5. Tanpa Ekspresi

2141 Words
Apa dia hanya diciptakan untuk menjadi patung hidup? Atau bayangan majikannya? Batinnya, sambil menatap Damian yang berdiri di balkon kamar Auris, setia mengamankan keadaan, melindunginya. Sementara sang Tuan Putri sedang menikmati sarapan di meja khusus di kamarnya. "Ada apa, sayang?" tanya Freya ketika menemukan bola mata putrinya terus tertuju pada bodyguard-nya. "Mom? Aku lagi merhatiin Damian, dia betah ya, kayak patung gitu, senyum aja enggak," kata Auris sambil pelan-pelan melanjutkan sarapan. "Mereka sudah terlatih, terbiasa seperti itu, sayang. Kamu jangan khawatirkan apa pun, dia bisa diandalkan, dan sangat bisa dipercaya. Om Krisna sudah menceritakan semuanya," jawab Mommy-nya. "Eh-he, kok aku nggak tahu ya Mom, selama ini Om Kris punya ponakan--?" seganteng itu..., lanjut hati Auris. "Mom sama Dad juga nggak tahu soal itu, sayang. Om Krisna baru ceritakan semua tentang ponakannya itu kemarin untuk bisa meyakinkan Daddy. Kamu tahu Daddy nggak akan sembarangan memilih siapa yang akan ada di samping kamu setiap detik, melebihi Mom dan Dad, kan?" Freya terus saja membelai rambut putrinya yang panjang saat bicara. Auris menganggukkan kepalanya dengan pelan, "Aku tahu Mom." "Baguslah kalau begitu. Oke, sekarang Mommy mau temenin Daddy meeting bersama dengan orang-orang kepercayaan Daddy demi untuk mengetahui siapa kira-kira yang menjadi musuh dalam selimut di keluarga kita. Itu seandainya saja jika si peneror itu adalah orang yang sangat mengenal atau bahkan dekat dengan Daddy. Kamu mengertikan, sayang?" tutur Freya. "Mengerti Mom. Jangan khawatir karena aku sudah memiliki bodyguard," kata Auris untuk menenangkan Mommy-nya. "Mommy akan selalu telepon kamu nanti, bye sayang." Freya mencium putrinya sebelum pergi. "Bye Mom, kiss aku buat Daddy," balas Auris. "Oke." Freya meninggalkan putrinya. Pintu ditutup. Dia, Auris masih saja memperhatikan tubuh tegap yang berdiri tak begitu jauh di sana membelakanginya entah sejak kapan, seperti tidak bergerak. Seperti patung. Sambil memandang patung itu, ia menikmati coklat hangat di gelasnya dengan sendok kecil. Terus seperti itu, hingga akhirnya hanya terpaku, dan bibir melukiskan senyum dengan sendirinya. Sambil terus menelan coklat yang menghangatkan paginya, Auris terus menerjemahkan senyum apa yang sedang ia rasakan sekarang ini. Menghirup kemudian menelan lagi coklat di mulutnya, tersenyum lagi, menggeleng sesekali saat memandang patung gagah di hadapannya itu. Tanpa terasa sudah hampir satu jam ia seperti itu, sedangkan sarapannya belum juga dihabiskan. Oh, no... dia berbalik, aku ketahuan! "E, ehm!" Damian mengangkat gelas kopinya. "What?" Auris menatap tanya karena pria itu berdiri tepat di hadapannya sekarang. "Nona, silahkan mandi sekarang, ini perintah," ucapnya kepada Auris, tanpa ekspresi. "Aku belum selesai, Dami. Kamu mau sarapan, aku akan suruh bibi antarkan kalau kamu mau." "Sudah, jauh sebelum Nona bangun. Silahkan habiskan, setelah itu mandi." "Aku nggak kuliah pagi setahuku," jawab Auris lagi dengan santainya. "Jam delapan tiga puluh Nona akan ke rumah Sean Sahab. Dan ini sudah jam delapan tepat, Nona," dikte Damian mengingatkan. "Astaga...!" gumam Auris dengan melempar pandang ke samping. "Aku lupa." "Pak Raja sudah menjadwal semua kegiatan Nona Auris hari ini kepada saya, dan saya diperintahkan untuk mengingatkan, dan memastikan semua akan berjalan dengan tepat, Nona." "Oke." Auris memasang senyum di wajahnya, sementara dia belum juga tersenyum sedikit pun kepada Auris. Dia lalu kembali ke balkon setelah selesai dengan kata-katanya, dia menutup pintu balkon yang berbahan kaca yang tak akan bisa terlihat dari luar, jadi selama pintu tertutup dia tidak akan bisa melihat Nona-nya sedang apa di dalam. Sedangkan sebaliknya dari dalam, Auris bisa melihat dengan jelas apa yang nampak di luar sana. Dia gadis yang cantik sekali. Tapi dia..., ya, dia layaknya Tuan Putri, dan aku hanya pengawalnya. Kau harus profesional Damian, jangan main perasaan. Damian membatin, meneguk saliva yang terasa sulit, kedua matanya pun lalu memejam sesaat. Auristela menurut saja dengan peringatan dari bodyguard-nya, padahal ia tidak suka jika sehabis makan langsung pergi mandi. Auris berendam di bath tub, tak peduli akan telat untuk ke rumah Sean nantinya. Merelakskan sejenak tubuhnya dari sisa ketegangan tadi malam. Ini memang seperti mimpi, aku berada di tengah ancaman yang sangat menakutkan. Dan dia... datang seperti pangeran pahlawanku. Harusnya ini sangat menegangkan--melihatnya justru... berharap ini akan jadi sebuah petualangan yang menyenangkan. Setelah merasa cukup lama berendam Auris pun segera menyudahi kegiatannya di kamar mandi mewahnya. Ia kemudian berpakaian setelah menyelesaikan mandinya. Memakai dress sederhana saja tetap terlihat mewah di tubuhnya. Teringat hal paling penting yang membuatnya tak dapat menghubungi semua teman terutama ketiga sahabatnya, Jeny, Sean, dan Sasya. "Handphone-ku, Daddy belum kirim gantinya, Astaga. Pasti banyak yang menghubungi aku. Pinjam saja punya Damian." Dengan bibir senyum Auris melangkahkan kakinya tanpa alas untuk menemui Damian di balkon, masih dengan handuk kecil yang ia gunakan untuk mengeringkan rambutnya. Auris mengetuk pintu beberapa kali. "Dami, bisa buka pintu sebentar?" "Nona mau apa?" Dami bertanya tanpa berpaling. "Aku pinjam hape kamu, bisa?" tanya Auris kemudian. "Oke, sebentar Nona." Dia hanya menjulurkan handphone dengan posisi pintu yang sedikit saja terbuka. "Dami plis, biarkan aku di luar, plis...," pinta Auris suaranya penuh permohonan membuat Damian tak tega untuk menolaknya. Damian memandang nonanya cukup lama, tak tega melihat wajah melas itu. Damian lalu mengangguk kepalanya pelan. Ia membuka pintu lebih lebar tanpa bicara. "Aku rasa di sini saja cukup aman," ucap Auris sambil bersandar di sisi dinding kanan kamarnya. Dengan sigap Damian menghadang tubuhnya dari arah balkon. "Apa nama kontak Daddy di sini?" tanya Auris. "Pak Raja," sahut Damian singkat saja. "Oke, trims," ucap Auris sambil menempelkan ponsel Damian tadi di telinga kanannya, ia memandang punggung Damian yang sangat tegap menjaga di depannya. Jelas dia sangat sering berolah raga. "Dami, apa kamu nggak pegal?" tanyanya sambil menunggu panggilan diterima. "Tidak. Aku sudah terbiasa, Nona," jawab Damian bergeming. "Halo, Damian?" terdengar suara Daddy-nya dari seberang. "Daddy ini aku," sahut Auris. "Ada apa sayang?" tanya Raja ketika yang terdengar adalah suara dari putrinya. "Daddy kirim ponsel baru aku ke rumah Sean. Aku akan ke sana setelah telepon Daddy. Aku nggak bisa komunikasi dengan temanku tanpa ponsel, Dad." "Oke, sayang. Mau tipe apa?" tanya Raja. "Merk yang sama dengan punyaku kemarin, tapi dengan tipe terbaru, aku mau yang warna biru," jawab Auris dengan nada manja ciri khasnya. "Oke. Daddy akan suruh orang kirim ke rumah Sean. Kamu gimana sayang, nggak merasa takut atau bagaimana?" tanya Raja memastikan keadaan putrinya. "Nggak Daddy, ada Damian aku merasa ...," mau bilang cukup tapi aku merasa sangat nyaman, maksudku aman, "aku rasa sangat aman kok, Dad." "Oke, kalau begitu Daddy sedikit lega. Berikan ponselnya pada Damian, sayang." Auris pun lalu menjulurkan ponsel pada Damian, "Daddy mau bicara," katanya memberitahu. Dami menerima tanpa berkata apa pun kepada Auris. "Ini aku, Pak." "Dami, cek mobil sebelum dipakai. Khusus untuk Auris saat ini, pakai Limosin. Itu yang paling aman," perintah Raja. "Baik, Pak." "Oke, aku percaya kamu dapat melakukannya." Telepon pun berakhir. Auris masih memandang punggung gagah di sisinya dengan bibir senyum dan kedua tangan yang terlipat dengan anggun. "Bersiaplah ke rumah Sean, Nona." Sekali lagi, inginnya aku menurut saja setiap kali mendengar perintahnya. "Okey." Pandangan mata mereka sempat bertemu saat Damian membukakan pintu, aroma sampo yang baru saja dipakai Auris pun masuk ke rongga hidung Damian. Rambut yang basah itu membuat Auris terlihat segar. Dia segera mengunci pintu setelah Auris masuk ke dalam kamar. "Katakan padaku kalau Nona sudah akan turun!" seru Damian sedikit berteriak. "Oke," sahut Auris dari balik pintu. Auris hanya mengenakan blazer untuk melapisi dress, lalu memakai sepatu kets, memoles wajah dengan make-up sekenanya saja, dan membawa tas berisi peralatan kuliah. Ia akan langsung kuliah bersama Sean dan yang lain. Setelah selesai Auris pun mengetuk pintu, "Dami aku turun sekarang!" katanya kepada Damian. "Siap, Non!" sahut Damian. Damian pun turun melalui tangga yang menghubungkan ke ruang olah raga menuju ruang lainnya. Mereka lalu bertemu di tangga. Damian menjulurkan tangan kepada Auris. Tanpa ragu Auris pun menyambut tangan bodyguard-nya itu. "Hai, siap nemenin aku ke mana pun, mulai hari ini, bodyguard?" tanya Auris setengah bercanda. "Siap, Non. Um, mobilnya ada di mana? Pak Raja bilang, Non harus naik Limosin." "Di garasi, ikut aku." Auris menarik tubuh besar itu bersamanya. Mereka menuju sebuah ruang di samping ruang olah raga. Auris menekan tombol dengan kode yang tentu ia ketahui, dan seketika pintu terbuka ke atas. Damian masuk mengikuti Auris pandangan matanya berkeliling, takjub pada apa yang ada di dalam garasi. Ada 20 unit mobil mewah berharga milyaran dengan berbagai tipe dan merk. "Mobil Nona yang mana?" Auris tertawa kecil, menggeleng. "Punya aku cuma satu, Lamborgini Aventador SV dengan body wraping warna pink. Kado ulang tahun aku yang ke dua puluh dari Daddy. Selebihnya punya Daddy, tentu saja." "Luar biasa," ucapnya. Akhirnya ia bisa tersenyum meski segaris tipis. Cukup lama mereka saling tatap. Sedangkan aku hanya punya Harley dan mobil murahan di rumah. Pikirnya, menggaruk kening. "Um, Non, seperti perintah Pak Raja kita akan menggunakan mobil Limosin demi untuk keamanan Nona. Non, mana kunci Limosinnya?" tanya Damian. "Oh, sorry... sorry. Tunggu." Auris kembali menekan tombol sebuah loker kecil yang menggantung di dinding. Berjajar banyak kunci mobil di sana. Auris lalu mengambil kunci mobil yang akan mereka pakai sekarang kemudian menutup loker itu lagi. Bibir Auris tersenyum melihat Damian yang sedang memperhatikan mobil miliknya yang tadi ia sebutkan. Tetap tanpa ekspresi. "Aku masih belum terlalu berani untuk membawa mobil itu sendiri. Kadang..., aku pakai untuk jalan-jalan atau pun pergi ke kampus, tapi teman aku yang bawa." Memberikan kunci padanya yang langsung menerima, lagi-lagi tanpa ekspresi. Damian berjalan menuju mobil, sedangkan Auris menuju pintu keluar garasi untuk menekan tombol pembuka pintu garasi. "Nona, tunggu!" kata Damian mencegah dengan sedikit berteriak. Tapi terlambat, Auris sudah menekan 4 buah angka dan secepat itu pun pintu garasi otomatis terbuka. Segera saja Damian masuk ke dalam mobil dan menyalakan dengan cepat kemudian berhenti tepat di pintu. Kemudian ia turun untuk membukakan pintu mobil untuk Nona Auris. "Damian jangan terlalu tegang seperti itu, kita ini sedang berada di rumah, dan di luar sana banyak penjaga," tegur Auris mengingatkan. Dia, Damian tak menjawab, yang dia ketahui hanya keselamatan dari Nonanya. Ia lalu mengecek ke sekeliling mobil sebelum masuk kembali ke dalam mobil. "Pakai sabuk pengamannya, Nona." Damian mengingatkan Auris kemudian menjalankan kembali mobil dan pintu garasi pun otomatis tertutup. "Jangan ambil risiko, Nona. Aku harus selalu menghadang tubuhmu dari mata penjahat itu. Kita tidak pernah tahu di mana dia mengintai, sekali pun kita sedang berada di rumah dan dijaga ketat, aku akan tetap menjaga Nona. Dia bisa saja menembak dari jarak yang tidak kita sangka." Menoleh sesaat, berhenti di gerbang yang sedang di buka oleh penjaga. "Maaf Nona, bukan ingin menakuti tapi... aku ingin agar kamu bisa mengerti situasinya seperti apa." "Aku mengerti ... Damian. Dia memang benar-benar mengincar aku. Ingin melihat Daddy hancur dengan cara itu. Licik," ucap Auris, kesal. "Kamu akan aku jaga--lebih dari nyawa aku sendiri, Nona," katanya tanpa melihat Auris. Sementara Auris memandang kagum, seketika rasa takutnya hilang mendengar perkataan dari bodyguard-nya itu. Damian... ___ Hari masih gelap, Damian menahan kantuknya demi tugasnya, ia pun kemudian melakukan olah raga ringan untuk menghilangkan rasa kantuknya. Tugas ini terasa berbeda bagi dirinya pribadi ketika ia bertatap muka dengan gadis yang akan ia jaga. Ketika melihat mata itu, mata yang menyimpan rasa takut. Mata indah itu, mata yang berharap untuk dilindungi, Damian langsung menetapkan hatinya untuk menjaga gadis itu dengan segenap jiwa dan raga, dengan mempertaruhkan nyawa. Ketika Krisna, pamannya, meminta Damian untuk datang ke Indonesia untuk meminta pertolongan padanya, Damian tidak pernah mengira bahwa ia akan bertemu dengan gadis yang memiliki mata dan wajah yang indah. Dan gadis itulah yang akan ia jaga sebagai mana tugasnya menjadi seorang bodyguard pribadi. Ada yang berbeda yang ia lihat dari senyum dan tatap mata gadis itu. Sesuatu yang membuat orang lain akan rela menuruti permintaannya. Akan rela melindunginya dari segala bahaya. Seseorang menghampiri Damian, tubuhnya tak kalah atletis. Ada nama di d**a kirinya. Firman. "Aku Firman," ia menjabat tangan Damian. "Kamu Damian, kan? kamu bisa tidur sebentar, aku yang bertugas menggantikan tugasmu, begitu seterusnya," katanya. "Tapi, aku..." "Pak Raja yang menugaskan aku, kita akan berganti sift agar kamu bisa istirahat sebentar," kata Firman lagi. "Baiklah, aku hanya akan tidur untuk mengistirahatkan mataku sebentar saja, setelah itu aku akan mandi dan kembali bertugas," balas Damian akhirnya. Damian pun beranjak menuju ke kamarnya yang sudah disiapkan yang tidak jauh dari kamar Auris. Hanya saja, kamar Nona Auris berada di lantai atas dan kamar Damian berada di lantai bawah. Sementara Damian beristirahat sebentar saja karena ia akan kembali bertugas, Firman yang menjaga Auris untuk sementara. Tapi ketika di dalam kamarnya untuk beristirahat, Damian justru tidak bisa tenang. Pikirannya terus terfokus untuk menjaga Nona Auris. Ia pun lalu beranjak lagi dari tempat tidur, menuju sisi jendela. Ia memperhatikan keadaan dari sana. Ia lalu menggunakan teropongnya, tidak ada sesuatu yang mencurigakan dan banyak penjaga yang masih stand by di sana. Damian pun kemudian kembali ke tempat tidurnya. Namun hanya tubuhnya yang terbaring di sana, tidak dengan kedua matanya yang masih terus membuka menatap langit-langit kamar. Di balik sanalah Nonanya sedang terbaring, entah ia bisa tidur dengan nyenyak atau tidak, Damian memikirkan itu. "Aku harap kamu bisa tidur dengan baik Nona Auris," kata Damian seolah-olah matanya bisa menatap mata Auris dari balik langit-langit sana. ... ❤ __ Baca✔ Vote✔ Komen✔ Terima kasih Salam... Dian Tri Hartati
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD