3 Bulan Lalu..
Sebuah pasang mata diam-diam memperhatikan Jena dari kejauhan. Kadang-kadang, mata itu berubah lembut, dan beberapa saat kemudian tersenyum dengan arti yang mendalam saat melihat Jena yang kurus mencoba mengangkat dan merapikan beberapa barang.
Jena terlihat mengerucutkan bibirnya dan tampak berpikir keras saat ia tak kuat mengangkat barang di hadapannya. Meski begitu, pria berhidung mancung dengan mata dalam itu tampak enggan mendekat untuk membantu Jena. Baginya, menyaksikan ekspresi Jena saat ini memberikan kepuasan tersendiri, tanpa menyadari bahwa senyuman sudah terukir jelas di bibirnya.
“Waduh, tuan muda kesambet apa nih? Kenapa senyum-senyum sendiri?” goda Abram yang kini berdiri persis di hadapan bos besarnya yang senyumnya kini sudah luntur dan digantikan dengan tatapan jengah pada Abram.
“Dih, judes mukanya. Tuan muda, Lo gak lupa hari ini ada meeting kan?” ucap pria yang memiliki kewarganegaraan yang sama dengan bos besar di hadapannya.
“Astaga!” ucap pria itu yang kemudian segera berjalan cepat menuju ke ruangannya.
Menatap Jena membuat dirinya seolah lupa segalanya.
‘Sial!’ umpat pria itu dalam hati.
Dibalik percakapan keduanya, Jena yang menjadi objek tatapan bos besarnya itu sejak tadi sudah tahu akan kehadiran Saga, pemilik butik baru di pusat kota London itu. Hanya saja Jena pura-pura tak melihat dan seolah sibuk dengan pekerjaannya. Padahal Jena sudah selesai menghitung jumlah barang masuk di gudang darurat kecil milik butik yang baru buka beberapa bulan terakhir ini.
Baru saja Jena bernafas lega karena atasannya meninggalkan dirinya sendiri. Kini ia merasa tegang lagi ketika Lily dan Felipe mendekati Jena dengan senyum hangat.
"Hei, Jena," sapa Lily, "kamu masih sibuk?”
“Tidak. Kalian memerlukan sesuatu?” tanya Jena datar.
“Kami akan pergi ke restoran baru di ujung sana. Kamu mau bergabung?” tawar Lily.
Jena melihat ke arah Lily dan Felipe dengan ekspresi yang penuh pertimbangan. Dia tahu bahwa kedua temannya itu baik hati dan hanya ingin akrab dengannya, tetapi dia juga tahu bahwa dia merasa nyaman dengan kehidupannya yang tenang. Tidak menyadari siapa sebenarnya seorang Jena saja, membuatnya cukup bersyukur.
“Maaf, Lily. Aku ada janji malam ini,” jawab Jena tanpa ragu.
Felipe dan Lily terlihat kecewa, tapi sejurus kemudian wajah mereka berganti dengan senyuman.
“Baiklah, tapi kau yakin?” tanya Felipe dengan wajah sedikit cemberut. Sejujurnya dengan jambang tipis dan badan kekarnya, ekspresi Felipe saat ini sangat tidak cocok.
“Iya.”
Jawaban singkat itu membuat kedua teman di depan Jena menghela nafas panjang.
“Baiklah, kalau begitu kami pulang dulu, Jen. Sampai bertemu besok,” ucap Lily dengan melambaikan tangan. Begitu juga Felipe.
Kini Jena yang menghela nafas panjang. Akhirnya hari yang panjang ini berakhir. Setelah memastikan sekitarnya sepi. Jena bergegas menuju mejanya da mengambil tas miliknya.
Tanpa berpamitan pada bos besar yang ruangannya terlihat masih terang, Jena segera pergi meninggalkan butik kecil yang memang tampak sepi dibanding lainnya. Langkah kakinya yang tenang melangkah menjauh dari keramaian sekitar butik.
Setelah perjalanan beberapa menit, tibalah Jena di sebuah bangunan dengan gaya arsitektur eropa klasik yang khas.
Jena sudah akan memasuki pintu flatnya saat Nyonya Cartie memanggilnya dari kejauhan. Wanita muda dengan tubuh kurus kering itu tampak terkesiap. Ia segera menunda untuk memasuki flat tua yang sudah dihuninya dua tahun terakhir ini.
“Jena, kau baru pulang kantor?” tanya Nyonya Cartie ramah dengan senyum tersungging di wajahnya.
“Iya, Nyonya. Apa ada yang bisa saya bantu?” tanya Jena yang memang terkenal tidak suka berinteraksi dengan sekitarnya.
“Ah, itu– soal sewa flat. Akan berakhir dalam minggu depan kan? Kalian masih belum bisa membayar sewanya?” tanya Nyonya Cartie dengan senyuman yang sudah menghilang di wajahnya, berganti dengan raut wajah yang tidak terbaca.
Jena menggigit bibir bawahnya. Ia lupa menyampaikan pada kekasihnya bahwa sewa mereka akan habis akhir bulan ini. Sedangkan semua uang dikelola oleh kekasihnya. Bahkan Jena tidak memegang sepeserpun hasil kerja kerasnya.
“Saya akan mengusahakan secepatnya Nyonya. Maaf, saya lupa untuk mengambil uangnya–”
“Kamu tau Nona, jaman sudah begitu canggih. Aku memang tua, tapi tidak setua itu. Kau bisa mengirimkan saja pada rekening ku. Bilang pada pasanganmu. Dia tahu nomor rekening ku,” ucap Nyonya cartie yang entah mengapa kini melihat Jena seolah ada tatapan kasihan di sana.
Menyadari tatapan mereka beradu, Jena hanya menunduk, lalu mengangguk.
“Dengar Jena, flat ku memang terlihat tua, tapi yang ingin menyewanya cukup banyak. Flat ini sangat strategis di pusat keramaian kota London. Aku dengar kamu juga bekerja tak jauh dari sini kan? Itu kenapa aku mengingatkanmu soal sewa. Aku harap kamu mengerti. Aku hanya seorang diri, aku membiayai hidupku dari flat ini,” jelas Nyonya Cartie panjang lebar.
“Aku mengerti Nyonya. Akan aku usahakan,” ucap Jena yang masih menunduk sambil memilin jari tangannya.
Walau menunduk, Nyonya cartie tahu bahwa Jena sedang menyembunyikan wajah sedihnya.
“Baiklah, aku permisi.”
Setelah suara langkah kaki itu menjauh, barulah Jena mengangkat kepalanya. Ia menunggu Nyonya Cartie menjauh dari pandangannya sebelum ia bergegas masuk seolah takut ada yang melihat isi flatnya.
Setelah menutup pintu cukup keras dengan d**a berdebar, Jena mengamati flat yang ia tinggali.
Tempat itu terlihat gelap dan sedikit beraroma tidak sedap. Kebiasaan kekasihnya Matthew untuk minum dan merokok di dalam flat dan menyalakan pendingin udara membuat flat itu beraroma khas.
Belum lagi Jena yang beberapa kali tidak sempat membereskan rumah itu membuat sampah terlihat berserakan di beberapa titik. Kebiasaan menumpuk barang Matthew juga membuat ruangan itu cukup penuh.
Melihat bagaimana kacaunya ruangan itu, membuat Jena gelisah. Ia menggigit kuku-kuku jarinya yang cukup tipis itu. Sambil menatap kacau ruangan yang sudah ia huni selama dua tahun ini.
Sesak? Ya, Jena selalu sesak. Tapi tidak banyak yang bisa ia lakukan. Jika tidak bersama Matthew, ia mungkin akan tinggal di jalanan. Di umurnya sekarang, Jena tidak mungkin tinggal di panti sosial seperti saat ia masih kecil dan hidup sebatang kara.
Jena mengambil nafas dalam sebelum akhirnya membereskan sedikit demi sedikit barang yang menurutnya menyebabkan aroma tak sedap. Banyaknya sampah dan baju kotor yang berserakan membuat Jena melupakan ponselnya.
Padahal ponselnya sudah sejak beberapa waktu lalu bergetar, tapi Jena tidak menyadarinya.
Hingga sebuah suara debuman pintu membuat Jena terkesiap saat ia sedang membersihkan sampah di sekitar sofa yang sering digunakan Matthew untuk menonton film.
“Apa kamu tuli, Jena?!” teriak pria dengan nafas terengah dan mata yang begitu merah. “Kamu memasang ponselmu dalam mode hening?! Kamu berani mengabaikanku?!”
Mendengar suara lantang itu, Jena terlihat tidak terkejut sama sekali. Ia hanya menghentikan aktivitasnya dan berbalik ke asal suara dengan wajah tertunduk.
“Maaf,” hanya kata itu yang mampu keluar dari kerongkongan Jena. Ia tahu prianya sangat tidak suka jika Jena tidak membalas pesannya dengan segera. Jena sudah pasti tahu seperti apa wajah marah Matthew saat ini.
Suara langkah kaki terdengar cepat menuju ke arah Jena hingga suara kulit beradu terdengar sangat lantang. Membuat si pemilik kulit pipi sedikit terhuyung. Lima jari itu tercetak jelas di pipi Jena.
Jena yang belum sempat melakukan apapun, malah mendapati rasa sesak yang mencekik kerongkongannya. Ia tak bisa berteriak. Hanya air mata yang membasahi pipinya.
‘Apa ini saatnya aku melepaskan kesakitan di dunia ini, Tuhan? Boleh bawa saja aku sekarang?’
***