Bab 11

1367 Words
Syakilla semakin sibuk dalam sebulan terakhir ini di perusahaan, banyak proyek yang harus ia urus sebagai asisten pribadi dari Kepala Regional Perusahaan BUMN itu. Lain Syakilla, lain pula Fatih yang benar-benar sibuk dengan pertemuan bisnisnya di beberapa Negara. Sama seperti yang pernah ia katakana pada Syakilla saat berada di Jakarta waktu itu. Saat ini ia tengah berada di Papua untuk memeriksa proyek perusahaannya yang tengah berlangsung di sana. “Sudah hampir 1 bulan kita di sini, Don,” ucapnya sembari melepas safety helmet di kepalanya. “Kenapa? Biasa juga nggak masalah mau selama apa,” ucap Donny ketus, sebenarnya ia tahu benar apa yang sedang dipikirkan Fatih saat ini. “Kita memangnya nggak ada rencana meeting atau peninjauan gitu ya ke Balikpapan?” “Belum ada, semuanya masih baik-baik aja. Nggak perlu khawatir gitu kali bro, woles,” pura-pura b**o sambil menepuk bahu Direkturnya tersebut. “Tapi gue kangen dia pake banget bukan pake s**u kental manis,” bicaranya sendu walau pada akhirnya kekehan keluar dari mulutnya itu. “Sabar, Bro. Sebulan lagi sudah sah jadi istri lo,” ucap Donny menenangkan sahabatnya yang sedang gusar itu. Akhirnya mereka larut dalam cerita kerinduan Fatih pada calon istrinya, yang tidak jarang dihadiahi tawa Donny. Jujur saja ia merasa geli sendiri tiap kali mendengar ungkapan kerinduan Fatih yang kadang terdengar menjijikan. Dua minggu berlalu setelah rapat alotnya dengan perusahaan kontraktor yang sama, namun gadis itu masih nampak sibuk dengan tumpukan file di mejanya. Syukurlah ia masih bisa berkonsentrasi dengan semua pekerjaannya, walau 2 minggu lagi ia akan menikah. Sebuah pernikahan yang tidak diduga akan terjadi, akibat keisengan ucapannya yang ditanggapi serius oleh Fatih, calon suaminya. “Sya...” “Iya, Pak.” “Nanti tolong kamu siapkan bahan meeting dengan PT. Pratama Wisesa ya dan kamu ikut meeting dengan saya.” “Baik, Pak. Segera saya siapkan.” Tidak butuh waktu lama bagi Syakilla untuk menyiapkan materi rapat yang diminta Pak Anwar. Rapat yang rencananya diadakan 1 jam lagi berubah jadwal menjadi 30 menit lebih cepat, dan sekali lagi ia bersyukur semuanya telah siap. Gadis itu selalu bisa memberikan saran dan ide-ide terbaiknya pada Pak Anwar. Selama rapat berlangsung ia berhasil menarik perhatian Direktur perusahaan pihak kedua tersebut. Jelas lelaki itu tertarik dengan gadis lembut dan cerdas seperti Syakilla. “Terima kasih, Pak Anwar dan Bu Syakilla serta tim sudah mau menerima proposal dari perusahaan kami,” ucapnya menyalami satu-persatu mereka yang ikut meeting. Kecuali gadis yang tengah menangkupkan tangan tepat di depan dadanya dengan senyum tipis menawan. “Senang rasanya bisa bertemu anak muda yang kreatif dan inovatif seperti Pak Satria ini,” Pak Anwar melempar senyum pada lelaki yang tidak lepas tatap dari Syakilla. “Bapak bisa saja. Bukankah beberapa waktu lalu Bapak juga bekerja sama dengan Direktur muda dari Horison Corp,” kata lelaki yang bernama Satria itu ramah. “Benar. Dan dia benar-benar anak muda yang sangat berdedikasi dalam pekerjaannya. Sangat profesional sekali, dan saya harap Pak Satria juga mampu untuk seperti itu,” ucap Pak Anwar sebelum mereka berpisah. Syakilla yang sedari tadi mendengarkan percakapan atasannya dengan Direktur PW itu lebih memilih untuk fokus pada notulen rapat yang akan dibuatnya. Dan bagaimana cara memberi undangan pada teman-teman kantornya. Sedangkan mereka benar-benar tidak tahu bahwa ia akan menikah dalam waktu dekat. Kecuali Pak Anwar, mereka yang ikut makan siang dengan Fatih dan HRD Manager tentunya. “Pak, saya mau memberikan ini,” ucapnya saat menyodorkan amplop berwarna biru muda di meja kerja Pak Anwar. “You’re wedding invitation, Sya?” tanyanya meraih amplop biru muda yang diletakkan Syakilla dan dijawab dengan anggukan kecil. Pak Anwar yang menyadari wajah personal asistennya itu merah padam karena malu, dan meminta gadis itu untuk duduk. “Duduklah, Nak...” Syakilla yang sedari tadi berdiri di depan meja kerja Pak Anwar, memilih menuruti perintah atasannya. Ia sedang berpikir dan menimbang-nimbang apa yang akan dibicarakan oleh pria yang tidak lagi muda namun penampilannya masih apik. “Jadi apa yang ingin Bapak bicarakan dengan saya?” Ia tidak sabar ingin mendengarkan apa yang akan dikatakan Pak Anwar. “Jangan tegang, Sya, saya sudah anggap kamu seperti anak sendiri. Dan saya sangat bahagia dengan kabar pernikahanmu dengan Pak Fatih,” senyumnya tulus. Syakilla hanya mengeratkan kaitan jari-jemarinya di atas paha sambil duduk menunggu petuah atasannya. Pasti akan ada banyak nasehat yang keluar dari mulut bijak Pak Anwar, gadis itu benar-benar menyimak semua nasihat yang diberikan untuknya. Sudah seperti Mahmoud ketika menasihatinya sesaat sebelum Fatih dan keluarganya datang ke rumah untuk melamar. Ada perasaan teduh setiap kali mendengar nasehat khusus calon pengantin itu keluar dari mulut Pak Anwar. Dan kalimat yang paling dia ingat adalah, “Terimalah suamimu dengan apapun masa lalunya, karena kamu tidak hanya menikahinya. Melainkan seluruh hidupnya.” Istirahat siang ini Syakilla dan teman-temannya pergi ke sebuah restoran pinggir laut dengan banyak gazebonya. Vitri, Ferdi, Nita dan Bayu ikut bersamanya untuk makan siang. Syakilla dan teman-temannya telah memesan makanan pada pelayan yang tadi menghampiri mereka, dan sekarang tengah asik bergosip ria. Hanya saja ada yang berbeda dari Vitri yang lebih memilih diam dan fokus membaca majalah yang dibawanya. “Fokus banget, Vit?” tanya Ferdi penasaran. “Kalau soal cowok ganteng memang harus fokus, Fer. Jangan kasih kendor,” jawabnya tanpa berpaling dari majalah yang sedang dibacanya. Perkataan Vitri itu sontak dihadiahi kekehan dari teman-temannya. Merasa ditertawakan dan dianggap remeh, gadis itu menutup majalahnya dan menatap ke arah teman-temannya. “Kalian nggak senang banget lihat gue senang ya?” tanya Vitri ketus. “Kita seneng kok, Vit. Ya sudah dilanjut saja ceritanya, aku mau solat dulu ya,” pamit Syakilla sebelum meninggalkan teman-temannya yang masih berdebat. Sepeninggalnya, Vitri kembali berbicara sembari menyodorkan majalah yang tertutup itu pada ketiga temannya yang lain. “Tadi aku pinjam majalah bisnis ini dari Pak Hambali, soalnya ada cowok idaman aku,” cengirnya pada ketiga orang yang menatapnya geli. “Mana mau bule begitu sama kamu, Vit. Sadar diri napa?” ucap Bayu sarkas. “Ya mana tahu kan dia khilaf terus ngajak aku nikah.” “MIMPI!!!” satu kata yang disuarakan ketiga orang yang menatapnya sinis. Sebelum akhirnya mereka berhenti ketika suara lembut Syakilla menginterupsi. “Wah makanannya sudah datang, ya? Maaf ya lama, tadi ada yang harus aku ambil di mobil,” katanya sembari duduk di sebelah Nita yang menyunggingkan senyum tipis padanya. Tak lama ponselnya berdering dan menunjukkan nama Fatih tertera pada layar pemanggil. “Assalamu’allaikum.” “Wa’allaikum sallam, di mana, Sayang?” “Lagi makan siang sama teman-teman kantor, kamu di mana?” matanya melirik keempat orang yang sedang menatapnya penuh selidik. “Masih di Papua, tapi lusa sudah pulang kok. Ya sudah kamu lanjutin aja lunch bareng mereka. Ben sevgi ozledim, Syakilla Noura Iskandar, assalamu’allaikum...” ucap Fatih dari seberang sana, dan menghubungi Syakilla di jam istirahat seperti ini sudah menjadi kebiasaan yang ia sebut sebagai pekerjaan. “Iya, terima kasih. Wa’allaikum sallam...” Syakilla memasukkan kembali ponselnya ke dalam clutch yang ia bawa setelah kembali dari solat. Ia tidak begitu memperhatikan tatapan keempat orang temannya yang tengan menatapnya penuh selidik. Syakilla melirik sekilas sampul majalah yang dibawa oleh Vitri tadi, dan sekarang ia tahu apa yang sejak tadi jadi fokus gadis itu. Syakilla mengeluarkan 4 amplop berwarna biru muda dari clutch, sama seperti yang ia berikan pada Pak Anwar. Ia langsung meberikan undangan pernikahannya itu kepada keempat orang temannya, senyumnya terbit ketika melihat wajah terkejut mereka. Terlebih lagi Vitri yang nampak shock setelah membaca nama pasangan Syakilla yang tertera di sana. “Jadi kamu akan menikah dengan Pak Fatih?” tanya Bayu memastikan. “Yang wajahnya ada di majalah ini?” Ferdi memastikan lagi. “Demi apa?” Nita tidak kalah pada Syakilla yang masih setia duduk di sampingnya. “Jadi aku patah hati nih? Fix patah hati nih aku? Fatih Ahmed Demirci yang waktu itu?” tanya Vitri terdengar kecewa. Akhirnya Syakilla kembali menceritakan awal pertemuaannya dengan Fatih, awal dari rencana pernikahan tidak terduganya ini. mereka semua dibuat kagum dengan sosok Fatih yang langsung bertindak atas ucapan Syakilla. “Sumpah itu Pak Fatih romantis banget...” hanya kalimat itu yang meluncur dari mulut mereka semua. Mungkin kau telah benar-benar membuka kunci pintu hatiku yang selama ini hilang.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD