“Ayo, Kak. Cepat... Katanya kita mau jalan-jalan.”
Fatimah menarik tangan Fatih yang saat ini tengah duduk di kursi restoran, karena rencananya hari ini mereka akan berkeliling Kota Balikpapan. Sejak semalam adik perempuan Fatih itu telah begitu akrab dengan Syakilla. Bahkan keduanya tidak sungkan untuk saling berkirim pesan singkat.
“Ko Donny kenal sama temannya Kak Syakilla?” tanya Fatimah pada Donny yang duduk di sisi Fatih dan hanya dijawab dengan gedikkan bahu.
“Ooh… Ko Donny nggak kenal artinya. Kata Kak Syakilla nanti temannya juga ikut, namanya Nabila,” pernyataan Fatimah itu sukses menarik perhatian Fatih.
“Sejak kapan lo dekat sama Syakilla?” tanya lelaki yang sedari tadi duduk bersandar di sofa lobby hotel dengan kedua tangan menyilang di depan d**a.
“Sejak tadi malam,” jawab Fatimah santai.
“Kan semalam kita tukar-tukaran nomor dan sosmed, Kak. Ternyata Kak Syakilla itu humble banget, terlalu beruntung Kakakku ini. Ternyata Allah masih sayang ya sama playboy cap kampak macam Kak Fatih,” Furqan yang sedari tadi dia ikut menimpati penyataan Fatimah.
Seketika itu juga tawa Murat, Riana dan Donny pecah mendengar ucapan Furqan tentang sang kakak. Karena memang itulah kenyataannya tentang sosok Fatih yang mereka kenal selama ini. sebisa mungkin Fatih menahan emosinya agar tidak melayangkan tinjunya pada sang adik bungsu, karena ia tidak ingin menjadi tontonan banyak orang.
“Yuk, Kak. Yang ditunggu sudah datang,” ucap Fatimah sembari berjalan meninggalkan lobby hotel ketika menerima pesan singkat dari calon kakak iparnya. Fatimah langsung menghambur memeluk Syakilla yang berjalan menghampiri mereka dengan teman yang dimaksudnya.
“Iri, kan, lo...” goda Donny pada Fatih yang kesal melihat tingkah manja Fatimah.
“Sudah aah. Gue mau nyamperin dia dulu, mau nanya kenapa nggak hubungin calon suaminya, malah adek iparnya,” ia berjalan menuju Syakilla yang tersenyum ke arahnya.
“Sayang...” panggilnya yang hanya dijawab Syakilla dengan gumaman karena masih merasa asing dengan panggilan ‘sayang’ yang diucapkan Fatih.
“Kenapa malah hubungin Fatimah? Bukan aku?” pertanyaan itu meluncur begitu saja, mengabaikan tatapan geli dari orang-orang disekitarnya.
“Kita kan belum menikah, jadi lebih baik seperti itu. Dan lagi Fatimah sudah cukup untuk sarana komunikasi kita,” jawab Syakilla untuk menenangkan Fatih.
“Yaelah, Kak. Jangan cemburu sama gue kali,” ledek Fatimah yang tertawa bersama Furqan.
“Nanti Killa yang isi pulsa Fatimah, biar bisa terus komunikasi sama kamu. Karena lebih baik kita saling menjaga sebelum menikah,” ucap Syakilla yang berhasil membuat mereka yang mendengarnya semakin takjub akan sosoknya.
“Nggak perlu. Aku yang akan kasih dia pulsa, cukup kamu kasih kabar saja. Itu sudah cukup,” tolak Fatih atas ucapan Syakilla.
“Jadi kita ke mana hari ini, Kak?” tanya Furqan antusias ketika mereka telah berada di dalam mobil yang dikemudikan oleh Donny.
“Kita ke Dahor Heritage Museum, Kebun Raya Balikpapan dan Lamin Etam Ambors,” Syakilla memberitahu tujuan rekreasi mereka hari ini.
“Kalian suka jajan nggak?” Nabila bertanya pada Fatimah dan Furqan.
“Suka, Kak, ada street food nggak di sini?” Furqan terdengar antusias.
“Ada, tapi sore,” jawab Syakilla yang berhasil membuat kedua calon adik iparnya sedikit kecewa.
“Ya sudah nanti malam jalan-jalan lagi,” ucap Fatih menyenangkan hati adiknya.
“Bener, ya, Kak?” Tanya Fatimah dengan mata berbinar.
“Iya. Oh iya sampai lupa. Beli cinderamata di mana ya, Sayang? Mommy tadi pesan minta dibeliin,” melirik Syakilla dari spion depan. “Ada di Pasar Impres, nanti setelah dari Dahor Heritage Museum kita ke sana aja. Masih satu daerah,” jawab gadis itu.
“Kak di sini udaranya bersih ya? sepertinya bakalan kangen deh sama suasan di sini yang tenang,” ucap Fatimah yang kagum dengan jalan dan udara yang bersih. Hal sama seperti yang pernah dilakukan Fatih saat pertama kali datang ke kota ini.
“Nah ini namanya jalan minyak, sebelah kiri itu pantai Polda dan rumah dinas Polda Kaltim. Kalau sebelah kanan itu Kodam Mulawarman dan di depannya ada Monumen Perjuangan Rakyat atau yang biasa disebut MONPERA. Tapi sayang patungnya tumbang beberapa waktu laku karena sudah tua,” Syakilla menjelaskan saat mobil dengan kecepatan sedang itu melewati tempat-tempat yang disebutkannya tadi.
“Wah sayang banget, ya, Kak. Harusnya pemerintah merawat aset budaya seperti itu,” komentar Furqan.
“Kalau di depan itu ada bundaran, itu namanya Tugu Australia. Tugu Australia merupakan tugu peringatan yang dibangun oleh Pemerintah Australia untuk memperingati pasukan divisi VII Australia yang gugur menghadapi pasukan Jepang pada saat Perang Dunia II. Lebih kurang ada 270 orang tentara Australia yang gugur pada saat itu,” gadis cerdas berkerudung ini sedang menjelaskan tentang sebuah tugu yang terdapat di depan jalan.
“Kakak ahli sejarah, ya?” Fatimah semakin kagum dengan calon kakak iparnya ini.
Begitu pula dengan dua pria yang duduk di depan, yang satu mengemudi dan yang satunya lagi hanya menjadi pendengar keempat orang di belakang. Aah tidak! Lebih tepatnya hanya tiga orang yang berbicara, karena Nabila hanya diam sedari tadi. “Bukan,” jawabnya singkat.
“Jadi apa? Tourist guide gitu? tanya Furqan yang sama penasarannya dengan Fatimah.
“Bukan adik-adik. Calon Kakak Ipar kalian itu dulu Duta Pariwisata Balikpapan, jadi wajar kalau dia sangat paham tentang seluk beluk sejarah kota ini,” Nabila yang sedari tadi diam akhirnya buka suara yang langsung dihadiahi pelototan dari mata bulat sahabatnya.
“Wah… Ternyata calon Nyonya Fatih Ahmed Demirci hebat,” celetuk Donny yang sejak tadi fokus mengemudi.
“Kamu kok nggak cerita sih, Sayang? Kan aku nggak tahu kalau ternyata kamu secerdas itu,” Fatih menimpali. Syakilla yang mendengarnya hanya tersenyum simpul, berbeda dengan kedua adik Fatih yang memasang wajah jijik melihat kakaknya.
“Please deh, Kak. Stop bertingkah menjijikan begitu? Maksa banget harus manggil ‘Sayang’? Even kalimatnya jadi nggak cocok banget di telinga gue,” celetuk Furqan yang sukses mengundang tawa, kecuali Fatih yang sudah sangat ingin menjahit mulut adiknya.
“Sudah. Jangan godain Kakak kalian terus, sebagai adik harus tetap sopan sama Kakaknya,” Syakilla menyudahi ejekan Furqan pada Fatih.
“Nah di kanan itu Lapangan Merdeka, setiap sore banyak orang olah raga dan tentunya street food bertebaran. Dan di kiri itu Pantai Benua Patra, di sana ada batu-batu bagus buat foto,” Nabila membantu menjelaskan tempat yang mereka lewati saat ini, karena Syakilla sedang minum.
“Kak Abil juga Duta Pariwisata dulu?” tanya Fatimah dengan menopang dagunya pada sandaran kursi yang ada di sisi Syakilla dan Nabila.
“Iya. Duta makan enak haha...” leluconnya berhasil mengundang gelak tawa mereka. “Area ini namanya Melawai dan di sini rame kalau malam banyak street food seperti yang kalian tanyakan tadi. Pemandangannya bagus di sini, banyak lampu-lampu kapal,” gadis itu terus memberitahukan nama tempat-tempat yang biasanya ramai oleh manusia.
Mata Fatimah dan Furqan berbinar saat melihat terdapat banyak rusa didekat kilang pengolahan minyak. Biasa mereka melihatnya di safari atau Istana Bogor. Dan di sini mereka melihat binatang itu didekat kilang pengolahan minyak, atau lebih tepatnya sebuah kantor di area yang sama dengan kilang-kilang raksasa itu.
Sesampainya di Dahor Heritage Museum, mereka berempat dibuat lebih kagum lagi dengan Syakilla. Gadis itu dengan lancar menjelaskan tentang sejarah Kota Balikpapan dari foto-foto yang terpampang di museum. Bahkan Syakilla dengan lancar menjelaskan mengenai bangunan yang kini dijadikan sebagai museum tersebut. Di mana bangunan museum ini adalah rumah panggung peninggalan Warga Negara Belanda yang dulu tinggal di Balikpapan saat pengeboran sumur minyak pertama, Sumur Mathilda.
Setelahnya mereka memutuskan untuk membeli beberapa cindera mata di Pasar Impres Kebun Sayur yang merupakan pusat cindera mata terbesar di Kalimantan. Fatih membeli beberapa pernak pernik khas Suku Dayak seperti yang dipesan oleh sang ibu. Kebun Raya Balikpapan dan Lamin Etam Ambors menjadi tujuan terakhir mereka untuk hari ini. Karena besok mereka berempat akan kembali ke Jakarta, jadi tidak berlama-lama di sana.
Fatimah dan Nabila yang sibuk mengambil gambar diri mereka masing-masing. Dan Furqan yang sibuk membuat vlog dan menjadikan Fatih, Syakilla dan Donny sebagai objeknya. Yakin pasti sebentar lagi akan heboh karena cuap-cuap pemuda itu tentang kisah cinta Fatih-Syakilla. Gadis itu memang lebih banyak diam, namun dibalik diamnya itu ia selalu punya perhatian untuk Fatih. Walau hanya dengan hal-hal kecil yang mampu membuat lelaki itu tersipu malu.
Selesai sudah acara rekreasi mereka hari ini, sepanjang perjalanan kembali ke hotel keempat penumpang telah tertidur. Mungkin karena kelelahan, sebenarnya hanya Fatimah, Furqan dan Nabila yang sedari tadi aktif. Syakilla lebih banyak duduk memperhatikan mereka atau sekedar menjadi fotografer untuk kedua calon adik ipar dan sahabatnya.
Awalnya Fatih berencana ingin mengajak adik-adiknya untuk menikmati suasana malam Balikpapan. Tapi melihat sepertinya Fatimah dan Furqan sudah kelelahan, akhirnya ia mengurungkan niatnya. Masih ada lain waktu jika ingin mengajak kedua adiknya menikmati suasana Kota Balikpapan yang telah membuatnya jatuh cinta.