintaimu walau mungkin kamu belum mencintaiku,” kata-kata Fatih barusan sukses membuat air mata Syakilla semakin deras. Fatih membersihkan dengan ibu jarinya.
“Sayang... Kamu terlalu spesial buat aku dan terlalu berharga bahkan. Aku berterima kasih sekali kamu mau menerimaku dengan lapang d**a seperti ini. Dan aku—“
Kalimat Fatih terputus ketika Syakilla telah menempelkan bibirnya tepat pada bibir Fatih. Membuatnya terbelalak kaget dengan perlakuan sang istri, tidak menyangka bahwa ternyata istrinya agresif. Sebenarnya itu bukan ciuman, melainkan hanya sebuah kecupan singkat. Karena Syakilla telah menjauhkan wajah dari wajahnya. Bisa Fatih lihat dengan jelas wajah memerah istrinya.
“Sayang ternyata ka—“
“Jangan berpikiran macam-macam. Itu ciuman pertamaku dan aku hanya tidak ingin mendengar suamiku banyak bicara dihari pernikahan kita,” dengan cepat Syakilla memutus kalimat yang akan keluar dari mulut suaminya itu. Karena ia tahu benar apa yang ada dalam pikiran seorang Fatih.
“Yaaah... Aku pikir akan dilanjutin sekarang,” nada suara dan wajah yang dibuat seolah lemas yang ternyata tidak berhasil menakhlukkan Syakilla.
“Sudah aah. Yuk kita turun, jangan biarkan orang-orang berpikiran macam-macam,” Syakilla berjalan meninggalkan Fatih dalam keterpakuannya.
“Sayang, I love you...” ucapnya sedikit nyaring karena Syakilla sudah berdiri tepat di depan pintu kamar. Langkahnya terhenti saat mendengar kalimat Fatih. Ini bukan kali pertama lelaki yang kini menjadi suaminya mengatakan hal ini, dan biasanya ia hanya diam. Tapi tidak untuk kali ini.
“I love you more, Fatih.”
Kalimat Syakilla barusan sontak membuat Fatih melompat kegirangan, tidak sadar saja dia jika beberapa orang di bawah sana melihat tingkahnya dari luar jendela. Kaca bening dengan tirai yang disingkap Syakilla beberapa saat sebelum beranjak. Mereka yang melihatnya hanya senyum-senyum, tapi tidak berlaku bagi kedua adik Fatih yang senantiasa mengabadikan tingkah konyol kakaknya di Snapgram.
Syakilla membalikan tubuhnya dan melihat suaminya sedang melompat-lompat kegirangan. Ia hanya menggelengkan kepalanya pelan, bagaiman seorang lelaki seperti Fatih bisa melakukan hal seperti itu. Dan bagaimana bisa lelaki itu sudah membuatnya jatuh cinta?
What you did to me hubby? You stole my heart...