Auristela terpaksa tidak dapat masuk kuliah untuk hari ini. Ia hanya bisa menghabiskan waktu di dalam kamarnya yang super mewah layaknya sebuah kamar milik seorang putri kerajaan, meski sudah tidak terlalu pagi ia masih setia di atas tempat tidur nyamannya. Dan pagi ini adalah pagi yang paling menakutkan bagi seluruh penghuni kediaman Atmadiraja terutama Auristela yang baru saja mendapatkan ancaman mengerikan. Sekeliling rumahnya dijaga ketat oleh beberapa personel polisi dan juga beberapa penjaga pribadi rumah. Hari ini pun katanya ia akan kedatangan seorang personal bodyguard dari London, Inggris, agar ia bisa tetap pergi ke mana saja dengan rasa aman.
"Darling, kemarilah!" Raja menjulurkan tangan pada putrinya yang masih setia di balik selimut tebalnya, terbaring di atas tempat tidur nyamannya.
"Morning Dad," ucap Auris dengan mata mengerjap.
"Morning, darling."
"Ada berita baik apa?" tanya Auris sambil mengernyit.
"Kamu sudah bisa kembali masuk kuliah mulai besok," kata Raja kemudian tersenyum.
"Sure?" Auris merangkul lengan Daddy-nya.
"Yeah! Bodyguard untuk kamu sudah datang hari ini, sayang."
"My bodyguard?" ulang Auris untuk meyakinkan dirinya sendiri.
"Eh-he."
"Aku percaya pilihan Daddy."
Raja membawa putrinya keluar dari kamar untuk menemui bodyguard yang baru saja datang. Saat ini mereka sedang menuruni tangga yang berliku untuk menuju ke lantai dasar.
"Sudah pasti Daddy akan pilihkan yang paling tepat. Dia sangat bisa dipercaya dan diandalkan untuk menjaga putri kesayangan Dad, kamu kenal Om Krisna seperti apa, tentu dia tidak akan sembarangan memilih. Dan... dia juga keponakan dari Om Krisna," kata Raja memberitahu.
"Oh, ya!" sahut Auris, excited karena selama ini ia tak pernah tahu bahwa ternyata Krisna memiliki keponakan yang merupakan seorang bodyguard.
Sambil terus merangkul lengan Atmadiraja, Daddy-nya, Auristela berjalan menuruni tangga. Di tengah tangga pandangan matanya sudah menemukan seorang pria yang sangat tepat jika digambarkan sebagai pangeran dari negri dongeng. Dia berdiri dengan gagahnya menunggu, dengan ditemani segelas kopi dan kue kecil. Oh, saat ini dia berbalik badan dan sudah menemukan sosok Tuan Putri yang akan ia jaga sepanjang waktu. Dia, Damian sang bodyguard, meletakkan gelas kopi di meja, kemudian dengan kaki gagahnya ia maju beberapa langkah untuk menghampiri Nona-nya. Mereka saling tatap dari jarak yang belum dekat, hingga kemudian semakin dekat.
Aku sudah terbangun dari tidur, tapi mimpi indah ini justru baru datang, batin Auris.
"Darling, ini Damian Danovan, dia berasal dari London. Dialah personal bodyguard yang akan menjaga kamu sepanjang waktu. Jangan khawatir, dia sangat terlatih. Dia juga sebagai pemilik dari pusat pelatihan dan penyewaan personal bodyguard yang juga bekerja sama dengan pihak kepolisian untuk tindak kejahatan, Danovan Club Of Bodyguard. Di sana mereka dilatih layaknya seorang prajurit yang akan bertugas menjaga negara, juga dilatih tanggung jawab dan kejujuran." Raja menjelaskan kepada putrinya.
"Wow, itu sangat bagus." Kenapa aku berharap pada situasi perkenalan yang berbeda, semacam perjodohan gitu. Damn! Oh, Damian. "Hhai, Damian, senang bisa bertemu dengan kamu." Auris sedikit malu-malu menjulurkan tangannya untuk memperkenalkan diri kepada bodyguard barunya, Damian Danovan. Dan oh astaga, dia belum mandi dan baru saja bangun dari tidur. Bayangkan saja bagimana kacaunya orang yang baru saja terbangun dari tidur, dan itu menjadi pertemuan pertama Auris dengan bodyguard itu.
"Sama-sama Nona Auristela, saya lebih senang bertemu dengan Anda," balas Damian menyambut tangan itu dengan hangat.
Hanya memberi senyum segaris lalu hilang entah ke mana. Apa mereka juga dilatih untuk nggak senyum? Batin Auris, mendadak menghapus senyumnya karena sedikit kesal.
"Jadi, kamu sangat lancar berbahasa?"
"Yah, Ibu saya wanita keturunan Indonesia asli."
"Oh, okey." Auris tersenyum manis sekali untuk hari sepagi ini.
"Baiklah. Cukup perkenalannya. Sayang, kamu mandi dulu. Daddy juga mau bicarakan semua prosedur yang harus Daddy terapkan dalam kontrak kerja sama ini bersama dengan Damian."
"Iya, Daddy," jawab Auris singkat, merasa sedikit berat karena harus meninggalkan calon bodyguard-nya.
"Mommy kemarilah, kita harus bicara!" Raja memanggil istrinya yang sedang menyiapkan sarapan dengan dibantu oleh dua orang pelayan.
"Pagi Mom!" sapa Auris yang melewatinya.
"Pagi sayang," balas Freya sambil mencium pipi putrinya. "Jangan khawatir semua akan baik-baik saja," putrinya mengangguk kemudian berlari kecil menaiki tangga menuju ke kamarnya.
"Yeah, semua akan baik-baik--aku tahu, Mom!" balas Auris, sambil lalu. Oh, jawaban apa ini Auristela, seperti baik dalam arti yang lain.
Auristela bergegas untuk mandi sementara kedua orang tuanya berbicara masalah kontrak kerja sama dengan personal bodyguard itu secara serius. Untuk sekelas Atmadiraja dan Freya yang sangat menyayangi buah hati mereka melebihi apa pun, akan ada banyak aturan dan prosedur yang harus dipatuhi. Masalah pembayaran tidak perlu khawatir, sebab keselamatan sang putri sangatlah tidak ternilai dengan apa pun bagi mereka.
"Kamu jangan pernah jauh dari putriku. Jangan lengah sedikit pun saja. Kamu hanya boleh pegang tangannya kalau memang keadaan sudah mendesak. Di luar dari itu, jangan pernah berani sentuh putriku sedikit pun juga, mengerti. Dan kamu juga harus stay di balkon kamarnya. Jangan biarkan dia berada di balkon. Kunci balkon kamarnya kamu yang pegang. Dan yang terpenting, ketika berada di luar rumah, kamu jangan sampai jauh darinya. Saat berada di kampus, jaga dia di depan pintu kelas. Bila perlu di dalam kelas. Kamu juga harus terus berkomunikasi dengan penjaga yang lainnya di rumah. Aku akan sering menelepon kamu jadi kamu harus standby." Atmadiraja, memberikan kata-kata peringatan kepada Damian, bodyguard yang akan menjaga putrinya di mana pun dan kapan pun.
"Dan satu hal lagi Damian, kalian jangan makan di tempat umum. Saat makan di kantin kampus pun kamu harus benar-benar memastikan makanan itu dari tangan si penjualnya, dan perhatikan apa saja yang dimasukkannya, baru setelah itu kamu berikan makanan itu pada Auris." Kali ini Freya yang bicara, juga penuh dengan peringatan yang tak ingin sesuatu apa pun akan menimpa putri kesayangannya.
"Baik Pak, Bu, saya terima tugas ini dengan sepenuh jiwa dan raga saya. Saya mengerti semua prosedur yang harus saya lakukan dan tindakan apa yang harus saya lakukan. Saya berjanji akan bersikap dengan profesional. Keselamatan Nona Auristela ada di tangan saya, Pak, Bu." Dia, Damian, mengeluarkan suara dan kata-kata yang sangat meyakinkan bagi siapa pun yang mendengarnya.
"Bagus. Aku percayakan putriku sepenuhnya kepada kamu, Damian. Untuk hari ini dia masih tetap harus di rumah saja, belum bisa ke mana-mana. Dan besok, kamu sudah harus menemaninya untuk pergi kuliah dan ke mana pun. Damian, keponakan Krisna. Aku percaya padamu." Raja berkata dengan menatap yakin ke arah bola mata Damian. Damian membalas dengan tatapan janji dan tanggung jawab yang ia terima sepenuh hati dan akan selalu ia genggam kuat meski pun nyawa sebagai taruhan.
Raja benar-benar melupakan jika dia keponakan dari Krisna itu artinya bahwa dia adalah anak dari adik sahabatnya itu. Tapi Krisna punya dua orang adik. Jelasnya Raja sudah benar-benar melupakan masa lalunya setelah hidup bahagia bersama dengan Freya, terlebih lagi setelah ada Auristela di tengah bahagia mereka. Tepatnya, Raja tidak lagi memikirkan segala kisah masa lalunya bersama dengan adik dari Krisna setelah ia bahagia bersama dengan keluarga tercinta.
Hari ini, ketika Auris sudah kedatangan seorang personal bodyguard yang akan menjaganya selama dua puluh empat jam, dan terlihat sangat gagah itu, ia jadi merasa sedikit lebih aman. Atau bahkan dia akan benar-benar merasa aman nantinya ketika bersama dengan Damian, bodyguard pribadinya yang akan menemaninya ke mana saja di sepanjang hari.
Auris memanjakan tubuhnya di dalam rendaman air sabun di dalam bath tub. Ia memainkan buih-buih sabun seperti seorang anak kecil saja. Bibir Auris lalu tersenyum tipis kemudian pandangan kedua matanya naik, ia lalu membayangkan sesuatu. Tepatnya Auris sekarang ini sedang terbayang akan wajah seseorang yang baru saja ia temui ketika bangun dari tidur tadi. Rasanya seperti ia sedang bermimpi saja. Atau mungkin juga seperti sebuah cerita dongeng tentang seorang laki-laki yang tampan bak seorang pangeran tiba-tiba ada di hadapan mata. Membuat mata terpana dan hati pun jadi terpesona.
Bodyguard?
Atau pangeran yang sedang menyamar?
Ah entahlah, yang jelas dia sudah membuat Auris melupakan rasa takutnya pada ancaman yang menyeramkan yang sedang menyerangnya.
Dan, dia sudah membuat seorang Auristela Atmadiraja terpesona pada pandangan yang pertama.
Auris masih terus terbayang pada tatapan matanya yang tajam memikat tadi ketika ia menuruni tangga untuk bertemu dan juga berkenalan dengan pemilik mata itu.
Cukup lama Auris baru menyudahi kegiatan mandi paginya. Kemudian ketika ia sedang memilih pakaian apa yang akan ia kenakan untuk bertemu lagi dengan bodygaurd itu, entah mengapa ia jadi salah tingkah sendiri.
Ah, Auris apa yang sedang terjadi dengan kamu?
Kamu hanya akan menemui seorang bodyguard saja, tidak lebih dari pada itu Auris.
Ah Auris, jangan katakan bahwa hatimu sudah jatuh pada pertemuan yang pertama padanya.
Dan sadarlah Auris, jika dia datang hanya sebagai bodyguard pilihan orang tuamu, bukan jodoh pilihan orang tuamu. Bahwa dia hanya akan menjaga kamu,bukan untuk penjaga hatimu.
Setelah melamun dan kemudian berhasil memilih pakaian apa yang akan ia kenakan meski hari ini hanya akan di rumah saja, ia lalu beranjak untuk ke balkon kamarnya. Baru saja ia membuka pintu keluar menuju balkon, pandangan kedua matanya sudah kembali terpesona dengan wajah tampan pemilik bibir, mata, hidung, dan juga rahang yang terpahat dengan sempurna itu.
Ya Tuhan, lagi-lagi mata ini menolak untuk berkedip ketika melihat mata itu.
"Mm, maaf Nona, aku baru saja ingin mengetuk pintu," ucapnya dengan wajah kaku dan senyum yang nyaris tidak bisa dikatakan sebuah senyuman.
"Ehm, oh... um, ya tidak apa-apa, um... Damian."
"Oh iya Nona, maaf, Nona tidak boleh berada di balkon. Tolong masuklah."
"Siapa yang melarang aku untuk berada di Balkon, Dam?" tanya Auris meski ia sudah bisa menebak siapa yang melarangnya berada di balkon.
"Pak Raja melarang Nona untuk berada di balkon, dan tolong berikan kuncinya padaku," jawab Damian dan meminta kunci pintu dari Auris.
"Oh, begitu, baiklah," balas Auris.
"Aku akan sangat berterima kasih apa bila Nona menuruti kata-kata aku, karena semua itu adalah atas arahan dari Pak Raja kepada aku. Dan semua itu hanya demi untuk keselamatan Nona Auris sendiri tentunya," kata Damian menjelaskan.
"Aku mengerti, Damian." Auris lalu mundur ke pintu untuk mencabut kunci dari balik pintu balkon kamarnya. "Baiklah, ini kuncinya dan aku nggak akan keluar lagi," kata Auris sambil memberikan kunci itu pada Damian sesuai arahannya yang atas perintah dari Daddy tadi.
Ketika ia melihat Damian bicara tadi, sejujurnya Auris tidak begitu mendengarkan apa saja yang dikatakan oleh pria tampan itu. Ia lebih tertarik untuk memperhatikan wajah tampan pria itu, dan mendengar suara gagah dan seksi itu.
Karena hari masih terlalu pagi untuk berdiam diri saja di dalam kamar, ia pun lalu memilih untuk beranjak keluar dari dalam kamar, iya, dapur adalah tujuannya. Ia ingin mengganggu para asistan rumahnya yang pasti sekarang ini sedang sibuk memasak di sana.
Auris kemudian berlari kecil dari kamarnya menuju ke dapur. Dengan cengiran yang lebar ia berhenti sejenak di ambang pintu dapur untuk memperhatikan tiga orang asistan rumah tangga yang sedang asyik sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing.
"Bi Ina..., masak apa hari ini Bi?" tanya Auris sambil mendekat lalu merangkul pundak Bi Ina yang mengasuhnya sejak lahir.
"Ayam goreng keju kesukaan Non Auris, dan masih banyak lagi menu yang lainnya," jawab Bi Ina tanpa melepas kesibukannya dari masakan.
"Wow, jadi laper deh. Mbak Laras lagi masak apa?" kali ini Auris bertanya pada asistan rumah tangga yang lebih muda.
"Kalau aku lagi bikin kue-kue camilan kesukaan semuanya," jawab Laras.
"Nah... ini nih, Mbok Isah kesayangan aku, masak apa hari ini?"
"Si Mbok hari ini masak sayur pindang permintaan bapak sama ibu," jawab si Mbok yang pasti paling tua di antara asistan yang lain. Dan katanya si Mbok itu yang mengasuh Daddy-nya Auris sejak lahir. Dia tampak masih sehat dan lincah di usianya yang sudah berkepala tujuh.
"Sudah sana, Non jangan kelamaan berada di dapur, lebih baik Non diam di kamar aja karena di sana lebih banyak penjaga," kata Bi Ina.
"Iya sih Bi, tapi aku bosen lama-lama di kamar terus makanya aku ke dapur. Karena sekarang aku sudah diusir Bi Ina, ya udah deh sekarang aku balik ke kamar lagi," kata Auris kemudian beranjak dari dapur tapi sebelum kembali lagi ke dalam kamarnya ia lebih dulu mengambil banyak camilan dari tempat khusus yang sudah disiapkan untuk dibawa ke dalam kamar.
Iya, Auris merasa lebih tenang setelah kedatangan bodyguard-nya. Auris pun menikmati camilan yang ia bawa tadi sambil memandang ke luar sana dari dinding kaca. Tepatnya pandangan matanya memperhatikan bodyguard itu di sana. Terus berdiri tegap di sana untuk menjaganya nyaris tak bergerak yang tampak seperti patung es yang tampan.
Terlintas ide jahil di kepala Auris, "hm good ide, lumayan buat ngilangin jenuh," katanya dengan senyum jahil.
Auris pun beranjak turun dari tempat tidur dan membawa salah satu jenis camilan yang berbentuk bulat, pilus kacang.
Tok... tok... tok!
Pintu diketuk sebanyak tiga kali, dan Damian pun tahu bahwa itu adalah Nona Auris-nya.
"I'm coming princess!" sahut Damian.
"Aku punya sesuatu untuk bodyguard aku yang paling keren," kata Auris di ambang pintu balkon ketika Damian membuka pintu, Damian pun tersenyum melihat tingkah Auris yang tak biasanya, gadis itu tersenyum lebar sambil menyipitkan mata indahnya dan kedua tangannya disembunyikan di balik punggung.
"Ehm, apa itu tuan putri?" tanya Damian dengan mengernyitkan wajahnya dan kedua tangan diletakkan di pinggangnya.
"Aku nggak boleh keluar, kan?" tanya Auris senyumnya berubah menjadi senyum jahil.
Damian menganggukkan kepala dan memonyongkan bibir bawahnya yang seksi. Damian lalu menggosok dagunya dengan jari telunjuk dan berkata, "sepertinya aku mencurigai sesuatu."
"Apa kamu suka main bola, Dami?"
"Ya, bisa dikatakan hobi aku sewaktu di London," jawab Damian masih memandang curiga dan kali ini bercampur dengan rasa penasaran.
"Mm..., pernah jaga gawang?"
"Yeah, pernah, beberapa kali. Hei Nona manis anos, apa kamu sedang ingin mengajak pengawalmu ini untuk main bola?" terka Damian.
"Um..., ya, tapi bolanya itu kecil... banget!" jawab Auris. Senyumnya makin jahil.
"Ayolah tuan putri, jangan membuat aku penasaran."
"Oke. Ini dia bolanya!" seru Auris sambil mengeluarkan sekantong besar pilus kacang yang disembunyikan di balik punggungnya tadi. "Aku kan nggak boleh keluar, jadi aku akan tetap berdiri di sini, dan kamu bisa sedikit lebih mundur lagi kan Dami."
"Sure, oh akhirnya aku mengerti!" seru Damian sambil mundur dua langkah dari hadapan Auris.
Auris pun mulai melempar satu persatu pilus kacang yang ia sebut sebagai bola kecil tadi ke dalam mulut Damian yang menjadi gawang. Damian menangkap semuanya dengan baik. Merasa mulutnya sudah cukup penuh, Damian lalu menangkap dengan tangannya. Auris memberi kesempatan pada Damian untuk mengunyah, tapi lalu Damian sambil mengunya apa yang ada di dalam mulutnya, ia melempar kembali pilus kacang yang ia tangkap tadi ke pada Auris yang juga berusaha menangkap dengan mulutnya. Tapi karena tidak terlatih, pilus kacang yang Auris berusaha tangkap itu hanya mengenai hidung, pipi dan dagunya saja. Hal itu membuat Damian tertawa mengejek. Auris menggeleng kepala sambil membelalak merasa diremehkan. Kemudian ia kembali melempari Damian dengan pilus kacang lagi. Kali ini dengan lebih cepat agar Damian kewalahan untuk menangkap. Damian pun gagal menangkap dengan mulut dan juga tangannya hal itu membuat Damian menggeleng kepala dan kali ini Auris yang tersenyum meledek bahkan ia menjulurkan lidahnya merasa menang bisa mengecoh Damian.
Hm... lumayan, cukup menghibur, Auris tidak merasa jenuh lagi.
___
Baca✔
Vote✔
Komen✔
Terima kasih
Salam...
Dian Tri Hartati