Masa-masa SMP aku tidak masuk ke sekolah yang favorit di sekolahku. Aku masuk SMP yang berafiliasi dengan Gereja dimana ayahku dulu bekerja. Ya..ayahku meninggal saat aku kelas 2 SD. Sama dengan semua kakak-kakak dan adiku semua di SMP yang sama. Kelas 2 SMP aku sangat terpesona dengan teman sekelasku namanya Manik. Kulitnya sawo matang wajahnya manis dan rambutnya panjang sekali sampai di bawah p****t. Mungkin gadis yang paling panjang rambutnya di SMP ku. Tapi karena masih SMP jadi tidak berani dan tidak tahu harus bagaimana sehingga yang bisa kulakukan hanya melihatnya dan menikmati keindahannya setiap ada kesempatan. Waktu SMP aku termasuk anak yang menonjol karena sering ranking 1.
Mungkin karena sikapku yang selalu memperhatikannya teman sebangku Anik namanya Ipah tahu hal itu dan dia ngomong ke temannya yang lain yaitu Simon. Simon kemudian tanya ke aku "Tok kamu suka sama Anik ya" aku tidak menjawab secara langsung hanya bilang "rambutnya indah Mon" Simon malah menjawab "Ipah itu teman sebangku Anik naksir kamu" aku lihat Simon sedikit kecewa (kok bukan Anik yang naksir kok malah teman sebangkunya aku jawab ke Simon "kok kamu bisa tahu? dari mana tahunya?". "Soalnya dia sering lihat kamu terus dan dia juga tahu kamu suka sama Anik". Aku berpikir sebentar (kalau Ipah tahu berarti bisa jadi Anik juga tahu kalau aku suka sama dia). Setelah percakapanku dengan Simon hari-hari berikutnya aku jadi sering bertemu pandang dengan Anik dan bila itu terjadi dia senyum terus menunduk atau berpaling. (Sepertinya dia tahu aku naksir, mungkin dari Simon) aku membatin. Aku cukup senang dengan hal itu teruma dapat senyuman yang manis dari Anik ohh indahnya.
Tetapi setelah itu tidak ada tindakan dan perjuanganku untuk mendekati atau bertindak untuk lebih jauh. Memang aku pernah mencoba tanya-tanya rumahnya ke teman lain dan bahkan semat aku datangi tetapi samapi depan rumahnya aku tidak berani lebih jauh. Harusnya aku berani masuk dan main ke rumahnya walaupun sebagai teman. Padahal Anik adalah wanita pertama yang masuk cukup dalam di hatiku. Bahkan sampai sekarang rasa itu masih ada walau hanya sekian %.
Naik kelas III SMP aku sudah tidak sekelas lagi dengan Anik tapi rasa itu tetap tersimpan di hati. Dari Rudi, teman sebangku di kelas III aku tahu ada 2 cewek yang suka sama aku, namanya Dina dan Yayuk mereka baik pintar dan cantik tetapi hatiku sudah terlanjur di isi oleh Anik sehingga tidak ada respon dari ku.
Hingga saat ini setiap aku pulang kampung rasa sesal atas memoriku tentang manik selalu muncul. Rasa sesal karena harusnya aku berani berjuang berani bertindak, kalaupun akhirnya gagal atau bertepuk sebelah tangan tetapi kegagalan usaha akan lebih baik dari pada menyerah sebelum berjuang. Seandainya waktu bisa diulang……