Semesta Ke-Delapan

2257 Words
Raka dan Kalani kembali ke kantor usai makan siang. Sepanjang perjalanan, Kalani tampak murung. Raka menyadari jika hal ini ada hubungannya dengan gadis yang mereka temui tadi. "Tadi si Alika anak temen lo yang mana, sih?" Kalani di bangku penumpang menolen. "Dia anaknya Mas Bhumi." "Bhumi?" Raka menaikkan salah satu alis. "Bhumi yang dijodohin sama lo?" Kalani mengangguk pelan. Dia lalu menarik nafas berat. "Gue emang nggak berencana nikah sama dia, tapi nggak tahu kenapa gue sedih aja lihat sikap Alika tadi." "Iya, sih. Dia kelihatan nggak suka banget sama lo. Gue sempat mergokin dia ngelirik lo sinis gitu." Kalani menyugar rambutnya. Sikap Alika di warung tadi masih terngiang-ngiang di kepalanya. "Apa gue ngelakuin kesalahan?" "Lo ngerasa ngelakuin kesalahan?" Kalani mengedikkan bahu. "Seinget gue nggak. Gue sama Alika aja baru ketemu dua kali. Pertama waktu gue nganter adiknya pulang, kedua waktu makan malam sama keluarga lain." "Hmmm..." Raka mengusap dagu tanda berpikir. "Kayaknya Alika nggak suka karena lo dijodohin sama bapaknya." "Tapi kan bukan gue juga yang minta dijodohin. Toh gue sama Mas Bhumi emang berencana buat saling nolak perjodohan ini." "Anak seusia Alika emang bakal mikir sampai situ? Dia cuma bakal mikir kalau lo itu orang asing yang mau masuk ke keluarga dia. Mungkin dia juga takut kalau lo beneran nikah sama Bhumi, Bhumi bakal nggak sayang lagi sama dia." "Kok lo kayaknya paham banget, sih?" "Gue juga ngerasain itu waktu dulu Mama mau nikah lagi." Kalani mengangguk. Benar juga. Ayah Raka sekarang adalah ayah tirinya Dulu, Kalani tahu persis saat Raka sering kabur dari rumah karena marah saat sang ibu ingin menikah lagi. *** Dengan langkah menghentak, Alika berjalan ke kamar. "Kakak udah pulang?" Faya yang sedang bermain di ruang tengah mencoba menyapa. Sayang, ia diabaikan oleh sang kakak. Faya yang merasa sikap Alika tak wajar inisiatif menghampiri kamar kakaknya. "Kak! Kakak!" Tangan mungil Faya mengetuk pintu beberapa kali. Terdengar derap langkah keras sebelum pintu kamar Alika terbuka? "Kenapa?" tanya Alika ketus. Alika menatap Faya dengan tajam, membuat Faya sedikit takut. "Kakak kenapa, sih? Kok marah-marah gitu?" "Siapa yang marah? Kakak biasa aja?" "Itu! Kakak kalau ngomongnya kayak gitu biasanya marah." Alika berdecak, ia hendak menutup pintu. "Kakak mau ganti baju. Kamu main aja di sana." "Yah, Kakak..." Faya menunduk lesu. Ia kemudian kembali ke ruang tengah. Sementara itu, Alika di kamar malah berbaring di ranjang. Dia menatap langit-langit kamar yang dicat berwarna biru langit. Rasa kesal masih bercokol di d**a Alika. Seperti dugaan Alika, Kalani bukanlah wanita baik-baik. Bukankah Kalani sedang proses perjodohan dengan Bhumi? Kenapa dia malah jalan dengan laki-laki lain? Kalani dengan laki-laki bernama Raka itu juga tampak akrab. Apa mereka pacaran? "Argh!" Alika melempar salah satu bonekanya ke atas. Kalani pasti menipu semua orang. Dia memiliki kekasih namun pura-pura tidak punya dan minta dijodohkan dengan ayahnya. Apa yang Kalani inginkan? Harta ayahnya? "Nenek kenapa sih ngotot banget jodohin ayah sama dia? Nenek pasti nyesel kalau tahu ternyata dia udah punya pacar." Alika duduk memeluk lutut. Dia berencana akan memberitahu nenek dan ayahnya tentang apa yang ia lihat. Mereka tidak boleh tertipu. Pokoknya, Alika tidak akan berhenti sebelum perjodohan Bhumi dan Kalani benar-benar usai. Kalau hanya dari omongan Bhumi saja, entah kenapa Alika ragu. Alika meraih ponsel dan mencari nomor neneknya. "Halo, sayang." Suara Cici terdengar dari ponsel Alika. "Nenek ke sini, dong." "Emangnya kenapa?" "Alika mau ngomong sesuatu sama nenek." "Ngomong apa emangnya?" "Ya nenek ke sini dulu. Alika susah jelasinnya kalau lewat telepon doang." "Sekarang?" "Iya sekarang!" "Kalau sekarang nenek nggak bisa. Besok aja, ya? Atau kamu ke sini." "Ih, Nenek." "Kebetulan di sini ada Onti Inggid. Nenek suruh Onti Inggid ke sana, ya? Nenek lagi mau berangkat arisan." "Udah, deh, nggak usah." Alika menutup telepon tanpa mengucap salam. Dia melempar boneka lain ke dinding. Kenapa sih neneknya malah mementingkan arisan? Alika selama beberapa saat hanya terdiam di atas ranjang. Dia lalu berdiri dan berjalan ke almari. Diambilnya sebuah celana pendek dan kaus rumahan. Alika mengganti seragam putih birunya dengan pakaian yang baru saja ia ambil. Usai berganti pakaian, Alika keluar kamar. dilihatnya Faya sedang bermain boneka di ruang tengah. "Udah makan?" "Udah, tadi bibi masa ayam goreng." "Sekarang bibi mana?" "Nyuci baju." Faya mengalihkan pandangan dari boneka ke Alika. Ditatapnya Alika penasaran. "Kakak kenapa, sih?" "Kenapa apanya?" "Katanya nggak marah, tapi mukanya gitu. Kata nenek kalau marah-marah cepet tua." Alika berdecak. "Kamu nih masih kecil, nggak usah sok-sok an nasihatin Kakak, deh." Alika duduk di dekat Faya. Dia memperhatikan adiknya bermain. Dulu, Alika ingin sekali punya adik. Ia merengek setiap hari agar Bhumi dan Desita memberi adik. Bhumi dan Desita bukannya tidak ingin memberi. Akan tetapi, Desita pernah keguguran sekali dan itu membuatnya sulit hamil lagi. Saat akhirnya hamil Faya, Desita jadi sangat lemah dan sakit-sakitan. Dia pun meninggal setelah melahirkan Faya. Alika menatap adiknya dengan tatapan kasihan. Faya tidak pernah bertemu atau merasakan kasih sayang seorang ibu sejak lahir. Bahkan, Bhumi sempat menolak kehadiran Faya. Alika juga sama. Waktu itu dia merasa jika Faya adalah penyebab Desita meninggal. Beruntung Lina dan Inggid bisa merawat Faya dengan sabar hingga Bhumi dan Alika mau menerimanya. Mengingat masa lalu, tiba-tiba Alika teringat kedekatan Faya dengan Kalani. "Dek." Alika menjawil lengan Faya. "Kenapa, sih?" "Kamu inget Tante Kala?" "Inget!" Faya berseru senang. "Tante cantik dan baik itu, kan? Faya suka main sama Tante Kalani. Sst... Kakak jangan bilang-bilang, ya... Kata Nenek, Tante Kalani mau jadi ibunya Faya. Emang iya?" Alika mengerutkan dahi. "Nenek bilang kayak gitu?" "Iya.Tapi katanya nggak boleh bilang-bilang yang lain. Emang iya, Kak?" "Nggak!" jawab Alika tegas. Alika mendekat ke Faya. Dia memegang kedua pundak adiknya. "Ayah udah bilang kalau dia nggak mau nikah sama Tante Kalani. Tante Kalani itu jahat! Dia nggak boleh jadi ibunya kita." "Jahat? Kayaknya Tante Kala baik, deh. Dia asyik terus seru ngobrol sama Faya." "Faya, itu suma strategi aja." "Satetegi apa, Kak?" "Strategi! Strategi itu... Emmm..." Dilihat dari raut wajahnya, Alika tampak berpikir keras. "Cara. Strategi itu cara. Tante Kala pura-pura baik di depan kamu, padahal aslinya jahat." "Emang jahatnya gimana?" "Pokoknya jahat! Kakak nggak mau ngeliat kamu dekat-dekat lagi sama dia, ngerti?" Faya mendengus. "Terserah Kakak, deh." "Kamu, tuh." "Hai semuanyaa." Alika dan Faya menoleh. Inggid masuk dengan wajah sumringah. "Onti Inggid!" Faya melempar bonekanya dan berlari ke arah Inggid. "Onti kok di sini?" "Iya, dong. Soalnya Onti kangen sama Fayaaa." Inggid mengangkat Faya dalam gendongan, lalu mencium pipinya berkali-kali. "Aduh, aduh, berat banget sekarang." Inggid menurunkan Faya. Mereka berdua lalu berjalan beriringan ke arah Alika. "Kok mukanya kusut gitu, sih?" "Onti ngapain ke sini?" "Lho, kata Nenek Onti disuruh ke sini sama kamu." Alika menghela nafas keras. "Padahal Alika bilang ke Nenek nggak usah." "Kamu kenapa, sih? Hm? Kata Nenek mau ngomong sesuatu?" "Bukan urusan Onti." Inggid menatap Alika tidak percaya. Dia memegang dadanya seolah-olah kesakitan. "Bukan urusan Onti? Ternyata selama ini Onti dianggap nggak penting!" Inggid berguling memeluk Faya. "Onti mau sama Faya aja! Males sama Alika." "Onti kok gitu, sih?" "Lho, kan kamu sendiri yang nggak mau cerita sama Onti, berarti Onti nggak penting. Ngapain Onti dekat-dekat sama orang yang nganggep Onti nggak penting." Alika tidak menjawab. Dia malah menunduk dengan wajah murung. Melihat wajah keponakannya yang seperti itu, Inggid mendekat dan bertanya serius. "Emangnya kamu mau ngomong apa, sih, sama Nenek? Harus sama Nenek? Onti nggak boleh tahu? Siapa tahu malah Onti bisa bantu kamu." Alika mendongak menatap mata Inggid. Dia menimbang sejenak. "Onti tahu Kalani?" Sesaat, Inggid mengerutkan dahinya. Kalani? "Kalani yang anak temennya Nenek?" Alika mengangguk keras. "Perempuan yang dijodohin sama Ayah." "Iya, Onti tahu tapi belum pernah ketemu. Emangnya kenapa, sih?" "Perjodohannya masih lanjut, ya?" "Maksudnya?" "Ayah sih bilangnya dia nggak akan nikah lagi. Tapi kayaknya perjodohannya belum dibatalin." "Ayah bilang gitu?" Alika mengangguk. "Onti bilangin Nenek, dong." "Bilangin apa, Sayang?" "Ya bilangin biar perjodohannya cepat-cepat dibatalin." "Kok gitu? Walaupun ayah kamu bilang nggak mau, tapi kan mereka lagi proses perkenalan, bisa aja..." "Kalani udah punya pacar, Onti," potong Alika. Inggid menelan ludah. Dia menyandarkan punggung ke sofa tepat di sebelah Alika. "Kok kamu bisa ngomong gitu?" "Tadi Alika ketemu dia lagi makan siang sama pacarnya. Pasti dia bukan perempuan baik-baik. Kan lagi perkenalan sama ayah, kok malah pacaran? Makanya buruan dibatalin aja sekalian!" Inggid tertawa keras, membuat Alika jadi kesal. "Onti! Kenapa malah ketawa, sih?" "Kamu kok tahu kalau Kalani makan siang sama pacarnya?" "Soalnya mereka kelihatan dekat banget, Onti. Terus bercanda-bercanda gitu." "Tapi kamu nanya langsung nggak sama Tante Kalani?" Alika menggeleng. Jangankan bertanya, melihat wajah Kalani saja dia malas. "Alika, kalau gitu mungkin salah paham. Emangnya kalau temenan nggak boleh akrab? Terus bisa juga dia saudaranya." "Tapi Onti..." "Lik, kalau Tante Kalani beneran punya pacar, kamu nggak perlu repot-repot minta Onti ngomong ke Nenek biar perjodohannya dibatalin." "Kok gitu?" "Ya karena kalau itu bener pacarnya, pasti perjodohan ini udah dibatalin dari lama atau bahkan nggak pernah kejadian. Ngapain juga dijodohin kalau Tante Kalani udah punya calon?" Alika terdiam. Apa yang dikatakan Inggid ada benarnya juga. Kenapa dia tidak berpikir sampai ke situ, ya? "Kamu kayaknya nggak mau banget Ayah kamu nikah lagi." "Emang nggak mau." "Kenapa?" "Karena nggak butuh. Selama ini kita baik-baik aja, kok. Lagian Ayah masih cinta banget sama Bunda, jadi ngapain nikah lagi?" Inggid mengangguk pelan. "Yakin?" tanya Inggid. "Yakin. Onti nggak percaya?" "Emm... Gimana, ya? Selama ini sih Onti ngelihat kalian emang udah butuh sosok ibu." "Nggak." "Ayah kalian selama ini keteteran banget ngurus kerjaan sama ngerawat kalian. Terus bibi katanya juga mau keluar, kan?" "Ontiii kalau urusan bibi keluar, tinggal cari pembantu baru. Emang Ayah pernah bilang kalau keteteran? Selama ini Ayah biasa aja, kok." "Ayah sering minta tolong Onti buat jemput kalian karena sibuk." "Onti nggak ikhlas?" Duh, Inggid harus banyak-banyak bersabar. Berbicara dengan remaja seperti Alika memang sedikit sulit. "Lik, Ayah kamu juga pasti kesepian. Orang dewasa, apalagi yang udah pernah menikah, pasti ada rasa pengin punya pendamping hidup. Capek tahu hidup sendirian. Onti aja pas masih muda udah ngerasa capek, ngerasa pengin cepat-cepat nikah. Sekarang udah nikah, udah hamil, jadi udah ngerti." "Kesepian? Kan ada aku sama Faya." "Beda, Alika. Ayah kamu itu pria dewasa, dia butuh istri?" "Ya buat apa? Kan udah ada aku sama Faya." Inggid menahan suaranya. Dia hendak mengatakan sesuatu, namun teringat jika Alika masih di bawah umur. "Pokoknya untuk melakukan hal-hal yang dilakukan orang dewasa." "Emang orang dewasa ngapain, Onti? Anak kecil nggak boleh tahu?" Inggid sedikit terkejut saat menyadari Faya telah berada di sebelahnya. "Nanti kalau kalian udah gede juga pasti tahu." "Bentar, deh. Jadi maksudnya Onti dukung ayah buat nikah lagi?" "Kenapa nggak? Toh... Alika!" Alika telah melepas pegangan tangan Inggid. Dia berlari ke kamar dan menutup pintunya keras. Inggid tadinya ingin mengejar, namun ia segera mengurungkan niat. Selain karena perut buncitnya, mungkin Alika butuh waktu sendiri. Alika berdiri di belakang pintu dan menggigit kukunya. Perkataan Inggid mengingatkannya pada Saka. Jajan di luar? Alika sempat menanyakan tentang ini pada Safa dan jawabannya membuat dia geleng kepala. Tidak mungkin ayahnya jajan di luar. Tapi bagaimana jika benar? *** "Perut buncit gitu ngapain sih pergi-pergi? Udah diem di rumah aja." Bhumi menatap perut Inggid ngeri. Ibu hamil yang satu itu senang sekali bepergian. Sering lupa jika ada nyawa lain di perutnya. "Cuma ke sini doang, kok." "Nggak masuk?" tanya Bhumi. Bhumi menemukan Inggid tengah duduk di lantai ruang tamu sambil memakan camilan dari toples. Sedikit mengherankan karena biasanya Inggid langsung nyelonong ke dalam rumahnya. "Udah. Orang gue udah dari tadi. Mama minta gue ke sini buat ngobrol sama Alika, eh malah dia ngambek sama gue." "Ngambek kenapa?" Bhumi sebenarnya sedikit lelah membahas Alika yang ngambek. Belakangan putri sulungnya itu sering sekali mengambek. Entahlah, mungkin itu pengaruh hormon pubertas. "Duduk, deh." Inggid menepuk lantai di sebelahnya. "Kenapa, sih?" "Lo beneran nggak tertarik sama Kalani?" tanya Inggid ketika Bhumi telah duduk. Bhumi menggigit bibir. Acara ngambek Alika pasti ada hubungannya dengan ini. "Nggak, gue nggak tertarik." "Yakin?" "Kenapa, sih?" "Tadi Alika minta gue biar ngomong ke Mama supaya perjodohan lo cepat-cepat dibatalin." "Serius Alika ngomong gitu?" Inggid mengangguk meyakinkan. "Itu juga pasti gara-gara lo. Alika yakin lo nggak mau nikah sama Kalani, jadi dia mau sekalian aja perjodohannya dibatalin." "Kemarin pas dinner sama keluarga Kalani gue emang udah niat ngomong buat batalin perjodohan. Tapi nggak tau gue rasa gue kurang sopan." Bhumi menoleh ke Inggid yang menatapnya intens. "Aw! Kenapa mukul, sih?" "Kenapa mau dibatalin secepat itu?" "Kan gue udah bilang kalau gue nggak tertarik. Daripada gue gantungin dia dan ngasih harapan palsu, mending gue batalin sekalian." "Lo beneran nggak berniat mengenal Kalani lebih jauh lagi, gitu?" Bhumi menggeleng. "Gue juga udah bilang ke Kalani kalau gue nggak tertarik ke hubungan yang serius. Dia juga ngerti, kok. Jadi mungkin dia bakal bantu buat ngomong ke Mama Papa." "Lo bego, ya? Kenapa buru-buru bilang nggak mau, sih? Lo tuh udah butuh istri." "Nggak. Gue masih bisa ngerawat Faya sama Alika sendiri. Oke gue emang keteteran. Tapi kalau Faya usah gedean dan bisa mandiri, semua pasti bakal lebih gampang." "Alika itu lagi puber. Lo yakin nggak butuh istri? Emang lo bisa ngajarin Alika ganti pembalut?" "Kalau itu... Itu... Ya nanti kan bisa tanya ke Mama." Inggid menggelengkan kepalanya. "Lo sama Alika sama-sama keras dan banyak alasan. Sekarang gue tanya, lo masih normal, kan?" "Masih." "Mau ditahan atau dielak, kebutuhan biologis lo tuh masih harus dipenuhin. Lo masih butuh perempuan, Bhum. Ditahan bertahun-tahun emang nggak pusing?" "Ngomong apa, sih?" Bhumi berdiri dan hendak berjalan ke dalam. "Tadi Alika bilang lihat Kalani sama cowok. Kata Alika mereka akrab kayak orang pacaran. Kalau Kalani beneran batalin dan milih cowok lain, siap-siap nyesel, deh." Bhumi terdiam di tempatnya. Menyesal? Karena Kalani memilih laki-laki lain? Tidak mungkin. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD