Hari ini menjadi hari yang cukup sibuk bagi Fatih Ahmed Demirci, sejak tadi pagi ia sudah berkeliling Kota Balikpapan untung mengurus beberapa hal. Saat ini Donny berperan sebagai supir pribadi bagi Fatih selama berada di Balikpapan. Lelaki berwajah oriental itu memacu mobil SUV hitam yang dikendarainya memecah jalanan Kota Balikpapan.“Sepertinya gue akan betah tinggal di sini, Bro,” ucap Fatih yang berhasil membuat Donny berpaling ke arahnya.
“Itu sih memang mau lo, secara lamaran lo sudah diterima Syakilla,” cibir Donny.
“Langsung ke bandara ya. Nanti Nyonya ngomel dan lo pasti nggak mau kan dengar suara cemprengnya?” Donny hanya terkekeh dan melajukan mobil ke arah bandara.
“SELAMAT DATANG DI BANDARA INTERNASIONAL SULTAN AJI MUHAMMAD SULAIMAN SEPINGGAN BALIKPAPAN”
“Nama bandaranya panjang bener,” ucap Donny saat melihat tulisan di pintu masuk bandara.
“Iya. Gue sampai susah nyebutnya, tapi katanya sih itu nama Sultan Kerajaan Kutai.”
“Ooh... Ya pantas lah panjang. By the way jam berapa pesawatnya landing?”
“Lo nanya gue?” Fatih mengerutkan kening ketika mendengar pertanyaan Donny.
“Ck. Lupa gue kalo di sini lo yang jadi bossnya”
Setelah memarkirkan mobil, kini kedua sahabat itu memilih untuk menunggu kedatangan keluarga Demirci di sebuah kedari kopi. Donny sejak tadi hanya bis menggelengkan kepala melihat tingkah sabatnya. Lelaki tampan bernama Fatih it uterus mengumbar senyum tanpa menyentuh gelas kopinya.
Flash back on
“Cih. Siapa lagi malam begini?”keluh Fatih sembari berjalan menuju pintu kamar hotelnya untuk melihat siapa yang mengganggu waktu istirahatnya.
“Ngapain lo ngetok kamar gue malam-malam begitu?” ketusnya ketika melihat siapa yang berdiri di depan pintu kamarnya. Donny, lelaki itu kini menerobos masuk ke dalam kamar tidurnya dengan ponsel masih menempel di telinga. Ia membneri isyarat pada Fatih untuk diam, namun sahabatnya yang keras kepala itu terus melancarkan aksi protesnya atas. “Lo nggak ngerti gue capek apa? Baru kelar nyoka ngoceh di hape, eeh ini lo lagi. Gue mau istirahat, besok keluarga gue dating buat ngelamar Syakilla. Jadi please biarkan gue istirahat,” cerocos Fatih tanpa mengindahkan isyarat yang diberikan oleh Donny.
“Nih Syakilla mau ngomong sama lo.”
Fatih terkejut ketika mendengar ucapan Donny, jika sejak tadi yang berada di balik sambungan ponsel Donny adalah gadisnya. Lelaki oriental itu jengah dengan sifat keras kepala sahabatnya, jadi lebih baik ia to the point sebelum Syakilla semakin shock dengan tingkah calon suaminya.
“Assalamu’allaikum, Pak Fatih...”
Fatih masih gelagapan ketika meletakkan ponsel Donny di telinganya. Jantungnya berdebar dengan sangat kencang karena saat ini gadis yang diinginkannya menghubungi.
“Wa’allaikum sallam, Killa. Ada apa?”
“Killa hanya ingin memastikan sesuatu?”
“Memastikan apa, Sayang? Oh iya bisa nggak perlu panggil Pak.” Donny yang mendengarnya langsung melotot dan mengacungkan tinju ke arah Fatih yang sama terkejutnya mendengar ucapannya sendiri.
“Tentang lamaranmu tadi siang? Apa itu serius?” Tanya Syakilla langsung tanpa basa basi, ia berusaha untuk tidak terpengaruh dengan panggilan ‘sayang’ yang diucapkan Fatih saat ini. Walau saat ini pipinya telah bersemu merah.
“Aku rasa Killa tadi sempat mendengar apa yang aku katakana ke Donny, kan?” pertanyaan Fatih untuk Syakilla saat ini sukses membuat Donny yang focus pada acara TV menghentikan aktifitasnya. Lelaki itu memperhatikan sahabatnya yang terlihat benar-benar jatuh pada pesona gadis introvert seperti Syakilla.
“Besok aku dan keluargaku akan ke rumahmu, jadi siapkan dirimu, ya, Sayang.” Mulutnya memang mau dicabein, terus saja manggil Syakilla ‘Sayang’. Fatih bergumam dalam hati sembari memukul pelan bibirnya. Kontrol dirinya lemah ketika berurusan dengan gadis ini.
“Baiklah. Killa akan bilang ke Abi dan Ummi tentang lamaranmu ini, karena tadi mereka bilang kalau Jiddi dan Jidda akan membawakan calon suami. Tapi karena tadi siang aku menerima lamaranmu, jadi perlu ku pastikan sekali lagi sebelum mengambil keputusan atas pilihan yang diberikan keluarga.”
Fatih menaikkan sebelah alisnya dan jelas ia terlihat tidak suka mendengar ucapan Syakilla tadi, bagaimana bias gadis yang diinginkannya akan dijodohkan dengan orang lain? Jiddi dan Jidda? Siapa mereka yang berani ingin merebut calon istrinya?
“Siapa itu Jiddi dan Jidda?” Tanya Fatih penasaran.
“Jiddi itu Abinya Abi terus Jidda itu Umminya Abi.”
“Ooh Kakek dan Nenek maksudnya. Jangan terima lamaran orang lain ya, aku sudah bilang ke keluarga soal kita. Besok mereka datang untuk ketemu orang tua Killa.”
“Iya, Killa paham. Sebentar Killa turun dan sampaikan pada Abi dan Ummi.”
“Turun? Killa nggak mau bunuh diri kan sayang? Jangan begitu dong cuma karena mau dijodohin.” Donny terkekeh geli melihat tingkah bodoh sahabatnya ini. Fix!!! Dia bodoh kalau sudah berkaitan dengan Syakilla. Dan gadis itu pun terdengar tertawa di seberang sana.
“Kamu ini lucu, aku pikir cool seperti di novel-novel CEO gitu. Ternyata menggelikan.”
“Kamu ya, awas loh nanti aku makin cinta kalau lihat kamu senyum dan tertawa. Jadi turun dari mana?”
“Sekarang lagi di kamar, lantai dua. Tadi lagi ngobrol sama Abi dan Ummi di lantai bawah. Terus langsung ke kamar cari nomor Pak Donny buat hubungin kamu.”
“Ooh syukur deh kalau begitu. Aku mau istirahat dulu ya, bilang saja ke Abi dan Ummi besok keluargaku datang. Assalamu’allaikum, Sayang”
“Wa’allaikum sallam...” Fatih mengembalikan ponsel Donny sembari berjingkrak kegirangan sambil memeluk Donny.
“Lo mupeng banget, bro. Parah!!!”
Flash back off
“Sudah, Bro. Jangan ngelamun mulu, pesawatnya sudah landing. Ke bawah yuk,” ajak Donny yang diangguki oleh Fatih.
Fatih menyibukkan diri dengan ponselnya sembari menunggu keluarganya keluar dari pintu kedatangan. Senyumnya terbit ketika ponselnya berbunyi, menandakan ada pesan masuk dari seseorang yang ia rindukan.
Syakilla N. Iskandar
Assalamu’allaikum. Keluargamu sudah datang?
Fatih Ahmed Demirci
Wa’allaikum sallam. Ini masih nunggu bagasi, pesawatnya baru landing.
Syakilla N. Iskandar
Alhamdulillah kalau begitu.
Fatih Ahmed Demirci
Begitu saja ya? Nanti kita having lunch bareng ya, perkenalan pertama sebelum nanti malam. Biar nggak terlalu kaku.
Syakilla N. Iskandar
Killa ikut saja. Tapi masih nunggu Pak Anwar selesai meeting dulu.
Fatih Ahmed Demirci
Gpp. Aku jemput nanti kalau sudah selesai. Even nggak hapal jalan sih.
Syakilla N. Iskandar
Nggak usah, Killa nyetir sendiri saja. Bilang aja di mana tempatnya.
Fatih Ahmed Dekisric
Yakin? Tempat yang kemaren saja enak, Sayang. Ya sudah sampai ketemu nanti ya. Assalamu’allaikum.
Syakilla N. Iskandar
Wa’allaikum sallam
“Senyam senyum mulu lo, Bro. Tuh mereka sudah dating,” tunjuk Donny pada keluarga Demirci yang baru saja keluar dari pintu kedatangan.
“Tante ini ya, kan Donny mau salim,” protes Donny ketika uluran tangannya tidak disambut oleh Riana yang langsung memeluk tubuh Fatih.
“Aduh! Maaf ya, Don, tante suka lupa. Maklum lah sudah tua kan,” Riana terkekeh geli melihat ekspresi cemberut Donny, sahabat putranya.
“Mom, Furqan lapar. Bisa nggak kangen-kangenannya nanti saja. Sudah pake izin sekolah juga loh ini,” Adik Fatih yang bernama Furqan menghampiri ibu dan kakaknya yang masih berpelukan. Abba Murat hanya tersenyum melihat kelakuan istri dan putra sulungnya itu.
“Lo nggak kuliah, Fat?” tanya Donny pada gadis cantik yang menggunakan jilbab merah.
“Nggak ada kelas sih kalau habis UTS, lagian Mommy heboh banget Kak Fatih mau lamaran. Ya sudah kepo kan gue, Bang, mau lihat calon istrinya.”
Fatih melirik tajam adik perempuannya yang bernama Fatimah itu sambil berjalan menuju gedung parker. Selama perjalanan dari bandara menuju restoran kedua adik Fatih sama sekali tidak bisa tenang. Bahkan Riana sudah berulang kali melakukan ceramah singkat kepada Fatimah dan Furqan yang jarang sekali akur. Sampai akhirnya kini keluarga Demirci telah sampai di restoran tempat Fatih melamar Syakilla, sebuah lamaran pernikahan yang jauh dari kata romantic. Tapi rasanya sudah cukup baik untuk membuktikan bahwa ia serius dengan masa depannya dan Syakilla.
“Calon istri Kakak ikutan makan siang sama kita nggak?” tanya Furqan penasaran.
“Iya, Sayang. Mom mau lihat, sudah penasaran nih. Ya kan, Ba?”
“Yes, she’ll join us for having lunch?”
“Iya, Ba. Killa masih nunggu atasannya selesai meeting katanya.”
“Lebih baik lo hubungin dia deh, daripada mondar-mandir dari tadi di depan gue. Bikin sakt kepala, iya,” tegur Donny yang sudah bosan melihat sahabatnya tidak bisa tenang menunggu kehadiran Syakilla. Tingkah Fatih kali ini tidak luput dari perhatian kedua orang tuanya yang saat ini tersenyum bahagia melihat jika putra mereka sungguh jatuh cinta pada gadis itu.
“Assalamu’allaikum. Sudah selesai meeting?”
“Wa’allaikum sallam. Sudah, ini masih nyetir mau ke sana. Dekat kok, tunggu ya.”
“Ya sudah kamu hati-hati ya. Aku tunggu di depan.”
“Ya. Assalamu’allaikum.”
“Wa’allaikum sallam.” Fatih kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku celana. Ia berjalan keluar restoran untuk menunggu gadisnya datang. Dengan kemeja lengan panjang yang digulung sebatas siku dan dua kancing teratas yang dibuka membuatnya menjadi pusat perhatian. Cuaca siang ini cukup panas menjadi semakin panas ketika melihat Fatih berjalan dengan gagahnya.
Tak berapa senyum Fatih merekah, ia melihat kea rah gadis cantik berwajah Timur Tengah tengah berjalan ke arahnya. Syakilla tampak sangat berkilau di matanya, penampilannya sederhana namun selalu berhasil membuat kerja jantungnya lebih cepat dari biasanya.
“Fatih sudah lama nunggunyna?” Tanya Syakilla dengan senyum hangatnya ketika melihat lelaki tampan calon suaminya berdiri di depan restoran untuk sekedar menunggunya.
“Baru kok. Yuk masuk, sudah ditunggu sama yang lain. Oh iya nanti kalau ketemu Abba biasa saja, dia ngerti bahasa Indonesia kok,” pesan Fatih saat sama-sama memasuki restoran bersama Syakilla.
“Assalamu’allaikum...” sapa Syakilla ketika langkahnya berhenti tepat di depan meja tempat keluarga calon suaminya berada. Ia langsung disambut ramah oleh keluarga Demirci, terutama ibu dari Fatih yang langsung berdiri dan memeluknya. “Wa’allaikum sallam, Sayang. Alhamdulillah akhirnya kita ketemu ya, Nak.”
“Terima kasih, Tante. Saya juga senang,” ucapnya sembari tertunduk malu.
“Jangan panggil ‘tante’ ya, panggil ‘Mommy’ saja seperti Fatih dan kedua adiknya.”
“Iya, Mom.”
“Senang berkenalan dengan gadis seperti kamu, Syakilla. Panggil saja saya ‘Abba’, saya Murat Demirci ayahnya Fatih. Dan ini istri saya Riana, kedua adik Fatih, Fatimah dan Furqan.” Murat memperkenalkan anggota keluarganya pada calon menantunya.
“Duduk di sini saja, Sayang.” Fatih menarik kursi di sampingnya untuk Syakilla dan membuat kedua adiknya heran karena kakak mereka berbeda dari biasanya.
“Kak Syakilla dan Kak Fatih pacaran?” Tanya Fatimah yang sedari tadi penasaran tentang kisah cinta kakaknya.
“Nggak, Dek. Malah ini kali ketiga ketemu, Fatih langsung ngajak nikah di pertemuan kedua.”
Keluarga Demirci terkejut mendengar penuturan Syakilla, bahkan mereka sampai tersedak air minum dan salivanya sendiri. Sedangkan Donny yang tahu ceritanya hanya menyeringai ke arah Fatimah dan Furqan yang menatap kakak mereka horror. Karena kedua adik Fatih itulah yang terlihat paling shock daripada kedua orang tua mereka.
“Kenapa kalian tersedak heboh begitu?” Tanya Fatih yang bersandar pada sandaran kursi sembmari melipat kedua tangan di depan d**a. Wajahnya terlihat kesal melihat tingkah heboh kedua adiknya.
“Kok Kak Syakilla mau sih sama Kak Fatih? Dia itu playboy dan mantannya banyak di Jakarta. Kalau dikumpulin sudah mirip JKT 48,” gerutu Furqan yang langsung dapat delikan tajam dari sang kakak.
“Mungkin karena dia Fatih,” jawab Syakilla santai sembari melirik Fatih dari ujung matanya.
“Alhamdulillah akhirnya anak Mommy bisa menemukan cintanya. Kali ini yang benar, puasa yuk, Ba,” ucap Riana bahagia.
“Puasa apa?” tanya ketiga anaknya bersamaan.
“Pasti Mommy kalian mau puasa nazar, karena Fatih sudah mau berubah dengan menikah,” jawab Murat menjelaskan pada ketiga anaknya.
“Memangnya Fatih satria baja hitam apa berubah?” celetukan ketus Fatih berhasil membuat Syakilla dan Donny mengulum senyum. Apalagi Syakilla yang baru tahu jika di balik sikap tenang calon suaminya itu juga memiliki sisi berbeda yang seperti ini. Lelaki itu begitu konyol dan cerewet, ia bisa tersenyum dengan hanya melihat tingkah konyol Fatih.
“Jadi Syakilla kerja apa, Nak?” tanya Riana penasaran.
“Syakilla asisten pribadi, Mom.”
“Ternyata kamu cerdas,” puji Murat pada calon menantunya yang sekarang tertunduk malu.
Makan siang hari ini cukup menyenangkan bagi Syakilla, karena ia bisa melihat kehangatan keluarga Demirci. Walau harus selalu mendengar percekcokan yang terjadi Antara Fatimah dan Furqan, juga cerah Riana untuk kedua anaknya. Sedangkan ketiga lelaki dewasa lainnya sibuk membahas mengenai bisnis.
***
“Lo deg-degan nggak sih mau ketemu calon mertua?” Tanya Donny penasaran yang berhasil emmecah kebisuan di kamar hotel Fatih.
“Ya deg-degan lah, apalagi ini pertama kali dalma hidup gue,” jawab Fatih setelah menghela nafas dalam.
“Sebegitunya banget lo ke dia.”
“Ya emang sekarang gue jadi b**o semenjak ketemu dia, pengennya deket dia mulu"
“Semoga ini akhir dari petualangan liar lo deh, bro.”
“Aamiin...”
Semoga kau gadis yang nantinya akan merubah hidupku jadi lebih baik. Syakilla Noura Iskandar...