Bab 5

1268 Words
Baru saja selesai melakukan makan malam keluarga dengan kedua orang tuanya, kini Syakilla sudah kembali menaiki anak tangga menuju kamarnya. Namun baru beberapa langkah ia tapaki ketika suara baritone Mahmoud terdengar di telinga, memanggil nama lengkapnya. “Syakilla Noura Iskandar, Abi mau bicara di ruang keluarga.” “Ya Abbati...” jawab Syakilla ketika ia berbalik dan berjalan menuju ruang keluarga mengikuti langkah orang tuanya. Jujur saja saat ini ia bingung kenapa Mahmoud memanggil nama lengkapnya seperti tadi, karena biasanya pria paruh baya itu hanya melakukannya ketika ia dan Syarief berbuat salah. Tapi setelah ia pikirkan lagi, kesalahan apa yang telah diperbuatnya sampai harus dipanggil seperti ini? Jantung Syakilla berpacu cepat dengan wajah pias karena tidak biasanya Mahmoud seperti ini, apalagi ia memang tidak melakukan kesalahan apapun. Sesekali diliriknya wajah Mahmoud dan Hamidah sekilas, tapi kedua orang tuanya terlihat biasa saja. Lalu ada apa? “Biasa saja, Nak. Abi mu mau bicara serius kali ini,” Hamidah membelai tangan Syakilla yang nampak gemetar. “Abi tidak marah pada Noura, jadi jangan takut. Noura ada berbuat salah pada Abi dan Ummi?” sikap tenang Mahmpud selalu berhasil membuat putri bungsunya menjadi lebih tenang dari kegugupannya. Pertanyaan Mahmoud tadi hanya mendapat jawaban sebuah gelengan halus dari Syakilla, membuat pasangan suami istri itu tersenyum melihat kepolosan putri mereka. “Kan Noura tidak buat salah apapun, jadi Abi tidak perlu marah. Hanya saja—“ “Jiddi dan Jidda bertanya kapan Noura mau menikah? Dan menyetujui untuk menikahkan Noura dengan cucu teman Jiddi.” Hamidah memotong ucapan suaminya yang belum selesai. Syakilla hanya diam tidak menanggapi ucapan orang tuanya, jujur saja ia bingung jika keluarganya secara mendadak ingin menjodohkannya. Di satu sisi ia mimbang untuk menerima perjodohan ini, di sisi lain ia telah menerima lamaran Fatih. Ia hanya menatap wajah kedua orang tuanya yang menuntut sebuah jawaban darinya. “Abi tidak memaksa Noura menerima usulan Jiddi dan Jidda. Hanya saja keinginan mereka untuk melihat Noura menikah itu sangat besar. Noura ingat kan Nak bagaimana sayangnya Jiddi dan Jidda? Semua keluarga juga sayang sekali pada Noura tanpa terkecuali. Dan Noura harus ingat, hanya satu cucu perempuan yang dimiliki keluarga Ali Iskandar. Yaitu Syakilla Noura Iskandar, putri Abi.” Ucapan Mahmoud yang panjang lebar tadi sukses mmembuat Syakilla terdiam, gadis itu hanya bias menundukkan kepala semmbari melihat jari-jari tangannya yang terpaut. Seluruh keluarga menginginkan pernikahannya, tapi bagaimana dengan hatinya? Bagaimana dengan lukanya yang masih tidak kunjung sembuh? “Lupakan semuanya. Lupakan dia dan segala kecewamu. Noura anak cantiknya Ummi pasti mampu untuk menjalani semua ini.” Hamidah menangkup wajah cantik putrinya dengan kedua tangan, menghapus bulir air mata yang luruh dengan ibu jarinya. Itulah sosok Syakilla yang sebenarnya, ia nampak tegar dan kuat di luar. Namun pada kenyataannya ia hanyalah sosok gadis rapuh, hati dan perasaannya terlalu lembut. Ia tidak mengizinkan orang lain untuk tahu sebesar apa rasa sakit yang pernah ia rasakan. “Abi, Ummi, Noura izin ke kamar sebentar. Ada yang mau Noura ambil dan nggak akan lama.” Syakilla beranjak meninggalkan orang tuanya yang menatapnya bingung. Kakinya melangkah pasti menuju kamar dan mengambil tas tangan yang biasa ia gunakan untuk bekerja. Ia mencari sesuatu dan sangat tergesa-gesa. Hingga matanya berbinar mendapati sesuatu di tangannya. “Nah... Ketemu!” *** Saat ini Fatih tengah beristirahat di kamar hotel setelah selesai makan malam, baru saja ingin memejamkan mata ketika mendengar ponselnya bordering. Dilihatnya nama yang ada di layar pemanggil, seketika itu juga senyuman terbit di wajah tampannya. “Assalamu’allaikum, Fatih...” “Wa’allaikum sallam, Mommyku yang cantik dan bohayyyy...” “Nggak sopan kamu. Mommy ini pakai gamis kamu bilang bohay bohay. Kamu pikir Mommy teman wanitamu yang hobi mabuk itu.” “Nggak perlu bawa-bawa orang lain kali, Mom. What happen? Why you call me?” “Anak ini memang nggak sopan, Ba... I cannot call him even I am his mother!” “Told him to being Mr. Soleh’s son...” suara Murat Demirci di balik Riana sukses membuat Fatih bergidik ngeri, karena ia sangat tahu seperti apa ayahnya. “Mommy pasti bilang yang macem-macem kan ke Abba. Bunuh saja Fatih sekalian, Mom, atau kirim ke Turki lagi saja deh biar Mom puas kalau Fatih jauh.” “Loh... Kenapa kamu yang ngambek sama Mommy? And about send you back to Turkey, we’ll not do it again. Kamu memang senang kan di sana banyak perempuan cantik dan seksi.” “Terserah Mommy saja deh. Jadi ini ada apa lagi? Fatih capek Mom hari ini banyak kerjaan, meetingdan urus kantor baru. Besok juga harus urus mess untuk karyawan,” keluh Fatih karena ibunya tidak langsung membicarakan hal penting. “Kasihan anak Mommy capek. Makanya cari istri sana biar ada yang ngurusin.” “Istri, Mom. Ingat! Bukan pembantu.” “Ya bukan pembantu memang, maksud Mommy itu ngurusin lahir batinnya kamu. Jadi kan tenang nggak kepanasan terus cari pelampiasa di luar. Apalagi kalau sampai parkir sembarang tempat. Mommy bisa jamin kamu disunat lagi sama Abba.” “Astaghfirullah, Mom. Biar begini Fatih masih bisa jaga diri kali. Nggak sampai parkir sembarang dan Mommy harus ingat kalau Fatih sudah punya calon.” “Calon jodoh yang nggak pasti kan? Tidak terima alasan dari wajah tampanmu itu Fatih.” “Ya Allah... Fatih serius, Mom. Tadi siang Fatih lamar dia dan kehadiran Mommy dan Abba ditunggu.” “Ya Allah... Abba... Fatih will marry, Ba... Our son is so gentle, Ba...” Dipikir sabun bayi apa ya gentle. Fatih mencibir ucapan Mommynya yang heboh bukan main. Kebayang kan bagaimana wajah senang Mommy yang mungkin sekarang sedang jingkrak-jingkrak tapi nggak pake salto. Kalo mau tulangnya patah semua karena osteoporosis. “Really, Fatih?” “Yes, Ba. I just ask her this afternoon, and she said wait our family come to visit and ask her parents.” “Alhamdulillah... So when we can meet her? W-wait... You said ask her this afternoon?” “Yes, Ba. Why?” “In real or?” “In real, Abba... She’s here in Balikpapan.” “Apa??? Perempuan Balikpapan? Bagaimana bisa? Kan ini kali pertama kamu ke Balikpapan, bagaimana bias kenal sama gadis sana dan ngelamarnya tadi siang?” Fatih menjauhkan ponsel dari telinganya ketika Riana mulai bertanya panjang lebar tanpa jeda, bahkan ia bisa mendengar ayahnya mendengus sebal. “Panjang ceritanya. Yang jelas Fatih sudah lamar dia dan yakin sama dia. Dan paling penting dia gadis baik-baik, Mom. Nyentuh tangannya saja Fatih nggak bisa.” “Bagus kalau begitu. Besok Mommy dan Abba akan ke Balikpapan buat ngelamar dia secara resmi.” “Seriusan, Mom?” “Iya. Sampai lupa kan Mommy, siapa nama gadis itu?” “Syakilla Noura Iskandar.” “Namanya cantik, semoga hati dan orangnya juga cantik ya.” “Insya Allah Mommy sama Abba pasti suka deh sekali lihat juga.” “Ya sudah kalo gitu. Mom mau minta Hamid beliin tiket buat besok berangkat ke sana sama Abba dan adik-adik kamu. Istirahat yang cukup ya, Nak. Assalamu’allaikum.” “Terima kasih, Mom. Wa’allaikum sallam.” Fatih tersneyum lega ketika mengakhiri sambungannya dengan orang tuanya. Ada rasa lega di hati setelah mengatakan bahwa ia telah melamar gadis yang diinginkannya. Walau di awal pembicaraan ada seikit drama dari ibunya yang gemar menonton sinetron Indonesia. Apalagi drama Turki yang berjudul ‘Elif,” Riana bisa menatap Paman Salim tanpa berkedip. Bahkan kerap kali Murat melancarkan aksi protes atas sikap istrinya, terlebih lagi ia merasa lebih tampan daripada pemeran Paman Salim saat masih muda. Senyuman itu seketika hilang dari wajah tampannya ketika mendengar bel kamarnya berbunyi, “Cih. Siapa lagi malam-malam begini?”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD