bc

CINTA BEDA DUNIA

book_age12+
0
FOLLOW
1K
READ
tragedy
scary
city
like
intro-logo
Blurb

Arjuna Wiyarman kembali ke kota kelahirannya setelah bertahun-tahun merantau. Dengan profesi sebagai seorang penyiar radio, Juna punya hobi lain yaitu bercerita horor. Juna membuka jasanya lewat email dan sosial media untuk terhubung dengan narasumbernya.

chap-preview
Free preview
1
Malam ini hujan kembali turun menggenangi jalanan Temanggung. Juna baru selesai dengan jam malamnya tepat di pukul 23.10. Sepi, itu suasana yang Juna rasakan begitu keluar dari ruangan siaran dan berpamitan kepada teman-temannya yang berjaga. "Musim kemarau tapi kok hujan muluk." Juna sedikit menggerutu namun segera urung saat ponselnya bergetar. Ada notif dari emailnya yang masuk. Cepat-cepat Juna menepi agar percikan air hujan tidak membasahi ponselnya. "Wah, gila! Bakal bergadang lagi nih kayaknya buat baca cerita ini." Juna baca pelan-pela kata demi kata yang dikirim oleh narasumbernya. Namanya Dewi, asal dari Magelang. "Dekat, sih ini kalau dari Temanggung." Juna berucap sendiri dan dibalas oleh angin yang bergesekan dengan ranting pohon tempat dirinya berdiri. "Halo, kak, karena jarak kita cukup dekat apakah memungkinkan untuk kita bertemu dan kamu bisa menceritakan dengan detail kisahmu?" Begitu balasan dari Juna. Bukan ingin membuang waktu, Juna tertarik dengan kisah yang Dewi kirimkan. Tentang pesugihan yang selalu wara wiri di kalangan masyarakat yang terus jadi bahan obrolan. Sebagian percaya namun sebagian lagi menyangkalnya. Menurut masyarakat yang berpikiran luas itu dinamai rezeki langit yang dipilih Tuhan kepada umatnya. Juna masukkan ponselnya ke dalam saku dan segera menghidupkan motornya. Gerimis masih rintik dan jalanan sepi dengan penerangan temaram membuat suasana kian mendukung. Juna lajukan motornya dengan pelan, dingin menusuk kulit dan desingan angin terus mengikutinya. *** Sampai rumah tepat di pukul dua dini hari. Juna belum menikah dan masih tinggal bersama kedua orang tuanya. Keputusan ini cukup sering jadi gunjingan para tetangganya tapi karena bapak Juna, Wijoyo Wicaksono punya nama dan tameng di desanya, semua orang cuma bisa nunduk dan mengangguk. Lalu membicarakan di belakangnya seperti yang biasa dilakukan. "Kamu malam banget pulangnya, nak?" Ibu Juna, Atikah Permadi bertanya dengan suara serak khas bangun tidur. Ibu Juna tutup kembali pintunya setelah Juna masuk dan duduk di kursi ruang tamu dengan senyuman kecil. "Kan udah biasa Juna baliknya malam bu. Ibu kebangun atau sengaja nggak tidur?" Juna adalah anak tunggal yang sangat disayangi orang tuanya. Karena hal itu juga orang tuanya tidak pernah memaksa Juna untuk menjadi apa yang kedua orang tuanya maui. Sejak kecil Juna selalu dibebaskan soal pilihan termasuk pendidikan dan karirnya. "Kebangun, ibu denger suara motor kamu. Udah makan?" Ibu Juna bersiap menuju dapur namun urung saat Juna menjawab sudah makan sebelum siaran. "Ibu lanjut istirahat lagi aja. Di luar dingin, hujannya awet. Aku mau ngopi sambil ngurus kerjaan yang belum selesai." Ibu Juna tidak punya pilihan lain selain masuk kembali ke dalam kamarnya. "Jangan malam-malam tidurnya." Ini sudah dini hari malahan. Tapi Juna hanya mengangguk dan mengeluarkan ipadnya. Kembali membaca cerita dari kiriman beberapa hari yang lalu yang belum sempat dirinya selesaikan. *** Sore di hari sabtu Juna ada janji temu dengan narasumbernya. Masih dari sama-sama temanggung hanya beda kecamatan. Juna ajak bertemu di kafe dengan suasana tenang dan nyaman. Tempatnya juga sepi agar narasumbernya bisa leluasa meluapkan perasaannya. "Mas Juna, ya?" Juna yang sedang menyeduh es kopinya langsung meletakkan gelasnya saat seorang perempuan dengan jilbab hitam dan pakaian serba hitamnya berdiri dengan kikuk. Juna mengangguk. "Iya, mbak Wita, ya? Duduk mbak duduk." "Maaf ya mas jadi nunggu lama. Tadi macet ada kecelakaan di dekat rumah sakit itu." "Iya mbak nggak apa-apa. Mau pesan apa?" Juna angkat tangannya meminta waiters untuk datang ke mejanya. "Pesan makan dan camilan juga mbak." Waiters berikan buku menunya dan siap mencatat apa-apa saja yang akan Wita pesan. "Es kopi americano sama kentang goreng aja mas." "Yang lainnya mbak nggak apa-apa, santai aja. Ini kita bakal lama dan panjang nanti ngobrolnya." Wita gelengkan kepalanya. "Nanti kita bisa pesan lagi aja mas. Aku udah makan siang jadi masih kenyang." Juna tidak bisa memaksa lagi dan setelah pesanannya di tulis waiters, obrolan seperti yang telah Wita kirimkan lewat email di mulai. "Ini di mulai sejak kapan mbak?" tanya Juna mengeluarkan tape recordnya dan meletakkan di meja. "Ini nanti saya up di akun hijau ya mbak. Sebelumnya untuk segala izin apakah mbak Wita udah membaca dan nggak keberatan buat saya up?" "Aman mas. Buat semua perjanjian dan izin udah aku kirim balik ke emailnya mas Juna. Nah untuk kisah ini tepatnya kapan aku lupa mas. Kejadian ini lumayan terkenal di desaku. Sebelumnya aku pindahan ya mas ke Temanggung ini. Alasan keluarga kita pindah karena udah nggak nyaman aja di desa itu." "Oke, untuk desanya mau mbak samarkan atau tetep di sebut aja?" "Samarkan aja mas." "Yang aku baca dari cerita yang mbak Wita kirim ini menarik juga loh mbak. Karena selama ini cerita tentang pesugihan cuma wara wiri doang dan beberapa orang aja yang bisa ngelihat kejadiannya. Yang benar-benar punya kemampuan khusus." "Benar mas. Nggak semua orang bisa lihat kejadian ini. Seingatku, waktu itu aku masih kelas 4 atau 5 SD. Namanya juga anak-anak, pulang sekolah pasti main sebelum sorenya kita pergi sekolah sore. Teman juga nggak cuma dari 1 RT tapi dari mana-mana aja. Paling sering aku main ke sungai, mandi di sana dan sesekali panen kresem. Mas Juna tahu, 'kan buah kecil-kecil yang manis itu?" "Iya mbak tahu. Itu juga zaman kecil saya suka banget manjat sampai ke ujung buat ngambilnya." Juna dan Wita sama-sama tertawa. "Kalau mau main ke sungai itu kita pasti lewat rumah orangnya mas. Dan nggak tahu kenapa aku selalu nggak bisa mutus pandangan lewat rumah itu. Antara aku kagum dengan bentuk rumahnya yang bagus, maklum dulu rumahku di sana masih belum keramikan mas. Jadi aku ngelihat rumah bagus, bersih dan gede berasa kayak mewah banget. Tapi anehnya kayak serem aja aku lihatnya mas." "Mbak ngelihat sesuatu?" Juna bertanya sambil menuliskan beberapa noted penting yang akan dirinya resume setelah cerita ini selesai. "Nggak secara detail. Tapi aku ngerasain rumah ini kelihatan penuh. Pas aku lewat sana kayak ada suara banyak orang tapi nggak kelihatan. Kayak ada aktivitas yang nggak bisa dilihat sama mata t*******g. Anak-anak seumuranku waktu itu juga ngerasain yang aku rasain." "Oh ya anak-anak ini biasanya punya kepekaan yang orang dewasa nggak punya ya mbak." "Iya mas, beberapa temenku ada yang bisa lihat. Pernah waktu itu ada kejadian heboh yang bikin satu kampung gempar. Ada yang meninggal secara mendadak dan berurutan. Jaraknya cuma beberapa hari aja dan itu yang tinggal di daerah dekat rumah itu. Masih saudara tapi jauh. Saudara dari nenek mereka." "Sakit ya mbak meninggalnya?" "Itu jadi alasan utamanya mas makanya banyak yang nganggap ini wajar aja. Tapi pihak yang meninggal itu punya anak cacat yang bisa ngelihat hal-hal gaib kayak gini. Anak itu lewat di sana waktu sore hari sama ibunya. Terus ini anak bilang, 'ma, itu ma ada papa di sana. Papa lagi kerja, ma. Papa nggak meninggal' di anak nunjuk-nunjuk ke arah rumah itu dan pemiliknya yang ngelihat langsung melototin ini anak. Nggak lama kemudian ini anak meninggal dengan alasan yang sama." "Jadi bagi siapa pun yang tinggal di daerah itu yang bangun rumah atau ngontrak di rumahnya bakal meninggal juga ya mbak?" "Iya mas, yang kerja jadi karyawannya juga bakal meninggal nggak jelas. Dalam artian beberapa dari mereka jadi tumbal." "Biasanya tumbal pesugihan ini, 'kan dari pihak keluarga, ya mbak. Anak kandung, cucu atau mungkin cucu yang belum lahir bakal jadi tumbal juga." "Udah mas tapi kayaknya perjanjian ini bebas buat tumbalnya. Asalkan sesuai sama yang dimau dan diminta makhluknya harus tersedia dan ada. Nggak pandang bulu apakah masih anggota keluarga atau bukan. Kejadian ini nggak sampai di sini aja mas. Akhirnya keluargaku mutusin pindah karena kita jaga-jaga aja siapa tau bakal jadi sasaran selanjutnya." "Keluarga mbak Wita sendiri ada yang dekat dengan keluarga mereka?" "Ada. Aku punya mbak sepupu yang berteman sama anaknya tapi untungnya sampai hari ini dia aman-aman aja. Mbak sepupuku ini orangnya humble jadi gampang berteman sama siapa aja. Kabar terakhir yang aku terima dari keluarga ini pas tahun 2020. Ada kebakaran pasar, kios mereka sebagian aman dan anehnya uang yang di dalam kotak penyimpanan nggak kebakar sama sekali, masih utuh." Juna berhenti menulis di notednya. Mencerna omongan dari Wita yang menurutnya kurang masuk akal. Tapi bisa jadi kotak penyimpanan uang di simpan dalam besi tahan api. "Di simpan di besi mbak?" Juna ajukan tanya guna menjawab rasa penasarannya. "Kotak kayu biasa mas." Wita keluarkan ponselnya dan menunjukkan gambar yang dimilikinya. "Kayak gini mas." Juna semakin heran dengan kening berkerut. "Bisa gini, ya?" Wita gelengkan kepalanya. "Kalau kata orang yang berpikir positif ini cara Tuhan melindungi harta benda umatnya mas." Meskipun begitu Juna tetap keheranan. "Ini kejadian lima tahun yang lalu ya mbak. Setelah itu apa yang terjadi mbak?" "Bisnis mereka semakin lancar. Setelah kejadian kebakaran pasar itu mereka buka bisnisnya di rumah dan pelanggannya berdatangan. Kadang ini itu nggak masuk di akal sih mas. Tapi aku punya rasa takut setiap lewatin rumah itu." "Itu juga yang bikin mbak dan keluarga mutusin pindah?" "Puncaknya pas aku dapat mimpi nggak wajar. Awalnya aku pikir ini cuma mimpi biasa tapi kejadiannya terus berulang. Aku bilang ke bapak dan untungnya bapak gerak cepat menghubungi temannya yang ustadz. Sampai akhirnya aku di ruqyah karena ternyata aku udah diincar sama makhluk suruhan mereka. Katanya darahku wangi dan mereka suka." "Aku pernah dengar di mitos masyarakat kalau weton dan hari lahir seseorang itu punya nasib dan penentunya masing-masing." "Benar mas. Kebetulan keluargaku masih percaya yang kayak gitu juga. Setiap mau lakuin apa-apa digelar acara selamatan dulu di rumah bahkan hari lahirku atau wetonku selalu dibuatin acara sama ibuku. Sederhana aja, sih dan aku nggak bisa nolak." "Mbak merasa dirugikan nggak sama kepercayaan kayak gini?" "50:50 mas karena aku pernah punya riwayat kelam diincar jadi aku nggak bisa nolak." "Yang kamu dapat dari cerita ini apa mbak?" "Lebih banyak bersyukur dan lebih dekat ke Tuhan mas." Cerita dari Wita usai seiring kelamnya malam menyelimuti Temanggung. Beruntungnya hujan tidak turun. Juna dan Wita kembali ngobrol santai. "Jadi secara garis besar mbak bisa ngelihat yang nggak orang lain lihat, ya?" "Benar mas tapi aku lebih banyak kontrol diri aja daripada hal-hal yang nggak aku inginkan terjadi. Mas jUna tahu nggak kalau ada yang suka sama mas?" Juna yang baru saja memasukkan mendoan ke mulutnya cepat-cepat mengunyahnya. "Hah, maksudnya mbak?" Seingat Juna selama berinteraksi dengan Wita tidak pernah membahas masalah pribadinya. "Iya, ada mas. Cewek, cantik, putih, tinggi, rambutnya panjang. Dia kelihatan kesengsem sama mas loh. Tapi sayangnya kalian beda dunia."

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Kusangka Sopir, Rupanya CEO

read
35.8K
bc

Jodohku Dosen Galak

read
31.1K
bc

(Bukan) Istri Simpanan

read
51.4K
bc

Takdir Tak Bisa Dipilih

read
10.3K
bc

Pacar Pura-pura Bu Dokter

read
3.1K
bc

Desahan Sang Biduan

read
54.2K
bc

Silakan Menikah Lagi, Mas!

read
13.5K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook