KENANGAN

2604 Words
Alva kembali ke hotel untuk melakukan perpanjangan kamar, meski dia tidak tahu Kartika akan menginap di hotel berapa malam. Alva melepaskan jas dan melonggarkan dasinya, melepaskan kancing teratas dari kemejanya dan menggulung lengannya. Alva duduk di sofa menatap keluar jendela kamarnya. Dia membuka gadgetnya dan melihat kembali foto-foto keluarganya. Saat ini sudah 10tahun berlalu sejak kematian istri dan anak-anaknya, tapi Alva tetap merasa kehilangan yang sangat teramat besar. "Apakah kalian bahagia disana? Ingin rasanya aku menyusul kalian kesana, mungkinkah kita masih bisa bersama lagi di alam sana?" Ucap Alva seorang diri. Alva tersenyum memandang sebuah foto mendiang istrinya yang sedang tertawa seorang diri. "Ternyata kamu sangat kurus sekali, aku sungguh tidak bisa memenuhi kebutuhan gizimu saat menjadi suamimu, tapi kamu masih selalu bisa tertawa. Tawamu selalu mampu menghilangkan rasa lelahku dan melupakan segala masalah pekerjaanku. Aku sungguh sangat merindukan dirimu." Ucap Alva sendiri. Alva membelai foto itu, leher hingga pundak wanita itu yang terbuka, membuat intinya berdenyut menggelenyar, dia jadi teringat pada Kartika. "Michele, ada seorang wanita yang belakangan mulai mengisi waktu di hari-hariku, namun tidak mengisi secara seks seperti biasanya. Wanita itu memiliki banyak kesamaan denganmu, tidak menarik di awal namun ternyata sangat menyenangkan saat sudah mengenalnya. Dia juga seperti dirimu, sangat menjaga dirinya dari para pria, hehehehe tapi dia juga tidak bisa menolak pesonaku, sama dengan dirimu." Ucap Alva pada foto itu sambil terkekeh sendiri. Wajah Alva yang terkekeh kembali murung dan hatinya merasa nyeri saat matanya terpejam, teringat kenangan-kenangan bersama istrinya dulu, kemesraan mereka, canda tawa mereka, bagaimana paniknya saat tiba waktu melahirkan, bahkan saat mereka saling menghibur ketika ada masalah yang datang pada rumah tangga mereka. Alva mengecup foto itu dengan sangat mendalam dan memeluk gadgetnya berasa sedang memeluk istrinya itu. Alva menatap foto itu lagi dan tersenyum. "Kini aku sudah hidup berlimpah harta, tapi hidupku terasa sangat tidak lengkap. Dulu, kita hidup hanya cukup untuk pengeluaran sehari-hari, tapi hidupku terasa sempurna."  Ucap Alva lagi seakan foto itu bisa mendengar segala ucapannya sedari tadi. "Apakah kamu akan mengijinkan diriku menjalin hubungan dengan wanita itu? Akankah kamu merestui jika aku pada akhirnya ingin menikahi wanita itu? Wanita itu telah memiliki dua orang anak, usia mereka juga sama dengan Keith dan Faith. Aku sungguh sangat merindukan kalian." Ucap Alva lagi pada foto itu. Alva menggelengkan kepalanya dan tersenyum lebar bahkan meneteskan airmatanya, saat teringat ucapan Michele saat itu. "Aku tidak melarangmu untuk mencari wanita lain Alva, aku akan memberimu kebebasan. Serius! Aku akan memberimu kebebasan dengan wanita manapun, tapi dengan satu syarat kamu juga harus memberikan kebebasan padaku dan anak-anak untuk pergi jauh darimu." Ucapan Michele kala itu. Alva terus meneteskan airmatanya meski bibirnya tersenyum, namun itu hanyalah senyum getir. "Kamu sangat mengenal diriku Michele, kamu sangat tahu hal yang menjadi kelemahanku adalah dirimu dan anak-anak. Aku tidak akan sanggup kehilangan dirimu juga anak-anak, harta kekayaan keluargaku saja kutinggalkan demi hidup bersama kalian, jadi sangat tidak mungkin aku akan memilih wanita lain dan membiarkan kalian pergi dari hidupku hehehehe..." Ucap Alva terkekeh sambil terus menangis. Drrrtttt...Drrrrtttt... Ponsel Alva berbunyi. Kenzie memanggil. "Tuan, Bu Kartika telah kembali ke hotel bersama anak-anak. Mereka sudah naik ke atas." "Terima kasih Kenzie." Alva pun mengusap airmatanya dan membasuh mukanya, lalu memakai jas nya lagi dan merapikan penampilannya. Ting.Tong. Alva menekan bell pintu kamar Kartika. Ceklek. "Hai, kalian sudah kembali? Apa kalian akan keluar makan malam?" Tanya Alva. Kartika terlihat sangat lelah, wajahnya begitu kusam karena sehari ini dia terus berkeliling dan bekerja membersihkan rumah kontrakan yang baru lalu memindahkan segala barang-barangnya, juga menyusunnya di tempat yang baru. "Maaf, aku sudah membeli makan malam untuk kami bertiga saat di perjalanan pulang tadi. Aku terlalu lelah untuk pergi keluar lagi, aku akan istirahat saja supaya besok kami tidak terlambat." Sahut Kartika sambil bergelayut pada pintu. Alva tersenyum. "Boleh aku masuk? Aku tidak akan lama, hanya ingin bertemu dengan anak-anak sebentar." Tanya Alva lagi. Kartika pun mundur sambil membuka lebar pintu kamarnya. "Masuklah, mereka masih di kamar mandi." Sahut Kartika mempersilahkan Alva masuk. "Terima kasih." Ucap Alva sambil melangkah masuk. Alva lalu duduk di sofa menunggu anak-anak selesai mandi, Kartika membantu Samira mandi dan berganti pakaian. "Uncle Alva, kapan datang?" Sapa Kemal tersenyum senang saat keluar dari kamar mandi. "Hai, kemarilah, aku sangat merindukan kalian."  Sahut Alva memanggil kemal dan Samira untuk mendekat. Keduanya segera mendekat dan memeluk Alva. "Hmm...kalian sungguh segar....aku jadi ingin mandi juga..." Ucap Alva dan kedua anak itu tersenyum lebar. "Uncle Alva, mandi disini saja, tuh sekalian sama mami juga mau mandi, kamar mandinya muat lho buat berdua, aku dan kak Kemal juga mandi bersama muat.." Ucap Samira dengan polosnya. Alva segera menatap Kartika yang sudah memeluk pakaian gantinya untuk masuk ke dalam kamar mandi. "Eh! Samira...kan mami sama uncle badannya besar, jadi gak akan muat kamar mandinya." Sahut Kartika memberi pengertian pada anaknya. Samira pun menepuk keningnya sendiri. "Ou iya ya..." Ucap Samira sambil tersenyum lebar. Mereka semua tertawa melihat tingkah lucu Samira. Kartika segera masuk ke dalam kamar mandi, membiarkan anak-anak bersama Alva. Alva kembali menatap siluet buram tubuh Kartika di balik kaca buram kamar mandi, dan kali ini dia tidak ingin menghindar lagi, dia sedang ingin menikmati siluet itu, terlebih saat Kartika menghadap ke samping, siluet payudaranya dan bokongnya sungguh sangat merangsang Alva. "Sungguh ciptaan Tuhan yang sempurna."  Batin Alva memuji bentuk tubuh Kartika meski hanya dalam siluet yang buram. "Uncle Alva, kata mami besok kita akan pindah ke rumah baru lho." Ucap Kemal dan Alva berhenti menatap siluet buram itu. "Ou iya??? uncle Alva boleh main kesana tidak?" Sahut Alva bertanya. "Tidak!" Sahut suara Kartika yang mendadak sudah berdiri di depan kamar mandi. Semua menoleh pada Kartika. "Kenapa tidak boleh mami???" Tanya Kemal bingung. "Kemal, Samira, ayo rapikan mainan kalian, lalu makan." Sahut Kartika sambil menyiapkan makanan bagi anak-anaknya. Alva terus menatap pada Kartika, sedang Kartika berusaha menghindari tatapan Alva dengan menyibukkan diri mengurus anak-anaknya makan. "Anak-anak, uncle Alva pergi dulu ya, sampai bertemu besok." Pamit Alva. Alva memutuskan untuk memberi ruang bagi Kartika malam ini, karena wanita itu terlihat sangat lelah dan sedikit murung, meskipun Alva ingin sekali memeluk dan menghiburnya. Kartika tetap acuh tidak peduli, bahkan tidak mengantar Alva ke pintu, hingga Alva menghilang di balik pintu.  Kartika menghela napas panjang dan berat, dia memijat keningnya sendiri sambil memejamkan matanya. "Mami, sakit ya? Kepala mami pusing ya?" Tanya Samira. Kartika pun kembali membuka matanya dan tersenyum menatap putri kecilnya itu. "Tidak sayang, mami hanya kecapekan. Setelah ini kita tidur ya, supaya besok tidak terlambat, mami sudah bawa seragam kalian." Sahut Kartika tidak ingin anak-anaknya cemas. **** Kartika sangat merasa lelah tubuhnya, namun pikirannya jauh lebih lelah lagi. Anak-anak telah tidur, sedangkan Kartika sedang menghitung-hitung keuangannya dan mencatatnya dalam sebuah buku. Kartika menghela napas panjang. "Rumah kontrakan itu sangat mahal sebenarnya, aku harus mencari rumah kontrakan lain lagi untuk tahun depan. Penghasilanku tidak akan cukup jika harus disisihkan sebanyak ini tiap bulannya hanya untuk menyewa kontrakan tahun depan." Keluh Kartika pada sendirinya. "Ouh astaga! Aku terlalu bergantung pada Yani dan kak Raja, sekarang aku bingung harus bagaimana di Jakarta ini??? Aku tidak mengenal baik kota Jakarta ini. Sekalinya mencari rumah kontrakan sendiri justru dapat yang mahal! Huuhhh....!" Keluh Kartika lagi menghela napas berat. Kartika memejamkan matanya dan memijat tengkuknya sendiri. "Ah...dulu kak Edward yang akan melakukan hal ini jika aku terlihat kelelahan, ya..meskipun setelah memijat akhirnya kami akan berlanjut bercinta panas di tempat tidur, tapi aku selalu senang dia melakukan hal itu." Pikiran Kartika melayang ke masa lalu. Kartika masih memijat tengkuknya sendiri, dia tersenyum dan berdenyut inti bawahnya teringat perlakuan mendiang suaminya yang selalu lanjut merangsang dirinya dengan memijat tengkuknya disertai tiupan-tiupan lembut di tengkuknya itu. Kartika merasakan intinya mulai sedikit nyeri saat membayangkan pergerakan tangan Edward yang mulai turun ke punggung lalu merayap ke depan dan menangkup kedua payudaranya dari belakang. "Sepertinya yang ini juga butuh pijatan." Bisik kak Edward saat itu. Kartika tersenyum, tanpa sadar hormon wanitanya terus meningkat karena mengingat saat-saat dirangsang oleh suaminya dulu. Tangan Kartika bahkan kini mulai memijat payudaranya sendiri, Kartika mulai meleleh basah di inti bawahnya. Dia membuka matanya dan menghentikan pergerakan tangannya,, dia frustasi dengan hormon wanitanya. 10 bulan lamanya dia selalu mengalihkan kebutuhan batinnya itu setiap hormon wanitanya mulai naik, tapi entah mengapa malam ini hormon wanita dalam dirinya terus menggodanya untuk dirangsang. Kartika menghela napas berat lalu mengambil gadget nya. Dia menelan salivanya dengan berat, lalu membuka sebuah aplikasi yang memang untuk menonton video-video. Kartika sedikit ragu untuk mengetik judul video yang dia inginkan, tapi pada akhirnya dia ketik juga. Hot s*x Movie. Seketika muncullah deretan video dewasa di aplikasi itu. Kartika sempat menahan napas sesaat melihat cover video-video itu. Kartika mulai menggeser dan memilih-milih, lalu pilihannya jatuh pada cover yang bergambar pria dan wanita sedang bercinta dengan penuh gairah. Kartika kembali menelan salivanya dengan berat. Ini pertama kalinya dia menonton video porn atas keinginannya sendiri. Kartika mulai gelisah dan pindah ke sofa panjang, mengambil dua bantal dan berbaring disana sambil menonton video itu. Kedua kakinya mulai bergerak menggesekkan dengan lembutnya kain sofa itu, semakin menambah libidonya dan basah di inti bawahnya. Saat pemeran dalam video itu mulai melakukan seks, Kartika mulai berganti posisi dengan telungkup, melepas pakaian atasnya juga bra nya, mulai meremas lembut payudaranya dan mencubit putingnya sendiri. Kartika sangat ingin diperlakukan seperti wanita dalam video itu, apalagi saat inti wanita itu dijilat oleh sang pria. Kartika mulai menggerakkan tangannya turun menuju intinya, menggeseknya dan mendesah. Euuughhh... Aaahhh.... Pantatnya mulai naik turun ikut menambah ritme gesekan itu. Kartika tidak tahu bagaimana caranya untuk mencapai klimaks jika sendirian seperti ini. Akhirnya Kartika meletakkan sebuah bantal dibawah intinya dan memberi tekanan pada intinya, lalu mulai bergerak, bergesekan dengan bantal itu sambil meremas payudaranya sendiri dan memejamkan matanya. Bayangan kak Edward sedang mengulum putingnya, sangat membuatnya semakin b*******h dan mendesah. aaahhh.... Ooouuuhhhh.... Ya kak....ooouuuhhhh... Enak kak....enak sekali.... Eeeuugghhhh..... Jangan berhenti kak..... Aaahhh....kumohon... Jangan berhenti kak.... Terus kak....jilat terus kak..... Nikmati payudaraku...... Ooouuuhhhh .. Eeeuugghhhh.... Jangan berhenti kak... Aku hampir..... AAAAHHHHH!!!!! Tubuh Kartika bergetar bahkan lemas dan napasnya memburu cepat, matanya masih terpejam. Klimaks telah dia dapatkan setelah beberapa bulan dia tidak mendapatkannya. Ini kali pertama baginya melakukan m********i seumur hidupnya. Menyesal??? Ya, Kartika menyesal melakukan hal itu, meski nikmat dia dapatkan namun kini dia sedang meringkuk menangis. Kartika segera masuk ke kamar mandi dan membersihkan dirinya, mandi secara utuh, seolah dirinya sangat kotor saat ini. Dia tidak peduli bahwa ini sudah tengah malam. Kartika menyandarkan kepalanya ke tembok dengan air shower yang terus menyiram tubuhnya. "Maafkan aku Tuhan, aku terlalu mengikuti nafsu dalam diriku. Maafkan aku."  Doa penuh penyesalan terus dipanjatkan Kartika demi mendapat pengampunan dari sang Pemilik hidupnya. Kartika akhirnya keluar dari kamar mandi dan segera membersihkan gadget nya dari hal m***m tadi, menghapus seluruh history nya. Dia pun akhirnya memilih masuk ke dalam selimut bergabung bersama anak-anaknya dan tidur. **** Dua Minggu ini Kartika lebih banyak menjaga jarak dengan Alva. Dia kembali menjadi sekretaris yang profesional tanpa kedekatan lain sebagai apapun, bahkan sebagai teman pun tidak. Kartika juga selalu ikut dengan Melani saat harus membeli pakaian setiap ada pertemuan dengan klien di luar kantor. Kartika sangat menjauhkan dirinya dari pakaian seksi dan terbuka, namun tetap fashionable. Alva hanya selalu bisa menghela napas panjang, bersabar melihat perubahan sikap Kartika yang sangat berubah, tidak seperti saat mereka berada di Manado. Kartika selalu mencari alasan supaya Alva tidak berkunjung ke rumah kontrakannya bahkan saat akhir pekan  dengan alasan ingin menemui anak-anak pun Kartika tetap menolak dan menghindar. "Tidak mudah mencari rumah kontrakan yang nyaman untuk anak-anak. Aku harus benar-benar menjaga diri supaya tidak diusir lagi dari kontrakan yang sekarang."  Pikiran itulah yang selalu Kartika tegaskan pada dirinya. Alva mulai gerah, dia selalu mencoba memancing reaksi Kartika dengan memanggil wanita jalang ke kantor setiap harinya, namun Kartika hanya bersikap datar saja. Alva mulai frustasi, segala cara dia gunakan untuk mengembalikan Kartika dekat lagi padanya, namun gagal. Dia juga sudah merindukan bermain dengan Kemal dan Samira, bahkan dia sampai harus berkunjung ke daycare anak-anak saat jam kerja. Kartika tidak bisa melarang kunjungan Alva ke daycare karena anak-anak selalu merasa senang bertemu dengan Alva. Dia tidak tega melihat wajah murung anak-anaknya saat itu, saat pertama kali Alva datang berkunjung ke daycare lalu Kartika memperingatkan anak-anaknya dengan keras, melarang mereka menemui Alva, anak-anak langsung murung dan mendiamkan Kartika. Ya, kehadiran Alva seolah mampu membuat mereka bagai memiliki seorang sosok ayah. **** "Hai kak! Tumben pulang ke rumah?! Kangen ya sama Odi?" Sapa Odi menggoda Alva yang barusaja tiba dan duduk di sofa ruang tengah sambil melonggarkan dasinya. "Jadi aku sudah tidak boleh pulang ke rumah lagi?!" Tanya Alva tersinggung "Tidak! Bukan seperti itu. Astaga....gampang banget tersinggung! Lagi ada masalah ya?" Sahut Odi. "Odi, jangan ganggu kakakmu! Kamu tidak lihat wajahnya sudah seperti benang kusut begitu???" Ucap sang ibu. "Mama apaan sih?! Kenapa justru ikutan putri liar ini sih?!" Sahut Alva kesal. "Enak saja putri liar!" Protes Odi. "Eh kak, gimana kerja sekretaris yang aku usulkan itu? Dia masih bekerja disana kan?" Tanya Odi. "Iya masih! Kalau bukan karena ancaman kabur mu yang bisa membuat mama gila, aku gak akan punya masalah dengan sekretaris itu!" Sahut Alva kesal. "Memangnya dia membuat masalah apa? Kamu sampai kusut seperti itu! Bukannya kamu yang selalu membuat masalah dengan semua sekretarismu itu?! Selalu menyuruh mereka melayani nafsu bejatmu daripada bekerja dengan baik!" Tanya ibunya Alva. "Mama...sudahlah, jangan menyinggung hal itu terus!" Protes Alva. "Alva, mama sudah bertambah tua, mama gak mau punya cucu saat sudah pikun dan lemah! Ayolah! Cepat nikah dan berikan mama cucu!" Ucap sang ibu "Iya! besok Alva bawa cucu buat mama kesini, dua sekaligus!" Sahut Alva kesal "Eh! Apa sekretaris-sekretaris mu itu ada yang kamu hamili?! Jangan gila kamu Alva! Cepat kamu bertanggung jawab! Nikahi dia!" Tanya sang ibu sangat terkejut. "Astaga mama!!! Sejak kapan sih Alva berbuat ceroboh seperti itu?!" Sahut Alva semakin kesal. Si ibu dan sang adik tersenyum lebar karena berhasil menggoda Alva. "Kak, memangnya sekretaris itu membuat masalah apa sih?! Kok kakak sampai kesal seperti ini?!" Tanya Odi. "Sudahlah! Aku mau istirahat saja." Sahut Alva dan langsung berdiri meninggalkan adik dan ibunya. **** Malam hari. "Kak..." Panggil Odi saat mendekati Alva yang sedang duduk sendirian di kolam renang setelah selesai makan malam. "Hei.." sahut Alva. "Boleh gabung?" Tanya Odi. "Duduk saja." Sahut Alva tersenyum pada adiknya. Odi pun tersenyum lebar dan segera duduk di samping kakaknya itu. "Mau berbagi cerita?" Tanya Odi menyenggol kakaknya dengan siku tangan. Alva menoleh menatap adiknya itu dan tersenyum. "Memangnya kamu bisa jadi tempat curhat??? Aku tidak percaya! Paling juga kamu cuma penasaran aja! Lalu akan mengejekku!" Sahut Alva. "Aduh! Gini-gini Odi sering jadi konsultan anak-anak di kampus lho....gak percaya??? Coba aja cerita, pasti Odi bisa kasih solusi." Ucap Odi dengan penuh percaya diri. Alva hanya mengacak puncak kepala Odi dan terkekeh. "Jadi...ada masalah apa?" Tanya Odi terus mencecar Alva. "Apa kamu pernah dekat dengan seseorang, lalu orang itu mendapat masalah karena dekat denganmu dan jadi menghindarimu, apa yang akan kamu lakukan?" Tanya Alva "Aku akan menemuinya dan mengajaknya berbicara lalu meminta maaf." Sahut Odi. "Dia tidak mau berbicara lagi denganku." Ucap Alva. "Kak Alva hanya kurang berusaha keras saja." Sahut Odi. "Dia selalu memiliki alasan untuk menghindariku." Ucap Alva putus asa. "Dia seorang wanita?" Tanya Odi, Alva hanya mengangguk. "Kalau begitu cium saja dia!" Ucap Odi dan langsung diketok kepalanya oleh Alva. Odi hanya tersenyum meringis kesakitan namun tidak marah. "Kak Alva, wanita itu jika susah diajak bicara berarti dia sedang menunggu sebuah perbuatan nyata dari pria nya! Dia butuh kepastian bukan hanya sekedar dekat dan bersama saja tanpa status yang pasti!" Ucap Odi lagi. "Dasar gila! Apa aku harus langsung menikahinya supaya lebih pasti lagi?!" Protes Alva. "Ou bagus! Itu lebih langsung ke sasarannya!" Ucap Odi. Alva akhirnya tersenyum lebar mendengar saran adiknya yang tidak masuk akal itu. "Aku senang kakak bisa tersenyum lagi, wajahmu sangat jelek sedari sore tadi." Ucap Odi. "Terima kasih sudah menjadi konsultanku. Apakah aku harus membayar jasamu?" Sahut Alva "Tidak...aku bukanlah adik yang kejam." Ucap Odi dan Alva terkekeh. "Biar kutebak, wanita ini pasti mengingatkanmu pada kenangan masa lalu mu, benar kan?!" Tembak Odi. Alva menghela napas panjang dan menatap ke langit, namun tidak menjawab Odi. "Apakah wanita ini adalah sekretaris janda yang ku rekomendasikan padamu?" Cecar Odi.  Alva menatap adiknya dan tersenyum. "Dasar sok tahu!" Ucap Alva menoyor kepala adiknya itu. Odi menatap kakaknya itu dan tersenyum. "Akhirnya ada yang mampu menembus pintu baja hatimu yang tertutup. Aku yakin dia wanita yang baik dan bisa membuatmu bahagia. Aku akan membantumu kak. Tenang saja, aku pasti membantumu mendapatkannya."  Batin Odi merencanakan sesuatu di otaknya untuk menyatukan kakaknya dengan Kartika. "Apa yang ada di otakmu? Jangan membuat rencana gila! Kamu bisa membuat mama masuk rumah sakit." Ucap Alva mengingatkan adiknya, karena melihat Odi tersenyum sendiri. ****  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD