Chapter 18

1016 Words

Baik Danica ataupun Agasta sama-sama memendam dongkol atas ucapan Paramita yang sembarangan dan sesuka hatinya sendiri. Membagi-bagi orang menjadi berpasangan. Seolah-olah dirinyalah di pemegang takdir. Danica membayangkan dirinya berhasil loncat melewati meja tamu. Berdiri di hadapan Paramita dengan perkasa. Menempelkan pirimg kecil dengan pisang goreng yang sudah digigit sebagiannya, ke wajah Paramita. Lalu pamungkasnya adalah menjambak rambut Paramita, penuh ke belakang, dengan sentakan kuat. Rasanya pasti sangat lega. Tanpa sadar Danica tersenyum sendiri sembari arah kepala tertuju ke Paramita. Meski seperti menatap Paramita, tetapi sebenarnya tatapannya tidak fokus. Lebih seperti melamun. Bibir Agasta gatal ingin bertanya apa yang dipikirkan gadis itu. Agasta yakin itu adalah sesu

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD