"lhoh pak? Ada apa ini? Kenapa saya tidak bisa tinggal di kontrakan ini lagi?! Bukankah sudah dibayar untuk 2 tahun ke depan?!" Tanya Kartika merasa bingung.
Kartika tiba di Jakarta bersama anak-anaknya saat hampir sore. Alva tidak mengantarkan mereka karena harus segera menemui ibunya, hanya Kenzie yang mengantar mereka ke rumah kontrakan. Namun saat Kartika hendak masuk ke rumah itu, ternyata kunci rumahnya sudah diganti oleh pemilik rumah kontrakan itu. Kenzie diminta menjaga anak-anak di dalam mobilnya, sementara Kartika bertemu dengan pemilik rumah.
"Maaf Bu Kartika, saya tidak bisa menyewakan rumah itu pada ibu lagi. Ini saya kembalikan sisa uang kontrakan ibu, silahkan ibu cari rumah kontrakan lainnya." Ucap pemilik kontrakan.
"Tapi kenapa pak?! Kenapa mendadak seperti ini?! Bagaimana dengan anak-anak saya pak? Dimana kami akan berteduh malam ini?!" Tanya Kartika lagi.
"Maaf Bu, saya tidak bisa menyewakan rumah saya untuk seorang wanita simpanan, warga disini sudah mengancam akan membakar rumah saya itu jika masih ditempati oleh Bu Kartika." Sahut pemilik rumah
"Apa?! Wanita simpanan?! Siapa yang bapak maksud?!" Tanya Kartika terkejut.
Bapak itu mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan sebuah foto kebersamaan Kartika dan Alva saat di Manado. Mereka terlihat keluar dari sebuah resto pantai hanya berdua dan bergandengan tangan. Kartika ingat benar itu adalah saat dirinya dan Alva setelah bertemu dengan kak Raja dan pasangan sejenisnya.
"Tapi pak, kejadian sebenarnya tidak seperti yang terlihat difoto ini! Tolong pak, katakan siapa yang mengirimkan foto ini pada bapak?!" Tanya Kartika.
"Semua warga disini juga mendapat kiriman foto yang sama dengan saya, dari sebuah nomor asing." Sahut pemilik kontrakan
"Maaf pak, boleh saya meminta foto itu dan nomor pengirimnya?" Pinta Kartika dan bapak itu memberikannya.
"Baiklah pak, asal bapak tahu saja bahwa saya bukanlah wanita simpanan! Saya memang seorang janda pak, tapi saya tidak akan pernah menjual harga diri saya hanya demi uang pak. Permisi, maaf sudah merepotkan bapak, besok saya akan kembali untuk membawa barang-barang saya seluruhnya. Terima kasih." Ucap Kartika lalu pergi dari rumah itu sambil membawa sisa uang kontrakannya.
****
"Ada apa Bu? Mengapa Bu Kartika justru menginap di hotel?" Tanya Kenzie karena Kartika meminta untuk diantarkan ke hotel, bukannya kembali ke rumahnya tadi.
"Tidak apa Kenzie, aku sedang ingin beristirahat saja dengan nyaman setelah perjalanan selama beberapa hari ini. Terima kasih ya." Sahut Kartika menutupi hal sebenarnya.
Kenzie bukanlah orang yang bodoh, dia tahu persis apa yang telah terjadi pada Kartika dan rumah kontrakannya. Apalagi raut wajah Kartika terlihat sangat murung. Kenzie sempat mencuri dengar dari balik pintu saat Kartika menemui sang pemilik rumah kontrakan, setelah rumahnya tidak bisa dibuka.
Kartika telah melakukan check in untuk 3 malam sekaligus di hotel ini. Kenzie lalu membantu Kartika menurunkan koper-kopernya, bawaan Kartika saat pergi ke Manado.
"Baiklah Bu, kalau tidak ada lagi yang harus saya kerjakan, saya permisi dulu." Ucap Kenzie berpamitan.
"Terima kasih ya Kenzie. Ayo Kemal dan Samira bilang terima kasih pada om Kenzie." Sahut Kartika dan anak-anak itu pun mengucapkan terima kasih pada Kenzie.
Kartika segera membawa anak-anaknya untuk naik ke atas menuju kamar mereka, sedangkan barang-barang bawaannya telah dibawa oleh petugas hotel.
"Semoga besok aku bisa ijin sehari untuk mencari rumah kontrakan. Ya Tuhan, tolonglah aku dan anak-anak, berikanlah sebuah rumah kontrakan yang bisa kami tinggali." Batin Kartika berdoa saat selesai menidurkan anak-anaknya.
Kartika menatap langit malam itu dari jendela hotel. Hari sudah larut malam tapi Kartika masih belum mampu memejamkan matanya.
"Siapa orang yang mengambil foto itu dan menyebarkannya ya? Apa salahku pada orang itu? Mengapa dia jahat padaku?" Pikiran Kartika mencoba mencari tahu siapa yang telah sejahat itu pada dirinya.
"Selama di Manado hanya kak Raja dan Niki juga pacar Niki yang bertemu dengan kami dan mengetahui rumah kontrakan ku. Tapi apa mungkin mereka melakukan itu? Siapa diantara mereka yang melakukan itu?" Pikiran Kartika mulai mengingat segala kejadian di Manado.
"Foto itu diambil dari arah luar resto, tepat saat aku dan Alva keluar dari resto, sedangkan kak Raja masih berada di dalam resto dengan pasangan gay nya. Jadi pasti bukan kak Raja, hanya satu tersangkanya, Niki. Ya! Pasti ini perbuatan Niki! Masuk akal! Karena hanya Niki yang mungkin mengetahui banyak nomor telepon dari warga di perumahan itu. Ya! Pasti Niki yang telah melakukan ini! Haruskah aku memberitahu Alva tentang hal ini?! Bagaimana jika bukan Niki yang melakukannya? Apa yang harus kulakukan sekarang?" Kartika terus sibuk dengan pikirannya, hingga tanpa sadar ponselnya sedari tadi terus bergetar tanpa dering.
Kartika duduk di sofa dan menatap kedua anak-anaknya yang tertidur lelap. Airmatanya mengalir tidak tertahankan.
"Ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan sekarang? Belum setahun kepergian kak Edward dan aku harus menghadapi hal ini. Apakah aku akan sanggup merawat mereka hingga dewasa? Berikanlah padaku kekuatan untuk menghadapi semua ini. Tolong aku dalam merawat dan membesarkan anak-anakku. Astaga, aku sungguh membutuhkanmu kak Edward, andai kamu masih hidup, semuanya tidak akan seperti ini." Batin Kartika.
Kartika menekuk lututnya di sofa dan menenggelamkan wajahnya pada kedua lututnya, dia menangis, dia butuh seorang teman, namun tidak mungkin dia menghubungi Yani dan Kak Raja lagi. Mulai sekarang dia harus mandiri. Dia juga tidak mungkin menghubungi mertuanya, karena hal itu pasti membuat mereka cemas dan sedih. Kartika sendiri, ya dia harus kuat menanggungnya sendiri, demi anak-anak.
****
Lobby hotel.
"Sial! Kenapa dia tidak menerima panggilanku?! Kenzie, apa kamu yakin mereka menginap di hotel ini?!" Ucap Alva kesal.
"Iya Tuan, saya sangat yakin, karena saya yang membantu menurunkan barang-barang itu setelah Bu Kartika selesai melakukan Check in. Kalau saya tidak salah dengar tadi Bu Kartika mengatakan pada Bellboy kalau kamarnya ada di nomor 815." Sahut Kenzie.
Alva mengerti keamanan di hotel ini sangatlah ketat, dia tidak akan bisa naik ke atas menuju kamar Kartika jika tidak memiliki kartu akses untuk lift nya.
"Baiklah, tidak ada cara lain!" Ucap Alva lalu melangkah menuju ke resepsionis.
"Saya ingin menginap di kamar yang terdekat dengan kamar no.815. apakah bisa?" Tanya Alva memesan sebuah kamar.
Petugas resepsionis pun mencarikan kamar sesuai permintaan Alva, lalu membantu Alva melakukan check in.
"Silahkan pak, ini kunci kamar anda, jika ada hal lain yang perlu kami bantu, anda bisa menghubungi kami." Ucap petugas resepsionis itu. Alva mengambil kartu itu dan mengucapkan terima kasih lalu segera naik ke atas bersama Kenzie.
"Awas jika kamu salah memberiku nomor kamar Kartika!" Ancam Alva dan Kenzie hanya bisa mengangguk hormat.
****
Kamar 815.
Ting.Tong.
Kartika terkejut dari lamunannya sendiri saat mendengar bell pintu kamarnya berbunyi.
"Siapa ya? Aku kan tidak memesan apapun?" Tanya Kartika pada dirinya dengan bingung.
Kartika segera menghapus airmatanya, lalu berdiri melangkah menuju pintu. Kartika mencoba melihat melalui lubang pintu.
"Hah?! Alva?! Kenapa dia bisa datang kemari?! Apakah hotel ini miliknya?! Jadi dia bisa akses ke lantai berapapun?! Astaga! Kenzie pasti lapor pada bos nya." Ucap Kartika terkejut terlebih saat bell itu berbunyi lagi.
Ting.Tong.
Kartika tidak ingin anak-anaknya terbangun, jadi dia segera membuka pintu itu.
"Alva?! Kenzie?! Ada apa?! Bagaimana kalian bisa sampai kemari?!" Tanya Kartika bingung
"Kamu tunggu di kamar saja! Ini kuncinya!" Perintah Alva pada Kenzie seraya menyerahkan kartu pada Kenzie. Kenzie segera menuruti perintah bosnya, dia merasa lega karena itu benar kamar Kartika dan anak-anaknya. Alva melihat mata Kartika yang sembab, dia sungguh ingin memeluk wanita itu saat ini.
"Boleh aku masuk?" Tanya Alva
Kartika menatap Alva dengan ragu lalu menghela napasnya dan membukakan pintu lebih lebar lagi untuk Alva bisa melangkah masuk. Kartika menutup pintu itu kembali lalu mempersilahkan Alva untuk duduk di sofa. Alva duduk di sofa single, sedangkan Kartika duduk di sofa panjang.
"Apa yang terjadi? Mengapa kalian justru pulang kemari?" Tanya Alva
"Tidak ada apa-apa, aku hanya ingin beristirahat dengan nyaman. Ouw iya, berhubung besok tidak ada pertemuan apapun, maka aku ingin mengambil cuti satu hari, aku sungguh kelelahan setelah perjalanan ke Manado, bisakah?" Sahut Kartika mengajukan ijin.
Alva menatap Kartika tanpa ucapan apapun, Kartika tidak mampu membalas tatapan itu, dia sedang berbohong, dia tidak ingin Alva mengetahui kebohongannya apalagi masalahnya. Alva pun berdiri dari tempat duduknya, membuat Kartika mengangkat wajahnya menatap Alva bingung.
"Baiklah, kalau begitu aku pergi dulu, lebih baik kamu istirahat secepatnya." Ucap Alva lalu melangkah menuju ke pintu. Kartika pun mengikutinya dari belakang.
Brugh!
Kartika menabrak punggung Alva yang mendadak berhenti, karena dia sedari tadi menunduk. Alva berbalik dan langsung memeluk Kartika. Kartika berusaha melepaskan pelukan itu, namun Alva semakin erat memeluknya.
"Menangislah, itu yang kamu butuhkan saat ini." Bisik Alva namun Kartika tetap berusaha melepaskan diri.
"Tidak! Jangan seperti ini Alva, lepaskan aku!" Protes Kartika.
"Tidak! Kamu butuh menangis saat ini, jadi menangislah!" Ucap Alva. Kartika memukul d**a Alva.
"Jangan jadi orang yang sok tahu!" Protes Kartika dengan suara bergetar dan airmata yang mulai mengalir lagi.
Bagaimanapun memang hal itulah yang dia butuhkan saat ini, menangis di bahu seseorang untuk bersandar. Kartika pun tidak tahan lagi, dia menangis sejadinya di d**a Alva dalam pelukan pria itu. Alva tidak berkata apapun, dia membiarkan Kartika menangis sepuasnya dalam pelukannya dan dia hanya mengusap lembut rambut panjang Kartika. Tangisan Kartika mulai mereda, Alva pun lalu mengangkat tubuh Kartika ala pengantin, dan membawanya ke sofa. Kartika duduk dan Alva berjalan ke meja untuk mengambil air minum lalu memberikannya pada Kartika.
"Terima kasih." Ucap Kartika setelah meminumnya.
"Lebih baik?" Tanya Alva dan Kartika menganggukkan kepala.
"Kamu ingin cerita sekarang?" Tanya Alva lagi. Kartika hanya diam menunduk, memandangi gelas yang dia pegang.
"Tidak apa jika tidak ingin bercerita, aku tidak akan memaksa. Tidurlah! Aku akan kembali ke kamarku di sebelah. Besok pagi pasti akan lebih baik." Ucap Alva karena Kartika hanya diam.
Kartika masih tetap diam, Alva pun berdiri lalu memegang kepala Kartika dan mengecup penuh perasaan puncak kepala Kartika. Alva menghela napas panjang, lalu melangkah keluar dari kamar Kartika, dengan Kartika yang tetap duduk diam di sofa.
****
Pagi hari
Kartika menemani anak-anaknya sarapan di resto hotel sebelum mengantar mereka ke sekolah. Hari ini anak-anak berangkat ke sekolah tanpa memakai seragam mereka.
"Uncle Alva!" Seru Kemal saat dia melihat Alva melangkah menuju meja mereka.
Alva tersenyum sambil mengusap kepala Kemal dan Samira dengan lembut, anak-anak pun tersenyum bahagia, tapi tidak dengan Kartika. Alva pun hanya menghela napas panjang, mencoba bersabar, karena Kartika belum mau membuka dirinya dan membagi segala masalahnya dengan Alva.
"Selamat pagi Kartika." Sapa Alva.
"Selamat pagi Mr.Salvastone." sahut Kartika menatap sesaat dan mengangguk hormat.
"Baiklah anak-anak, uncle Alva harus pergi sekarang, kalian hati-hati di jalan ya, sampai ketemu lagi. Bye-bye.." pamit Alva dan anak-anak pun melambaikan tangan mereka, Kartika tetap menunduk memainkan makanan di piringnya.
Alva tersenyum lalu melangkah pergi, sengaja melewati samping Kartika dan mengacak lembut puncak kepala Kartika. Kartika memejamkan matanya, merasakan kehangatan yang mendalam di hatinya atas perhatian kecil Alva barusan.
"Maafkan aku, aku harus menjaga diriku supaya tidak lagi dituduh menjadi wanita simpananmu. Aku juga tidak mau merepotkanmu." Batin Kartika merasa menyesal telah mengacuhkan pria itu.
****
Kantor.
"Ikuti dia kemanapun dia pergi, dan laporkan padaku jika ada masalah, jangan sampai dia tahu keberadaan kalian." Perintah Alva pada Riko dan Jojo, para pengawalnya.
Alva tidak mungkin menugaskan Kenzie atau Zaki untuk mengikuti Kartika, karena wanita itu sudah sangat mengenal mereka, tapi tidak dengan Riko dan Jojo, pengawal selalu mengawal Alva dari jarak jauh. Para pengawal itupun pergi. Alva sudah tahu yang sebenarnya terjadi dengan Kartika. Kenzie telah kembali ke rumah pemilik kontrakan itu, nomor pengirim foto itupun telah diketahui identitasnya. Alva sengaja ke kantor pagi ini, dia sengaja mengajak seorang wanita jalang, untuk melancarkan rencananya. Alva meminta wanita itu untuk melakukan tarian seksual yang merangsangnya, namun entah mengapa Alva sungguh tidak berminat padanya.
"Tuan, dia sudah datang." Lapor Kenzie melalui panggilan intercom.
Alva lalu memanggil wanita itu untuk mendekat padanya, menari di pangkuannya dengan hanya menggunakan pakaian dalamnya yang seksi.
BRAAAKK!!
"KAK ALVA!" teriak wanita yang barusaja mendobrak pintu ruangan Alva. Alva hanya tersenyum sinis menatapnya sesaat lalu sibuk menikmati tubuh si jalang yang ada di pangkuannya.
"Jangan ganggu kami, pergilah!" Usir Alva pada wanita yang berdiri di pintu.
Alva sengaja memainkan k******s si jalang itu untuk membuatnya mendesah supaya rencananya bisa tetap berjalan.
Eeuugghhh...
ooouuuhhhh...
Alva semakin memasukkan jari-jarinya ke dalam lubang inti si jalang itu, mengocoknya keluar masuk sambil meremas p******a di jalang.
"Aku tidak akan pergi! Mengapa kak Alva memblokir kartu kreditku dan menarik mobilku juga mengusirku dari rumah?!" Seru Niki.
Ya, wanita itu adalah Niki.
"Apa kamu tidak lihat?! aku sudah memiliki wanita baruku, lagipula kamu sudah tidak pernah memiliki waktu untuk melayaniku Niki! Sudah Hampir setahun kamu tidak melakukan kewajibanmu padaku, jadi untuk apalagi aku memberikan segala fasilitas mewah padamu?" Ucap Alva sambil terus melanjutkan aksinya.
Alva tidak mempedulikan tatapan Niki, dia melepaskan semua kain yang ada di tubuh si jalang, mengangkat tubuh si jalang ke atas mejanya dan membuka lebar kedua kaki si jalang.
"Pergilah! Jangan ganggu kesenanganku lagi!" Usir Alva sambil mengulum p******a si jalang dengan nafsu.
"Apa dia sekretarismu yang baru?!" Dimana si janda itu?!" Tanya Niki.
"Bukan urusanmu Niki! Pergilah! Carilah pria lain yang bisa kamu kuras hartanya!" Usir Alva lagi yang kini semakin gila karena sedang menjilati k******s si jalang di hadapan Niki.
Ooouuuhhhh....
Enaaakk...
Eeuugghhh......
Aku tidak tahan lagi...
AAAHHHH!!!!
Si jalang itu mencapai klimaksnya, membuat Niki menelan salivanya dengan susah payah. Niki lalu mulai melepaskan sepatunya dan juga tas nya, melangkah maju menghampiri meja Alva sambil membuka satu persatu pakaiannya. Alva tersenyum sinis melihat apa yang Niki perbuat.
"Dasar wanita rendahan!" Rutuk Alva dalam hati.
"Sayang, apa kamu ingin wanita ini bergabung dengan kita? Apa kamu ingin membagi diriku dengannya?" Tanya Alva pada si jalang. Si jalang itu menatap tubuh Niki yang telah polos itu dengan tatapan menghina.
"Tidak, Aku tidak biasa berbagi dengan wanita lain. Sayang, usirlah dia, kumohon aku sangat terganggu..." Sahut si jalang merajuk manja pada Alva. Alva semakin tersenyum dan menatap penuh hinaan pada Niki.
"Kamu sudah dengar permintaan wanitaku, sekarang pergilah! Lagipula aku sudah tidak berminat dengan tubuhmu! Aku juga tidak suka berbagi dengan pria lain! Jadi sekarang pergilah! PERGI!!! JANGAN GANGGU KAMI LAGI!!!" ucap Alva mengusir bahkan membentak Niki dengan sangat kasar.
Niki pun menangis, dia memunguti pakaian nya dan memakainya kembali sambil menatap ke arah Alva dan si jalang itu yang kini sedang melanjutkan kegiatan panas mereka. Si jalang itu kini membungkuk di bawah Alva dan sedang membuka celana Alva. Alva menahannya tangan si jalang itu.
"Tunggulah dia pergi! Bukankah kamu tidak ingin berbagi dengannya??? Jadi jangan biarkan dia juga melihat milikku yang kokoh ini." Ucap Alva sambil senyum sinis pada Niki.
Niki segera keluar dari ruangan Alva dengan tangis yang belum berhenti. Nasibnya kini sungguh buruk, dia dijatuhkan dan direndahkan bahkan lebih dari seorang p*****r, terlebih parahnya kini dia telah menjadi miskin tanpa pekerjaan apapun.
"Tuan, kita harus pergi sekarang." Kenzie kembali menghubungi Alva melalui intercom. Alva lalu menghentikan aktivitas si jalang itu.
"Maaf, aku harus pergi sekarang. Terima kasih atas waktumu." Ucap Alva berdiri dari kursinya.
"Tapi Tuan, hanya saya yang klimaks, anda bahkan belum membuka pakaian anda satupun. Saya akan dikatakan tidak profesional jika seperti ini." Sahut wanita itu menolak untuk berhenti, Alva telah membuatnya ketagihan.
"Kita lanjutkan lain kali saat aku memiliki banyak waktu. Ini bayaran atas jasamu, dan ini sebuah kunci mobil lengkap dengan surat-suratnya untukmu, kamu bisa membawanya pulang, mobil nya ada di tempat parkir P2. Aku harus pergi sekarang." Ucap Alva menyerahkan uang senilai 50 juta dan amplop berisi kunci mobil dan surat-suratnya.
Alva lalu merapikan pakaiannya yang sedikit kusut, dan memakai jasnya.
"Semua ini untuk diriku??? Terima kasih Tuan, terima kasih. Lain kali anda akan saya berikan bonus tanpa bayaran tambahan." Sahut si jalang tersenyum lebar dan mencium bibir Alva.
"Sudahlah, pakai pakaianmu dan nikmati bonusmu, aku harus pergi." Ucap Alva lalu segera keluar meninggalkan ruangannya dan si jalang itu.
Alva melihat Kenzie telah siap dengan mobilnya di lobby kantor.
"Terima kasih atas bantuanmu Kenzie." Ucap Alva.
Kenzie sengaja berjalan pelan meninggalkan kantor. Kenzie tersenyum melihat si jalang juga telah keluar dari parkiran kantor menggunakan mobil barunya.
"Sepertinya yang kali ini sangat memuaskan Tuan???" Ucap Kenzie menoleh pada mobil sebelahnya saat berhenti di lampu merah. Alva juga melihat si jalang itu telah menggunakan mobil barunya.
"Percaya atau tidak, kali ini aku tidak merasakan apapun. Entahlah!" Sahut Alva dengan santai.
Kenzie bukan hanya pengawal, dan sopir, tapi dia sudah menjadi tangan kanan Alva bahkan sahabat Alva sejak awal Alva kembali mengurus perusahaan ayahnya.
"Apa sudah ada kabar dari Jojo?" Tanya Alva.
Kenzie tersenyum, dia sangat mengenal bosnya ini. Kartika telah membuatnya berubah.
"Bu Kartika telah mendapatkan rumah kontrakan yang baru dan sekarang sedang memindahkan barang-barangnya dari kontrakan lama ke yang baru." Sahut Kenzie.
"Apakah rumah itu layak untuk dijadikan tempat tinggal?" Tanya Alva
Kenzie mengambil gadgetnya dan membuka galery foto lalu menunjukkan pada Alva. Alva meraih gadget itu dan melihat foto rumah kontrakan Kartika yang baru.
"Tidak buruk. Seleranya untuk tempat tinggal bagus juga, selalu terlihat nyaman dan sejuk.." Ucap Alva.
"Tapi mengapa Tuan tidak membiarkan mereka tinggal di salah satu rumah atau apartment anda?" Tanya Kenzie. Alva terkekeh geli mendengar pertanyaan Kenzie.
"Apa kamu pikir dia akan mau menerimanya? Tidak mungkin! Bahkan sampai detik ini dia tidak mau menceritakan masalahnya padaku. Jika tidak karena bantuanmu, maka aku tidak akan pernah tahu masalah yang menimpa dirinya." Sahut Alva
"Apakah Niki akan percaya bahwa anda tidak ada hubungan apapun dengan Bu Kartika?" Tanya Kenzie.
"Aku dan Kartika memang tidak ada hubungan lebih, ya setidaknya saat ini memang kami tidak ada hubungan yang lebih dari seorang bos dan sekretarisnya. Entah jika beberapa waktu lagi." Sahut Alva tersenyum lebar menatap keluar jendela.
Kenzie pun tersenyum lebar mendengar pengakuan bos sekaligus sahabatnya itu. Banyak kali Alva telah membantunya juga keluarganya tanpa pamrih. Bahkan anak-anak Kenzie juga dekat dengan Alva. Kenzie hanya bisa selalu setia bekerja dan mendoakan yang terbaik untuk pria itu sebagai balas budinya.