JANGAN PERGI

3154 Words
Dalam perjalanan kembali ke hotel, keduanya hanya diam, hanya menatap keluar jendela disamping mereka masing-masing.   "Kenapa dia hanya diam? Apa ucapanku tadi menyinggungnya? Ah! Aku hanya ingin menghindari supaya dia tidak diperlakukan buruk oleh Laura. Apa yang harus kulakukan sekarang?" Batin Alva cemas dengan sikap diam Kartika.   Alva hanya menoleh sepintas pada Kartika, namun Kartika masih tetap memandang keluar jendela. Akhirnya dia hanya bisa menghela napas panjang tidak tahu apa yang harus dilakukannya.   "Sial! Sungguh gila! Baru kali ini aku tidak bisa berbuat apapun untuk bicara dengan wanita!" Rutuk Alva dalam hatinya, dan kembali menghela napas panjang.   Kartika masih tetap diam, sebenarnya dia tidak berani berkata apapun, dia takut bos nya akan marah padanya karena sepertinya Mr. Rey telah menyinggung perasaan bos nya.   "Dia pasti tersinggung karena dikatakan menyukai diriku. Dasar Mr.Rey gila! Mana mungkin Mr.Salvastone bisa suka dengan diriku?! Janda beranak dua! Umur juga sudah 30tahun! Jelas-jelas sangat bukan seleranya! Gila!"  Batin Kartika mengomel sendiri dan tanpa sadar membuat mimik muka yang kesal dan marah, dengan bibir yang bergerak manyun.   Raut wajah Kartika semakin membuat Alva merasa bersalah. Mereka tetap diam dalam pikiran dan asumsi mereka masing-masing hingga tiba di hotel. Saat di dalam lift pun mereka tetap diam masing-masing, hingga tiba di depan kamar Kartika, dan Alva tidak biasanya dia langsung melangkah menuju kamarnya sendiri, membuat Kartika menghela napas panjang menatap punggung bos nya itu yang melangkah menuju kamarnya sendiri, padahal biasanya dia akan mampir untuk bermain dengan anak-anak.   "Maafkan aku Mr. Salvastone. Aku pasti sudah sangat membuatmu malu, memiliki sekretaris yang tidak muda lagi, terlebih lagi aku ini seorang janda beranak dua. Sepertinya aku harus mulai mencari pekerjaan lainnya. Jika dia terus dalam kondisi mood yang buruk karena memiliki sekretaris seorang janda,itu bisa berakibat buruk pada bisnisnya."  Batin Kartika lalu masuk ke dalam kamarnya.   "MAMI!!!" Seru kedua anakku dan langsung memelukku. "Saya permisi Bu Kartika" pamit Kenzie. "Terima kasih Kenzie, maaf selalu merepotkan dirimu dengan anak-anak ini." Ucap Kartika. "Tidak Bu, mereka anak-anak yang baik dan tidak menyusahkan. Jika boleh jujur, jauh lebih menyenangkan menjaga dua anak ini daripada menjaga setiap sekretaris tuan selama ini, mereka jauh lebih melelahkan." Sahut Kenzie tersenyum lebar. "Ah! Kamu bisa saja! Terima kasih ya Kenzie." Ucap Kartika tersenyum lebar juga. "Iya Bu, permisi." Sahut Kenzie lalu keluar dari kamarku.   "Mami, dimana uncle Alva? Kenapa dia tidak datang kesini?" Tanya Kemal. "Ehm...sepertinya dia merasa kelelahan, biarkan dia beristirahat dulu ya. Bagaimana jika kita pergi jalan-jalan di sekitar hotel saja? Ke pantai mau?! Kita jalan kaki saja." Sahut Kartika. "Mau! Mau! Mau! Asiiikkkk!!!" Seru anak-anak. Kartika pun berganti pakaian santai dan pergi bersama anak-anaknya berjalan kaki. Sebenarnya dia ingin berpamitan pada Alva sebelum pergi, tapi tidak jadi dilakukan, karena tidak ingin mengganggu istirahat Alva. Mereka tiba di pantai dan segera bermain pasir dan air di tepi pantai, berlari kesana-kemari, hanya tawa yang ada di wajah ketiganya. Kartika kembali melupakan segala masalahnya saat bersama kedua anaknya. Tanpa sadar mereka sudah empat jam bermain di pantai. Mereka bertiga duduk di tepi pantai menikmati indahnya matahari terbenam sore ini, tapi Kartika kembali murung karena saat memeriksa ponselnya, dia menyadari Alva tidak juga mencarinya ataupun mencari anak-anak. Kartika merasa ada sesuatu yang nyeri dari hatinya.   "Bodoh! Siapa kamu Kartika?! Siapa anak-anak ini?! Kalian bukan siapa-siapanya! Berhentilah berpikir bahwa dia akan mencari kalian!"  Otak Kartika terus menceramahi Kartika.   "Iya benar, siapa kami ini bagi dirinya?! Seharusnya aku tetap bahagia dengan anak-anakku tanpa berharap padanya." Ucap Kartika sendiri lalu mematikan ponselnya karena tidak ingin selalu berharap bahwa bos nya itu akan mencari dirinya.  ****   "Tuan, apa anda tidak akan makan malam?" Tanya Kenzie yang sedari tadi hanya melihat Alva memandangi foto-foto pada gadgetnya di balkon hotel sejak kembali dari siang tadi. "Ah! Iya, maaf. Aku jadi lupa waktu. Aku akan bersiap-siap, kamu tolong beritahu Kartika dan anak-anak bahwa kita akan makan malam bersama." Sahut Alva lalu menutup gadgetnya. "Maaf Tuan, tapi mereka belum kembali." Ucap Kenzie. "Apa maksudmu mereka belum kembali?" Tanya Alva terkejut. "Maaf, tapi tadi Zaki melihat mereka pergi berjalan kaki, dan saat akan dikawal olehnya Bu Kartika menolak, katanya mereka hanya akan berjalan-jalan ke pantai di dekat hotel ini saja." Sahut Kenzie melaporkan pada tuannya. "DASAR BODOH! MENGAPA TETAP TIDAK DIKAWAL?! MEREKA TIDAK MENGENAL DAERAH INI! BAGAIMANA JIKA TERJADI SESUATU YANG BURUK PADA MEREKA?! CEPAT JEMPUT MEREKA!!!" teriak Alva langsung dengan marah.   Alva segera menghubungi ponsel Kartika, tapi dia justru semakin kesal dan cemas karena ponsel Kartika tidak aktif. "Sial! Kenapa ponselnya harus tidak aktif disaat seperti ini?!" Ucap Alva dengan sangat kesal, karena berulang kali dirinya mencoba menghubungi Kartika tapi selalu tidak aktif. Sudah dua jam pengawal Salvastone mencari Kartika dan anak-anaknya di pantai, tapi tidak menemukan mereka. "BODOH! AKU TIDAK MENYANGKA KALIAN SEMUA BODOH!!! HANYA MENCARI SEORANG WANITA DENGAN DUA ANAK SAJA TIDAK BISA KETEMU?!!! CEPAT CARI MEREKA DI SELURUH KOTA! JIKA KALIAN TIDAK BISA MENEMUKAN MEREKA MALAM INI!!! MAKA AKU AKAN MEMENGGAL KEPALA KALIAN SEMUA!! MENGERTI?!!!" bentak Alva pada para pengawalnya yang kembali tanpa membawa Kartika dan anak-anaknya. "maaf Tuan, tapi..." "APA KAMU INGIN KUPENGGAL SEKARANG HAH?!!! CEPAT KERJAKAN!" bentak Alva tanpa mau mendengarkan penjelasan salah satu pengawalnya. "Tuan, mereka ada di belakang anda." Ucap Kenzie sambil menunduk.   Alva segera berbalik badan dan melihat Kartika telah berdiri di depan pintu kamarnya sambil menggendong Samira yang tertidur juga kemal berdiri disampingnya dan sedang menatap Alva sambil menutup kedua telinganya. Alva segera melangkah cepat dan memeluk Kartika juga Kemal. "Eh, Mr.Salvastone.....Samira...bisa sesak napas." Ucap Kartika karena pelukan Alva sangat kencang. Alva pun segera melepaskan pelukannya. "Maafkan aku...aku hanya terlalu merasa lega saat melihat kalian lagi." Ucap Alva. Kartika hanya tersenyum canggung sambil mengangguk lalu melihat Kenzie dan pengawal lainnya. "Mengapa anda memarahi mereka?" Tanya Kartika. Alva berbalik melihat pada para pengawalnya yang masih menunduk di depan kamarnya. "Kalian boleh pergi! Bersyukurlah kepala kalian selamat malam ini! Tapi tidak ada lain kali seperti ini lagi! Mengerti?!" Ucap Alva dan para pengawal itupun menganggukkan kepala lalu pergi dari lorong hotel itu. Alva melepaskan tas ransel dari punggung Kartika dan membantu membawanya. "Sebaiknya kita masuk dan menidurkan mereka." Ucap Alva dan Kartika pun mengangguk lalu membuka pintu kamarnya. Kartika segera meletakkan Samira di atas tempat tidur, melepaskan sepatunya dan memakaikan selimut padanya lalu membawa Kemal ke kamar mandi dan membantunya membersihkan diri. "Maaf, saya juga harus membersihkan diri." Ucap Kartika setelah selesai dengan Kemal. Alva mengangguk mempersilahkan Kartika.   Kartika kembali masuk ke dalam kamar mandi. "Apa kalian sudah makan malam?" Tanya Alva. "Sudah, tadi kami mencoba makanan di street food dekat daerah china town." Seru Kartika dari dalam kamar mandi. "Ouh pantas saja para pengawal ku tidak bisa menemukan mereka di pantai dan sekitarnya."  Batin Alva tersenyum karena dengan bodohnya telah memarahi para pengawalnya karena terlalu mencemaskan mereka.   Alva duduk di sofa sambil bermain dengan Kemal, menunggu Kartika selesai dari kamar mandi. Tanpa disadari oleh Kartika, Siluet buram pada kaca buram kamar mandi kini sedang menampilkan bayangan buram tubuh Kartika di bawah shower.   "Sial! siluet tubuhnya begitu sempurna!Aku sungguh ingin bersamanya dibawah shower itu saat ini!"  Rutuk Alva namun segera mengalihkan perhatiannya. Alva memilih untuk pindah posisi duduk membelakangi kamar mandi, dia harus menekan libidonya dan kembali fokus bermain bersama Kemal. Kartika keluar dari kamar mandi, pakaiannya sangat longgar dan celana nya juga celana piyama panjang, rambut juga tidak basah hanya dicepol asal-asalan, tidak ada penampilan sexy pada dirinya saat keluar dari kamar mandi, namun Alva sampai melongo menatapnya.   "Gila! Aku sungguh sudah gila! Mengapa aku bisa sangat menginginkan dirinya saat ini?! Benar-benar gila!" Batin Alva.   Kartika merasa canggung karena mendapat tatapan mendalam dan menyeluruh dari bos maniak nya itu. "Mr. Salvastone! Apa ada yang salah?" Tanya Kartika. "Eh! Tidak! Tidak ada yang salah." Sahut Alva gugup. "Mami, Kemal mau tidur ya.." ucap Kemal sambil menguap lebar. "Iya sayang, bereskan dulu mainannya lalu tidur ya." Sahut Kartika   Alva membantu Kemal merapikan mainannya ke dalam ransel, lalu menatap Kartika yang membacakan doa sebelum tidur bersama Kemal juga menyelimuti tubuh Kemal dan mencium kening anaknya. Kartika lalu berdiri dan berbalik, dia merasa canggung akan bersikap bagaimana karena kini hanya dia dan bos nya dalam ruangan itu yang masih tersadar. Kartika mencoba bersikap biasa, dia ingat akan kejadian siang tadi dengan Mr.Rey. Kartika duduk di ujung sofa yang satunya.   "Mr.Salvastone...." "Alva! Panggil aku Alva saat kita tidak di lingkungan kerja!" Sela Alva pada ucapan Kartika. "Baiklah! Alva, maaf dirimu selalu menjadi bahan olokan bagi semua relasi bisnismu karena memiliki sekretaris seorang wanita yang berumur dan bahkan seorang janda beranak dua. Mungkin ada baiknya kamu memindahkan aku ke bagian lain dan kamu mencari seorang sekretaris baru lagi. Aku tidak ingin diriku selalu membuatmu dihina dan akan berpengaruh pada bisnismu." Ucap Kartika. "Kenapa kamu bisa berpikiran bahwa aku malu memiliki sekretaris seorang dirimu?" Tanya Alva. "Jujur saja Alva, aku sudah berbulan-bulan ini selalu memperhatikanmu, kamu selalu akan menjadi badmood setiap kali kita kembali dari pertemuan dengan para klien, dan kamu akan mengunci diri di dalam ruanganmu atau kamu akan memanggil seorang wanita untuk datang melayanimu. Ayolah, jangan memaksakan sesuatu hal yang tidak sesuai dengan hidupmu Alva. Aku tahu kamu hanya takut adikmu kabur dari rumah jika kamu memecatku, hingga kamu terpaksa bertahan beberapa bulan ini." Sahut Kartika. "Ya, kamu benar. Tapi apa kamu tahu hal yang sesungguhnya mengapa aku selalu begitu setiap kembali dari pertemuan dengan klien?" Tanya Alva "Tentu saja aku tahu! Aku bukan anak kecil yang bisa dibodohi Alva! Kamu pasti malu dengan setiap ejekan para klien itu, tapi tidak mampu berbuat apapun untuk menyingkirkan aku karena takut adikmu akan kabur dari rumah. Jangan membohongiku Alva! aku tidak masalah bekerja di bagian lainnya, sungguh! Yang terpenting aku masih memiliki pekerjaan untuk membiayai anak-anakku, lagipula selama aku masih bekerja di perusahaanmu bukankah adikmu tidak akan kabur dari rumah???" Sahut Kartika. "Kamu yakin ingin aku untuk jujur dan tidak membohongimu?" Tanya Alva. "Iya! tidak perlu menjadi munafik jika kamu memang malu memiliki sekretaris yang janda." Sahut Kartika. "Baiklah, aku akan jujur padamu. Kuharap kamu tidak marah dan tidak menghindari diriku setelah mendengar alasanku yang sebenarnya." Ucap Alva. "Tidak...aku tentu tidak akan marah, aku tahu diri Alva siapa aku ini." Sahut Kartika.   Alva berdiri dari duduknya dan melangkah menghampiri Kartika, berdiri dihadapan Kartika yang tetap duduk di sofa. "Aku selalu mengunci diriku di ruangan setiap kali kembali dari pertemuan, itu memang selalu karena dirimu. Tapi bukan karena aku malu memiliki sekretaris dirimu. Tapi karena surat perjanjian kerja yang ada antara kamu dan aku. Aku tahu ini semua gila, dan tidak masuk akal, tapi aku selalu menginginkan apa yang Rey katakan siang tadi, apa kamu tahu itu?! Pakaian yang kamu pakai selalu membuatku ingin merengkuh pinggangmu dan menikmati pundakmu yang sangat menggoda itu, aku selalu ingin melumat bibirmu dan menikmati lehermu itu. Jadi jelas semua memang karena dirimu." Ucap Alva. Kartika hanya diam mendengar ucapan Alva yang tidak masuk akal, bingung hendak merespon bagaimana, juga sedikit berdenyut di inti bawahnya. Alva berlutut dihadapan Kartika dan menatapnya sambil tangannya berada di sofa di sebelah kanan dan kiri Kartika, mengurungnya. "Kamu bohong! Tidak perlu kamu merasa tidak enak hati mengatakan yang sesungguhnya padaku." Ucap Kartika gugup. "Itu yang sesungguhnya, dan saat aku tidak mampu menahan lagi hasrat ku maka aku akan memanggil para wanita jalang itu untuk melayaniku. Tapi kamu boleh tanya pada mereka, aku justru selalu menyebut mereka dengan namamu saat kami melakukan segala seks itu di kantor." Sahut Alva. "Gila! Tidak mungkin seperti itu! Pantas saja setiap wanita itu selalu sinis terhadapku setelah keluar dari ruangannya."  Batin Kartika tidak percaya. Jantung Kartika berdegup semakin kencang, dia tidak pernah berada sedekat ini dengan seorang pria kecuali suaminya. Kartika menatap mata Alva, kanan kiri, mencari kebenaran dalam kedua mata yang kini juga menatapnya.   "Bu.kan...kah...kamu.... sanggup membayar segala sangsinya jika... kamu.. melanggar...perjanjian itu?" Tanya Kartika sungguh gugup. "Ya, aku sangat mampu! Tapi entah mengapa ada rasa takut dalam diriku untuk melanggar perjanjian itu." Sahut Alva. "Takut?! Apa aku ini wanita yang menyeramkan?!" Tanya Kartika. "Apakah kamu bersedia melakukan pelanggaran perjanjian itu?" Alva justru bertanya balik. "Tidak! Tentu saja aku tidak mau! Untuk apa aku membuat perjanjian itu dari awal, jika akhirnya aku langgar sendiri hanya dalam waktu kurang dari satu tahun?!" Protes Kartika. "Itulah! Aku tahu bahwa kamu akan menolak, dan terlebih lagi kamu pasti akan langsung mengundurkan diri." Ucap Alva. "Kalau begitu pindahkan saja aku ke bagian lainnya." Sahut Kartika. "Entahlah, aku seolah takut kehilangan dirimu. Aku takut kamu pergi dan tidak bisa melihatmu lagi." Ucap Alva. "Ta.kut. ke.hi.langan..diriku??? Maksudnya?" Tanya Kartika terpatah-patah.   Alva menghela napas besar dan berdiri menjauh dari Kartika, melangkah mendekati tempat tidur dan duduk di tepi tempat tidur. Kartika akhirnya bernapas lega setelah tidak berada sedekat tadi. "Entahlah! Mengapa aku merasa seperti itu? Tapi sungguh aku merasa takut kehilangan dirimu, terlebih lagi setelah aku mengenal anak-anakmu yang hebat dan menyenangkan ini, aku sungguh takut kehilangan kalian, aku takut kalian pergi menjauh dariku." Sahut Alva menatap Kemal dan Samira.   Kartika hanya diam, tidak tahu harus berkata apalagi. Alva menoleh dan tersenyum menatap Kartika. Dia lalu berdiri lagi dan melangkah kembali ke sofa, mengeluarkan gadgetnya dan duduk di samping Kartika, ya posisi mereka cukup dekat saat ini. "Lihatlah!" Ucap Alva menyodorkan gadgetnya pada Kartika. Kartika menerimanya dengan bingung lalu menatap gadget itu. Ada sebuah foto yang diambil sudah sangat lama, seorang wanita muda dan cantik dengan kaos oblong dan celana hotpants sedang tertawa bahagia dengan dua orang anak kecil di dekatnya. "Siapa mereka?" Tanya Kartika. "Mereka adalah keluargaku." Sahut Alva. "Astaga! Kamu sudah menikah?! Kenapa kamu justru bermain dengan setiap sekretarismu?! Dimana mereka?!" Tanya Kartika terkejut. Alva hanya menunjukkan ke arah atas dengan telunjuknya, Kartika mengernyitkan keningnya bingung. "Mereka sudah di surga." Sahut Alva tenang. "Maksudmu?" Tanya Kartika masih tidak mengerti. "Wanita itu adalah Michele. Aku dan Michelle telah menikah saat usia kami 18 tahun, orang tuaku tidak menyetujui hubungan kami, karena Michele adalah putri dari tukang kebun kami di rumah, tapi Michele telah mengandung anak kami yang pertama. Aku sangat mencintainya dan bahagia dengan kabar kehamilannya. Aku menikahinya tanpa restu kedua orang tuaku, hanya ada orangtuanya saja. Aku pergi meninggalkan rumahku untuk hidup bersamanya juga anak kami, aku bekerja mencari nafkah untuk menghidupi keluarga kecilku, tanpa bantuan dari kekayaan orangtuaku sedikitpun. Tujuh tahun pernikahan, kami sangat hidup bahagia dengan dua anak meski hanya hidup sederhana. Tapi semua kebahagiaan itu tidak untuk selamanya. Ayahku terus meneror rumah tangga kami setelah mengetahui keberadaan kami. Beberapa kali kecelakaan seperti terus menimpa Michele dan anak-anak kami, hingga suatu hari saat aku sedang pergi bekerja, rumah kami dengan sengaja dibakar oleh seseorang, mereka tidak terselamatkan karena sedang tidur siang, rumah kami yang terletak di daerah pelosok sangat jauh jangkauan dari pemadam kebakaran, tetangga tidak mampu memadamkan api itu juga mereka. Aku mengetahui pelakunya adalah orang suruhan ayahku. Aku marah, sangat marah pada ayahku, aku mendatanginya,  kami beradu mulut dan aku tidak mampu menahan amarahku, hingga sebuah pukulanku telah menyebabkan kepalanya terbentur dan mengalami pendarahan. Ayahku meninggal setelah koma selama tiga bulan. Ibuku datang meminta maaf padaku dan memintaku kembali pulang ke rumah, aku tidak peduli dan tidak mau mendengarkannya, hingga suatu hari aku melihat adikku perempuan yang saat itu berusia 12 tahun kabur dari rumah dan hampir diperkosa oleh berandalan di jalan. Aku menyesal melihat trauma pada dirinya , aku lalu bersedia pulang kembali ke rumah hanya demi satu alasan menjaga adikku. Ibuku mulai dihantui rasa bersalahnya, dia menjadi sakit-sakitan dan hampir gila setiap kali adikku kabur dari rumah. Aku pun akhirnya kembali bisa menyayangi ibuku yang sangat menyayangi adikku. Aku mau menjalankan perusahaan ini demi membayar pengawal untuk selalu menjaga keberadaan adikku meski dia kabur dari rumah." Cerita Alva.   Kartika menjadi pendengar yang sangat baik, dengan terus menatap pada foto-foto yang sudah menjadi rangkaian video berjalan. Terlihat kebahagiaan dalam keluarga kecil itu, namun foto itu tidak berakhir bahagia pada kenyataannya. Air mata mengalir keluar dari mata Kartika mendengar kisah yang sangat pilu dan menyeramkan itu. "Saat aku bertemu denganmu, aku seolah melihat sosok Michele dalam dirimu, caramu berpikir dan berhadapan dengan pria  sungguh mirip dengan Michele, terlebih saat aku bertemu dengan anak-anakmu, aku seolah ditemukan kembali dengan anak-anakku. Aku semakin gila, aku sungguh menjadi gila saat kalian pergi tanpa pamit dan tidak kembali juga tidak bisa ditemukan oleh Kenzie. Aku takut sangat takut terjadi sesuatu yang buruk pada kalian." Ucap Alva. Kartika mengusap air mata di pipinya sendiri sambil menatap Alva sambil tersenyum. "Terima kasih sudah mengkhawatirkan kami." Ucap Kartika. Alva pun menatap Kartika dan tersenyum. "Berjanjilah untuk tidak pergi dariku. Berjanjilah untuk tidak membawa anak-anak itu menjauh dariku." Pinta Alva. Kartika kembali menangis, dengan susah payah menelan salivanya dan akhirnya mengangguk-anggukkan kepalanya sambil tersenyum. Alva memeluk Kartika, membuat Kartika terkejut. "Alva, ini melanggar perjanjian kita." Ucap Kartika. Alva tidak melepaskan pelukannya. "Aku bahkan sudah tidak peduli lagi jika harus bangkrut untuk membayar semua sangsinya. Aku sungguh tidak sanggup lagi menahan diriku untuk jauh darimu." Bisik Alva di telinga Kartika, membuat Kartika berdenyut dan bahkan meleleh di inti bawahnya.   Alva sedikit merenggangkan pelukannya namun wajah mereka masih sangat dekat, Alva membelai lembut pipi  Kartika dengan punggung jari-jarinya. Kartika tidak menghindar, dia menatap Alva dan beberapa kali harus menelan salivanya dengan susah, jantungnya berdegup kencang. Hormon wanitanya mulai naik dan berharap Alva melakukan lebih padanya. Alva menangkup wajah Kartika dan bibirnya mulai menempel pada bibir Kartika. Tidak ada penolakan, membuat Alva perlahan menggerakkan bibirnya mengecup bibir Kartika, masih diam tanpa penolakan, mata mereka juga masih saling menatap. Kecupan berubah hisapan, dan masih tidak ada penolakan. Alva tidak peduli lagi, dia meraih tengkuk Kartika dan memejamkan matanya, ingin lebih dalam merasakan bibir itu meski Kartika hanya diam.   "Euughh....mmmppphhh...maaf." Kartika pada akhirnya mendorong tubuh Alva dan menundukkan wajahnya saat bibir Alva telah lepas dari bibirnya. "Maaf, maafkan aku. Aku tidak bisa melakukannya." Ucap Kartika dengan takut. "Tidak, aku yang salah. Sejak awal aku tahu kamu pasti akan menolak, tapi aku tidak bisa menahan diriku lagi. Maafkan aku." Sahut Alva. "Kita hanya terbawa situasi Alva, kamu hanya sedang merindukan Michele, dan aku hanya terbawa hormon wanitaku. Jujur, setelah suamiku meninggal 10 bulan ini tidak ada pria yang pernah menyentuhku begitu dekatnya. Kita tidak bisa melakukan hal itu hanya karena terbawa suasana saat ini." Ucap Kartika. "Mungkin kamu benar, kita hanya terbawa suasana saja. Maafkan aku." Sahut Alva.   Kartika mengangkat wajahnya dan menatap Alva lagi. Hatinya merasa lega karena Alva tersenyum padanya. "Istirahatlah, besok kita akan kembali ke Jakarta setelah sarapan." Ucap Alva masih dengan tersenyum. Kartika menganggukkan kepalanya, wajahnya masih murung, entahlah ada sedikit rasa tidak enak hati atau menyesal karena telah menolak kemesraan Alva padanya. Alva pun berdiri dan hendak berjalan menuju pintu. Kartika pun ikut berdiri. "Alva, apa kamu sudah makan malam?" Tanya Kartika. "Belum, aku akan pergi dengan Kenzie setelah ini." Sahut Alva. "Boleh aku saja yang menemani dirimu makan malam?" Tanya Kartika dan Alva tersenyum lebar lalu mendekati Kartika. "Tidak perlu, aku takut justru akan menyantapmu dan melupakan perutku yang lapar." Sahut Alva tenang sungguh membuat inti bawah Kartika sangat berdenyut dan basah.   Kartika tersenyum canggung dan kembali menelan salivanya dengan susah payah. "Maafkan aku." Ucap Kartika. Alva tersenyum dan meraih tangan Kartika. "Kartika, maukah kamu selalu ada di dekatku? Jangan pergi membawa anak-anak menjauh dariku, kumohon padamu." Pinta Alva. Kartika tidak mampu menjawab apapun, dia hanya menganggukkan kepalanya dan tersenyum. Alva pun mengecup kening Kartika. "Terima kasih." Ucap Alva tersenyum lega "Sepertinya aku akan menjadi kaya mendadak jika menghitung sangsi pelanggaranmu sejak kemarin.." goda Kartika, dan Alva hanya tertawa sambil melangkah ke pintu. "Hitung saja, aku pasti akan mentransfer  dengan jumlah yang lebih dari tagihanmu, karena aku masih ingin selalu melakukannya padamu." Sahut Alva sambil mencium dari jarak jauh lalu menutup pintu itu.   Kartika hanya tersenyum lebar, wajahnya merona, dirinya tidak percaya bahwa Alva menginginkan dirinya. Kartika membelai bibirnya dan memejamkan matanya, mencoba mengingat kembali rasa bibir Alva. "Tidak boleh Kartika! Jangan tertipu rayuannya dan terbawa hormon wanitamu!" Ucap Kartika memprotes dirinya sendiri. "Maafkan aku kak Edward, aku hanya terbawa hormon wanitaku." Ucap Kartika menatap ke atas.  ****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD