"Mengapa kak Raja memilih jalan hidup seperti itu? Padahal anak-anak juga sangat menyukai bermain dengannya. Tidak adakah keinginan dalam dirinya untuk memiliki anak???" Batin Kartika dengan pikiran menerawang.
"hei! Melamun saja!" Tegur Mr. Salvastone seraya duduk di ujung sofa yang satu lagi. Kartika hanya tersenyum padanya.
"Saya hanya tidak menyangka bisa melihat sisi anda yang lain, tapi sekaligus heran juga mengapa anda bisa sangat mudah dekat dan menyukai anak-anak?" Sahut Kartika sambil menatap ke arah anak-anaknya yang sedang bermain di atas tempat tidur.
"Jangan selalu menilai seseorang hanya dari cover depannya saja!" Ucap Mr. Salvastone
"Anda benar! Orang baik terkadang berada di balik sebuah kostum preman, dan orang jahat terkadang justru berada di balik kostum seorang yang suci." Sahut Kartika.
"Yang terpenting sebelum menilai seseorang, kita harus mengenalnya dekat terlebih dahulu." Ucap Mr.Salvastone.
"Seperti anda, yang menilai buruk pada saya di awal dulu, hanya berkat adik anda lah saya akhirnya bisa menunjukkan pada anda bahwa saya bisa dalam pekerjaan ini. Saya harus berterima kasih pada adik anda, tapi siapa adik anda itu? Mengapa saya tidak pernah melihatnya datang mengunjungi anda di kantor?" Sahut Kartika penasaran.
"Adikku satu-satunya itu sangatlah tidak suka jika dikenali oleh orang lain sebagai adikku." Ucap Mr.Salvastone.
"Kenapa bisa begitu? Apa karena kebiasaan buruk anda sebagai maniak seks yang suka sekali bermain wanita?!" Tanya Kartika.
"Tidak! Dia sangat manja kepadaku, dia hanya tidak menyukai takdirnya sebagai seorang putri dari triliuner! Dia sangat membenci ayah, karena ayah terlalu sibuk bekerja dan keras mendidik anak-anaknya. Dia berpikir ayah tidak menyayanginya, dia berpikir untuk apa ayah meninggalkan banyak harta? sedangkan yang dia butuhkan adalah ke sekolah diantar oleh ayah, akhir pekan berlibur dengan ayah, hal sederhana seperti anak lainnya. Seumur hidupnya dia tidak pernah datang ke kantor, sekalinya datang langsung mengatur sekretaris bagiku! Hahahhahaha entah apa yang sudah kamu lakukan padanya???" Sahut Mr. Salvastone terkekeh.
"Saya tidak mengenal siapa adik anda, entahlah mengapa dia memaksa Anda untuk menjadikan saya sebagai sekretaris anda, mungkin dia sudah lelah melihat anda selalu memiliki sekretaris muda dan selalu bermain dengan mereka." Ucap Kartika.
"Jangan menjelekkan aku terus, kamu sungguh tidak takut aku pecat?!" Sahut Mr.Salvastone.
"Pecat saja! Mungkin itu lebih baik! Setiap hari berdebat dengan anda sungguh bisa membuatku tidak sehat." Ucap Kartika dengan santai.
"Tidak! Adikku bisa kabur lagi dari rumah dan bahkan mungkin membenciku jika aku memecatmu." Sahut Mr.Salvastone.
"Siapa sebenarnya adik anda?" Tanya Kartika penasaran.
"Mami, aku bosan disini, ayo pergi jalan-jalan." Samira menyela pembicaraan mereka sebelum Mr.Salvastone menjawab pertanyaannya.
"Ayo kita pergi princess, uncle Alva akan tunggu kalian di lobby, kalian bersiaplah. Katakan pada mami kalian untuk membawa pakaian berenang." Sahut Mr. Salvastone seraya berdiri.
"ASIIIIKKKK!!! Ayo mami cepat bersiap!" Seru anak-anak senang
"Kita akan pergi kemana?" Tanya Kartika.
"Ke seluruh kota ini." Sahut Mr. Salvastone santai lalu menghilang di balik pintu.
"Dasar!" Kesal Kartika sambil menghela napas panjang dan besar.
****
Kami sangat bersenang-senang setengah hari ini bahkan hingga malam hari. Mr.Salvastone mengajak kami ke wisata air, lalu ke wisata alam, lalu saat malam hari dia mengajakku dan anak-anak untuk makan malam di resto atas tepi pantai. Suasana resto ini sangat romantis, aku melihat ke sekeliling dan banyak pasangan yang sedang berduaan disana dengan tatapan saling mencinta. Aku tersenyum melihat keromantisan pasangan muda yang ada di tempat ini.
"Sepertinya anda salah tempat mengajak anak-anak makan disini." Ucapku sedikit berbisik pada bosku itu.
"Tidak! Sudah seharian kita menyenangkan mereka, kini waktunya memberi kesenangan untuk ibunya." Sahut Mr.Salvastone.
"Ehm...Mr.Salvastone, apa maksud anda???" Tanyaku.
"Nikmati saja! Dan tolong panggil saja aku Alva, kita sedang diluar jam kerja! Jangan selalu resmi bicara denganku!" Sahutnya dan aku semakin heran.
"Eh Mr.Sal..."
"Alva!" Ralatnya menyela ucapanku.
"Ehmmmm..baiklah! Oke! Oke! Alva, bukankah sebaiknya kita makan di tempat lain saja, dilihat dari tempatnya sepertinya ini resto yang mahal!" Ucapku.
"Tidak! Sudah diamlah! Aku tidak akan bangkrut hanya dengan mentraktir kalian disini!" Sahut Alva.
Kami akhirnya mendapat meja dengan pemandangan yang sangat indah, pantai yang langsung ke laut, suara debur ombak di malam hari, sekaligus lampu-lampu kota di sekitarnya yang indah di malam hari. Alva memesan makanan bagi kami, anak-anak sudah terlihat lelah dan mulai mengantuk, bahkan Samira sudah minta dipangku olehku.
"Jangan tidur dulu ya, kita makan dulu, setelah itu kita akan kembali ke hotel. Kasihan om Alva jika harus menggendongmu lagi." Pesanku pada putraku
"Iya mami." Sahut Kemal, aku tersenyum dan mengusap kepalanya lembut.
Alva tersenyum menatap interaksi ku dengan anakku itu. Samira sudah mulai tertidur, beruntung tadi dia sudah sempat makan Barbeque French fries saat dalam perjalanan kemari, jadi tidak tertidur dalam keadaan perut kosong.
Hidangan disini adalah makanan laut, aku menatap makanan yang ada di meja kami, bingung karena Samira tertidur di pangkuanku. Tiba-tiba Alva memberikan ikan juga udang yang telah dikupas ke piringku dan Kemal, lalu beberapa makanan lainnya. Aku menatapnya dan mengangguk tersenyum.
"Terima kasih." Ucapku dan dia juga mengangguk tersenyum.
Kami mulai menikmati makan malam kami dengan tenang, hingga aku melihat seorang wanita muda yang aku kenal, berjalan ke arah meja kami.
"Jadi ini yang dikatakan sebagai perjalanan bisnis?!" Ucap wanita itu dan membuat semua menoleh ke arahnya.
"Niki?!" Sahut Alva terkejut
"Masih ingat juga dengan namaku?! Apakah aku harus bangga?!" Ucap Niki itu lalu menatap ke arahku dengan marah.
"Mbak! Katanya gak ada hubungan apapun dengan kak Alva! Katanya kak Alva tidak akan selera dengan janda beranak seperti mbak! Katanya mbak gak akan merebut kak Alva dariku! Tapi ini apa?! Dasar janda murahan! Memakai anak-anak untuk menarik simpati pria! Dasar menjijikkan!" Ucap Niki marah kepadaku sambil membanting gelas dihadapan Kemal, membuat Kemal terkejut dan menghentikan makannya karena tersedak dan terbatuk-batuk. Uhuk!uhuk!uhuk!
Aku sungguh sangat emosi. Mereka boleh berbuat segala apapun kepadaku yang buruk, tapi tidak dengan anakku. Aku terlebih dahulu memberikan minumanku pada Kemal, namun Mr.Salvastone ternyata segera berdiri dihadapan Niki.
Plak!
Aaahhh!!!
Sebuah tamparan melayang di pipi Niki, membuat Niki mengaduh kesakitan.
"Kak Alva! Kenapa menamparku?!" Protesnya sambil memegang pipinya yang bekas ditampar Mr.Salvastone.
"Jaga mulutmu dan sikapmu di hadapan anak kecil!" Bentak Mr.Salvastone pada Niki.
"Kenzie! Cepat bawa Kartika dan anak-anak ke mobil!" Seru Mr.Salvastone dan pengawal itupun segera mengajak kami pergi dari tempat itu.
"Kak Alva! Kenapa kak Alva justru membela janda murahan itu?!" Protes Niki dan masih bisa terdengar olehku, semakin membuat amarahku naik. Aku menyerahkan Samira yang tertidur pada gendongan Kenzie.
"Kemal, ikutlah dengan om Kenzie ke mobil, nanti mami menyusul." Pesanku dan Kemal mengangguk menuruti perkataanku.
"Tapi Bu Tika..." Cegah Kenzie.
"Tidak apa, aku harus kesana supaya bisa tidur nyenyak, Kenzie." Sahutku dan Kenzie terlihat bingung tapi segera membawa anak-anak menuju ke mobil.
Aku kembali melangkah mendekati Mr.Salvastone dan Niki. Pria itu sedang berusaha membelaku sedangkan Niki terus menghinaku.
Plak!
AAAAAHHH!!
aku menamparnya, dan dia kembali kesakitan, karena sepertinya aku menampar di pipi yang sama dengan bosku tadi.
"Itu untuk balasan karena sudah membuat anakku ketakutan dan kehilangan keceriaannya!" Ucapku.
Plak!
AAAHHHH!!!
aku kembali menamparnya di pipi yang satu lagi.
"KENAPA KAMU TERUS MENAMPARKU?! JANDA MURAHAN!" Seru Niki padaku.
"Itu untuk mulutmu yang sudah kurang ajar kepadaku! Berani berbicara lagi maka aku akan menamparmu lagi!" Sahutku.
Seorang pria yang sudah pernah kulihat beberapa kali bersama Niki pun datang dan menarik lengan Niki.
"Niki...kenapa kamu selalu mempermalukan dirimu sendiri? Ayo! kita tinggalkan saja mereka." Ajak seorang pria yang sudah ada di samping Niki.
"Lihatlah! Siapa yang murahan disini?! Sudah punya kekasih masih saja mengejar pria lain! Dasar jalang murahan!" Seru Mr.Salvastone kesal.
Pria itu hanya diam saja tidak membela sedikitpun wanitanya.
"Hei bung! Jaga kekasihmu ini baik-baik! Dan puaskanlah dia! Atau dia akan selalu mencari pria lain dibelakangmu!" Ucap Mr.Salvastone pada pria itu. Niki semakin geram dan penuh emosi. UUUUUUUHHHH!!!
"Ingat! Aku akan membalas kalian!" Ancam Niki lalu mengikuti pria yang mengajaknya tadi.
"Berani kamu lakukan itu! Aku akan menarik segala fasilitas mu selama ini! SEMUANYA!!!" seru Mr.Salvastone dan Niki berhenti melangkah dan berbalik lagi.
"Apa?! Kak Alva akan melakukan apa?!" Tanya Niki memastikan lagi.
"Kamu sudah mendengarnya Niki! Jika kamu berani mengganggu Kartika dan anak-anaknya, maka bersiaplah menjadi gelandangan diluar sana! Rumah, mobil dan segala kartu kreditmu akan aku tarik,SE.MU.A.NYA! Jelas?! Jadi jangan pernah mengancamku ataupun Kartika!!!" Sahut Mr.Salvastone.
UUUUUUUHHHHHH!!!!!
Niki semakin geram namun tidak berani berbuat dan berkata apapun lagi. Dia hanya menghentakkan kakinya lalu pergi bersama prianya tadi.
****
Hening, sepi.
Ya, perjalanan kembali ke hotel menjadi sepi tanpa ada seorangpun yang berbicara, aku hanya diam menatap keluar jendela sambil memangku Samira, Mr.Salvastone juga menatap keluar jendela di sisi yang lain, Kemal berada ditengah di antara kami dan sudah tertidur bersandar pada lengan Mr.Salvastone. Kami tetap pada posisi kami masing-masing hingga tiba di hotel.
"Maaf, merepotkan anda terus." Ucapku saat Mr.Salvastone sudah meletakkan Kemal di atas tempat tidur. Samira juga sudah kuletakkan di samping Kemal. Dia membantuku menarik bedcover dan menyelimuti anak-anak.
"Istirahatlah, besok kita ada pertemuan." Sahutnya dan aku mengangguk.
"Terima kasih sudah membela saya dan anak-anak." Ucapku lagi sambil menunduk, canggung tidak berani melawan tatapannya.
"Aku hanya mengatakan yang sesuai kenyataan. Maaf kehidupan pribadiku jadi melibatkanmu dan anak-anak." Sahutnya, aku sekali lagi hanya mengangguk dan tersenyum.
"Baiklah, sebaiknya aku segera kembali ke kamarku sendiri. Terlalu lama disini mungkin bisa membuatku bangkrut, untuk membayar sangsi padamu." Ucapnya tersenyum.
Entah kali ini apa yang merasuki diriku! Aku justru tersenyum lebar mendengar ucapannya yang seolah menginginkan diriku. Aku meneguk salivaku dengan berat. Dia melangkah ke pintu dan aku mengikutinya dari belakangnya.
"Sampai besok." Pamitnya tapi tidak langsung segera pergi dari depan pintu kamarku
"Eh, i..iya...sampai besok." Sahutku canggung.
Kami berdiri berhadapan dengan canggung di pintu itu, aku menunduk sungguh tidak tahan melawan tatapannya.
Cup.
Aku terkejut dan mengangkat wajahku namun dia sudah berjalan pergi di lorong hotel itu menuju ke kamarnya. Dia mengecup puncak kepalaku. Tapi mengapa aku tidak marah??? Jantungku berdegup kencang, otakku mulai memarahiku.
"Jangan biarkan julukan janda murahan itu menjadi benar Tika! Seenaknya saja dia mencium dirimu! Besok dia harus membayar sangsi atas pelanggarannya!" Otakku terus menghakimi diriku yang justru merasa berdebar dan senang diperlakukan seperti itu oleh bos maniak ku. Sepertinya aku sudah mulai gila!
****
Pagi ini setelah sarapan bersama di resto hotel, aku dan Mr.Salvastone pergi ke tempat pertemuan yang telah ditetapkan oleh klien kami. Anak-anak berenang di hotel bersama Kenzie dan satu lagi pengawal lainnya. Kami hanya berdua?! Tentu saja tidak! Ada sopir di dalam mobil ini dan beberapa pengawal lainnya di mobil lain yang ada di depan dan belakang mobil Mr. Salvastone.
"Kartika, apa kamu sudah membaca semua berkasnya dan juga tentang keluarga Mr. Kyle?" Tanya Mr.Salvastone
"Sudah, saya sudah membaca semuanya" sahutku.
"Kamu perlu mengetahui satu hal lagi, yang jelas tidak akan pernah ditulis di dalam berkas tentang keluarga Mr. Kyle." Ucapnya serius.
"Hal apa itu Mr. Salvastone?" Tanyaku.
"Laura Kyle, putri bungsu mereka sangatlah mencintai diriku, dan terobsesi untuk memiliki diriku. Setiap sekretaris ku akan selalu mendapat hinaan darinya, jadi persiapkan dirimu baik-baik, jangan terbawa perasaan dan emosi, karena jika aku membela dirimu maka dia akan semakin menindas dirimu bahkan menyakiti dirimu." Sahutnya.
"Baiklah, terima kasih atas informasinya." Ucapku.
"Baiklah, kita sudah sampai. Apa kamu siap?" Tanyanya menatapku, aku menganggukkan kepalaku, lalu kami turun keluar dari mobil.
Kami masuk ke sebuah gedung perkantoran yang megah. Aku segera mengikuti langkahnya menuju lift. Kami hanya berdua di dalam lift.
"Kamu cantik." Pujinya membuatku sedikit bersemu malu.
"Eh!" Aku pun jadi canggung akan memberikan respon apa, aku hanya menunduk melihat pada penampilanku sendiri, sedikit menyembunyikan wajah bersemu merah ku dan senyumku.
Ting.
Pintu lift kami pun terbuka saat sudah di lantai yang kami tuju. Secara mendadak aku terkejut melihat seorang wanita telah berdiri di depan lift dengan tatapan tajam.
"Hai Alva.." sapa wanita itu.
"Hai Laura.." sahut Mr. Salvastone sambil melangkah keluar lift dan melewati aku begitu saja lalu mengecup pipi wanita itu.
"Rupanya ini Laura Kyle, cantik sekali" Batinku menatapnya dan tersenyum mengangguk hormat padanya saat dia menoleh padaku.
Wanita itu hanya sedikit mengangguk tanpa senyuman lalu mengejar langkah Mr.Salvastone dan bergelayut manja di lengannya.
"Tidak biasanya kamu punya sekretaris yang tahu sopan santun dan sepertinya dia juga sudah tidak berumur muda, padahal biasanya setiap kali pintu lift terbuka, aku selalu melihatmu sedang mencumbu sekretarismu!" Ucap Laura pada Mr.Salvastone.
"Audrey yang memilihkannya bagiku. Semoga kamu tidak mem bully dirinya, seperti yang kamu lakukan pada sekretarisku lainnya." Sahut Mr.Salvastone.
"Ehm....jadi nama adiknya itu Audrey... Tapi Audrey siapa ya??? Aku tidak memiliki kenalan bernama Audrey..." Batinku masih penasaran dengan adiknya.
"Itu semua tergantung dari perlakuanmu padanya Alva, jika dia membuatmu tertarik dan senang menatapnya maka aku harus berbuat sesuatu. Kamu tahu kan kalau aku sangat mencintaimu??? Jadi aku tidak akan rela kamu memperhatikan wanita lain!" Ucap Laura.
Mr.Salvastone berhenti melangkah dan menatap Nona Laura.
"Laura, kumohon....aku sudah berulang kali menegaskan padamu bahwa aku tidak bisa mencintaimu. Aku pria yang menyukai kebebasan! Sedangkan kamu adalah wanita yang posesif! Jadi kita tidak akan mungkin cocok! carilah pria lain! Kamu pasti akan bahagia." Sahut Mr.Salvastone.
"Tapi aku tidak bisa Alva! Aku sudah mencintaimu sejak remaja! Kamu cinta pertamaku Alva! Pokoknya selama kamu belum jatuh cinta dan menikah dengan wanita yang kamu cintai, aku juga masih akan terus mengejarmu!" Ucap Nona Laura.
Aku berjalan di belakang pasangan tidak masuk akal itu.
"Mengapa aku harus menyaksikan drama sinetron di pagi hari secara live sih?! Bukankah ini pertemuan bisnis??? Mengapa mereka jadi bermain telenovela?!" Batinku jengah melihat pria dan wanita dihadapanku ini.
Akhirnya kami tiba di ruang pertemuan. Mr.Kyle rupanya sudah menunggu di dalam ruangan itu, duduk di ujung meja panjang dalam ruangan ini. Disamping Beliau ada seorang pria yang mungkin seumuran denganku juga Mr.Salvastone. Pria itu berdiri saat melihat kami masuk, dan segera berjalan menghampiri kami, bersalaman dengan Mr. Salvastone seperti sahabat lama yang tidak bertemu.
"Alva!! sudah berapa tahun kita tidak bertemu ya? Kamu semakin sukses sepertinya, apakah sudah ada gadis yang berhasil kamu nikahi?" Sapa pria itu.
"Hahahaha apa kabarmu Rey? Lihatlah seorang Reynald Kyle sepertinya takut kalah dalam hal wanita. Tenang saja, selamanya aku tidak akan mendahuluimu untuk menikah." Sahit Mr.Salvastone.
Pria bernama Reynald itu lalu melihatku.
"Siapa wanita yang kamu bawa itu?" Tanya Mr. Reynald
"Oo...dia sekretarisku. Sebaiknya kita segera mulai melanjutkan pembahasan kita di telepon mengenai kerjasama kita." Sahut Mr.Salvastone lalu melangkah menuju Mr.Kyle dan memberinya salam.
Mr.Reynald mengejar langkah Mr.Salvastone dan sengaja duduk di sampingnya.
"Seleramu sudah berubah jauh, tapi tidak buruk juga, boleh aku mendekatinya?" Tanya Mr.Reynald
"Dia sudah memiliki dua anak, masih berminat???" Tanya Mr.Salvastone dengan jengah.
"Ah! Apa kamu yakin?!" Tanyanya seolah tidak percaya dengan ucapan temannya.
"Dia bahkan bekerja sambil membawa anak-anaknya ke kota ini." Sahut Mr.Salvastone terlihat malas menanggapi pertanyaan-pertanyaan Mr.Reynald tentang diriku.
Aku memilih duduk dengan jarak beberapa kursi dari mereka.
"Ah! Sayang sekali.....padahal dia memiliki pundak yang sangat menggoda dengan kulit yang halus dan ouh....rasanya aku ingin sekali merengkuh pinggangnya dan menikmati pundaknya itu." Ucap Mr.Reynald membuatku sangat tidak nyaman dan menoleh ke samping untuk melihat pundakku yang terbuka.
"Sungguh sial! Lain kali aku harus benar-benar ikut dengan Melani saat dia membelikanku pakaian dinas!" Batinku menyesal.
"Ouh Rey, ternyata seleramu yang sudah berubah hah?! Bukan aku yang memilih dia, tapi Audrey. Aku sih sebenarnya ingin memiliki sekretaris yang sesuai seleraku, tapi entahlah apa yang Audrey lihat dari wanita yang sudah menjadi janda beranak dua ini?" Sahut Mr.Salvastone.
Aku sedikit tersinggung dengan perkataan bosku itu, tapi aku ingat akan pesannya tentang karakter nona Laura, jadi aku berusaha tetap tenang dan acuh tidak peduli. Nona Laura nampak menatap ke arahku dengan senyuman lebar, entah apa maksud senyuman itu, mungkin dia merasa tenang karena bos ku tidaklah membelaku.
****
Rapat pun dimulai oleh Mr.Kyle, dan diawali dengan presentasi yang dibawakan oleh Mr.Salvastone. Kartika membantu bosnya itu dalam menampilkan slide demi slide presentasinya, membuatnya kini terpaksa harus duduk di samping Mr.Reynald.
Plok.Plok.Plok.
Tepuk tangan terdengar setelah presentasi itu selesai.
"Baiklah Alva, aku tidak akan berpikir panjang lagi, aku pastikan proyek ini jatuh pada pengelolaan perusahaanmu. Kamu sudah lebih hebat dari almarhum ayahmu, aku yakin kamu bisa dipercaya dan bertanggung jawab bahkan melebihi ayahmu." Ucap Mr. Kyle memuji dan Mr.Salvastone terlihat senang.
Kartika merapikan segala berkas dan barang-barang dirinya juga Mr.Salvastone.
"Hei, siapa namamu?" Tanya Mr.Reynald saat Mr.Salvastone masih mengobrol dengan Mr.Kyle.
"Saya Kartika." Jawabnya singkat sambil terus membereskan semuanya.
"Boleh aku menghubungimu saat aku berada di Jakarta?" Tanya pria itu lagi.
"Eh, untuk apa?" Kartika bertanya balik namun tetap tidak menatapnya.
"Tentu saja untuk membicarakan tentang bisnis proyek kita ini, boleh aku memiliki nomor teleponmu?" Pinta Mr. Reynald.
Kartika menatap pria itu sejenak lalu mengeluarkan sebuah kartu nama dari dalam tasnya.
"Ini kartu nama saya." Ucapnya seraya menyerahkan kartu nama pada Mr.Reynald.
Seeetts!
Sebuah tangan meraih kartu nama itu satu detik setelah kartu nama itu berada di tangan Mr. Reynald. Tangan Mr.Salvastone.
"Ouh Rey, kamu tahu dimana kantorku yang ada di Jakarta, kamu juga tahu letak ruang kerjaku dalam kantor itu. Jadi, jika kamu ingin menemuinya untuk berbicara bisnis, kamu bisa datang ke kantorku saat jam kerja." Ucap Mr.Salvastone.
Seeetts!
Mr.Reynald kembali merebut kartu nama Kartika dari tangan Mr.Salvastone.
"Iya kamu benar Alva, tapi aku tetap harus menghubunginya terlebih dahulu, siapa tahu dia sedang berada di luar kantor." Sahut Mr. Reynald.
Seeetts!
Kartu nama Kartika berpindah lagi ke tangan Mr.Salvastone dan kali ini segera dia simpan dalam saku jasnya.
"Kamu bisa menghubungi nomor telepon kantorku Rey, itu yang biasa kamu lakukan selama ini meski kamu telah menyimpan nomor teleponku, bukankah begitu?" Ucap Mr.Salvastone.
"Ouh come on! Hanya sebuah kartu nama dan kalian akan memulai perdebatan tidak penting seperti biasanya???" Sela Nona Laura dengan jengah.
Mr. Salvastone berjalan ke arah pintu, Kartika pun mengikuti langkahnya dengan cepat.
"Hei Alva! Apa kamu menyukai janda ini?!" Seru Mr.Reynald tepat sebelum Salvastone membuka pintu untuk keluar. Mr. Salvastone berhenti melangkah.
"Bukankah kamu tahu bagaimana selera wanitaku Rey???" Sahut Mr.Salvastone tanpa menoleh ke belakang dan kembali melanjutkan langkahnya keluar dari ruangan itu.
Kartika mengangguk hormat pada semua yang ada di ruangan itu, dan keluar menyusul bosnya. Suasana di dalam lift begitu hening. Kartika merasa bingung bagaimana harus menyikapi kejadian di ruangan tadi antara bos nya dengan Mr. Rey. Kartika terus menatap ke arah tombol-tombol lift di pojok.
Mr. Salvastone menatap Kartika dari belakang.
"Sial! Apa yang terjadi padaku?! Jelas-jelas dia bukanlah seleraku selama ini! Mengapa aku merasa tidak suka jika Rey mendekatinya?! Benar kata Rey, pundaknya memang sangat menggairahkan. Sial! Aku pasti sudah gila! Karena menginginkan wanita ini!" Batin Salvastone yang berdiri di belakang Kartika.