Lelah dan bosan, ia pun bangkit. “Aku butuh kopi. Dan mungkin... oksigen yang lebih jujur.” ucap lestari sambil menatap wajag Ari
Ia melangkah ke meja barista, sedikit heran karena tempat semewah itu ternyata memiliki sentuhan hangat: seorang pria berambut gondrong rapi dengan apron coklat tua, senyum tipis, dan mata yang tenang—Ari, sang barista.
"Pesan apa, Kak?" tanya Ari, sambil menyeka uap dari gelas.
Lestari melirik menu, tapi kemudian menjawab santai, “Kopi yang nggak terlalu pahit. Tapi juga jangan terlalu manis. Pokoknya... kayak hidup saya sekarang.”
Ari tertawa kecil. “Berarti... latte. Tapi yang susunya disteam pelan. Mau saya bikinkan?”
“Silakan,” jawab Lestari, sambil bersandar sedikit di meja bar.
Ari mulai bekerja. Tangannya cekatan, gerakan presisi, tapi ekspresinya tetap santai. Lestari memperhatikan diam-diam. Ia tak pernah benar-benar memperhatikan cara kopi dibuat. Biasanya ia hanya duduk manis, pesan via aplikasi, lalu foto hasilnya untuk i********:.
“Lagi banyak pikiran, Kak?” tanya Ari sambil mulai menuang s**u ke espresso.
Lestari tersenyum miring. “Kayaknya semua janda sexy punya pikiran. Tapi nggak semua bisa menuangnya seperti kamu menuang s**u itu. Smooth banget.”
Ari tersenyum, lalu menggambar hati dengan gerakan memutar. “Ini namanya latte art. Tapi kalau ditanya filosofinya... ini cuma s**u dan kopi yang saling ngalah. Kalau sama-sama keras kepala, ya pecah.”
Lestari terdiam. Kalimat itu menamparnya pelan—lebih dalam dari kata-kata Om Jafar soal “mengelola aset.”
Ia menatap secangkir latte yang kini di depan matanya. Pola hati itu sederhana, tapi terasa jujur. Tak ada lapisan pretensi, tak ada caption puitis. Hanya... kopi.
“Kakak kerja di sini tiap hari?” tanya Lestari.
“Setiap hari kerja. Kecuali Rabu, karena itu hari saya belajar musik.”
“Barista, seniman, dan bisa bikin saya mikir dalam lima menit. Bahaya kamu,” kata Lestari sambil menyeruput pelan.
Ari hanya tertawa kecil. “Bahaya? Atau justru aman... karena nggak janji macam-macam?”
Lestari tak menjawab. Ia hanya duduk lebih lama di sana, membiarkan waktu berjalan pelan. Untuk pertama kalinya dalam waktu lama, ia merasa tak sedang ‘berperan’.
Dan di saat yang sama, notifikasi dari Om Jafar masuk: "Sayang, maaf ya meetingnya molor. Kita dinner-nya jam 9 aja ya."
Lestari menutup layar. Menatap Ari sebentar.
“Kalau hari Rabu aku datang ke sini, kamu bakal ada?”
Ari menatapnya tenang. “Kalau kamu datang, aku pasti ingat.”
Aroma kopi masih menggantung di udara. Cangkir putih porselen di depan Lestari kini hanya menyisakan jejak busa s**u di sisi dalamnya. Tapi, ia belum ingin beranjak. Ada sesuatu yang menahannya di depan meja barista. Mungkin karena kopi itu enak. Atau... mungkin karena Ari tak sekadar barista biasa.
Ari selesai membersihkan portafilter, lalu menyandarkan kedua tangannya di meja, santai. “Kalau kamu datang lagi ke sini... aku bisa ajarin bikin latte art, lho.”
Lestari menaikkan satu alis, separuh geli, separuh tertarik. “Kamu ngajarin semua pelanggan cantik begitu?”
Ari tersenyum, tapi sorot matanya jujur. “Nggak semua. Hanya yang kelihatan... butuh istirahat dari hidup yang penuh jadwal dan kosmetik mahal.”
Lestari terkekeh. “Kamu tajam juga.”
“Latte art itu soal ketenangan tangan dan kepekaan rasa. Bukan tentang alat mahal atau status sosial,” sambung Ari sambil mengambil sendok kayu kecil dan memutarnya seperti tongkat sulap.
“Kalau kamu mau... besok atau kapan pun kamu bisa. Nggak perlu dandan. Nggak perlu heels. Datang aja,” katanya pelan.
Lestari diam sejenak. Jarang ada pria bicara padanya tanpa lapisan basa-basi atau motif jelas. Biasanya semua lelaki yang mendekat tahu siapa dia. Apa yang dia punya. Atau... siapa yang biasa mentransfer ke rekeningnya.
Tapi Ari? Justru menawarkannya untuk melepaskan semua itu.
“Kalau gitu, supaya gampang janjian... kamu punya w******p?” tanya Ari, kali ini sedikit malu-malu.
Lestari memiringkan kepala, setengah ingin menggoda. “Kamu ngajarin latte art, atau ngajarin aku jatuh cinta pelan-pelan?”
Ari tertawa, mengulurkan ponselnya. “Aku barista, bukan penyair. Tapi nomor WA bisa bikin semuanya lebih mudah, kan?”
Lestari mengetik nomornya, lalu menulis namanya sebagai "Lestari (belajar foam )".
“Udah,” katanya, mengembalikan ponsel. “Tapi aku nggak janji bakal bisa datang tiap hari.”
Ari menatapnya sebentar. “Aku juga nggak janji kamu bakal suka latte art. Tapi... kadang hal-hal kecil justru yang bikin hidup lebih terasa.”
Lestari menatap gelas kosongnya sekali lagi, lalu berdiri. Dunia mewahnya masih menunggu di luar. Tapi ia tahu, di balik cangkir putih dan busa tipis itu... ada sesuatu yang mungkin patut dicoba—tanpa harga, tanpa nama besar, hanya... rasa.
Sambil berjalan kembali ke meja tempatnya semula, Lestari tak bisa menahan senyum kecil. Ponsel di tangannya kini memiliki satu kontak baru:
Ari (latte teacher )
Ada sesuatu dalam percakapan tadi yang tidak bisa diabaikan. Mungkin karena Ari tak mengenalnya sebagai janda sexy dari Blok E. Mungkin karena Ari tak peduli dengan tas LV atau gel kuku yang berkilau. Mungkin... karena Ari melihat Lestari sebagai perempuan, bukan simbol.
Ia duduk, membuka ponsel. Grup Janda Sexy masih riuh.
Eva: Oke fix, sore ini aku ajak Rian ke warung sate buat “pembauran lokal” katanya
Nurlita: Gila lo cepet banget geraknya!
Suci: Sabar. Semua ada waktunya. Yang buru-buru biasanya cuma lapar, bukan cinta.
Lestari menatap layar itu lama. Dunia di Blok E seperti permainan—penuh strategi, topeng, dan trik kecil untuk mencuri perhatian Rian. Tapi kenapa pertemuan singkat dengan Ari justru terasa lebih nyata?
Ponselnya bergetar.
Ari: "Terima kasih sudah ngobrol bareng. Semoga malam ini lebih tenang dari siangmu. Kalau besok sempat, mampir ya. Aku simpan satu apron kecil buat kamu. "
Lestari menutup ponsel, tersenyum samar.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, dia merasa tak ingin buru-buru kembali ke medan persaingan. Tidak karena dia kalah. Tapi karena... dia baru menyadari: ada jenis kebahagiaan yang tidak perlu dibuktikan ke siapa-siapa.
Dia menatap keluar jendela kafe, ke jalanan Jakarta yang mulai ramai lampu.
Dan di hatinya, ada bisikan:
Mungkin aku butuh jeda. Mungkin bukan Rian. Mungkin bukan Om Jafar. Mungkin... aku butuh belajar latte art dulu. Dan mengenal diriku sendiri tanpa naskah.