Part. 2 Pesanan

1039 Words
"Ehemm..." Sontak kedua koki menoleh bersamaan. "P-pak Aris!" Ucap mereka bedua "Memang dapur ini tempatnya bergosip ya? Cepat kerja, lihat tuh pesanan menumpuk." Ujar pak Aris lalu meninggalkan dapur. Para koki itu lantas fokus kembali ke pekerjaan mereka. Sedang kan di sisi Andre, ia sedang menyiapkan pesanan delivered bersama Wahyu. Di restoran tersebut tugas koki sudah ada masing-masing, ada yang khusus untuk tamu yang berkunjung ke resto dan ada yang memasak khusus untuk pesanan. Tugas Andre dan Wahyu adalah memasak untuk pesanan yang di antar. Sedangkan Hani dan Leo khusus untuk para pelanggan yang datang ke resto. Cantika sendiri di pekerjakan di kasir dan di bagian minuman. Karena tempat yang tidak jauh dari meja kasir, jadi ia memutuskan untuk di taro di bagian minuman. Cantika sendiri sering di ajak oleh pak Aris untuk berkunjung ke resto pusat. Di sana tidak terlalu banyak karyawan tapi sangat cekatan dan rapi. Kenapa harus Cantika yang di ajak, kenapa enggaj yang lain? Nah, karena Cantika itu cekatan dan dia mudah untuk berbaur dengan yang lain. Apalagi Cantika orang yang mudah paham jika di kasih arahan. Jam menunjukan pukul 11.30. "Sar, gantiin aku bentar ya. Aku mau antar pesanan dulu." Ucap Cantika memanggil Sarah. "T-tapi, Can?" Jawabnya gugup. "Udah gak apa-apa, aku udah bilag pak Aris tadi." Jawab Cantika menepuk bahu Sarah. Cantika lalu berjalan menuju dapur, ia melihat Andre dan Wahyu sedang memasukkan kotak yang berisi nasi itu ke dalam plastik besar. "Hei... Gimana udah siap?" Tanya Cantika "Udah, tinggal nganterin saja." Jawab Wahyu. "Yaudah ayo berangkat." Ajak Andre. "Biar sama aku saja, Can. Kamu di sini saja." Sahut Wahyu, Cantika dan Andre pun terdiam. 'Aish.. ganggu aja ni bocah!' gerutu Andre dalam hati. "Ah, yaudah kalau begitu. Tapi nanti kalau ada pesanan lagi gimana? Siapa yang masak?" Tanya Cantika. "Nah betul tuh, kamu di sini aja, biar aku sama Cantika yang nganterin." Jawab Andre. Wahyu hanya terdiam dia tak bisa berkata apa-apa lagi. Benar yang di bilang Cantika, jika dia ikut siapa yag akan memasak untuk pesanan yang lain. "Yaudah, kak Way. Biar aku sama Andre saja. " Ucap Cantika lalu mengambil beberapa plastik yang sudah tertata di meja. Cantika dan Andre segera membawa pesanan itu keluar resto. Ia mengendarai mobil yang di khususkan untuk mengantar makanan. Jarak resto dan kantor itu tidak lumayan jauh, menempuh perjalanan kurang lebih 25 menit jika memakai mobil. Setelah sampai, Cantika menurunkan semua pesanan dan mengantarnya masuk ke kantor tersebut. Cantika menuju bagian resepsionis. "Permisi, Mba. Saya mau mengantar makanan atas nama pak..." Ucap Cantika menggantung perkataannya. Resepsionis itu pun mengernyitka dahinya. "Aduh, pak siapa ya!" Lirih Cantika "Bagaimana Mba?" Tanya sang resepsionis. "Bentar Mba, ya. Saya ambil kartu namanya di mobil dulu." Ucap Cantika, lalu ia berjalan kembali ke mobil untuk mengambil kartu nama yang tertinggal. Sesampainya di parkiran, terlihat Andre yang desang berdiri di samping mobil. Melihat cantika kembali dengan kresek yang masih di tangannya ia segera menghampiri Cantika. "Kenapa kemabli lagi?" Tanya Andre yang berusaha mengambil katong kresek itu. "Gak apa-apa, cuma mau ambil kartu nama saja." Jawab Cantika "Emang nya gak kau bawa. Udah kamu tunggu di sini saja biar aku yang ambilin." Ucap Andre laku ia berlari menuju mobil untuk mengambil kartu nama tersebut. Andre pun menemukan kartu nama itu, lalu ia kemabli pada Cantika "Ini kartu nya. Lain kali itu yang teliti." Ucap Andre "Iya,iya .. yaudah aku masuk dulu." Jawab Cantika, lalu ia masuk kembali ke gedung besar itu. "Permisi, Mba." Ucap Cantika dengan senyum ramahnya. "Iya Mba. Ada yang bisa saya bantu?" Tanya resepsionis itu. "Ini Mba, saya mau ngantar pesanan atas nama Bapak Devan Marfino Axelle." Ucap Cantika menunjukan kartu nama. "Oh baiklah, sebentar saya hubungi dulu." Ucap resepsionis itu lalu ia menghubungi Bapak Devan. Setelah terhubung ia mengatakan jika pesanan sudah sampai. Lalu panggilan itu terputus. "Mari Mba, saya antar ke ruangan Bapak Devan." Ajak resepsionis itu. Cantika pun mengikuti langkah resepsionis. "Ini Mba, ruangan Bapak Devan. Beliau sudah menunggu di dalam." Ucap resepsionis itu. Cantika hanya mengangguk, lalu ia mengetuk pintu ruangan tersebut. "Permisi!." Ucap Cantika "Masuk!" Terdengar suara dari dalam ruangan. Cantika pun masuk. "Maaf pak, ini pesanannya!. " Ucap Cantika ketika ia masuk. Di dalam ruangan itu terlihat banyak orang. Cantika yang merasa tugasnya sudah selesai itu lalu berpamitan. Setelah ia keluar, tiba-tiba tangan nya ada yag menarik. "Tunggu!" Seru seseorang yang menarik tangan Cantika. Cantika pun menoleh. "Ada apa lagi pak?" Tanya Cantika. Ya orang yang menarik tangan Cantika adalah Devan. "Em... Boleh saya minta nomor kontak mu?" Tanya Devan to the point. "Buat apa pak?" Tanya Cantika kembali dengan mengernyitka dahinya. "Boleh apa enggak?" Ucap Devan "Maaf pak, saya tidak punya ponsel." Bohong Cantika. Cantika lalu pergi dari loby tersebut. Ia segera berjalan keluar menuju parkiran. Sedangkan Devan ia merasa malu saat tidak mendapat nomor ponsel Cantika. "Masa sih, anak jama sekarang gak punya ponsel." Guman Devan lirih. Lalu ia masuk keruangan untuk makan siang bersama rekan kerjanya. Disisi Cantika kini ia sudah kembali lagi ke resto dan bertugas kembali ke tempatnya. **** Sesuai dengan ucapannya pada sang Mama, malam ini catika akan lembur. Restopun tutup, semua karyawan di kumpulkan di ruangan untuk briefing. "Selamat malam semuanya. Maaf untuk malam ini mengganggu waktu istirahat kalian. Saya di sini tidak mau bertele-tele, saya langsung pada aintinya saja. Oke, saya disini aka membuka resto cabang di Semarang. Saya ingin salah satu dari kalian ikut saya ke sana untuk mensurvei tempat. Saya juga ingin salah satu dari kalian akan tetap tinggal di sana. Bagaimana, ada yang mau?" Tanya pak Aris pada semua karyawannya. Tapi tak ada jawaban dari mereka semua, Semuanya terdiam. "Kenapa jauh-jauh ke Semarang, Pak?" Tanya Cantika. "Hemm, karena saya dapat investor besar di sana. Dan salah satu investor itu memiliki gedung restoran yang tidak terpakai. Kemungkinan kita hanya perlu memperbaiki sebagian saja. Setelah itu semuanya masih bagus." Jelas pak Aris. "Bagaimana, apa ada yang mau?" Tanya pak Aris lagi. "Kak way saja pak, diakan lebih pakar untuk masalah menyurvei tempat " jawab Cantika. Wahyu yang mendengar ucapan Cantika itu langsung menoleh dengan tatapn tajam. Cantika yang meras di perhatikan itu hanya tersenyum simpul. "Kenapa gak kamu saja yang iku." Ucap Wahyu menujuk cantika. "Aku? Lalu ibuku dengan siapa?.... . . . . . . Hai kak chen lovers. Terimakasih untuk semuanya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD