Semesta Kedua

2226 Words
Lina menyendok sayur dari panci, lalu membawanya ke meja makan. Meski seharian sibuk karena acara arisan, Lina tetap menyempatkan diri memasak makan malam. "Sayur asem kesukaan Bhumi," ucap Lina. "Makasih, Ma." Bhumi tersenyum melihat sayur yang baru diletakkan di meja. Sayur asem buatan Lina memang tidak ada duanya. "Onti Dara, ayam gorengnya enak." Faya tersenyum lebar pada Dara. Tangan kanannya memegang paha ayam, sementara tangan kirinya mengangkat jempol. "Serius?" tanya Dara antusias. Dia jarang mendapat pujian seperti ini dari anak-anaknya. "Iya, Onti! Beda sama yang dimasak ayah. Ayah nggak enak!" Bhumi yang mendengar itu menggeleng pelan. Ia lantas mengacak rambut sang putri. "Enak dari mananya, sih, Fay? Orang biasa aja. Enakan juga ikan lele." Rena, anak bungsu Dara yang dua tahun lebih tua dari Faya menggerutu. "Itu sih kamunya aja yang nggak suka ayam, maunya ikaaan terus. Sekali-kali makan ayam nggak apa-apa, Ren. Ikan lele sama sayur asem kan nggak nyambung." "Kayak ayam nyambung aja," celetuk Lina. "Tahu, tuh," ujar kakak Rena yang bernama Gagah. "Lagian kalau makan ikan terus, lama-lama tumbuh insang, lho!" Gagah berucap dramatis. Matanya melebar seolah-olah apa yang dia katakan adalah kenyataan. Bagi seorang kakak, membuat adik menangis sudah seperti tugas wajib. Rena mulai cemberut. Kata gurunya, ikan itu bermanfaat. Masa dia tidak boleh makan ikan? "Mama, kalau aku beneran tumbuh insang gimana?" Dari nada bicaranya, Rena seakan hampir menangis. "Makanya sekarang ayamnya dimakan!" "Nggak usah nangis, Rena. Harusnya kamu senang kalau tumbuh insang, jadi nggak usah les berenang lagi," ujar Lina. Rena yang mendengar itu malah makin mewek. "Yah, emang beneran?" Bhumi menoleh ke Faya. "Kalau banyak-banyak makan ikan nanti tumbuh ingsang?" "Nggak, sayang, Kak Gagah cuma bercanda. Makhluk hidup yang bisa punya insang ya cuma hewan-hewan air." "Ah, Om Bhumi nggak asyik!" "Kalau nggak dijelasin bisa-bisa malah Faya nggak mau makan ikan lagi, Gah." Tangan Bhumi bergerak untuk mengambil noda makanan di pinggir bibir Faya. "Padahal masih kurang empat orang, tapi meja tetap rame." "Kok empat, sih, Ma? Lima, dong," protes Dara pada mamanya. "Lima siapa aja? Kan suami kamu ada operasi, Farah lagi pergi sama Alika, terus Inggid lagi ke salon. Masih kurang siapa lagi?" Lina mengernyit bingung. "Suami mama nggak dihitung?" "Oh iya." Lina menepuk dahi. Bisa-bisanya dia lupa jika Hutama suaminya masih belum pulang hingga sekarang. "Papa masih rapat gitu. Paling juga nanti pulang bareng Bagas." Lina kemudian kembali melanjutkan makan. Dia senang bisa makan bersama seperti ini. Sejak Bhumi menikah, dia jarang pulang. Sampai istrinya meninggal pun, Bhumi masih tidak bisa sering-sering pulang. Dia punya banyak pekerjaan dan terlalu sibuk dengan anak-anak. "Bhum," panggil Lina di tengah acara makannya. Bhumi hanya menaikkan satu alis, menunggu alasan mamanya memanggil. "Kalani gimana?" Dara yang sedang makan melirik ke Bhumi. Bhumi sendiri malah menatap Lina dan Dara bergantian. "Gimana maksudnya?" "Ya gimana? Cantik, kah? Baik, kah? Gimana first impression kamu sama Kalani?" "Tadi kan bukan pertama kalinya Bhumi ketemu sama dia, Ma." "Udah, deh, jawab aja kenapa, sih? Gimana pendapat kamu soal Kalani?" tanya Dara tak sabaran. Bhumi menghela nafas, lalu meletakkan sendok makannya. "Emang penting banget pendapat gue ke Kalani?" "Penting dong, Bhum." "Kenapa penting?" "Ya karena..." Lina berdehem. Dia tidak melanjutkan kalimatnya karena Bhumi memberi isyarat ke arah Faya. "Dia kan anak teman mama, jadi mama penasaran aja dia orangnya gimana." Bhumi menggelengkan kepala pelan. "Menurut Bhumi baik, profesional juga kerjanya." "Kalau wajahnya gimana? Cantik, kan? Terus dia juga modis, Bhum." "Ma, Mbak, Bhumi belum tertarik buat nikah lagi," ucap Bhumi membuat Lina dan Dara sedikit kecewa. Bhumi jelas tahu maksud pertanyaan Lina dan Dara. Pertemuan Bhumi dan Kalani di acara arisan tadi pasti sudah direncakan. Sebelum-sebelumnya, mana pernah Lina memaksa Bhumi untuk datang di acara arisan? Kalau bukan karena Lina sampai menangis di telepon, Bhumi juga tidak akan datang. Melihat sosok Kalani yang diajak bicara oleh Lina dengan antusias, Bhumi langsung paham. Pasti mama dan kakaknya berniat menjodohkan Bhumi dengan dia. Ini bukan topik baru. Lina dan Dara sering menceritakan kenalan wanita mereka yang sekiranya cocok dengan Bhumi, tapi baru kali ini ia langsung dipertemukan. "Tapi kamu mengakui kan kalau Kalani menarik?" "Mbak..." "Kalani tuh cantik, sopan, ramah, terus kerjaannya bagus. Sayang banget kalau kamu nggak coba kenal lebih dekat. Orang kayak Kalani pasti yang nunggu banyak. Sekali dilepas, wus! diambil sama cowok lain." "Emang Kalani bola bisa diambil dilepas gitu?" "Mama kan cuma bikin perumpamaan, Dar." "Kalau emang kayak gitu, kenapa dia sekarang masih single? Belum ada yang nangkep? Kayaknya umur Kalani juga nggak yang muda-muda banget." Dara berdecak. "Perempuan kayak Kalani pasti pemilih, Bhum. Nggak mungkin dia sembarangan milih calon suami." "Ma, aku udah selesai," potong Rena. "Faya juga udah. Kita main ya, Ma." "Iya udah sana." Bhumi membantu Faya yang telah menghabiskan makanan untuk turun dari kursi. "Kamu ikut main sana!" titah Dara pada Gagah. "Aku belum selesai makan." "Udah nanti kamu tambah gemuk." Dara menyingkirkan piring Gagah yang sebenarnya tinggal tulang ayam. Tidak tahu turunan siapa sampai bocah gempal itu senang mengkerikiti tulang ayam. "Kalau Kalani pemilih, kok mama sama Mbak Dara pede banget mau ngenalin aku sama dia? Aku ini duda, lho," ujar Bhumi setelah Gagah meninggalkan meja makan. "Namanya juga kenalan dulu. Semua kemungkinan tuh ada, Bhum. Siapa tahu seleranya Kalani malah duda kayak kamu." "Mama tuh ngenalin kamu sama dia juga mikirin anak-anak kamu, Bhum. Rora udah mulai puber. Kamu yakin bisa nanganin dia sendirian?" "Faya juga sering nanya-nanya soal bundanya." "Nanya soal bundanya bukan berarti dia mau ibu baru..." "Kamu kenapa, sih? Kayaknya ogah banget sama Kalani. Cuma kenalan doang ini. Kalian saling mengenal dulu satu sama lain. Kalau cocok lanjut, kalau nggak ya nggak usah." "Nggak akan cocok, Mbak." "Kamu belum nyoba udah sok-sok an bilang nggak cocok." Lina mendengus kesal. "Pokoknya mama nggak mau tahu. Kamu harus mau kenalan lebih jauh sama Kalani. Dia itu sempurna buat kamu. Keluarga Kalani juga keluarga baik-baik. Mama nggak mau ya kamu nolak." Bhumi menghela nafas pasrah. Mau beralasan apapun, Lina dan Dara pasti akan tetap memaksanya. *** "Tapi ganteng, kan?" "Ganteng sih ganteng." "Terus? Berarti bisa dong kamu coba PDKT sama dia." Kalani memautar bola matanya malas. Dia bangkit dari sofa dan berniat masuk ke kamar. "Eh mau ke mana? Mama kan belum selesai ngomong," protes Cici. Cici menahan tangan Kalani dan memaksanya untuk duduk kembali di sofa. "Mama tuh nyebelin. Ngapain sih tiba-tiba ngenalin aku ke Bhumi? Mana tadi pakai acara ditinggal berdua doang." "Bagus, itu. Berarti kalian tadi udah saling ngobrol lagi. Lagian kalian juga udah kenal karena kerjaan. Ngobrol lagi apa salahnya, sih?" Kalani menatap mamanya dengan tatapan tidak percaya. "Ma, aku tuh tadi ngerasain kalau Bhumi juga nggak nyaman." "Itu perasaan kamu doang." "Lagi ngomongin apa, nih? Hendry, ayah Kalani datang dari arah tangga. Hendry duduk di samping istrinya. "Ngomongin anaknya Lina yang aku omongin kemarin, Mas. Anaknya ganteng banget, baik, lagi. Anak kamu aja tuh sok jual mahal." "Nggak usah ngarang, deh," gerutu Kalani. "Emang bener, kok. Anaknya Bhumi juga cantik dan sopan. Dia nggak ada tuh, lari-larian atau teriak-teriak. Pasti seneng kalau dia jadi cucu kita." "Mama!" potong Kalani dengan nada kesal. "Emang yang kamu nggak suka dari dia apa, Kal? Dia kurang ganteng di mata kamu?" "Bukan gitu, Pa. Aku tuh bisa nyari cowok sendiri, ngapain sih pakai acara dijodohin gini?" "Bisa emang, tapi keburu mama sama papa koid." "Mama ngomongnya jangan gitu, dong!" "Makanya kamu harusnya mau dikenalin sama Bhumi. Dia itu paket komplit, lho." "Emang ayam geprek paket komplit segala? Lagian dia duda lho, Ma." Hendry tertawa melihat ekspresi Kalani. "Justru karena dia duda papa setuju sama usulan mama buat ngenalin kalian berdua." "Kok gitu?" "Dia duda berarti kan pernah nikah sama perempuan lain. Dia pasti tahu cara manjain perempuan. Terus setahu papa Bhumi itu duda karena istrinya meninggal. Sampai empat tahun dia belum nikah lagi. Tanda-tanda pria setia itu, Kal." "Papa kenapa dukung mama, sih?" "Namanya juga suami istri, harus kompak, kan?" Cici menoleh ke belakang dan tersenyum pada suaminya. "Kalau pun Kalani setuju sama dia, Bhumi tuh belum tentu setuju." "Kamu jangan pesimis dulu." "Lho, kan tadi papa yang bilang kalau dia itu setia. Siapa tahu dia nggak berniat nikah lagi." "Siapa tahu juga kamu bisa bikin dia pengin nikah lagi." Kalani berdecak kesal. "Mama sama papa kenapa ngotot banget, sih?" Cici memegang tangan putrinya. "Kal, mama sama papa tuh cuma mau ngeliat kamu seneng. Kita berdua udah nggak muda lagi. Kita kita nggak punya banyak tenaga atau waktu buat terus jagain kamu. Mama sama papa mau ada orang yang bakal jagain kamu bahkan setelah kita nggak ada." "Kalani bisa jaga diri sendiri." "Kamu mau mama sama papa meninggal sebelum sempat ngeliat kamu nikah?" tambah Hendry dengan suara memelas. Kalani menghela nafas. Ada rasa sedih bersarang di hatinya. Jujur, itu adalah hal yang paling Kalani takuti. Dia takut jika kedua orang tuanya tidak punya banyak waktu sampai melihat dia berkeluarga. Itulah yang membuat Kalani dulu berencana menikah. "Kalau kamu sayang sama mama sama papa, kamu mau kenalan lebih lanjut sama Bhumi, kan?" "Kalani pikir-pikir dulu." Kalani bangkit dan berjalan menuju kamarnya. Kali ini Cici tidak menahan Kalani. "Anak kamu tuh," ucap Cici. "Kan bikinnya bareng, sayang." Cici mencubit pelan paha suaminya. Sementara kedua orang tuanya masih bercengkerama di ruang keluarga, Kalani di kamar tampak berbaring. Dia menatap ke langit-langit. Kalani tidak terlalu masalah jika mama dan papa menjodohkannya. Tapi melihat reaksi Bhumi tadi... Kalani menghela nafas saat mengingat momen di acara arisan. *** "Bhumi, Kalani, Mbak mau keluar sebentar, ya." "Mau ke mana, Mbak?" tanya Bhumi. "Itu... emmm...Ada bahan kue yang kurang." "Minta tolong bibi aja, lah." Kalani yang sedang memakaikan baju boneka milik Faya menoleh. Bhumi seperti tidak mau ditinggal oleh kakaknya. "Kalau bibi yang beli kadang suka salah. Daripada kerja dua kali, mending sekarang gue berangkat sendiri." Dara mengambil kunci mobilnya. "Faya sama Rena mau ikut?" Faya dan Rena yang semula sedang bermain dengan Kalani langsung berdiri. "Mau!" jawab Faya dan Rena kompak. "Gue anter, deh," tawar Bhumi. "Eh, nggak, nggak boleh!" Dara menahan Bhumi yang hendak mengambil kunci mobilnya. "Kasihan dong tamu kita sendirian." Dara menoleh ke Kalani. Yang ditoleh hanya tersenyum tipis. "Kamu sama Kalani tunggu di sini aja. Nanti kalau arisan kenapa-kenapa kalian bisa langsung bantu." "Arisan doang nggak akan kenapa-kenapa kalau ditinggal, Mbak." "Jangan sok tahu, kamu. Terakhir mama hampir bakar restoran pas arisan kemarin." "Kok bisa?" tanya Kalani penasaran. Cici belum pernah menceritakan ini sebelumya. "Iya, tante Lina numpahin lilin terus kain penutup mejanya kebakar. Makanya kalian di sini aja buat jaga-jaga." "Mbak," ucap Bhumi sedikit tidak terima. "Tante jadi nggak belanjanya?" "Mama ayo!" Dua anak perempuan yang masing-masing memakai gaun Elsa dan gaun Putri Fiona itu menunggu tidak sabaran ke pintu menuju garasi. "Tuh, kasihan Faya sama Rena. Aku tinggal dulu ya, kalian ngobrol-ngobrol apa gitu." Dara berjalan menyusul Faya dan Rena. "Jangan ditinggal tamunya," pesan Dara sebelum tubuhnya menghilang di balik dinding. Kalani yang duduk di sofa ruang keluarga dapat mendengar suara mobil yang perlahan menjauh. Begitu mobil Dara tidak terdengar lagi, suasana jadi canggung. Ruang keluarga terasa sunyi. Hanya ada sayup-sayup suara ibu-ibu yang sedang berarisan ria di taman. Bhumi menghela nafas. Dia akhirnya duduk di sofa yang sama dengan Kalani, namun saling berjauhan. "Faya bilang dia punya kakak, ya?" Bhumi menoleh ke Kalani. "Iya, perempuan." "Umur berapa?" "Tiga belas tahun." "Jauh juga jaraknya sama Faya." Bhumi hanya tersenyum tipis. Keadaan kembali hening. Bhumi sekarang malah sibuk dengan ponselnya, membuat Kalani bingung ingin berbicara lagi atau tidak. Dia takut mengganggu Bhumi. Kalani tidak tahu saja jika yang dilakukan Bhumi sekarang hanya membolak-balik layar utama, membuka aplikasi random, kembali, lalu mengulanginya. "Desain rest areanya gimana?" tanya Bhumi akhirnya. Dia tidak tega juga membiarkan tamunya dianggurkan. Kalani mengangguk. "Lancar, Pak. Kemarin kita udah revisi sesuai sama keputusan rapat kemarin." Bhumi mengangguk. "Tapi besok-besok bukan saya yang ngurus rest area. Kemarin saya cuma gantiin rekan kerja saya." Kalani ber-oh pelan. Untuk kesekian kalinya, suasana di ruang keluarga ini kembali hening seperti kuburan. Kalani sesekali menoleh ke belakang saat mendengar tawa keras dari para ibu yang sedang arisan. "Kak Dara belanjanya jauh, ya?" "Kamu tahu?" "Gimana?" Kalani menaikkan satu alisnya." "Kamu tahu kalau kita bakal ketemu di sini?" Kalani menoleh. "Mama maksa saya buat dateng ke sini. Katanya cuma mau ngenalin saya ke teman-temannya. Saya nggak tahu kalau tante Lina mamanya Pak Bhumi." Bhumi mengangguk paham. "Tapi kamu paham, kan?" "Paham soal?" "Ya kenapa kamu dipaksa ke sini kayak saya." Kalani mengerjap bingung. Beberapa detik kemudian, Kalani langsung menangkap maksud Bhumi. "Mereka sengaja mau bikin kita ketemu?" "Exactly." "Tapi kenapa? Mama saya kayaknya nggak tahu kalau saya sama Pak Bhumi sempat ketemu di kantor." "Saya tebak kamu belum punya pasangan sekarang." Kalani terdiam, lalu mengangguk pelan. "Kita mau dijodohin, ya?" "Dikenalin," ralat Bhumi. "Jangan bilang dijodohin, soalnya..." Bhumi tidak melanjutkan kalimatnya. Kalani menatap Bhumi, menunggu apa yang akan dikatakan pria itu. "Terus terang saja, saya nggak berniat untuk cari pasangan. Jadi jangan bilang dijodohin, karena saya nggak mau. Bilang aja kita dikenalin. Setelah ini, anggap kita emang nggak cocok dan nggak perlu mencoba lebih jauh lagi." Kalani menelan ludah. Dia ditolak mentah-mentah. "Maaf kalau kamu tersinggung, tapi saya ngomong gini biar nggak ada salah paham ke depannya. Kamu masih muda dan pasti bisa cari pria lain di luar sana. Sebaiknya kita sama-sama tahu dari awal kalau kita nggak akan lebih jauh. Dengan begitu, mama saya dan mama kamu nggak akan maksa lagi." *** "Cari pria lain, ya?" Kalani bergumam. Dia kemudian menghela nafas panjang. Memangnya mencari pria semudah mencari ikan di empang?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD