ALASAN

1879 Words
Aku tidak mampu memejamkan mataku, hari sudah hampir pagi, tapi pikiran ku terus melayang pada kejadian tadi. Beberapa kali aku menghela napas panjang dan besar. Entah kapan aku mulai ketiduran di sofa,  namun kini aku harus terbangun karena ada yang mengetuk pintu kamarku. Aku menggeliat malas, meregangkan tubuhku yang terasa sangat lelah dan pegal karena tertidur di sofa. Aku segera berjalan ke arah pintu karena tidak ingin anak-anakku terbangun karena suara ketukan pintu itu. Aku mengintip di lubang pintu. Mr.Salvastone. Aku lalu membuka pintu, aku bisa mengerti pertanyaan di otaknya dengan melihat raut wajahnya.   "Maaf, semalam saya tidak bisa tertidur. Ada apa? Bukankah ini hari Minggu dan kita tidak ada pertemuan atau pekerjaan apapun!" Ucapku melihatnya yang sudah bersiap pagi ini. "Apakah anak-anak sudah bangun? Aku ingin mengajak mereka sarapan, karena sepertinya ibu mereka sedang bermalas-malasan. Tidak baik jika anak-anak sampai kelaparan." Sahutnya.  Aku memutar bola mataku, jengah mendengar ucapannya. "Saya tidak ingin beradu mulut pagi ini, pikiran saya terlalu lelah memikirkan kejadian semalam." Ucapku dan dia tersenyum. "Baiklah, maafkan aku. Dimana anak-anak?" Tanyanya lagi. "Anak-anak belum bangun, sepertinya mereka kelelahan." Sahutku "Apa aku tidak boleh masuk?" Tanyanya lagi, aku menguap dihadapannya, aku benar-benar lelah. "Sebaiknya anda sarapan terlebih dahulu, saya akan mempersiapkan anak-anak lalu menyusul ke resto." Sahutku. "Baiklah." Ucapnya singkat lalu melangkah pergi. Aku menutup pintu kamarku dan berjalan malas ke arah tempat tidur dan membangunkan anak-anakku untuk bersiap sarapan. ****   Siang hari. Aku terpaksa menitipkan anak-anakku pada Kenzie, pengawal Mr. Salvastone. Aku pergi menemui kak Raja di pantai. Note : bersama Mr.Salvastone! Karena dia memaksa untuk ikut!    "Tika." Panggil seseorang sambil melambaikan tangan. Kak Raja. "Mengapa dia harus membawa pria yang semalam bersamanya?!"  Batinku kesal karena kak Raja membawa pasangan sejenisnya. Aku pun menghampiri mejanya, resto pinggir pantai ini tetap terasa sejuk meski siang hari. Semoga aku juga mampu berpikir sejuk saat mendengarkan penjelasannya. Mr. Salvastone duduk di sampingku, kami berdua duduk berhadapan dengan mereka berdua. Pria yang dibawa oleh kak Raja terlihat menatap Mr. Salvastone dengan senyuman, namun sinis saat menatap diriku.   "Sungguh menjijikkan!"  Batinku.   Selama beberapa menit tidak ada pembicaraan diantara kami semua, kak Raja hanya menundukkan kepalanya sambil mengaduk-aduk kopi digelasnya. Pria disampingnya hanya menatap Mr.Salvastone sambil tersenyum penuh arti entah apa yang sedang dia pikirkan. Mr.Salvastone asik memainkan gadgetnya. Aku??? Tentu saja hanya memperhatikan ketiga pria di sekelilingku ini. Bukankah kak Raja yang ingin bicara denganku??? Jadi aku tidak akan membuka percakapan apapun.   "Tika, bisa kita bicara di luar hanya berdua?" Akhirnya kak Raja membuka suara, pria disampingnya langsung menatap kak Raja dengan tidak senang. "Tunggulah disini, aku tidak akan lama." Pesan kak Raja merespon tatapan pria itu. Aku pun berdiri dan melangkah mengikuti kak Raja, sedangkan Mr. Salvastone hanya diam tidak peduli. Kami duduk di sebuah kursi panjang di luar resto itu. "Tika, maaf kamu harus melihat semua ini." Ucap kak Raja. "Aku sudah berpikir semalaman kak, aku tidak bisa menemukan jawaban mengapa kak Raja melakukan semua ini? Apakah Yani tahu?" Sahutku. "Maafkan aku Tika, sungguh aku bingung harus menjelaskan dari mana dan bagaimana. Yani tidak mengetahui apapun tentang ini." Ucapnya dan aku menatapnya terkejut "Sejak kapan kak Raja? Sejak kapan kak Raja melakukan semua ini? Dan apa alasannya?" Tanyaku. "Aku sendiri juga tidak tahu apa alasan aku melakukan hal ini, aku hanya selalu mampu merasakan kepuasan seksual saat berhubungan dengan pria saja, hanya dengan pria aku mampu merasakan puncak kenikmatan dalam berhubungan seks. Semua ini sudah berjalan sedari aku kuliah." Jelasnya. "Apa?! Sedari kuliah?! Lalu mengapa kak Raja menikahi Yani?! Mengapa kak Raja sangat bersikap seolah sangat menyayangi Yani?! Apa kak Raja pernah berpikir jika Yani pasti akan mengakhiri hidupnya jika tahu orang yang dipikirnya sangat mencintai dan menyayangi dia telah membohonginya?!" Tanyaku. "Aku tahu! Aku tahu pasti tentang hal itu?! Itulah mengapa aku tidak pernah melakukan ini di kota yang terdapat saudara atau kerabat kalian!" Sahutnya. "Apa hal ini yang juga membuat Yani belum hamil sampai saat ini?" Tanyaku.  Kak Raja menganggukkan kepalanya.   "Aku hanya mampu membuat Yani puas dan mencapai kenikmatannya, namun aku tidak pernah mampu meraih puncak ku sendiri dan menaburkan benihku ke dalam tubuh Yani. Aku hanya akan selalu berpura-pura mencapai kenikmatanku. Aku bersyukur Yani wanita yang polos, dia tidak terlalu paham bagaimana jika seorang pria merasa puas."jelasnya lagi "Kak Raja, Yani sungguh ingin memberikan keturunan bagimu, tapi mengapa kamu justru berbuat seperti ini padanya?! Apa kurangnya Yani kak?!" Ucapku sambil meneteskan airmataku. "Tidak! Aku juga tidak tahu Tika! Aku mohon padamu, jangan katakan semua hal ini pada Yani, kumohon padamu! Kamu tidak mau Yani mengakhiri hidupnya sendiri bukan?! Jadi kumohon sembunyikan  atau bahkan lupakan segala hal yang kamu lihat semalam. Kumohon Tika, semua demi kebaikan Yani." Pintanya. "Bagaimana dengan pria itu? Apa dia tahu bahwa kak Raja sudah menikah dengan Yani? Apakah dia juga tinggal di Jakarta?" Tanyaku. "Kami sudah berhubungan selama 10 tahun, aku terpaksa memintanya untuk pindah dan menetap di sebuah daerah di Pulau Bali, sejak aku menikah dengan Yani. Aku bekerja keras supaya aku bisa membiayai segala kebutuhannya di Bali dan juga rumah tanggaku bersama Yani. Aku tidak mau mengambil resiko dia mengganggu Yani. Jujur, meski aku berhubungan dengannya,dan memperoleh  kenikmatanku dengannya, tapi aku juga sangat menyayangi Yani. Aku tidak mau dia sampai cemburu dan menyakiti Yani. Aku sengaja menjauhkan jarak antara dia dan rumah tanggaku." Jelas kak Raja. "Tinggalkan dia kak Raja! Dia bukan tipe orang yang setia pada pasangannya! Lihatlah! Sedari tadi dia terus mencoba menarik perhatian bosku." Ucapku sambil menatap ke dalam pada arah meja Mr.Salvaston dan pria itu. "Tidak bisa Tika! Aku tidak bisa meninggalkannya begitu saja! Dia bisa berbuat sesuatu yang akan menyakiti Yani! Lagipula.....aku sangat mencintainya Tika, aku tahu dia tidak sepenuhnya setia padaku saat aku tidak ada di dekatnya, tapi aku terlalu mencintainya Tika, aku tidak bisa hidup tanpanya Tika..." Sahut kak Raja "Sungguh gila! Mencintai pria tapi juga menyayangi wanita?! Apa yang telah terjadi padamu kak Raja?! Apa kamu sudah pernah mencoba menemui seorang psikiater?" Tanyaku. "Sudah kukatakan padamu, aku sendiri tidak tahu mengapa bisa seperti ini?! Kumohon Tika, jangan sampai Yani mengetahui hal ini, kumohon padamu, hindarkan Yani dari hal yang bisa menyakitinya, bukankah kalian sangat dekat dan menyayangi?!' sahutnya. "Aku tidak tahu sampai kapan aku bisa menyimpan kebohongan ini kak Raja, tapi yang jelas kak Raja harus segera memberitahu Yani sebelum pria itu berbuat yang tidak terpikirkan." Ucapku. "Aku tahu Tika, terima kasih untuk pengertianmu." Sahutnya sambil memelukku sesaat. "Ingat kak Raja! Aku menutupi semua ini hanya demi keselamatan Yani! Bukan mendukung kegilaan dirimu!" Ucapku dan kak Raja mengangguk tersenyum "Terima kasih Tika." Sahutnya lagi.   Aku hendak melangkah masuk ke dalam resto lagi, tapi kak Raja menahan tanganku. "Bukankah kamu dan anak-anak berencana ke Cirebon? Mengapa kalian jadi berlibur kemari bersama pria itu? Siapa tadi kamu menyebutnya? Bos mu? Apa kalian ada hubungan khusus?" Tanya kak Raja. "Jangan berpikiran aneh kak Raja! Kemarin dan besok, kami ada pertemuan dengan klien kami yang sedang berlibur disini, jadi aku sebagai sekretaris harus mendampinginya! Beruntung dia mengijinkan aku membawa anak-anak kemari, sekarang anak-anak sedang menunggu di hotel bersama pengawalnya Mr.Salvastone, aku tidak ingin mereka melihat kak Raja dengan pria itu! Aku tidak ingin merusak mereka!" sahutku lalu masuk ke dalam setelah kak Raja melepaskan tanganku.  Kak Raja pun mengikuti ku masuk ke dalam, kembali ke meja kami tadi.   "Mr. Salvastone, kami sudah selesai." Ucapku "Ehm..baiklah, ayo kita pergi sayangku." Sahut Mr.Salvastone sambil berdiri, membuat aku dan Kak Raja terkejut mendengarnya. Mr. Salvastone mendekati kak Raja yang masih berdiri di sampingku, dan setelah itu tanpa berkata apapun di langsung menggandeng tanganku, mengajakku keluar dari resto itu. Aku segera berusaha menarik tanganku namun tetap digenggamnya semakin kencang.   "Apa maksud anda memanggil saya dengan panggilan sayangku??? Dan apa yang anda bisikkan pada kak Raja?! Jangan membuat gosip murahan Mr.Salvastone! Anda sudah melanggar satu bahkan dua point dalam perjanjian kita! Jadi anda harus memenuhi segala sangsinya!" Ucapku sangat kesal saat kami sudah berada di dalam mobil. "Aku hanya berusaha membuat sekretarisku tetap aman, karena bahaya bagimu membuat seseorang cemburu seperti itu." Sahutnya. "Maksud anda?!" Tanyaku bingung "Pria itu cemburu saat kalian berpelukan dan berpegangan tangan, jadi mengatakan padanya bahwa kamu adalah kekasihku itu cara yang paling aman." Sahutnya dengan tetap santai memainkan gadgetnya. "Alasan saja!" Ketusku kesal. "Baiklah, aku akan membayar sangsinya padamu. Coba sebutkan berapa point yang sudah aku langgar?!" Ucapnya. "Sudahlah! Kali ini tidak usah menebus sangsinya, anggap saja kebaikan saya kali ini sebagai ucapan terima kasih saya karena anda telah begitu baik pada anak-anak dan juga membela saya." Sahutku dan dia segera menyimpan gadgetnya, lalu menatapku yang duduk disampingnya. "Baguslah kalau kamu masih tahu cara berterima kasih!" Ucapnya.  Namun aku hanya diam, malas melayani perdebatan mulut dengannya.   "Bagaimana? Apa alasannya bermain dengan dua jenis?" Tanyanya. "Tidak begitu jelas apa alasannya, yang jelas saya harus menyembunyikan semua ini dari istrinya demi menjaga keselamatan istrinya. Entah apa saya mampu terus berbohong pada saudara sekaligus sahabat dekat saya." Sahutku. "Kalau menurutku, sebaiknya kamu menjauh dari mereka. Aku tidak percaya kalau pasangan sejenis itu akan membiarkanmu dekat dengan sahabatmu lagi. Mereka kini pasti sedikit merasa terancam sejak kamu mengetahui hubungan terlarang mereka." Ucapnya. "Kasihan Yani, hidupnya ternyata tidak sebahagia yang terlihat." Sahutku. "Akupun tidak sebahagia yang orang lihat. Aku juga tidak sehebat dan sesukses yang orang-orang lihat, kurasa semua manusia tidak ada yang memiliki hidup sempurna. Perbedaannya adalah cara manusia itu menerima ketidaksempurnaan hidupnya. Ada yang bersyukur dan mau terus berjuang, ada yang menolak dan memilih untuk mengambil jalan pintas tanpa berpikir ulang, ada juga yang menerima namun tidak mau berjuang, hanya selalu meminta kasihan dari orang lain. Banyak orang yang tidak mau berkaca diri dan melihat sendiri bahwa keadaannya jauh lebih baik dan lebih bahagia dari orang lain." Ucapnya membuatku melongo.  Dia menatapku yang melongo menatapnya. "Tutup mulutmu! Atau aku akan rela membayar berapapun sangsinya hanya untuk mencium bibirmu!" Ucapnya lagi dan langsung membuatku sadar langsung menutup mulutku. "Mengapa anda merasa bahwa hidup anda tidak sempurna dan tidak bahagia seperti yang orang lihat?! Bukankah anda memiliki semua yang diinginkan oleh semua orang?!" Tanyaku. Dia tersenyum sinis kepadaku lalu menghela napas panjang dan besar, namun tidak menjawab justru menoleh keluar jendela.  ****   Mr. Salvastone terus diam dan memilih menatap keluar jendela hingga mereka tiba di hotel.  Kartika jadi merasa bersalah sekaligus canggung dengan sikap Mr. Salvastone.  "Maaf jika pertanyaan saya menyinggung perasaan atau harga diri anda." Ucap Kartika saat mereka berdua berada di dalam lift. Mr. Salvastone menatap ke dalam mata Kartika, lalu tersenyum. "Tidak ada yang salah dengan pertanyaanmu. Aku memang tidak sempurna seperti yang kalian semua lihat, hanya itu saja." Sahut Mr. Salvastone dan kembali diam. "Karena aku harus kehilangan seluruh cintaku, aku telah kehilangan seseorang yang mampu menjadi tempatku bersandar. Aku harus menanggung segala tanggung jawab ayahku sejak kematiannya, menjadi tumpuan dan sandaran yang kuat dan kokoh bagi mamiku juga adikku."  Batin Mr.Salvastone penuh nyeri sesak di dadanya.   "Apakah anda akan mampir dan bermain dengan anak-anak?" Tanya Kartika saat mereka telah tiba di depan kamar Kartika. "Ah iya! tentu saja aku mau! Kapan lagi kamu akan memintaku untuk mampir?! Biasanya aku ingin mampir tapi sering kamu tolak!" Sahut Mr. Salvastone penuh semangat dan membuat Kartika kembali jengah dengan sindirannya itu.  Merekapun masuk ke kamar Kartika  dan langsung disambut senang oleh anak-anak. "MAMI!!!!" seru anak-anak dan langsung memeluk Kartika, dia pun segera terlupa akan semua masalah tadi mendengar dan melihat keceriaan di wajah anak-anaknya. Ada sebuah raut wajah yang terharu namun juga sedikit murung di wajah Mr. Salvastone. "Apa kalian tidak merindukanku?" Tanya Mr. Salvastone sambil berlutut dan anak-anak itupun memeluknya langsung. "Tidak kusangka dia bisa sangat menyukai anak-anak, sangat berlawanan dengan sikap yang biasa dia tunjukkan di kantor."  Batin Kartika sambil tersenyum.   Kartika duduk di sofa sambil terus memperhatikan anak-anaknya bermain dan bercanda dengan Mr.Salvastone. "Mengapa kak Raja memilih jalan hidup seperti itu? Padahal anak-anak juga sangat menyukai bermain dengannya. Tidak adakah keinginan dalam dirinya untuk memiliki anak???"  Batin Kartika  dengan pikiran menerawang.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD