Bab 12

1217 Words
Sudah hampir setengah jam Syakilla berdiri di depan pintu kedatangan Internasional Bandara Sultan Aji Muhammad Sulaiman Sepinggan. Kakinya sudah terasa kelu berdiri selama itu, karena yang ditunggu belum juga datang. Hari ini ia diminta orang tuanya untuk menjemput Syarief beserta istri dan anaknya yang masih berusia 3 bulan. Keluarga kecil itu datang jauh-jauh dari Abu Dhabi untuk sekedar menghadiri hari penting dalam hidupnya. Matanya meyipit ketika melihat orang yang sedari tadi membuatnya menunggu, lelaki bertubuh tinggi besar dan wajah tampan dengan rahang yang dipenuhi bulu-bulu berwarna hitam. Di sebelahnya ada seorang wanita yang terlihat anggun mengenakan abaya hitam berbordir emas lengkap dengan kerudungnya. Wanita itu tampak menggendong seorang bayi, yang ia tahu bahwa sudah pasti itu adalah bayi mereka. “Assalamu’allaikum, cantiknya keluarga Iskandar...” sapanya ketika tepat berada di depan Syakilla yang langsung menghambur untuk memeluk tubuh besarnya. “Wa’allaikum sallam, mafianya keluarga Iskandar...” Syakilla terkekeh dalam pelukan kakak lelakinya. “Dasar nggak sopan,” sembari melepas pelukan Syakilla yang kini telah cipika cipiki dengan Helwa, istri Syarief. “Hey, bride to be. How are you, Dear?” tanyanya dengan menggendok bayi gembul yang masih nampak tidur dengan tenang dalam buaiannya. “Alhamdulillah I am fine, Sister. He is my nephew? He look so cute and fat,” kini ia telah mengalihkan pandangan pada bayi dalam buaian Helwa. “Yes. Haidar look so cute and fat cause he’s a milk monster hehe...” Helwa terkekeh melihat Syakilla yang menatap takjub pada Haidar. Mereka berempat berjalan menuju gedung parkir dengan trolly men yang membantu membawa barang milik keluarga ini. Mereka hanya akan menetap selama beberapa minggu di Balikpapan, tapi bawaannya seperti orang yang akan menetap beberapa bulan. Sudah setahun lebih mereka tidak bertemu, jadi Syarief melepaskan kerinduannya dengan merangkul akrab adiknya. Helwa yang melihat kedua kakak beradik itu hanya tersenyum. Karena ia bahagia melihat suaminya bertemu dengan adik kesayangannya. Helwa cukup dekat dengan Syakilla, bahkan ia selalu menjadi tempat curahan hati gadis itu. Bahkan ia sangat tahu betapa terpuruknya adik iparnya 2 tahun lalu. Yang biasanya cukup ceria menjadi sangat tertutup. Bahkan gadis itu sampai dikirim ke Abu Dhabi oleh orang tuanya untuk menenangkan diri. “Alhamdulillah... Finally you find your happiness, Noura,” bisiknya pelan di belakang suami dan adik iparnya yang berjalan lebih dulu. *** Fatih tengah sibuk memasukan pakaiannya ke dalam koper yang akan dibawanya ke Balikpapan. Minggu ini ia akan menikahi gadis yang telah menjungkir balikkan dunianya. Seorang Fatih yang suka mengencani banyak wanita dalam waktu yang berdekatan dan sangat menyukai pesta, menjadi Fatih yang lebih tenang. “Jangan bawa banyak pakaian, beli di sana saja nanti. Kan juga ada mall di sana, Nak,” kata Riana yang duduk di ujung tempat tidurnya. Wanita itu menatap putra sulungnya yang sebentar lagi akan melepas masa lajang. Memilih seorang gadis yang tidak pernah ia dan keluarganya bayangkan sebelumnya. Bukan hal baru jika Fatih selalu mengencani gadis-gadis seksi yang kebanyakan berprofesi sebagai model. Tapi kali ini saat keputusan akhirnya datang, putranya tersebut memilih gadis alim dan baik-baik seperti Syakilla. Bukan berarti yang lain tidak baik, hanya kurang baik. “Bagaimana perasaanmu?” tanya Riana yang masih penasaran karena putranya sedari tadi mengacuhkannya dengan terus mengepak pakaiannya ke dalam koper. “Campur aduk, Mom,” jawabnya singkat sembari melirik Riana yang kini telah berdiri. “Ya sudah kamu cepat bereskan semuanya, Mom keluar dulu sama Abba membeli beberapa keperluan kita selama di sana nanti,” Riana berjalan keluar meninggalkan Fatih yang masih membereskan pakaiannya. Entah apa yang sedang dipikirkan lelaki itu, karena tidak biasanya ia diam tanpa menanggapi ucapan sang ibu. Sepertinya Marriage Syndrome telah menghantuinya, membuat jiwanya pergi entah ke mana. Hingga getaran ponsel pada nakas mengembalikan jiwanya yang tadi pergi. Segera ia jawab panggilan yang ternyata dari Donny. “Hey, Bro...” “Ada apa, Don? Gue lagi malas ngobrol nggak penting,” tanya Fatih ketus. “Wew... Kena sindrom penganten lo, Bro???” nada suara meledek khas Donny. “Entahlah. Hanya saja perasaanku tiba-tiba jadi nggak menentu,” Fatih menghempaskan tubuhnya ke ranjang dengan cukup keras. Menutup mata dengan lengan kekarnya. “Sudah nyantai saja, Bro. Dia memang jodoh lo, jadi nggak usah terlalu dipikirin lagi,” kata Donny menenangkan dari balik sambungan. “Thanks. By the way ada apa?"” “Sampai lupa, kemarin Jelita nyariin lo.” Fatih mengangkat pergelangan tangan yang sedari tadi menutup matanya. Alis kirinya terangkat saat mendengar perkataan Donny barusan, membuatnya berpikir sebentar sebelum kembali membuka mulut untuk bicara. “Jelita? Ngapain dia nyari gue? Perasaan nggak ada utang deh sama tu perempuan.” “Nggak paham juga gue. Yang jelas dia nanya lo seriusan mau nikah?” “Terus lo jawab apa ke tuh anak?” “Gue bilang serius lah. Terus dia diam saja gitu,” kata Donny santai. “Ya sudahlah cuekin saja. Lo nginep di sini deh malam ini, jadi besok pagi bisa langsung berangkat. Nggak pake nunggu-nunggu lagi.” “Ok.” Akhirnya Donny mengakhiri panggilannya lebih dulu, meninggalkan Fatih yang kembali diam. Lelaki itu memikirkan kata-kata Donny. ‘Jelita’ nama itu mampu mengalihkan pikiran galaunya sebelum menikah. Seperti namanya, gadis itu memang cantik dan sempat menjadi salah satu gadis yang pernah dikencani Fatih. Mereka menjalin cinta cukup lama, lebih dari setahun. Rekor bagi cassanova sejenis Fatih bisa menjalin sebuah hubungan selama itu. Sampai akhirnya mereka memutuskan untuk berpisah setahun lalu. Dan hatinya kini telah sepenuhnya untuk Syakilla. Sekarang di sinilah Fatih dan keluarganya telah bersiap untuk berangkat ke kediaman keluarga Iskandar. Mereka menyewa beberapa kamar disalah satu hotel berbintang, karena beberapa keluarga Demirci dari Turki juga turut hadir. Walau Kakek dan Neneknya tidak bisa hadir karena sudah tidak mampu untuk menempuh perjalanan jauh. “Sakin ol kendin*, Fatih” ucap Cansu, sepupunya yang turut datang dari Turki. “Evet**,” jawabnya pelan walau kakinya terus mengetuk-ngetuk lantai. Perasaannya campur aduk sekarang, tidak seperti dirinya yang biasa penuh keyakinan dan percaya diri. Bahkan ia jauh lebih gugup dari saat melamar Syakilla beberapa bulan lalu. Dalam dadanya saat ini seperti ada lahar panas yang meletup-letup siap untuk meletus. Rambutnya yang sudah tersisir rapi pun kini sudah brantakan karena berulang kali Fatih mencengkram rambutnya dengan kuat. Tingkahnya yang tidak biasa ini mengundang tawa keluarga yang sejak tadi melihatnya, mereka yang berbagi udara yang sama dengannya. Bahkan kedua adiknya sudah menjadikan tingkah kakak mereka ini sebagai sebuah lelucon di sosial media milik mereka. “Fatih getting crazy before his wedding ceremony. We feel so sad to our beloved sister Syakilla to having him as her husband. #LMAO.” Tulisan itu semakin membuat Fatimah dan Furqan tertawa senang melihat kekacauan yang ditunjukkan kakak mereka. Karena biasanya Fatih adalah orang yang sangat tenang, bagaimana bisa menjadi seperti ini. sampai kehadiran Riana yang membuat tawa mereka berhenti, apalagi ibu mereka itu menegur kekacauan pada diri putra sulungnya. “Kenapa rambut kamu belum rapi? Setengah jam lagi kita berangkat ke rumah Syakilla untuk akad nikah kalian,” ucap Riana dengan tangan yang telaten menyisiri rambut Fatih. “I am nervous, Mom,” nada suara yang lirih dan seperti bukan Fatih. “Sakin ol kendin. Everything will gonna be okay, Son. Before married with your Mom, I also feel the same. But I still can control myself and not do something like what you did,” ucap Murat yang duduk di sisi putranya
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD