Ketegangan dalam diri Isabelle belum meninggalkannya sampai saat ini, ketika mobil membawanya ke tempat tujuan yang menurutnya agak meresahkan.
Ia tidak tahu dan Rafael tidak mau memberitahunya dengan jelas. Dan kenapa Rafael membiarkannya menemui orang ini sendirian? Apakah orang ini adalah seseorang yang dikenalnya? Keluargannya mungkin?
"Ma'am, kita sudah sampai." Perkataan itu membuatnya terlonjak kaget. Isabelle tidak menyadari bahwa mobil telah berhenti di depan bangunan yang terlihat seperti... taman kanak-kanak? 'Apakah ini tidak salah tempat? Siapa yang seharusnya kutemui di tempat seperti ini?'
"Apakah perlu saya temani masuk, Ma'am?" tanya sopir itu sekali lagi yang segera ditolak oleh Isabelle. Ia menghirup napas panjang untuk mempersiapkan diri, dan membuka pintu mobil dengan perlahan, lalu keluar menuju gerbang yang memisahkan bangunan itu dari jalan di depannya.
Sebelum sempat mencari cara untuk membukanya, gerbang itu terbuka secara otomatis saat gerombolan anak-anak kecil keluar dari gedung belajar. Orangtua mereka sudah menunggu di sekitar gerbang. Masih dengan raut linglung, Isabelle mengamati wajah-wajah gembira anak kecil yang tidak diduga ternyata mampu menghangatkan hatinya.
"Mommy!" teriak seorang anak laki-laki yang berlari dengan kaki mungilnya ke arah gerbang yang telah terbuka. Isabelle menengok ke belakang untuk melihat orangtua mana yang sangat beruntung memiliki anak setampan itu. Isabelle mengernyit heran saat tidak melihat siapapun di belakangnya. Semua orang dewasa telah menghampiri anak mereka masing-masing ke dalam gerbang.
Betapa kagetnya ia ketika ada tangan kecil yang memeluk kakinya. Terlebih lagi anak itu adalah anak yang berteriak memanggil ibunya tadi.
Isabelle membungkuk ke bawah menatap anak itu, lalu melihat sekelilingnya lagi. 'Tidak ada yang menghampiri anak ini?' batinnya dengan bertanya-tanya.
"Hei, nak. Di mana orangtuamu?" tanya Isabelle dengan nada keibuan yang tidak pernah disadari ia miliki.
Anak itu mengernyit. "Mommy?" Tanpa melepaskan kaki Isabelle ia melanjutkan, "Mommy adalah orangtuaku," kata anak itu dengan bingung. Isabelle juga semakin bingung. Ia tidak tahu bagaimana harus menyikapi kejadian itu.
'Anak yang pintar. Tapi apakah dia mengerti maksudku?' batin Isabelle ragu. Ia tersenyum bimbang menatap wajah penuh harap yang ditampakkan anak laki-laki itu.
"Tidak ada yang menjemputmu?" tanyanya pada anak itu.
"Daddy bilang Mommy akan menjemputku," ucapnya dengan senyum lebar.
"Daddy?" tanya Isabelle dengan heran. Ia tidak yakin bisa mengikuti arah pembicaraan ini.
"Daddy Rafael," kata anak itu masih dengan senyum polosnya. Isabelle membeku, terkejut dengan kenyataan yang baru diketahuinya.
'Rafael sudah mempunyai anak? Apakah pria itu sudah pernah menikah? Lalu di manakah istrinya? Berpisah atau sudah tiada? Tapi kenapa dia tidak pernah memberitahuku? Dia tidak memakai cincin apapun kan?' Pertanyaan yang bertubi-tubi menyerang benaknya. Ia menatap bocah laki-laki itu dengan lebih seksama dan menyadari bahwa ada Rafael dalam ciri fisiknya.
'Ya ampun. Apa lagi ini? Apakah ini maksud Rafael saat dia memintaku berpikiran terbuka?' pikirnya dengan was-was. 'Apakah dia sudah gila? Ini sangat tidak masuk akal.'
"Mommy? Kenapa diam saja?" tanya anak itu dengan polos. Tidak menyadari pergumulan hati Isabelle.
'Tidak, tidak. Aku harus menenangkan diri, jangan sampai menunjukkan kegelisahanku di hadapannya,' batinnya, berusaha untuk tidak berteriak histeris.
"Ah ti-tidak. Tidak papa, Nak. Ayo kita masuk ke mobil." Isabelle mengatur napasnya agar lebih tenang dan menuntun anak itu ke dalam mobil.
Isabelle hampir tidak bisa mengimbangi semangat anak itu saat ia menggandeng tangan kecilnya. Mobil meluncur setelah mereka duduk dengan aman di kursi belakang.
Anak laki-laki itu terus-menerus menempel padanya, dan Isabelle memutuskan untuk memangku anak itu dan membuatnya berhadapan dengannya. "Siapa namamu, Nak?" tanyanya sambil mengusap rambut anak kecil itu yang ternyata terasa sangat lembut di tangan Isabelle.
"Caleb. Namaku Caleb Knight," jawabnya dengan nada bangga. Mau tidak mau Isabelle tersenyum menyaksikan tingkah menggemaskan itu.
"Baiklah, Caleb. Bolehkah aku bertanya, kenapa kau memanggilku Mommy?" tanya Isabelle dengan rasa penasaran.
"Karena Mommy adalah ibuku. Jadi aku harus memanggilmu Mommy. Iya kan?" tanyanya memastikan.
"Ah, baiklah," jawab Isabelle dengan nada semeyakinkan yang ia bisa. Jujur saja ini sangat membingungkan baginya. Namun ia menduga Rafael yang melakukan semua ini. 'Siapa sebenarnya yang bersalah dalam hal ini?' tanya Isabelle dalam hati.
"Aku senang sekali Mommy datang. Aku selalu ingin bertemu denganmu," gumam Caleb setelah sekali lagi memeluknya dengan erat. Tangan-tangan kecilnya melingkari tubuh Isabelle yang lebih besar. Entah mengapa Isabelle tidak merasa keberatan. Mungkin karena walaupun tidak pernah dekat dengan anak-anak, ia tidak membenci mereka.
"Mmm," Isabelle balas menggumam sambil terus mengusap kepala Caleb. Kalau dipikir-pikir rambutnya sehalus rambut Rafael, kalau tidak lebih halus lagi. Jika ada yang bertanya kapan ia menyentuh rambut pria itu, Isabelle akan menjawab ketika ia diberi tugas besar untuk membantu atasannya menyisir rambutnya. 'Hebat bukan?' pikir Isabelle sarkartis.
Tidak lama kemudian hembusan napas Caleb menjadi lebih teratur, namun Isabelle tidak mempunyai niatan untuk menghentikan usapannya. Sepertinya Caleb adalah anak yang peka, karena saat Isabelle menjauhkan tangannya sejenak untuk mengambil tasnya di kursi samping, Caleb merengek dalam tidurnya.
"Apakah Rafael memintamu untuk mangantar kami ke rumahnya atau kembali ke kantor?" tanya Isabelle dengan mata mengarah ke kaca depan, berharap bisa menatap langsung mata sopirnya. Isabelle tidak mau menjadi orang yang tidak sopan, walaupun itu hanya pada sopir sekalipun.
"Mr. Knight meminta saya langsung ke kantor, Ma'am. Anda tidak keberatan kan?" tanya sopir itu dengan tatapan ganjil yang membuat Isabelle bertanya-tanya.
"Apakah kau sakit, Sir? Kenapa matamu merah dan berair? Jangan memaksakan diri kalau sedang tidak tidak sehat. Aku yakin pasti Rafael akan mengerti," ucap Isabelle dengan prihatin. Mungkin ia tidak terlalu perhatian sebelumnya. Sedari tadi Isabelle tidak menatap mata pria itu secara langsung karena ia masih berusaha untuk menghadapi kegugupannya sendiri.
"Tidak, Ma'am. Saya baik-baik saja," ucapnya sambil mengusap air mata yang menggenang dan mengatur napas untuk menenangkan diri.
"Baiklah. Tapi kau harus mengatakannya jika sesuatu sedang tidak baik, ya? Kau juga memiliki hak untuk sakit, kau tahu itu kan?" tanya Isabelle membuat pria itu tersenyum berterima kasih. Isabelle baru menyadari bahwa sopirnya itu masih muda. Kira-kira seumuran dengan Rafael kalau tidak lebih muda.
"Bodohnya aku lupa untuk memperkenalkan diri. Namaku Isabelle Collins. Boleh aku tahu siapa namamu?"
"Nama saya Damien Carl, Ma'am. Anda bisa memanggil saya Damien kalau tidak keberatan," ucap Damien dengan pandangan yang sesekali diarahkan pada Isabelle melalui kaca depan untuk menunjukkan kesopanan. Isabelle mengangguk mengerti.
"Kalau boleh tahu sudah berapa lama bekerja untuk Rafael?" tanya Isabelle yang mulai penasaran.
"Saya sudah mengenal Mr. Knight sejak kecil. Karena saya lahir dan tinggal di sekitar sini," ucapnya tenang.
"Apakah kau mengetahui kehidupannya dulu? Sebenarnya aku penasaran tentang Caleb. Apakah anak ini tidak pernah bertemu ibunya? Dan kenapa dia memanggilku Mommy? Kurasa aku sedikit kebingungan dengan semua pengetahuan baru ini." Isabelle yang tidak bisa menahan rasa ingin tahunya akhirnya menumpahkan pertanyaan-pertanyaan itu pada Damien.
Punggung Damien menjadi tegang. "Saya tidak yakin bisa mengatakannya, Ma'am. Maafkan saya, tapi lebih baik anda bertanya langsung pada Mr. Knight. Saya tidak berhak menjelaskannya," ucapnya dengan mata lurus ke jalan. Tidak menatap ke arah Isabelle seperti sebelumnya.
"Ah, aku mengerti. Baiklah kalau begitu. Biar nanti langsung kutanyakan saja pada Rafael setelah sampai di kantor," jawabnya, membiarkan Damien menghindar. Ia tidak mau laki-laki itu mendapat masalah jika menceritakan sesuatu yang dirahasiakan oleh Rafael. "Dan bisakah kau tidak berbicara seformal itu padaku? Jujur saja aku merasa sedikit tua," kata Isabelle sambil terkekeh, mencoba meringankan suasana.
"Baiklah. Aku akan mencobanya," ucap Damien, masih dengan nada yang sedikit kaku, namun tak urung membuat Isabelle tersenyum puas.
'Sekarang tinggal memikirkan apa yang akan aku katakan pada Rafael nanti,' batinnya muram. Tatapannya terarah pada Caleb. "Anak yang manis," bisiknya pelan.