Part. 3 Meeting

1030 Words
"Aku? Lalu ibuku dengan siapa?" Tanya Cantika "Sudah, begini saja. Wahyu kamu tinggal di sini. Biar saya dan Andre yang berangkat." Kata pak Aris Ucapan pak Aris sontak membuat Andre melotot keheranan. "Lah kok jadi saya?" Tanya Andre heran. "Daripada ribut, Ndre." sahut Leo. "Iya bener tuh, lagian kan kau ga ada tanggugan apa-apa." Sahut Hani juga "Tapi .." "Deal, jadi Andre yang ikut." Sela Cantika. Semua pun mengangguk setuju. "Deal.." ucap semua. "Yasudah, Wahyu kamu harus tetap disini. Tidur d sini selama saya dan Andre pergi ke Semarang. Dan untuk karyawan yang akan saya bawa ke sana untuk mengurus restonya. Besok kalau suda selesai kita akan briefing kembali. Saya rasa cukup, sekarang kalian boleh pulang." Ucap pak Aris. Semuanya pun bubar dan bersiap untuk pulang. Jam menunjukan pukul 22.25. Cantika yang ingin mengambil sepeda motor itu di panggil oleh pak Aris. "Can, sini dulu." Ucap pak Aris. Cantika lalu berjalan menuju ke atas pak Aris berdiri. "Ada apa ya, Pak?" Tanya Cantika. "Ini gajia kamu, maaf tadi saya lupa." Ucap pak Aris memberikan sebuah amplop berwarna coklat itu. "Ah, iya gak apa-apa pak. Makasih ya pak!" Ucao Cantika menerima amplop itu. "Oh ya, kalo ada kesempatan ajak lah ibumu makan di sini. Saya juga akan mengajak anak dan istri saya untuk berkunjung natinya." Kata pak Aris. "Sepertinya beliau tida akan bisa, Pak. Beliau sangat sibuk dengan kerjaannya. Tapi saya akan usahakan." Jawab Cantika polos. "Baiklah, pulanglah denga hati-hati." Kata pak Aris yang di agguki oleh Cantika. Pak Aris pun segera masuk kedalam mobil,dan Cantika segera melajukan kendaraannya. Di jalan raya Cantika merasa ada yang mengikuti sedari tadi. Hatinya menjadi waspada, pikirannya jadi kemana-mana. "Ya Tuhan. Semoga itu hanya orang iseng." Guman Cantika dengan mengendarai motornya dengan kecepatan sedang. Entah sial atau bagaiman, tiba-tiba ban motornya kempes. Cantika latas menghentikan motornya di pinggir jalan. Dan mobil yang sedari tadi mengikutinya itu juga berhenti. Pengendara mobil itupun keluar dari mobil, Cantika yang melihat itu menjadi takut dan gemetaran. Saat langkah orang itu mendekat, Cantika buru-buru berdiri dan ingin berlari. Namun sayang seribu sayang langkahnya kalah cepat dengan orang itu. "Hei, kamu mau kemanam aku bukan orang jahat." Ucap pria itu saat menarik tangan Cantika. Deg.... Jantungnya terasa panas, dadanya sesak. Ia benar-benar takut, Cantika hanya bisa memeluk tasnya dalam dekapannya. Ingin rasanya Cantika menoleh dan melihat muka orang itu, tapi ia takut. "Apa kamu tidak mengenali Ku?" Tanya orang itu. Barulah Cantika menoleh dan menghembuskan nafasnya secara kasar. "P-pak De-Devan!" Seru Cantika. Dengan jantung yang masih berdegup kencang. Orang tersebut adalah Devan, ia sengaja mengikuti Cantika untuk mengantarnya. Karena di rasa malam ini begitu sepi dan sunyi. "Bapak ngapain ngikuti saya?" tanya Cantika "Saya hanya ingin mengantarmu! Emang kamu gak merasa takut apa? Udah malam ini sepi, Jalan menuju rumahmu juga." Ucap Devan dengan santainya. "Ya t-tapi tak perlu kan mengagetkan saya." Ucapnya gugup. "Aku mengagetkan kamu?" Tanya Devan Cantika hanya mengangguk. "Bapak ini baru ketemu saya sekali tapi udah sok akrab deh." Ucap Cantika "Sekali kamu bilang?" Kata Devan. "Ya emang sekali kan. Cuma tadi siang." Jawab Cantika "Dua kali Can. Di resto dan di kantor ku." Ucap Devan membenarkan. "Sama saja sekali lah, Pak. Kan masih dalam hari yang sama." Ucapnya dengan tangan menyilang di d**a. Saat Devan ingin berbicara, tiba-tiba tangan Cantika membungkam mulut Devan. "Hustt... Kataya mau ngantar aku pulang, ayo ini udah malam, pak. Takut mama saya nyariin." Ucao Cantika degan tangan yang masih membungkam mulut Devan. Devan merasa jantung nya berdetak kencang itu hanya bisa memandang wajah Cantika. Sadar akan pandangan Devan, Cantika melepaskan tangannya. "Jangan m***m, pak. Inget umur." Ledek Cantika. "what about my age? Saya masih usia 27 tahun loh." Jawa Devan. "Iya kah? Tapi kok masih kaya bocah sih." Ucap Cantika dengan menahan tawanya. "Berati saya awet muda dong." Ucapnya dengan penuh gaya "Ieuhhh...." Bibir Cantika menyebik. "Udah ayo. Saya antar kamu pulang. Motornya biar di ambil sama asisten saya." Ucao Devan lalu ia memanggil Glen untuk turun. Setelah itu Devan mengajak Cantika untuk naik mobilnya dan mengantarnya pulang. Di perjalan semua menjadi hening, antara Cantika dan Devan. Saat Sampai di gang arah rumah Cantika, Devan memberhentikan mobilnya. "Dimana gang rumah kamu?" Tanya Devan memecah keheningan. "Didepan sana, Pak." Jawab Cantika menujuk gang dengan plakat jl. Antasari. Devan pun melajukan mobilnya kembali dan berbelok ke gang tersebut. Lalu ia bertnaya kembali. "Nomor berapa rumahmu?" "Nomor, 1*5 pak. Di depan sana." Jawab Cantika. Dan sampailah mereka di rumah Cantika. Cantika lalu turun dan di ikuti Devan. Cantika berterimakasih pada Devan, ia berpamitan untuk masuk namun Devan kembali memanggilnya. "Can,tunggu!" "Apa apa ya, Pak?" Tanya Cantika yang berbalik badan itu. "Em... Boleh saya minta nomor ponsel kamu?" Tanya Devan. "Pak, maaf. Saya beneran tidak punya ponsel. Saya hanya menggunakan ponsel dari resto saja. Dan itupun saya tinggal ketika saya pulang. Hanya di gunaka saat di restoran saja." Jelas Cantika. Devan menjadi kikuk, ternyata benar Cantika tidak memiliki ponsel. Devan mengira jika Cantika itu hanya berbohong, namun saat ia menanyakan untuk yang kedua kalinya, Cantika berkata jujur. Hati Devan kemudian tersentuh, "Maaf, saya kira kamu tadi bohong." Ucap Devan. "Tak apa, pak. Bapak bisa menghubungi nomor telepon rumah saya, pak." Ucap Cantika memberikan secarik kertas dengan bertuliskan nomor telepon rumanya Devan menerima itu, lalu Cantika pamit untuk masuk terlebih dahulu. Devan pun juga beranjak pergi dari rumah Cantika. Sepajang jalan ia hanya memandang kertas yang Cantika berikan. "Aku merasa bangga dengan gadis yang sepertimu, Can. Baru kali ini aku menemukan gadis yang polos sepertimu." Guman Devan. "Ada aja, gadis jaman sekarang tidak punya ponsel." Devan tersenyum kecil saat mengingat ucapan Cantika yang polos mengatakan tidak memiliki ponsel. Di rumah Cantika. "Kok baru pulang? Gak kedengaran lagi suara montornya." Ucap Mama Cantika saat melihat Cantika mengunci pintu "Ah, Mama. Ngagetin aja sih." Ucap Cantika. "Mana motormu, Can?" Tanya Mama "Anu, Ma. Motornya tadi kempes terus di bawa ke bengkel sama temen. Terus aku di anterin." Jawab Cantika jujur. "Gak bohong kan?" "Enggak, Ma. Buat apa Cantika bohong. Mama ka selalu mengajarkan kejujuran pada Cantika sejak kecil. Jadi Cantika itu enggak bohong, Ma." Ucap Cantika "Mama bangga sama kamu, Can. Semoga kedepannya kamu bisa sukses seperti..." Mama Cantika menggantung ucapannya, sehingga membuat Cantika penasaran. "Seperti siapa, Ma?....
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD