Mukaku sontak memerah.
Aku membisu sepanjang jalan menuju toilet untuk berganti (aku terbiasa membawa ganti underwear sebagai cadangan setiap datang bulan). Selama itu pula, Ilalang diam saja dan sibuk dengan ponsel. Ia kuminta menunggu di bawah, sedangkan aku ke toilet.
Sampai di dalam toilet, aku berseru keras seraya mengacak-acak rambut dan menendang-nendang pintu bilik. Aku melepas jaket yang dililitkan di pinggang, kemudian memeriksa p****t. Melihat bercak darah di sana, aku memejamkan mata dan membenturkan dahi ke bilik berkali-kali saking frustrasinya.
Sekitar limabelas menit kemudian aku keluar. Karena tidak membawa celana ganti, terpaksa aku keluar masih dengan jaket yang melilit pinggang. Wajahku masih merah. Aku menggigit kuku. TARUH DI MANA MUKAKU KETEMU BOCAH ITU?? Aku berhenti sejenak dan memeluk tiang. Kubenturkan lagi dahiku, merengek.
Sumpah. Ini hal paling memalukan. Meskipun aku dan dia sudah dekat sejak SMP, tetap saja aku punya urat malu!
Di lantai bawah, aku melihat Ilalang duduk di sofa sambil menekuri ponsel dan mendengar musik dari earphone. Ia menengadah begitu aku mendekat sambil menunduk.
"Udah? Yuk gue anter balik ke kantor."
Aku menggeleng. "Lo duluan deh. Gue mau pergi dulu. Nanti naik busway."
Ia berdecak. Seakan tak mau memperpanjang urusan, ia bangkit dari sofa dan melambaikan tangan. Benar-benar meninggalkanku. Aku menatapnya seraya menarik sudut bibir ke atas.
Agak lega sih, tapi juga tak rela ditinggal.
Sebelum kembali ke kantor, aku mampir ke department store untuk membeli celana dan langsung berganti ke toilet. Sekarang, aku bisa melepas jaket Ilalang. Kumasukkan jaketnya ke ransel. Tapi, aku mengeluarkannya lagi sekadar mengendus baunya. Aroma parfum maskulinnya masih melekat di sana. Membuatku tersenyum seperti orang edan di halte menunggu busway.
Sadar atas sesuatu yang kulakukan, aku menggeleng dan menjejalkan jaketnya ke ransel. Busway datang. Aku segera naik.
*
"Di sini selain Hani sama Dian ada yang suka K-Pop nggak?"
"AKU!" Aku sontak mengangkat tangan dengan mata mendelik, bangga.
Meri mengernyitkan dahi. Aku menurunkan tangan dan minta maaf karena berbicara sangat keras.
"Karena Hani resign dan kita kekurangan redaksi di rubrik K-Entertainment buat lini World's Window (anak perusahaan Good Morning Indonesia), lo ngisi artikel di sana," lanjut Meri tanpa memandang ke arahku: ia sibuk dengan berkas-berkas di meja.
Aku menggaruk kepala. Padahal kukira ia akan mengajakku nonton konser atau fan-meeting di Korea.
"Kenapa?" Meri mengangkat kepala, menyadari kediamanku.
"O-oke, deh."
Yah! Aku kan ingin meliput kasus berat. Nggak apa, ini namanya fangirling yang dibayar. Jarang-jarang kan fangirling dibayar. Yang ada malah menghabiskan kuota.
Saat berkutat dengan komputer, aku mendapat pesan dari Ilalang. Ia mengirim kontak seseorang.
Ilalang:
// Sabda //
Tambahkan Kontak || Kirim Pesan
Ilalang: Tuh psikiater kenalan gue
Woah. Ternyata ia tidak berbohong. Sebelum membalas, ia mengirim pesan lagi.
Ilalang: Kalau lo chat dia, bilang kalau lo pacar gue. Oke?
Aku mengerutkan hidung.
Filosofia: Males banget!
Ilalang: Udah, percaya sama gue. Nanti dikasih murah.
Widih, murah betulan nih? Kalau iya, aku akan mengaku-aku jadi pacarnya beneran.
Tanpa pikir panjang, aku mengirim pesan ke kontak bernama Sabda tersebut. Tidak berselang lama, ia membalas.
Dan, kami sepakat membahas pertemuan di RSJ tempatnya bekerja.
*
Ini pertama kalinya aku mengunjungi RSJ. Keadaannya sedikit berbeda dengan rumah sakit umum. Agak lengang. Aku meminta izin pulang sejam lebih awal. Mengikuti jadwal dokter Sabda yang padat, aku langsung mengambil kesempatan hari ini karena beberapa hari ke depan ia pergi keluar kota.
Sambil menunggu dokter Sabda selesai konsultasi pasien, aku duduk di lobi sambil menggulir ponsel.
"Mbak Filosofia?"
Namaku dipanggil resepsionis. Aku mengangkat kepala. "Ya?"
"Sudah ditunggu dokter Sabda di ruangannya." Resepsionis itu menggerakkan tangan, menunjuk pintu dan meminta rekannya mengantarku.
Aku diantar sampai ke ruangan dokter Sabda. Rupanya, ia sudah menungguku di kursinya dengan senyum simpul.
YA AMPUN GANTENG ASLI SIAL.
"Filosofia?" Ia membuka suara. Aku mengangguk. "Silakan duduk."
Aku berdeham dan duduk di depannya. Ia masih tak melenyapkan senyum ramah. Saat melihat cincin di jari manisnya, aku tahu ia sudah punya tunangan. Yah, stok cogan berkurang satu.
"Jadi, kamu punya keluhan apa?" tanya Sabda setelah mengisi form.
Aku pun menceritakan semua keluhanku mengenai fobia darah orang lain.
"Kalau saya ngelihat orang lain terluka sampai berdarah, saya bisa pusing dan hampir pingsan."
"Kamu cuma takut darah dari luka orang lain?" Ia mencatat.
"Iya."
"Sejak kapan?"
Kuceritakan padanya tentang tragedi yang menimpaku beberapa tahun silam. Dokter Sabda mendengar saksama. Ia terus memandangku dari balik kacamata, membuatku jadi gugup.
"Dok, jangan lihatin saya kayak gitu. Saya jadi gugup." Aku menyengir.
Ia terkekeh. "Ya sudah. Saya tutup mata." Ia memejamkan mata.
Ya elah si dokter. Bikin baper saja. Haram hukumnya ngebaperin pasangan orang. Jadi, aku mengontrol diri agar tak salah tingkah.
"Buka aja deh. Nggak apa. Hehe."
Ia membuka mata dan menyengir. "Ngomong santai saja. Aku kenal Ilalang kok."
"Woah, kenal dekat banget ya?"
Ia mengangguk. "Kamu siapanya Ilalang?"
Jawab pacar nggak ya? "Anu...." Katanya kalau jawab pacar bakal murah. "Aku... pacarnya." Aku menambahkan dengan cengiran.
Sebelah alisnya terangkat. Ia tertawa, membuatku keki. Dokter Sabda mengangguk-angguk.
"Segitunya sampai nyuruh kamu bohong."
"Eh, kelihatan ya, Dok?"
Ia mengedikkan bahu. "Mata kamu bergerak ke atas. Jari-jari kamu bergerak gelisah." Ditunjuknya jemariku yang mengusap-usap telapak tangan. Ia tersenyum. Aku meringis macam kuda.
Ya iyalah. Dia kan psikiater. Mana bisa dikadali. g****k.
"Oke, karena saya nggak punya waktu cukup banyak, mungkin kita bisa lanjut dua hari ke depan. Kamu bisa datang ke rumah saya sekitar jam tujuh atau delapan. Saya akan kabari," lanjutnya.
"Kalau datang ke rumah dokter jam segitu apa nggak bikin pacar dokter marah?" tanyaku sedikit pelan.
Ia menyengir. "Nggak. Dia tinggal di depan rumah saya. Oh ya, nanti kalau diperlukan, kamu akan diperiksa di lab. Nanti saya kabari saja."
Aku merapatkan bibir dan mengangguk.
"Saya antar sampai keluar. Kebetulan saya juga mau pergi." Ia membawa serta tas kerjanya.
Akhirnya, kami keluar bersama menyusuri selasar. Lelaki itu beberapa kali menyapa ramah dokter dan perawat yang berpapasan dengannya.
"Maaf kalau lancang, kamu sudah kenal Ilalang lama? Karena setahu saya, dia tipe orang yang nggak bakal ngerekomendasiin saya ke orang lain."
Aku tersenyum rikuh. "Kenal udah lama sih. Kami teman di kelas karate waktu masih SMP. Terus, sering dikirim pertandingan. Makanya, kami lumayan dekat." Ya... biarpun si berengsek sialan itu sering menjahiliku dan mengataiku.
"Hm... kalau begitu, kamu baru ke sini dong?"
"Kok tahu??" Aku membuka mulut takjub. "Wah, Anda tahu banyak ya soal Ilalang."
Ia terkekeh. "Karena dia nggak punya temen akrab di sini. Tahu dia merekomendasikan saya ke kamu, artinya kamu sangat dekat dan cukup berarti buat dia."
Aku tertawa sumbang. Kututup mulutku dan menepuk lengannya. Ia memandang tanganku di lengannya. Buru-buru, aku menarik tanganku dan menunduk minta maaf. Alih-alih marah, ia tertawa.
"Pangeraaan!!!"
Aku terperanjat kaget melihat seorang gadis berkucir dia berlari gesit menghindari kejaran suster. Ia bersembunyi di belakang dokter Sabda yang berhenti melangkah. Aku mengerjap-ngerjapkan mata.
"Ya ampun, Sheila! Ayo balik!" Suster yang mengejarnya ngos-ngosan.
"Nggak mau! Aku nggak mau minum obat!"
"Nanti suster beliin permen, ya?"
Gadis bernama Sheila itu menggeleng dan mencengkeram tangan dokter Sabda yang tersenyum.
"Maaf, Dok. Sheila kabur dan malah lari-larian ke sini," ujar si suster.
"Sheila, ayo nurut sama suster Fani." Dokter Sabda menyentuh tangan Sheila. "Nanti kamu dimarahi Ratu Minah loh kalau nggak nurut."
Sontak, Sheila melepas tangan dokter Sabda. Matanya membulat. "Aku bakal nurut!" Ia memberikan gerakan hormat. Lalu, menatapku. Matanya berubah menyipit. "Hmm... siapakah perempuan ini. Apakah seorang pelakor?"
Pelakor? Enak saja!
"Hey, kamu siluman Yabadobado dari Bumi Segitiga! Kamu mau merebut Pangeran dari Yang Mulia Ratu Minah, ya?!" Gadis itu berteriak sambil bertolak pinggang.
Aku menggerakkan tangan di udara. "Bu-bukan! Aku bukan dari Bumi Segitiga!" Aku menggaruk kepala, berpikir. "Aku dari BT Planet!" Bodo amat dah.
Gadis itu membuka mulut dan mengangguk. Ia mengulurkan tangan. "Perkenalkan. Nama aku Princess Sheila, penguasa kedua di sini setelah Ratu Minah!"
Dengan hati-hati, aku membalas jabatan tangannya, sambil memikirkan skenario untuk membalas imajinasinya. "Mmm... anu, aku... Tata! Alien dari BT Planet!" Ya Gusti, maafkan aku V BTS.
Sheila menjabat tanganku dan tersenyum semringah. "Kamu ke sini naik apa? Apakah kuda terbang? Atau sapu Pak Darmaji tukang kebun sini??"
"Aku...." Bola mataku melirik ke atas. "Aku naik robot. Namanya VAN." Ada gunanya juga jadi fangirl Bangtan Boys.
Sheila bertepuk tangan antusias. "Ceritakan soal planet kamu!"
"Sheila, ikut suster Fani dulu, ya." Dokter Sabda menyentuh kedua pundak Sheila.
"Kapan-kapan Tata ke sini lagi, ya!" seru Sheila sambil melompat-lompat girang.
Aku tersenyum dan memberi sikap hormat. "Siap!"
Sebelum berlalu bersama suster Fani, Sheila melambaikan kedua tangannya dan melayangkan ciuman jauh berkali-kali.
Dokter Sabda terkekeh. "Kamu mengingatkan saya sama seseorang. Rasanya seperti deja vu." Ia tersenyum penuh arti. Tapi, aku tak tahu maksudnya.
Sampai di lobi, aku melihat Ilalang yang sudah menungguku. Ekspresinya benar-benar tak enak.
"Kok lo tahu gue di sini?" bisikku.
"Dia yang bilang, suruh gue jemput lo." Ilalang menunjuk dokter Sabda.
Aku mengerjapkan mata. Belum sempat mencerna, pundakku dirangkul. Badanku ditarik mendekat. Aku berbisik padanya.
"Dia tahu kalau gue bukan pacar lo, bego."
Ia memandangku. "Oh ya?" Ilalang mengubah ekspresinya dan mendadak menggenggam tanganku. "Gimana konsultasinya? Ya ampun, kamu sampai pucat begini. Belum makan ya?" Ia mencubit kedua pipiku.
Apa sih berengsek!
Aku menepis tangannya kasar. Ia tersenyum dan merangkulku lagi. Pandangannya beralih kepada Sabda. "Oi, makasih ya. Tolong bantu dia sebisa lo. Dia sangat berarti bagi gue "
JIJIQUE. Aku hanya menarik sudut-sudut bibir ke atas diikuti kedutan mata.
"Aku bakal bantu dia. Tenang aja."
Ilalang memandangku. "Kita makan bareng yuk? Nanti kamu mati kelaperan lagi. Pipinya nanti nggak tembem lagi." Ia mencubit kedua pipiku, lebih keras, seperti gemas, sampai membuatku mendesis kesakitan.
Tanpa berpamitan pada dokter Sabda, ia menyeretku menjauh. Aku melambaikan tangan pada dokter Sabda sambil diseret-seret oleh si berengsek.
Begitu sampai di tempat parkir, aku menepis tangannya kesal.
"Apaan sih lo. Pipi gue sakit, tahu!" Aku menggembung dan mengempiskan pipi beberapa kali sembari menepuk pelan.
"Haesh, gue masih kesel ngelihat dia."
"Emang dia siapa, sih?"
Ia tak membalas. Tidak diberi kesempatan menekannya, tiba-tiba ada motor lewat nyaris menyerempetku. Dengan sigap, Ilalang menarik badanku dan memelukku sangat erat.
"Oi! Gila lo! Mau mampus ya!" Ia berteriak pada si pengendara motor.
Aku menengadah menatapnya, masih berada di pelukannya. Jantungku bertalu-talu hebat.
Ilalang Rimba k*****t.
*****
YAH UDAH KELEWAT MALMINGNYA. PADAHAL MAU APLOT BUAT JOMLO BIAR MAKIN MERANA HUH :(
Btw buat yang belum tau, Tata itu karakter LINE yang diciptakan Taehyung alias V BTS wkwk ._.
Kalau di GINCU 1 ada Mbak Desi yang fangirling sama Sehun EXO, di sini Filosofia fangirling sama BTS hehe ~
Chattingan ala Ilalang dan Filosofia. Lebih jelasnya liat di ig gue lovitacendana oksip