Bab 5 - Gosip, Gerakan Rahasia dari Blok E

1002 Words
Pagi itu, suasana Blok E Griya Asri seperti biasa: langit masih sedikit berkabut, suara burung bercampur dengan deru motor tukang bubur, dan di ujung jalan dekat portal, rombongan janda berkumpul—mengenakan daster paling fashionable yang mereka punya, lengkap dengan sandal lucu dan tote bag belanjaan. Di sanalah mereka, melingkari Kang Sayur Udin yang sedang menata tomat dan kol. Warung sayurnya kecil tapi strategis—jadi markas resmi gosip pagi. “Eh, eh, kalian denger nggak?” bisik Eva dengan suara tak bisa benar-benar dibisikkan. “Semalam aku keluar bentar beli martabak... terus Rian keluar rumah... sama seorang wanita.” “HAH?” serempak Lestari, Nurlita, dan bahkan Kang Udin berhenti menimbang kentang. “Serius! Tapi aku nggak liat jelas. Cuma kayak... tinggi, rambut panjang, mungkin bawa tas gede,” lanjut Eva sambil memainkan keranjang tomat, seolah-olah itu alat visual bantu. Suci datang paling akhir, elegan dalam balutan kimono tidur bermotif sakura. Ia mengambil daun salam dan bertanya pelan, “Kamu yakin itu wanita?” Eva langsung menatap, “Maksud lo?!” Suci mengangkat bahu. “Bisa aja itu adiknya. Atau pembantunya. Atau temannya. Jangan terlalu cepat menilai... kita harus pakai taktik.” Nurlita tertawa kecil. “Yaelah, Suci mulai lagi pake istilah taktik.” Tapi kemudian, mata semua orang beralih ke Lestari, yang pagi itu terlihat agak... senyap. Daster linen putih, rambut dikuncir simpel, dan raut wajah yang lebih kalem daripada biasanya. Kang Sayur saja sampai nggak ditagih bayarannya. “Lestari, lo kenapa diem aja?” tanya Eva curiga. “Gue cuma lagi males drama aja pagi-pagi,” jawab Lestari datar. “Biasanya lo yang paling semangat rebutan kerupuk, sekarang malah lemes banget,” kata Nurlita sambil mengangkat wortel. Lestari tersenyum tipis. Ia hampir menceritakan soal Ari, barista latte art dengan mata teduh dan WA yang sudah masuk daftar kontaknya. Tapi sesuatu di dalam dirinya bilang: nggak semua cerita harus dibagikan sekarang. Kang Udin, tanpa diminta, menambahkan, “Rian tadi pagi beli tomat sama bawang, katanya mau masak sendiri. Sendirian, lho.” “Hah?! Masak?!” teriak Eva. “Sendirian?!” sambung Nurlita. “Berarti dia... belum ada yang menaklukkan?” desis Suci, kali ini dengan senyum yang sangat tidak bisa dipercaya polos. Dan begitu saja, percakapan pagi berubah menjadi rapat darurat tidak resmi para janda sexy Blok E. Siasat mulai dirancang ulang. Jadwal joging dimodifikasi. Outfit belanja diatur ulang. Bahkan Nurlita sempat nyeletuk, “Gimana kalau kita adain lomba masak antar RT, terus kita undang dia jadi juri?” Sementara mereka sibuk menyusun rencana, Lestari hanya menatap kejauhan, ke arah jalan keluar komplek. Di sanalah mobil hitam Om Jafar biasa parkir, tapi pagi ini kosong. Dan anehnya... ia tidak peduli. Dalam pikirannya, ada satu kalimat dari Ari yang masih terngiang: "Kadang hal-hal kecil justru yang bikin hidup lebih terasa." Dan mungkin... rumpi pagi di Kang Sayur ini adalah salah satunya. “Aku udah bilang ya... Rian tuh tipe yang nggak bisa ditaklukkan dengan senyuman doang,” kata Suci sambil memasukkan bawang merah ke dalam kantong jinjingnya. “Dia itu... laki-laki visual, tapi sensitif. Kita harus ciptain momen, bukan sekadar tampil cantik.” Eva mendecak. “Lah, lo kayak udah kenal dia 10 tahun, Ci.” “Insting janda berpengalaman, Va,” jawab Suci kalem. Lestari hanya menyimak sambil merapikan sisa ikatan rambutnya yang semalam sudah setengah lepas. Ia sesekali mengangguk, tapi pikirannya terus melayang ke kafe kecil di pusat kota, ke aroma kopi hangat, dan suara tawa ringan Ari yang entah kenapa masih menggema di kepala. Nurlita, yang tadinya fokus memilih kangkung terbaik, tiba-tiba angkat suara, “Eh, kalian sadar nggak? Udah dua hari Pak Bambang nggak keliatan. Biasanya dia tuh suka lewat sini jam segini naik sepeda, bawa koran lipat di belakang keranjang.” Semua langsung terdiam sesaat. Kang Udin juga ikut nyeletuk, “Iya bener, kemarin juga saya nanya sama Bu Nur—pembantunya—katanya Pak Bambang lagi keluar kota. Tapi biasanya bilang kok. Ini mah... mendadak.” Suci melipat alis. “Pak Bambang yang punya dua ruko dan kos-kosan itu?” “Yang sempat nembak aku lewat pantun di acara 17-an,” tambah Eva cepat. Nurlita tertawa, “Tapi yang lo tolak karena katanya ‘terlalu tua dan terlalu banyak parfum ginseng’.” “Ya itu,” Eva mengangkat bahu. “Tapi tetap aja, dia orang penting di blok ini. Bisa jadi sponsor acara masak kalau kita niat.” Tiba-tiba, semua menoleh ke Suci. Suci mengerutkan dahi. “Apa?” “Kamu deket sama Pak Bambang, kan?” tanya Nurlita. “Setidaknya... terakhir kita lihat, kamu nganterin dia pulang waktu arisan RW.” Senyum Suci tipis. “Deket bukan berarti tahu segalanya. Tapi... aku bisa cari tahu.” Mereka semua saling pandang. Suasana jadi agak serius—karena dalam dunia janda sexy Blok E, hilangnya satu pria kaya bisa berarti perubahan dinamika besar. Apalagi kalau pria itu punya akses sponsor lomba, kolam renang pribadi, dan kebiasaan membagi bonus THR ke tetangga. Di tengah ketegangan itu, suara motor datang—dan dari kejauhan tampak siluet Rian, mengenakan kaos putih dan celana pendek, membawa tas belanja dari supermarket. “Eh, itu dia...!” bisik Eva panik. Semua langsung refleks memperbaiki rambut, posisi berdiri, bahkan posisi kantong belanjaan biar terkesan “tak sengaja ketemu pas belanja.” Tapi Rian hanya melirik sekilas, senyum sopan, lalu masuk ke rumahnya. Tak ada sapaan, tak ada drama. Sunyi. Sunyi yang... menyebalkan. Suci memecah hening. “Waktunya kita bertindak. Kalau Pak Bambang nggak bisa kita andalkan, dan Rian masih terlalu misterius... kita butuh satu acara pemicu. Lomba masak. Kita buat. Kita undang. Kita nyalakan kompetisi dengan gaya.” Lestari menghela napas, pelan. Sementara para janda mulai bicara tentang flyer, menu, dan hadiah, ia kembali menatap layar ponselnya. Ari: “Pagi! Hari ini buka jam 10. Kalau jadi datang, aku udah siapin s**u terbaik buat latihan ” Ia menutup chat itu. Matanya kembali ke kerumunan janda yang makin bersemangat merancang ‘serangan terbuka’ ke Rian. Dan dalam hati, Lestari bertanya: Apakah dia masih termasuk dalam permainan ini? Atau... waktunya main di papan yang berbeda?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD