Semesta Pertama
Bhumi menyambar slim fit jas dan dasi miliknya. Dengan gerakan cepat, dia membawa dua benda itu beserta tas dan kaos kaki ke lantai bawah. Dilihatnya seorang gadis manis yang sedang asyik bermain boneka kelinci.
"Faya sini," panggil Bhumi setelah berhasil memasang dasi di kerah kemeja.
Faya, putrinya yang berusia lima tahun melirik, lalu mendekati Bhumi dengan masih menggendong boneka. Bhumi mengambil sisir yang ada di meja ruang tamu. Tentu saja meja itu bukan tempat aslinya. Sisir itu memiliki singgasana di sana karena Bhumi selalu kehabisan waktu jika harus mencari sisir di kamar Faya.
Bhumi dengan telaten menguncir rambut Faya. Hanya model ponytail yang ia kuasai. Faya, sih, tidak pernah protes perihal model rambutnya yang itu-itu saja. Padahal, teman-teman di TK Faya semuanya memiliki gaya rambut yang lucu dan berganti-ganti setiap harinya. Sedangkan Faya? Hanya diikat satu dengan karet polos tanpa hiasan lain.
Tapi mau bagaimana lagi? Setelah berkutat dengan tutorial dari youtube pun, Bhumi tetap tidak bisa mengepang atau menata rambut Faya dengan cantik. Bhumi pernah meminta pada Alika, sulungnya, untuk menguncir rambut Faya di pagi hari. Akan tetapi remajanya itu menolak, tidak mau waktu paginya makin tersita.
"Kakak mana?" tanya Bhumi pada Faya yang sedang bersenandung pelan. Faya hanya mengangkat bahu. Setelah memandikan Faya, Alika langsung pergi begitu saja.
"Kaaak! Kakaaak!" panggil Bhumi dengan suara kencang.
Tubuhnya sedikit menunduk untuk memakai kaos kaki, namun kepalanya mendongak ke pintu kamar Alika. Tiga kali memanggil dan masih tidak ada sahutan.
"Alikaaa!" panggil Bhumi lagi.
"Iya sebentaaaar!"
Alika keluar dari kamar persis saat Bhumi memasang kancing terakhir jasnya. Ditatapnya Alika yang telah siap dengan seragam putih biru.
Melihat kedua putrinya telah siap berangkat ke sekolah, Bhumi bergegas menyuruh mereka masuk ke mobil. Mereka berangkat setelah Bhumi memastikan semua pintu telah dikunci.
"Kak, nanti kamu pulang naik taksi online, ya?"
"Kok nggak dijemput Ayah?"
"Ayah kayaknya pulang agak malem, mungkin sampai jam sepuluhan. Faya dijemput sama Tante Inggid."
"Kenapa Tante Inggid nggak jemput aku sekalian?"
"Kamu kan pulangnya sore, Kak. Kasihan kalau dia bolak-balik," jawab Bhumi sambil tetap fokus pada jalan raya.
Faya yang duduk di sebelah Bhumi tampak tidak terganggu dengan obrolan mereka. Tante Inggid, adik kandung ayahnya itu adalah tante yang menyenangkan. Meski tidak loyal dan memanjakan seperti Tante Dara, Faya tetap menyukainya. Jadi dia tidak masalah jika harus dijemput Tante Inggid
"Emang Ayah nggak bisa izin jemput aku dulu? Aku males, ah, kalau naik tidaksi online," protes Alika.
"Nggak bisa, sayang. Lagian kenapa, sih? Orang tinggal naik mobil, bayar, terus udah selesai."
Alika tidak menjawab, malah mengerucutkan bibir. Tangannya dilipat dan kepalanya menoleh ke arah jendela. Bhumi yang melihat itu hanya bisa menghela nafas pelan.
Tahun ini Alika akan berusia tiga belas tahun. Memasuki usia remaja, Alika jadi sering berulah. Bhumi berusaha bersikap sesabar mungkin. Bagaimana pun, menghadapi usia pubertas tidak pernah mudah.
"Ayah, Faya sekolah dulu, ya."
Bhumi tersenyum pada si bungsu. Setelah Faya mencium punggung tangannya, gadis kecil itu turun. Seorang guru telah bersiap menyambut Faya. Bhumi membunyikan klakson sebagai balasan dari lambaian tangan Faya.
Alika dan Faya memang Bhumi sekolahkan di yayasan yang sama. Hal ini ia lakukan agar tidak menyita waktu banyak untuk mengantar mereka berdua.
Bhumi menyalakan musik dari head unit mobilnya. Alika tidak suka jika pagi harinya terganggu, jadi Bhumi hanya bisa menyalakannya setelah Alika turun dari mobil.
Lagu A Head Full of Dream dari Coldplay menggema di mobil Bhumi. Ini adalah salah satu lagu kesukaannya. Dulu, dia sering sekali menyisihkan waktu untuk menonton konser-konser Coldplay atau grup lain yang sedang ia senangi. Namun kondisinya sekarang sebagai seorang single parent membuat Bhumi tidak memiliki waktu.
Ketika lagu itu berhenti tiba-tiba, Bhumi melirik heran. Di layar telah tertera nama Reno, rekan kerjanya.
"Selamat pagi, Pak Bhumi," sapa Reno begitu panggilannya diangkat oleh Bhumi.
"Selamat pagi, Pak. Ada apa, ya? Tumben pagi-pagi nelepon."
"Ini, Pak Bhumi nanti pukul sebelas siang kosong nggak, ya?"
"Sebelas siang, ya?" Bhumi berpikir sejenak. "Jam segitu sih saya rapat sama Pak Ruslan yang dari Amarta itu, Pak. Emangnya ada apa, ya?"
"Semalam mertua saya masuk rumah sakit. Tadinya kalau Pak Bhumi lagi luang, saya mau minta digantikan untuk rapat sama NewDee."
"NewDee firma arsitektur itu, ya?"
"Iya, Pak. Mau ngobrolin soal rest area yang dekat tol enam belas itu, Pak."
"Waduh, penting dong ini." Bhumi mengerutkan kening sehingga terbentuk garis-garis halus di dahinya. "maaf ya, Pak, saya kayaknya nggak bisa gantiin. Coba hubungi Danar, siapa tahu di divisinya ada yang bisa," lanjut Bhumi sambil menggerakkan kemudi ke basement kantornya.
"Iya, Pak, habis ini saya coba hubungi Pak Danar.. Terima kasih banyak, Pak. Wassalamualaikum"
"Waalaikumsalam.” Bhumi menggeleng karena seingatnya Reno tidak mengucap salam di awal pembicaraan.
Bhumi menyapa satpam kantor dengan lambaian singkat sebelum masuk ke dalam lift. Dia menekan angka empat belas, lantai tempat ruangannya berada. Bhumi bekerja di salah satu perusahaan kontraktor terbesar di Indonesia. Meski bukan di kantor pusat, posisi Bhumi sebagai site manager merupakan pencapaian besar. Dibanding mengikuti jejak sang ayah menjadi dokter, Bhumi lebih memilih terjun ke dunia ini. Dia merangkak dari bawah sampai bisa menduduki posisi sekarang.
"Pagi, Pak," sapa Amel sang sekretaris yang dibalas Bhumi dengan sapaan singkat.
Dulu Bhumi sempat bertanya-tanya kenapa hampir semua sekretaris itu perempuan. Padahal, bisa saja, kan, mempekerjakan sekretaris laki-laki. Malah ini akan lebih bagus karena menghindari kecurigaan jika si bos memiliki istri di rumah.
Pertanyaan Bhumi itu terjawab dengan sendirinya ketika dia mulai membutuhkan seorang sekretaris. Dia pernah mempekerjakan sekretaris laki-laki yang katanya sih profesional, namun ternyata tidak memenuhi ekspektasinya. Sekretaris laki-lakinya itu memang disiplin dan bagus untuk urusan pekerjaan, namun tetap tidak bisa mengalahkan ketelitian sekretaris perempuan penggantinya.
Sebelum Amel, Bhumi memeliki sekretaris bernama Mbak Risma. Tahu apa yang membuat Bhumi sampai tercengang? Mbak Risma mengetahui semua hal yang disukai calon klien Bhumi. Dia sering mengirim bingkisan atau hadiah atas nama Bhumi. Bahkan, Mbak Risma juga berteman dengan istri klien Bhumi atau dengan klien itu sendiri. Dengan pendekatan pribadi seperti itu, Mbak Risma selalu berhasil membuat Bhumi memenangkan hati para klien sehingga pekerjaannya dilancarkan.
Mbak Risma memilih resign tahun lalu karena ingin fokus mengurus buah hatinya yang baru lahir. Amel sebagai pengganti Mbak Risma pun cukup membuat Bhumi senang. Meski tidak sedetail Mbak Risma, Amel yang fresh graduate itu selalu cerah dan memiliki ide-ide segar di pikirannya.
"Soal aduan dari mandor yang di Jatijaya kemarin udah saya kasih, kan, Pak?" tanya Amel sambil meletakkan segelas kopi di mejanya. Ini juga salah satu perbedaan sekretaris perempuan dari laki-laki. Perempuan cenderung lebih peka. Mereka akan menyiapkan kopi setiap pagi, juga menanyakan makanan yang ingin dimakan Bhumi meski bukan tugas mereka. Kalau skretaris laki-lakinya boro-boro. Bhumi bahkan pernah tidak makan seharian karena terlalu sibuk menuruti jadwal padat yang disusun sang sekretaris.
"Udah, Mel. Saya juga udah minta Bu Ambar hubungin langsung supervisor di sana. Kayaknya malah mau dicek sekalian ke lapangan."
"Oh, oke, Pak. Pak, hari ini makanannya misoa sama tape ketan nggak apa-apa, kan? Kemarin saya udah minta dibikinin nagasari, tapi ibu saya kehabisan tepung beras."
Amel menata beberapa makanan di meja Bhumi. Ibu Amel adalah seorang penjual jajanan pasar. Setiap hari, Bhumi akan meminta disediakan beberapa makanan untuk sarapan, hitung-hitung nglarisi jualan ibu Amel juga.
"Nggak apa-apa, Mel."
"Kalau gitu saya permisi dulu, Pak."
Amel berlalu menuju ruang kerjanya. Ruang kerja Amel dan Bhumi hanya dipisahkan oleh dinding kaca separuh transparan. Jika Bhumi ada keperluan, dia hanya perlu menelepon dari intercom.
Bhumi kemudian mulai bekerja. Tumpukan berkas di mejanya ia ambil. Banyak hal yang harus dia teliti, baca, tanda tangani, dan lain-lain. Meski bukan jabatan paling tinggi, jabatan yang Bhumi pegang saat ini cukup krusial. Bhumi bertugas mengawasi jalannya sebuah proyek dari nol sampai selesai.
Bunyi dari intercom membuat Bhumi rehat sejenak dari kegiatannya membaca proposal salah satu toko bangunan.
"Kenapa, Mel?"
"Ada Bu Arum."
Bhumi memanjangkan leher, mendapati wajah seorang wanita yang tersenyum lebar padanya. Ck! Ini masih sangat pagi.
"Gimana, Pak? Bu Arum bisa menemui Pak Bhumi?"
Bhumi melirik berkas di mejanya sekilas.
"Suruh masuk aja."
Selanjutnya, Arum telah duduk manis di depan Bhumi. Dia sengaja meminta Bhumi berpindah dari kursi kerja ke sofa di ruangannya.
"Ngapain, sih, pagi-pagi ke sini?"
"Bawain kamu sarapan, kamu kan kalau pagi nggak pernah sempat sarapan." Arum menata beberapa makanan yang ia bawa.
"Amel udah nyiapin makanan, kok." Bhumi menunjuk meja kerja dengan dagunya.
"Makanan segitu mana cukup sih, Bhum?"
Kotak bekal berisi sandwich digeser Arum agar mendekat ke Bhumi.
"Mbak Desita tuh nitip Mas Bhumi sama anak-anak ke aku. Aku nggak mau ya Mbak Desita nggak tenang karena Mas Bhumi suka lupa makan."
Bhumi hanya bisa menghela napas. Jika Arum telah membawa-bawa nama almarhumah istrinya, Bhumi tidak bisa berkata apa-apa lagi.
"Minggu depan Mas Bhumi ada acara nggak? Aku kangen nih sama Faya. Gimana kalau kita bertiga jalan-jalan?" tanya Arum antusias.
Bhumi cuek memakan sandwichnya, berpura-pura tidak mendengar omongan Arum. Diacuhkan oleh Bhumi, Arum ingin mengulang kalimatnya, namun keduluan Amel yang mengetuk pintu.
"Masuk!" seru Bhumi. Sepertinya Amel mengetuk pintu karena melihat meja kerjanya kosong.
"Maaf saya ganggu, Pak, Bu."
"Nggak apa-apa kok, Mel. Kenapa?" tanya Arum dengan senyum ramah.
"Barusan Pak Ruslan dari Amarta mendadak minta reschedule. Katanya dia ada keperluan mendadak, Pak."
"Untuk rapat yang kapan?"
"Nanti siang, Pak. Terus saya udah mindahin ke lusa. Bapak nggak keberatan, kan?"
"Iya nggak apa-apa, Mel. Eh tapi kamu kalau bisa bilangin biar dia nggak sering-sering minta reschedule mendadak gitu. Kita kan harus profesional, Mel."
"Iya, Pak, nanti saya sampaikan." Amel kemudian pamit.
Belum juga sampai ke pintu, Amel terpaksa kembali lagi karena Bhumi memanggilnya.
"Tadi Pak Reno minta saya gantiin rapat yang sama NewDee jam sebelas. Coba deh kamu hubungi dia. Daripada saya nganggur, mending bantu Pak Reno."
Ucapan Bhumi sontak membuat binar senang di mata Arum hilang. Bhumi tahu jika Arum memasang wajah bahagia begitu tahu jadwalnya ada yang kosong. Pasti wanita itu berencana mengajaknya makan siang atau apalah.
"Yah... Kok malah gantiin orang rapat, sih? Padahal kan aku mau ngajak kamu makan siang."
Tuh, kan! Tebakan Bhumi tidak meleset sedikit pun. Tapi Bhumi tidak menanggapi lagi, hanya sedikit menyeringai.
***
Sudah lima belas menit Bhumi menunggu di ruang rapat. Salahnya sendiri, sih, datang lebih awal. Bhumi melihat arloji, rapat masih setengah jam lagi.
"Pak Bhumi, sudah datang?" tanya seorang OB yang baru masuk ke ruang rapat. OB itu menata makanan dan minuman untuk rapat nanti.
"Iya, Pak. Saya kecepetan datang ke sini."
"Saya permisi dulu, Pak," pamit OB itu yang dibalas Bhumi dengan anggukan.
"Pak, tolong tanda tangan di sini."
Amel di sebelah Bhumi menggeser map yang terbuka. Bhumi membaca cepat, lalu membubuhkan tanda tangan di atas namanya.
"Ini cuma kita yang ikut rapat?"
"Nggaklah, Pak. Tadi saya udah nanya, terus katanya Pak David juga ikut."
Bhumi mengangguk pelan, David dari bagian site enginner arsitektur tentu mengikuti rapat ini. Dari balik dinding transparan, Bhumi dapat melihat David dan asistennya datang.
"Tuh orangnya datang."
"Siang, Pak," sapa David.
"Siang, David."
Bhumi berdiri untuk menyalami David dan asistennya. Bhumi mengurungkan niatnya untuk duduk kembali karena melihat sosok asing yang dipandu salah satu pegawai menuju ke ruang rapat.
"Kayaknya itu yang dari NewDee," ujar Bhumi.
Perwakilan dari NewDee itu terdiri dari tiga orang, dua perempuan dan satu laki-laki. Menurut tebakan Bhumi, dua perempuan itu adalah asisten atau sekretaris yang laki-laki. Salah satu perempuan rambutnya digelung, sedang satunya diurai. Perempuan dengan rambut terurai itu menyalami peserta rapat yang lain terlebih dahulu.
Oke, sepertinya Bhumi salah. Dilihat dari bagaimana si lelaki menyiapkan bangku untuknya, seperti perempuan itu yang memiliki jabatan tertinggi.
"Kalani," ucap perempuan itu saat menyalami Bhumi.
"Bhumi," balas Bhumi sambil tersenyum.
"Bhumi?"
Bhumi tersenyum. Dia telah terbiasa menghadapi keheranan orang-orang karena namanya yang cukup unik.
"Aneh, ya?"
Kalani hanya tersenyum, lalu menggeleng.
"Dion," ucap si lelaki sambil menyalami Bhumi. "Bu Kalani itu arti namanya langit."
Bhumi menoleh pada Kalani yang mengangguk pelan.
"Bumi dan langit. Kayaknya kita memang ditidakdirkan untuk kerja sama," celetuk David asal.
"Semoga, ya," balas Kalani.
Bhumi kemudian memulai rapat. Mereka mendapat proyek sebuah rest area. NewDee ini adalah salah satu firma arsitektur langganan Pak Reno. Bhumi sendiri biasanya bekerja sama dengan firma lain. Meski Newdee merupakan anak dari firma Azora yang terkenal itu, Bhumi kurang menyukai tipe desain mereka.
Kalani maju untuk mendekat ke layar proyektor. Dia mulai menjelaskan gambaran dari sketsa yang telah ia buat. Beberapa kali Bhumi atau David menyanggah, memberi usulan yang kemudian dicatat oleh Dion.
Rapat mereka berlangsung selama hampir dua jam. Dari tiga contoh yang diajukan Newdee, Bhumi dan David setuju pada salah satu desain yang memberi kesan homy dan comfy. Perpaduan aksen kayu dan batu alam di area tempat duduk berhasil ditampilkan dengan apik oleh Kalani. Dinding air terjun di salah satu sisi juga membuat desain ini menarik.
"Kalau begitu, bisa kita akhiri rapat di sini?" Bhumi menata map di depannya, mengetukkannya ke meja agar rapi.
“Baik, terima kasih atas waktunya. Nanti saya akan hubungi lebih lanjut untuk revisi sama pemilihan material.”
Kalani menyalami David, lalu menyalami Bhumi. Bhumi menjabat tangan Kalani sambal mengangguk pelan, sementara perempuan itu tersenyum.
***
Hari ini Kalani terpaksa menunda penyelesaian maket untuk proyek halte di salah satu jalan kota. Ibunya memaksa Kalani untuk menemani ke acara arisan di rumah salah satu temannya. Kata Lina, ibunya, dia ingin mengenalkan Kalani ke teman-temannya. Kalani yang baru menjadi direktur eksekutif Newdee harus dibanggakan ke teman-temannya. Padahal semua orang juga tahu jika Kalani menempati jabatan itu karena sang ayah.
“Kalani, udah siap?” Lina mengetuk pintu beberapa kali.
“Sebentar, Ma.”
Kalani membenahi ikat pinggang dan memutar diri di depan kaca. Sejak SMA, Kalani memang modis dan selalu up to date soal fashion. Dia tidak bisa keluar rumah dengan pakaian yang tidak matching atau berantakan. Apalagi hari ini dia akan bertemu dengan teman-teman ibunya. Kalani harus tampil all out tapi tetap sopan dan terkesan seperti anak baik-baik.
“Cepetan, Kal,” panggil ibunya tak sabaran.
“Iya, Ma.”
Setelah yakin bahwa penampilannya sempurna, barulah Kalani keluar kamar. Kalani hanya meringis saat Lina menggelengkan kepala sambal memberi tatapan kesal.
“Jangan marah gitu, dong. Kan mama yang maksa aku buat ikut, jadi harus siap dengan risiko aku dandan lama.”
“Iya, deh.”
Kalani dan Lina berjalan menuju parkiran, tepatnya ke salah satu mobil SUV warna putih. Mobil ini biasanya digunakan oleh Lina, sementara kalani biasanya menggunakan mobil convertible yang ia kenakan sejak kuliah.
“Kamu beneran nggak apa-apa nyetir sendiri?” tanya Lina yang sedang memakai seatbelt.
“Nggak apa-apa, Ma. Lagian aku emang ke mana-mana naik mobil sendiri. Emang mama yang dikit-dikit minta dianter supir.”
“Mama, kan, sadar diri, kal. Mama udah nggak muda lagi. Kalau mama nyetir sendiri, bisa-bisa encok di tengah jalan. Kakak kamu juga nggak suka kalua mama nyetir sendiri.”
Kalani tertawa kecil. Mamanya memang telah cukup berumur. Dia telah memasuki kepala enam beberapa tahun yang lalu. Jarak umur Lina dan Kalani memang cukup jauh. Pasalnya, Lina melahirkan si bungsu ini di usia hamper empat puluh tahun. Tadinya, Lina dan suami ingin berhenti di anak ketiga, namun Kalani muncul sebelum mereka sempat tutup pabrik.
Rumah teman Lina masih berada di kota yang sama dengan rumah Kalani, namun cukup jauh. Mereka perlu menempuh sekitar empat puluh lima menit untuk sampai di sana. Berada di perumahan elit, rumah yang mereka sambangi memiliki American Style yang kental. Saat masuk menuju parkiran mobil, kalani malah sibuk mengamati air mancur di halaman dan pahatan kecil di ujung dinding. Kebiasaan Kalani sejak menjadi mahasiswa arsitektur.
“Nanti aku habis kenalan langsung pulang, kan?”
“Jangan, dong. Nanti dikira nggak sopan. Lagian udah dandan cantik-cantik begini masa mau langsung pulang? Tungguin sampai mama selesai, ya?”
“Iya, deh,” ujar Kalani mengalah. Dia lalu mengekor sang mama yang telah lebih dulu memasuki teras rumah.
“Ya ampun, Lin. Kok baru datang? Udah ditungguin dari tadi.”
Seorang wanita paruh baya berjalan dari dalam rumah untuk menyambut Lina dan Kalani. Kalani hanya tersenyum melihat dua perempuan itu bercipika-cipiki.
“Maaf, deh. Ini, lho anak cewek kalau dandannya belum maksimal belum mau berangkat.”
Kalani memutar bola mata saat dirinya dijadikan kambing hitam.
“Oh, ini anakmu yang paling kecil.”
“Iya, kenalin, ini namanya Kalani. Kal, ini Tante Cici, temen mama zaman SMA dulu.”
Tante Cici beralih ke Kalani. Dia memegang lengan Kalani dan memberi cipika-cipiki. Meski sedikit canggung, namun Kalani dengan senang hati meladeninya.
“Cantik banget anakmu ini,” ucap Tante Cici seraya mengelus pelan rambut Kalani yang terurai ke depan.
“Jelas cantik, dong. Kan mirip mamanya.”
Tante Cici tertawa pelan mendengar gurauan Lina.
“Masuk, yuk! Yang lain udah pada nungguin di dalam.”
Dengan tangan menggandeng Kalani, Tante Cici mengajak ibu dan anak itu masuk ke dalam rumahnya. Mereka melewati ruang tamu dan ruang keluarga, menuju taman samping yang telah dipenuhi orang-orang. Taman itu memiliki dapur kecil dan banyak mainan anak-anak.
Begitu mereka bertiga datang, orang-orang di sana langsung memberi perhatian. Lina menyapa teman-temannya dengan ramah dan mencipika-cipiki mereka satu-persatu. Kalani dengan sabar menunggu di dekat kitchen table.
“Hari ini Lina sama anaknya, lho. Cantik, kan?”
Tante Cici memperkenalkan Kalani begitu Lina selesai. Kalani merasa jadi artis dadakan. Peserta arisan yang seluruhnya merupakan ibu-ibu seusia Lina langsung menyerbunya. Mereka memuji, memperkenalkan diri, juga bertanya banyak hal yang tidak bisa Kalani jawab satu-persatu.
“Katanya sekarang direktur, ya?”
“Kamu udah ada cowok, belum?”
“Kamu udah gede, ya.”
“Kapan-kapan main ke rumah tante, yuk!”
“Umur kamu berapa? Kelihatan masih muda sekali.”
Kalani hanya bisa mengangguk tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Bagaimana pula dia mau berbicara jika orang-orang di sini memberondonginya secara bersamaan.
“Udah,udah! Kasihan ini Kalani nanti syok,” ujar Tante Cici berusaha melindungi Kalani.
“Kamu masuk aja, Kal. Nanti habis dari ruang makan utama belok kanan ke dapur. Di sana ada anak Tante lagi bikin kue. Daripada kamu di sini jadi bulan-bulanan.”
“Nggak apa-apa, kok, Tante. Kalau gitu aku masuk dulu, ya. Permisi tante semuanya.”
Kalani tersenyum ramah sebelum meninggalkan taman tempat arisan. Dia menggelengkan kepala melihat teman-teman sang ibu yang masih lincah di usia segitu. Dari semua teman-teman Lina, yang Kalani kenal dekat hanya beberapa. Itu pun karena rumah mereka dekat atau karena sering datang ke rumah. Sementara untuk orang-orang yang ada di sini, Kalani tidak terlalu familiar meski beberapa dari mereka mengatakan sering menggendong Kalani saat masih kecil.
Sesuai arahan Tante Cici, Kalani berbelok ke kanan setelah melewati sebuah ruang makan besar. Dia menemukan dapur dengan banyak aksen marmer. Seorang perempuan sedikit berisi tengah berdiri di dekat kitchen island. Di atas kitchen island itu ada dua loyang besar berisi adonan kue yang ditata rapi.
“Permisi.” Kalani akhirnya berucap pelan karena perempuan itu tampak tidak menyadari kehadirannya.
“Iya?” Perempuan tadi mendongak dan mengangkat salah satu alisnya.
Kalani berjalan mendekat ke kitchen island.
“Saya Kalani, anaknya bu Lina. Tadi kata tante Cici aku disuruh ke sini.”
“Oh, jadi kamu anaknya tante Lina.”
Anak Tante Cici melepas sarung tangan plastik yang ia kenakan. Ia kemudian melewati kitchen island untuk menyalami Kalani.
“Aku Dara,”
“Aku Kalani.”
“Kamu baru pertama kali ikut arisan, kan?”
“Iya. Mama sebenernya beberapa kali ngajak, tapi aku nolak terus. Berhubung belakangan makin sering nyuruh aku ikut dan dia maksa, ya udah akhirnya aku mau. Eh, aku mau bantu, dong.”
“Kamu nata macaroon itu ke nampan aja, ya. Biar aku yang nyelesaiin adonan ini.” Dara menunjuk loyang berisi macaroon yang telah matang. Kalani dengan hati-hati memindahkan macaroon yang masih hangat itu ke nampan yang telah dilapisi dengan kertas makan.
“Arisannya sering diadain di sini, ya? Kok Kak Dara, aku boleh panggil kak, kan?” tanya Kalani hati-hati. Dara tersenyum dan mengangguk. “Kok Kak Dara kayak udah kenal akrab sama mama.”
“Nggak sering, sih. Kadang mereka arisan di restoran, kadang juga sambil nginep di villa. Di sini paling baru beberapa kali.”
“Tapi kan arisannya sebulan sekali, jadi beberapa kali itu lumayan sering.”
Duk!
Kalani menoleh saat merasakan sesuatu menyentuh kakinya, ternyata sebuah bola.
“Kenapa, Kal?”
“Ini ada bola.” Kalani dari posisi duduknya menunduk untuk mengambil bola itu.
“Itu punya aku!”
Sebuah teriakan anak kecil membuat Kalani menoleh. Seorang gadis dengan gaun biru dan rambut sedikit berantakan berlari ke arah Kalani dan Dara.
“Ini punya kamu?” tanya Kalani seraya menyerahkan bola karet berwarna merah muda itu. Gadis itu menerima bolanya dengan sedikit malu-malu.
“Ini Faya, keponakanku.”
“Onti, kucirin rambut aku, dong! Ayah payah!” adu gadis itu ke Dara.
“Duh, Onti masih bikin adonan baru. Faya nunggu sebentar nggak apa-apa?”
“Huft,” desah Faya dengan kecewa. Gadis kecil itu menunduk dengan bibir cemberut.
“Kalau dikucir sama aku mau nggak? Aku bisa bikin kuciran Elsa, lho,” tawar Kalani.
“Elsa?” Faya melebarkan matanya.
“Iya, hari ini kamu pakai gaun biru sama kayak Elsa, kan? Faya mau?”
“Mau!” Faya berseru senang. Dia menyerahkan pouch transparan berisi sisir kecil dan karet pada Kalani.
Kalani mengangkat Faya dan mendudukkannya di pangkuan. Dia mulai menyisir rambut Faya perlahan agar Faya tidak merasa kesakitan. Dara tersenyum saat melihat Kalani yang kemudian membuat kepangan.
“Faya datang sama siapa?”
“Sama ayah.”
“Oh, sama ayah. Kamu bilang ayah payah, ya?”
“Iya! Kalau mau sekolah dikucir satu nggak papa, tapi kata kakak kalau pakai gaun terus dikucir satu itu jelek. Ayah nggak bisa bikin selain kucir satu.”
“Oh, gitu.” Kalani mengikat ujung rambut Faya agar kepangannya tidak berantakan. “Nah, udah selesai.”
Kalani menurunkan Faya dan menatap sennag pada rambut hasil karyanya.
“Cantik nggak, Onti?” tanya Faya pada Dara.
“Cantik! Persis kayak Elsa.”
Faya tertawa senang mendapat pujian dari Dara.
“Lagi pada apa, nih?”
Kalani menoleh ke arah ruang makan. Tante Cici datang dengan menggandeng seorang laki-laki yang tidak asing di mata Kalani.
“Bhum, ini Kalani, anak teman ibu yang pernah ibu ceritain.”
“Pak Bhumi?” gumam Kalani dengan jari telunjuk mengarah ke Bhumi.
Tante Cici menatap Kalani dan Bhumi bergantian.
“Lho, kalian udah saling kenal?”
“Iya, Tante, kami ada proyek rest area.”
“Ayah! Oma! Rambut aku bagus, nggak? Yang bikinin tante ini, lho. Udah mirip sama Elsa belum?”
Ayah? Kalani melirik ke Bhumi yang sedari tadi hanya terdiam. Jadi Bhumi adalah ayah Faya?
***