Bab 8

1932 Words
“Tapi bagaimana kalau—“ ucap Syakilla ragu-ragu. “Jangan berandai-andai. Tidak baik,” tegur Hamidah mendengar keraguan putrinya. “Bukankan Noura sendiri yang menerima lamarannya? Bukankan Noura sendiri yang yakin padanya?” kini Mahmoud ikut berbicara setelah menyesap tehnya. “Iya Bi, tapi—“ “Tidak ada kata tapi, kalau Allah bilang ‘kun’ maka terjadilah. Abi yakin kalau Nak Fatih adalah qadha untuk Syakilla Noura Iskandar, putri kesayangan Abi,” sekali lagi kalimat Mahmoud mampu menjadi penenang untuk Syakilla. Setelahnya suasana di ruang keluarga Mahmoud Iskandar menjadi hening, karena tidak ada seorang pun yang buka suara. Sampai suara dering ponsel memecah keheningan yang tercipta di antara ketiganya. “Punya siapa itu, Mi?” tanya Mahmoud pada istrinya. “Punya Abi kali, ponsel Ummi dan Noura bunyinya tidak seperti itu,” jawab Hamidah santai. “Bi Darmi, tolong ambilkan ponsel saya di ruang kerja ya,” pinta Mahmoud pada asisten rumah tangga mereka. Dna tang berselang lama Bi Darmi memasuki ruang keluarga dengan membawa ponsel Mahmoud yang masih bordering. “Ya Abu Syarief, ini ponselnya. Sepertinya itu video call dari Tuan Syarief,” Bi Darmi menyerahkan ponsel itu pada Mahmoud. “Syukron, Bi,” ucap Noura karena Abi langsung menjawab panggilan teleponnya. “Assalamu’allaikum...” “Wa’allaikum sallam, Nak. Lama sekali kamu tidak menghubungi Abi dan Ummi?” “Afwan Bi, Syarief sangat sibuk dengan pekerjaan di sini. Biasa awal tahun, terlebih lagi Helwa sudah mendekati harinya,” ucap suara di seberang sana. “Abang...” panggil Syakilla manja. “Wah adik Abang cantik sekali. Abang rindu nih, cuti dong kamu terus main ke sini. Bentar lagi kan Helwa lahiran, jadi bisa lihat anak Abang.” “Maunya, tapi sepertinya tidak bisa, Bang,” jawab Syakilla lesu, wajar saja karena ia sangat merindukan Kakaknya itu. “Kenapa?” “Adik kamu yang cantik ini akan segera menikah, jadi tidak bisa bepergian dulu,” Hamidah menjawab pertanyaan putranya yang kini sudah menunjukkan ekspresi terkejut yang tidak biasa. Bahkan suaranya yang terkejut karena apa yang didengarnya tadi berhasil membuat Mahmoud mendengus sebal. “Syarief... Abi dan Ummi masih bagus pendengarannya,” Mahmoud memperingatkan putranya untuk tidak melakukan kebiasaan burunya dengan berteriak-teriak itu. “Afwan, Bi. Shock saja tadi. Jadi Syakilla sudah bisa move on sekarang? Alhamdulillah Ya Rabb...” ucap Syarief dengan semangat yang hanya ditanggapi Syakilla dengan gumaman yang bisa dipahami oleh keluarganya. Mereka sadar betul jika saat ini Syakilla belum benar-benar bangkit dari keterpurukannya. Tapi tetap mereka bersyukur jika pada akhirnya gadis cantik di keluarga mereka itu berani mencoba untuk menata kembali hidupnya. “Jadi kapan rencana pernikahannya, Bi? Jadi Syarief dan Helwa bisa pulang ke sana, semoga baby sudah bisa dibawa,” Syarief mengacuhkan adiknya yang terlihat galau itu. “Abi juga belum tahu. Insya Allah malam ini baru akan dibicarakan, karena baru mala mini juga adik kamu akan dilamar,” jawab Mahmoud santai sembari mendekap tubuh rapuh putrina. “Dadakan ya? Jangan bilang kalian sudah ngelakuin hal yang diinginkan?” sinis Syarief menatap wajah adiknya penuh selidik. “Jangan sembarang ngomong, Bang!!!” bentak Syakilla tidak terima dengan tuduhan sang kakak yang kini sudah dapat tatapan tajam dari kedua orang tua mereka. “Ya kan buru-buru. Nggak ada berita apa-apa, tahunya sudah mau lamaran malam ini. Dan parahnya Syarief tidak dikabari, sebenernya Abi sama Ummi ini masih anggap aku anak nggak sih?” protes Syarief yang merasa tidak dianggap oleh keluarganya yang tidak mengabari perihal lamaran Syakilla. “Adik kamu baru cerita semalam. Bagaimana mau kasih kabar, ini saja baru sempat kasih kabar ke Jiddi dan Jidda tadi sore. Bahkan mereka marah ke Ummi dan Abi karena tidak bisa datang, terlalu mendadak,” Hamidah menjelaskan pada putrnya. “Orang mana sih, Ra?” tanya Syarief penasaran. “Indonesia Turki Bang.” “Hebat kamu bisa dapat bule, anak Abi sama Ummi memang pintar kalau urusan jodoh,” ucap Syarief pongah. “Alhamdulillah kalau anak-anak Abi dan Ummi dapat jodoh yang baik,” ucap Mahmoud datar. Karena rasa penasarannya yang tinggi, akhirnya Syarief memilih untuk meminta sang adik menceritakan awal perkenalannya dengan calon suaminya. Beruntunglah Syakilla tidak keberatan untuk menceritakan kembali pada sang kakak. Dan Syarief sukses dibuat terdiam tidak percaya dengan tingkan adiknya yang memprovokasi lelaki dengan ucapannya. “Aduh abang lupa kan, siapa nama calonmu?” tanya Syarief yang teringat kalau sejak tadi ia belum tahu nama calon adik iparnya. “Fatih Ahmed Demirci,” jawab Syakilla singkat. “Seperti tidak asing ya di telinga Abang?” “Mungkin abang pernah baca namanya di Koran atau majalah bisnis.” “Huh? Memang siapa dia sampai harus namanya terpampang di Koran atau majalah bisnis?” “Serius tidak tahu? Abi saja sekali dengar sudah tahu siapa lelaki itu,” ucap Mahmoud. “Wallahi, Bi. Syarief tidak tahu walau memang sepertinya nama itu tidak asing di telinga.” “Dia itu Dirut Horison Corp yang bekerja sama dengan perusahaan tempatmu bekerja di Abu Dhabi,” jawab Mahmoud sebelum menyeruput teh yang sudah tidak lagi panas. “Huh? Seriusan? Fatih yang itu? Wah wah wah... Sekali lempar umpan langsung dapat paus kamu, Ra. Bangga abang punya adik kamu!” heboh Syarief yang membuat orang tua dan adiknya menggelengkan kepala. Perbincangan seru keluarga mereka terhenti ketika Bi Darmi menghampiri, mengatakan jika saat ini yang mereka tunggu telah datang. Keadaan hening seketika, Syakilla nampak memegangi dadanya. Karena saat ini jantungnya berdetak cukup cepat, ia begitu gugup walau sebenarnya ini bukanlah pertemua pertamanya dengan keluarga Demirci. “Jangan deg-degan, Ra, Abang selalu bersamamu.” Saat ini keluarga Demirci tengah menunggu kehadiran keluarga Iskandar, hal itu semakin membuat Fatih tidak tenang. Lelaki itu duduk dengan gelisah, pengendalian dirinya cukup buruk jika berhubungan dengan Syakilla. “Santai, Bro...” Donny menepuk bahu sahabatnya. “Mulut lo enak ngomong, kan belum pernah ngerasain!” gerutunya pada Donny. “Keluarganya memang Arab sekali ya, Fatih. Foto-foto mereka tidak ada yang berwajah Indonesia seperti di rumah eyangmu.” Riana mengomentari foto-foto keluarga Iskandar yang terpampang di dinding. Syakilla berjalan memasuki ruang tamu didampingi oleh kedua orang tuanya, ia tampil begitu anggun dengan gamis berwarna peach. Wajah khas Timur Tengah itu dipoles riasan tipis namun tetap membuatnya semakin cantik. Bahkan Donny yang melihatnya pun ikut terpukau sama seperti Fatih. Kalau Furqan tidak menyenggol lengannya, mungkin lelaki berwajah oriental itu akan terus terpukau pada Syakilla. Pantas saja Fatih mau cepat menikahinya, ternyata gadis ini benar-benar di luar ekspektasi. So awesome. Gumam Donny dalam hati. “Assalamu’allaikum...” Mahmoud mengucap salam pada keluarga Demirci ketika telah memasuki ruang tamu. “Wa’allaikum sallam... Saya Murat Demirci ayah dari Fatih,” Murat menjawab salam Mahmoud sembari memperkenalkan diri. “Saya Mahmoud Ali Iskandar ayah dari Syakilla. Terima kasih telah meluangkan waktu untuk berkunjung ke kediaman kami,” Mahmoud ikut memperkenalkan diri. “Terima kasih juga untuk Tuan Mahmoud yang berkenan menerima kehadiran keluarga kami malam ini. Adapun maksud kedatangan saya dan keluarga pada malam ini untuk membicarakan perihal anak-anak kita,” Murat mengutarakan maksud dan tujuannya. “Baiklah. Sebelumnya putri saya telah memberitahukan perihal niatan Nak Fatih untuk melamarnya.” “Jadi bagaimana, Tuan Mahmoud? Apakah Tuan berkenan untuk menerima lamaran putra saya Fatih Ahmed Demirci?” tanya Murat memastikan. “Sebagai orang tua tentunya menginginkan yang terbaik untuk anak-anaknya. Tanpa terkecuali perihal jodoh yang jelas itu menyangkut masa depan mereka. Namun semua keputusan kami kembalikan pada Syakilla, karena pada akhirnya ia yang akan menjalaninya,” Mahmoud melirik sekilas putrinya yang menunduk duduk di sisi sang istri. “Bagaimana, Abi?” tanya Syakilla sembari menaikkan kepalanya dan menatap sepasang netra coklat milik Mahmoud. “Semoga Nak Fatih mampu untuk membahagiakan putri saya dunia dan akhirat,” perkataan Mahmoud cukup sebagai jawaban. “Jadi lamaran kami diterima?” tanya Murat yang masih belum faham maksud dari Abi. “Iya, Tuan Murat. Tapi maaf pernikahan ini tidak dapat dilangsungkan dalam waktu dekat.” “Ada apa, Tuan Mahmoud? Bukankan lebih baik jika semuanya disegerakan?” tanya Murat heran karena pernikahan anak-anak mereka tidak disegerakan. “Karena anak pertama saya yang di Abu Dhabi tidak bisa pulang dalam waktu dekat ini, istrinya akan segera melahirkan,” Mahmoud memberikan alasan di balik tidak disegerakannya pernikahan Syakilla dan Fatih. Akhirnya Murat Demirci paham dan mereka memutuskan untuk menggelar pernikahan Syakilla dan Fatih beberapa bulan setelah istri Syarief melahirkan. Pembicaraan pun dilanjutkan sambil menyantap menu makan malam yang telah disiapkan Bi Darmi di meja makan. Hamidah dan Riana sibuk membahas konsep pernikahan dan bagaimana akad serta resepsi akan digelar. Sedangkan Mahmoud dan Murat membahas sejarah mereka bisa sampai ke Indonesia dan menikah dengan wanita dari Indonesia. Fatimah dan Furqan? Seperti biasa kedua adik Fatih itu sibuk dengan gadget di tangan masing-masing. “Dinner with Kak Fatih’s future wife’s family.” Fatimah dan Furqan berhasil membuat heboh pengikut mereka di sosial media setelah mengunggah foto makan malam keluarga mereka. Terlebih lagi tulisan yang mereka sematkan sebagai keterangan foto semakin membuat ramai pemberitahuan di akun mereka. “Furqan, banyak hati yang potek malam ini,” kekeh Fatimah sembari menunjukkan pesan yang diterimanya pada sang adik. “Iya nih, Kak. Banyak yang kepo, padahal apa bagusnya Kak Fatih? Tampang juga pas-pasan banget kan?” decak Furqan saat melihat ponselnya dan berhasil mencuri perhatian Syakilla. “Eeh, bukan begitu, Kak Syakilla. Tapi memang begitu faktanya, coba saja Kakak pergi ke Turki. Di sana banyak cowok yang jauuuuuuhhhhhh lebih tampan dari Kak Fatih,” sambungnya. Fatih lebih memilih untuk diam sat mendengar sang adik memprovokasi calon istrinya, karena ia tahu jika Syakilla bukan gadis yang mudah untuk dipengaruhi. Apalagi yang diucapkan adiknya adalah benar, banyak lelaki yang lebih tampan darinya di Turki. “Tidak perlu, Dek. Kakak kamu sudah cukup buat Kak Syakilla,” ucap Syakilla yang tersipu malu mendengar ucapannya sendiri. Selesai acara makan malam dan bincang santai, kini keluarga Demirci memutuskan untuk pamit. Fatimah yang sejak tadi bergelayut manja di lengan calon kakak iparnya rasa enggan untuk kembali ke hotel. Apalagi Syakilla berjanji padanya untuk mengajak keliling Kota Balikpapan besok hari. “Kakak janji ya besok kita jalan-jalan?” rengek Fatimah. “Insya Allah,” jawab Syakilla singkat dengan senyum ramahnya. “Jangan begitu lah, Fat. Kamu kan baru kenal sama Killa, kenapa sok akrab sih?” ketus Faih melihat tingkah manja sang adik pada calon istrinya. “Yee... Kak Fatih juga begitu, baru kenal langsung ngajak nikah. Syukur Kak Syakilla khilaf mau nerima Kakak,” ejek Fatimah yang membuat Fatih menggeram kesal. Sontak saja mereka yang mendengar celetukkan Fatimah tertawa, sedangkan Fatih hanya bisa menghembuskan nafas lelah. Melihat keakraban yang tercipta ini mmbuat hati Syakilla terasa hangat, ada sesuatu yang menjalar ke hatinya. “Hati-hati ya, Mas Donny nyetirnya. Jangan biarkan Fatih yang nyetir, bisa salah jalan,” pesan Syakilla pada Donny yang sudah memegang kemudi. “Terima kasih, Sya...” ucap Donny dengan senyum ramah yang semakin membuat matanya tak terlihat. “Kok Donny dipanggil ‘Mas’? Aku dipanggil nama saja dari tadi. Terus kamu kok perhatian banget sih sama Donny?” cecar Fatih pada Syakilla yang menurutnya tidak berbuat manis seperti itu padanya. “Kan kamu memang tidak tahu jalan,” gadis ini benar-benar tidak peka bahwa calon suaminya sedang cemburu. “Ya sudah. Assalamu’allaikum...” Fatih mengakhiri pembicaraan karena ia tahu bahwa gadisnya kurang peka. Syakilla segera menghampiri prang tuanya ketika mobil yang ditumpangi keluarga Demirci telah meninggalkan pekarangan rumah keluarganya. Ia menitikkan air mata saat memeluk tubuh orang tuanya, ada perasaan haru karena pada akhirnya ia bisa melewati semua ini. “Jangan menangis, saat ini ada lelaki yang menerimamu dengan tulus,” ucap Hamidah sembari membelai lembut punggung putrinya untuk menenangkan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD