Sebulan setelah lamaran resmi mereka, kini Syakilla menjadi semakin sibuk karena harus sering pulang-pergi Balikpapan dan Jakarta. Pernikahan yang akan dilangsungkan di Balikpapan itu cukup menjadi perhatian keluarga Demirci, terutama ibu dari Fatih. Wanita paruh baya itu sangat sibuk segala sesuatu yang akan digunakan Syakilla nanti, termasuk perihal gaun pengantin.
“Killa...” panggil Riana pada calon menantunya.
“Yes, Mom...”
“Gaunnya yang mewah ya, sayang wajah kamu yang cantik sia-sia kalau gaunnya biasa saja,” ucap Riana yang tidak tatapan tidak suka dari Fatih dan Hamidah. Syakilla dan ibunya melirik tajam Fatih yang mendengus sebal karena tingkah Riana, karena keduanya tidak suka jika Fatih membangkang keinginan ibunya.
Wajah memohon Fatih pada Syakilla hanya dijawab dengan senyuman tipis dan anggukan. Hal itu membuat Riana tersenyum senang, akhirnya yang ia inginkan untuk pernikahan putra pertamanya terpenuhi. Hamidah yang melihat tingkah calon besannya itu hanya tersenyum, ia meletakkan tangan di atas punggung tangan putrinya. Memberinya kehangatan dan kekuatan untuk melangkah pada jalan setapak di depannya sekarang. Hidupnya akan berubah dalam waktu kurang dari 3 bulan lagi, dari seorang gadis bernama Syakilla Noura Iskandar menjadi Nyonya Fatih Ahmed Demirci.
Setelah melakukan diskusi mengenai gaun yang akan dikenakannya saat hari bahagiannya selesai, Fatih menggantar Syakilla dan Hamidah untuk kembali ke apartemen miliknya. Sebuah apartemen dengan fasilitas lengkap di kawasan Kuningan adalah tempat ternyaman selain hotel untuk mereka beristirahat.
“Sayang...” panggil Fatih yang hanya menjawabnya dengan gumaman. “Kamu lagi sakit gigi ya?” tanya Fatih penasaran sembari melihat pipi Syakilla apakah membengkak.
“Nggak! Kenapa?” gadis itu menarik wajahnya menjauh dari wajah Fatih yang terlalu dekat, membuat wajahnnya panas.
“Kamu selalu hanya bergumam setiap kali aku panggil. No response,” keluhnya.
“Aku selalu respon kok, kapan aku tidak respon kamu? Even just hmmm...” Syakilla melirik wajah Fatih yang terlihat kesal.
“Ya bukan respon seperti itu yang aku inginkan, tapi—“ kalimatnya terputus, dan wajahnya menunjukkan keraguan, sesuatu yang belum pernah Syakilla lihat sebelumnya.
“Tapi apa? Respon seperti apa yang kamu inginkan?” tanyanya penuh selidik.
“Bilang kek, iya, Sayang. Atau kenapa, Sayang? Atau ada apa, Sayang...” ucapnya bersungut kesal.
Syakilla terkekeh geli melihat tingkah calon suaminya, walau ia telah berusaha untuk menahan tawanya agar tidak pecah. Tawa gadis itu berhasil membuat ekspresi wajah Fatih berubah, kini hanya ada senyum manis yang terpatri di wajah tampannya. Ia merasa bahagia karena pada akhirnya berhasil membuat gadis pujaannya tertawa.
“Seperti lagu ya? Kenapa tidak sekalian saja tadi bilang kalau aku harus mengucapkan apa kabar kamu sayang?” kekehnya tertahan melihat raut wajah Fatih yang kembali berubah.
“Sudah bisa bercanda ya sekarang, seandainya kita sudah menikah pasti aku cubit itu pipi kamu yang merah kalau tertawa.”
Sontak saja kalimat Fatih tadi berhasil membuat pipinya semakin merah merona karena malu, Fatih sungguh lelaki yang berbeda dari lelaki pada umumnya. Kini lelaki yang masih setia duduk di depannya dengan tatapan tulus berhasil menghangatkan hati dan perasaannya.
“Nanti kalau jodoh pasti kita akan bertemu lagi. Tidak perlu nomor ponselku, kalau Allah mau pasti kita akan bertemu lagi.”
Tidak disangka kalimat spontannya tersebut berhasil membawa keyakinan pada diri Fatih Ahmed Demirci untuk menikahinya.
“Maaf, Fatih. Aku hanya belum bisa dan belum terbiasa kalau harus memanggilmu dengan sebutan itu,” tolak Syakilla halus.
“Baiklah aku paham, jadi kamu mau panggil aku ‘Mas’ saja gimana?” paksanya.
“No! Wajah kamu terlalu bule, tidak cocok,” tolak Syakilla.
“Kakak deh ya,” usahanya.
“No! I am not your sister,” tolaknya lagi.
“Ya sudah ‘Abang’ saja bagus sepertinya,” Fatih tetap usaha.
“No! You’re not my brother,” tolaknya lagi yang sebenarnya hanya untuk mengerjai Fatih, karena wajah lelaki itu lucu ketika mendapat penolakan darinya.
“Ya sudah. Aku tunggu sampai kamu siap panggil aku ‘Sayang’ babti,” akhirnya ia mengalah dan mengakhiri untuk membuat Syakilla memberinya panggilan mesra.
“Iya, Sayang. Oh iya aku juga mau bilang, kamu tidak perlu datang ke Jakarta lagi setelah ini dan bahkan sampai bulan depan,” ucapnya sembari menyecap tehnya.
“Kenapa?” tanya Syakilla dengan kening berkerut.
“Nggak tega aku lihat kamu kelelahan, so better just stay in Balikpapan and take a rest. Lagian besok aku juga berangkat,” wajah polos Fatih selalu mampu membuat gadis itu tersenyum.
“Baiklah. Tapi boleh aku tahu mau berangkat ke mana besok?” tanya Syakilla penasaran.
“Besok ada meeting di Singapore, 2 hari mungkin. Pulang ke Jakarta juga ada meeting penting dan setelah itu aku ada meeting juga di Malaysia untuk beberapa hari.”
“Kok lama?” tanya Syakilla polos, tanpa mempedulikan senyum jahil di wajah lelaki yang duduk sambil mengetuk-ngetuk jarinya di atas paha.
“Kenapa? Kamu kangen ya, Sayang? Belum juga berangkat sudah dikangenin, terharu,” nada menggoda yang sudah tidak asing lagi di telinga Syakilla mulai terdengar.
“Belum. Mungkin besok iya,” jawab Syakilla santai.
“Ya Allah... Terima kasih...” ia bersyukur kegirangan dengan kedua tangan ke atas seperti sedang berdoa.
“Lucu,” satu kata meluncur dari mulut gadis itu berhasil membuat pipi Fatih yang berwarna pucat jadi bersemu merah.
Kedua calon pengantin itu terus larut dalam perbincangan mereka, membahas hal-hal penting dan tidak penting. Sebenarnya lebih banyak Fatih yang bercerita dan bagian Syakilla adalah memberi pertanyaan. Entah mengapa gadis itu senang sekali memberi pertanyaan pada Fatih, dan lelaki itu hanya menurut saja untuk selalu menceritakan apapun itu yang ditanyakan oleh Syakilla. Ada perasaan hangat menjalari hati gadis cantik berjilbab itu, seandainya saja ia bisa seterbuka Fatih. Seandainya saja dulu ia tidak membangun tembok yang terlalu tinggi dan kokoh. Dan seandainya semua kejadian buruk itu tidak terjadi. Tapi ia berhenti berandai-andai ketika melihat senyum merekah di bibir merah muda alami milik Fatih. Ia sadar jika kejadian buruk itu tidak terjadi, pasti ia tidak akan di sini sekarang. Duduk bercengkrama dengan lelaki yang akan segera menjadi suaminya, berbincang tentang rencana kehidupan pernikahan mereka.
Di sudut ruangan yang dibatasi partisi dengan pantry, ada seseorang yang sedang menonton keakraban kedua calon pengantin itu. Mereka terlalu asik, sampai lupa jika ada seseorang yang memperhatikan.
“Ummi bahagia akhirnya kamu menemukan duniamu kembali, Nak. Semoga Fatih adalah pilihan yang tepat untuk melanjutkan hidupmu. Sayangi putri hamba, Ya Allah...” Hamidah tersenyum melihat Syakilla yang sempat tersesat jauh, kini kembali pulang dan menemukan dunianya. Kedua tangannya menutup ke arah d**a sembari bersyukur akan perubahan baik yang ditunjukkan putrinya. Bukan trauma, gadis itu hanya pernah terluka.
Sudah lebih sebulan setelah kunjungannya terakhir kali ke Jakarta, dan Syakilla benar-benar tidak kembali lagi ke sana. Riana membahas perihal gaun pengantin Syakilla melalui video call, sepertinya Fatih berhasil meluluhkan hati sang ibu. Tentunya untuk tidak membuat calon istrinya kerepotan karena harus melewati perjalanan ribuan mil hanya untuk membahas hal itu. Sungguh Fatih adalah lelaki yang pengertian, tidak salah jika Syakilla menerima lamarannya.