Malam ini keluarga Demirci bertolak dari hotel menuju kediaman Syakilla. Berbekal alamat yang diberikan Syakilla dan juga maps di ponsel, Donny memacu mobil menyusuri jalan Kota Balikpapan untuk masa depan sahabatnya. “Calm down, Bro, she already say yes, right?” Donny menepuk bahu Fatih yang duduk di samping kemudi mobil.
“I know. But how about her family?” Tanya Fatih sembari mengusap kasar wajahnya.
“Sepertinya Syakilla dari keluarga baik-baik, jadi tidak perlu khawatir. Toh dia sudah menerimamu, Nak,” Riana berusaha membuat putranya lebih tenang, sedangkan Murat hanya tersenyum penuh arti melihat kegugupan Fatih. Berbeda dengan Fatimah dan Furqan yang sibuk dengan gadget masing-masing.
“Dulu Abba juga pernah merasakannya, tapi Mommy kalian meyakinkan Abba bahwa semua akan baik-baik saja. Hal ini akan jauh lebih mudah, karena keluarga Syakilla bukan pribumi asli seperti Mommy kalian,” kata Murat memberikan sedikit ketenangan untuk putranya.
“Iya bener yang Abba kamu bilang. Dulu tuh waktu Abba ngelamar Mommy lebih sulit lagi. Eyang kalian merasa sangat berat untuk merelakan Mommy menikah dengan Abba. Selain karena beda budaya dan bahasa, keluarga eyang kalian juga masih menjunjung adat,” Riana menimpali dan diangguki oleh sang suami.
“Memang sih keluarga Abinya Syakilla itu asli dari Yaman, tapi mana kita tahu keluarga orang lain,” lirih Fatih terdengar frustasi.
“Berdoa saja lah kamu kalau begitu,” ucap Murat malas.
Mobil yang ditumpangi keluarga Demirci masih melaju di jalan Kota Balikpapan, dengan Fatih yang masih tidak tennag meski berulang kali diyakinkan oleh keluarga dan sahabatnya. Hal ini juga tidak jauh berbeda dengan keadaan di rumah keluarga Mahmoud Iskandar. Syakilla yang sudah tampil cantik gamis berwarna merah jambu itu terus mondar-mandir di ruang makan dan ruang keluarga. Bahkan sampai harus membuat Hamidah menghentikan aktifitas putrinya itu.
“Tenanglah, Noura. Insya Allah semuanya akan baik-baik saja,” ucap Hamidah yang baru saja memasuki ruang keluarga dengan membawa secangkir terh untuk suaminya yang sejak tadi jadi penonton Syakilla.
Flash back on…
“Nah... Ketemu!” ucap Syakilla dengan wajah berbinar setelah berhasil menemukan kartu nama Donny di dalam tas kerjanya.
Ia segera mengambil ponsel yang tergeletak di atas meja kerjanya, menuliskan nomor ponsel Donny pada layar pemanggil. Sekali panggilannya tidak mendapat jawaban, sampai ia mencoba lagi untuk kedua kalinya. Tak berapa lama ia bisa mendengar suara di balik sambungan setelah dua kali mencoba.
“Hallo...”
“Assalamu’allaikum, Pak Donny.”
“Wa’allaikum sallam. Maaf dengan siapa ya?”
“Syakilla, Pak,” jawab Syakilla gugup namun masih bisa ia samarkan dengan baik sehingga Donny tidak bisa merasakannya.
“Ooh ,Bu Syakilla. Ada yang bisa saya bantu?”
“Saya mau bicara sama Pak Fatih, bisa? Apa beliau sedang bersama Pak Donny?” tanyanya langsung ke intinya dan hal itu berhasil membuat kerja jantungnya jadi lebih cepat ketika menyebutkan nama lelaki yang melamarnya tadi siang.
“Saya beda kamar sama dia, sebentar saya ke sana dulu,” ucap Donny terdengar sedang membuka pintu.
“Iya, Pak. Terima kasih.”
“Tidak masalah. Toh sebentar lagi Ibu akan jadi istri boss sekaligus sahabat saya.”
Ucapan Donny barusan sukses membuat Syakilla tersipu malu, bahkan sudah dapat dipastikan jika pipinya telah bersemu merah. Tak berapa lama Syakilla sudah berbicara dengan Fatih perihal keluarga Iskandar yang ingin menjodohkannya. Setelah memutus sambungan ia kembali ke ruang keluarga, tempat di mana kedua orang tuanya menunggu. Matanya berkaca-kaca ketika melihat kedua sosok hebat di dalam hidupnya, orang tua yang tidak pernah meninggalkannya bahkan saat terpuruk sekalipun.
Syakilla sudah mantap dan siap dengan pilihan yang ia ambil, ia berharap bahwa semua akan berjalan sebagaimana mestinya. Sekali lagi ia berdoa dalam hati kalau kali ini ia tidak akan mengecewakan kedua orang tuanya lagi. Tidak akan mengecewakan keluarga besar Iskandar dan dirinya sendiri.
“Sudah selesai berpikirnya?” Tanya Mahmoud pada putrinya yang kini duduk sembari memeluk tubuh tuanya.
“Sudah, Bi.”
“Jadi apa keputusanmu, Nak? Ummi akan selalu mendukung itu, begitu pun Abi dan abangmu. Kan, Bi?” kali ini Hamidah yang bicara.
“Iya, Mi. Killa paham maksud keluarga baik dan pasti untuk masa depan yang baik juga.”
“Killa? Sejak kapan kamu menyebut diri dengan nama itu? Biasa Noura atau Sya untuk orang di luaran sana,” Murat menatap heran putrinya..
“Aah iya. Besok ada keluarga seorang lelaki yang mau datang untuk silaturahmi sama Abi dan Ummi.”
Syakilla menyembunyikan wajah bersemu merahnya di balik tubuh besar Mahmoud. Namun tindakan itu membuat Hamidah bergeser duduk di sisinya dan mengangkat wajah putrinya. Menangkup wajah Syakilla dengan kedua tangannya dan menatap dalam netra coklat itu. Mahmoud yang mengerti maksud ucapan Syakilla langsung tersenyum dan memberi isyarat pada istirnya untuk memeluk putri mereka.
“Jadi ternyata anak Abi sudah punya calon sendiri,” Mahmoud mengacak rambut Syakilla.
“Kurang lebih seperti itu, Bi,” jawabnya sembari menatap wajah orang tuanya bergantian.
“Jadi siapa dia?” tanya Hamidah penasaran.
“Namanya Fatih Ahmed Demerci,” wajah Syakilla semakin memerah karena tatapan menggoda kedua orang tuanya.
“Bukan orang Indonesia asli juga ya?” Tanya Mahmoud terdengar menyelidik.
“Setahu Noura dia keturunan Turki dari ayahnya, dan ibunya pribumi.”
“Kalian kenal di mana?” Tanya Mahmoud semakin penasaran.
“Di kedai kopi, Bi. Waktu itu dia nyamperin Noura ngajak kenalan, ya sudah nggak ada salahnya kenalan sama orang baru. Dia minta nomor ponsel.”
“Noura kasih?” tanya Mahmoud makin penasaran.
“Boleh Noura ceritain semua tanpa dipotong?”
“Tentu,” jawab Mahmoud sebelum menyesap teh panasnya.
Syakilla menelan salivanya sebelum menceritakan pertemuan dan perkenalannya dengan Fatih. Tentang lelaki yang baru dikenalnya dan dengan yakin mengajaknya menikah. Syakilla adalah gadis naif yang tahu apa itu cinta tetapi pengalaman berhasil membuatnya buta dan tuli akan cinta. Meganggap jika semua lelaki yang berusaha medekatinya adalah sama, hanya sandiwara dan ingin menyakitinya.
Tetapi berbeda dengan seorang Fatih yang baru ditemuinya dua kali, lelaki itu berhasil membuatnya keluar dari lubang hitam kecewa. Membuatnya berusaha untuk meyakinkan diri jika ia mampu untuk melangkah ke depan. Jika dengan Fatih ia bisa merasa bahwa pernikahan adalah sebuah pilihan yang tepat, maka Syakilla akan menjalaninya.
Cerita yang meluncur dari bibir tipis Syakilla berhasil membuat senyuman terbit di wajah tua Mahmoud dan Hamidah. Biasanya putri mereka hanya menampilkan senyum seadanya, karena mata gadis itu tidak bisa berbohong. Di sana ada luka, kecewa, dan kesedihan terpancar dengan jelas. Kini pasangan suami istri itu bisa bernafas lega karena pada akhirnya Syakilla sudah berani untuk melangkah menuju masa depan. Setidaknya saat ini putri mereka bisa berbesar hati menerima orang lain di dalam hidupnya. Bukan untuk lari dari dukanya selama ini, melainkan untuk menyembuhkan lukanya. Mungkin Fatih adalah jawaban atas doa yang mereka panjatkan pada Allah untuk mengembalikan senyum Syakilla.
“Abi bersyukur jika Fatih bisa membuatmu membuka diri.”
“Ummi harap kali ini Noura tidak akan kecewa Nak. Doa Abi dan Ummi serta abangmu selalu menyertaimu.”
“Terima kasih, Abi... Ummi...” Syakilla mendaratkan kecupan singkat di pipi orang tuanya.
Flash back off…