Semesta Ketiga

2233 Words
Siang ini, Kalani tengah duduk di sebuah restoran. Jemari Kalani saling bertaut. Sesekali, Kalani memainkan kuku dengan gelisah. Berkali-kali Kalani mengecek ponselnya. Terhitung hampir satu setengah jam Kalani menunggu. Apa dia pulang saja? "Kalani." Sebuah suara dari arah belakang membuat Kalani berdiri. Tampak di mata Kalani sosok yang membuatnya gelisah. Kalani tersenyum, lalu mempersilahkan Bhumi untuk duduk. "Kamu udah nunggu lama, ya?" Kalani menggeleng pelan. "Nggak, kok. Tadi aku datangnya juga telat," ucap Kalani berbohong. Kalani bahkan datang setengah jam lebih awal dari waktu yang diberikan ibunya. Cici meminta Kalani untuk makan siang bersama dengan Bhumi. Kalani menurut. Dia berangkat ke tempat dan waktu sesuai arahan Cici. Tapi ternyata Bhumi malah terlambat. Padahal perut Kalani masih kosong dan ini sudah lewat dari jam makan siang. Bhumi agaknya tahu jika Kalani berbohong. Gelas Kalani tampak berair, sementara tidak ada sebongkah es pun di dalamnya. Mungkin Kalani menunggu hingga seluruh es di sana mencair. "Tadi ada masalah sedikit di kantor." "Iya, nggak apa-apa, kok." Bhumi kemudian memanggil seorang pelayan. Dia mulai memesan makanan, begitu juga dengan Kalani. "Newdee gimana?" tanya Bhumi basa-basi. Dia tidak tahu harus membicarakan apa selain masalah pekerjaan. "Baik, kok. Kemarin juga kita baru ada collab sama salah satu brand semen." Bhumi menganggukkan kepalanya. "Faya nggak ikut?" kini giliran Kalani yang bertanya. "Nggak, besok Faya harus sekolah." "Terus dia ditinggal di rumah sendiri, dong?" "Sama kakaknya." "Emang nggak apa-apa?"Bola mata Bhumi melirik Kalani sedikit tidak nyaman. "Nggak apa-apa, mereka udah biasa di rumah berdua." "Aku kira dibawa ke rumah Tante Lina." "Kejauhan. Bakal ngehabisin banyak waktu buat aku nganter mereka ke sana. Di rumah juga udah ada satpam, kok." "Oh, ada satpam." Obrolan Bhumi dan Kalani terpotong karena beberapa pesanan mereka datang. "Maaf, ya," ucap Kalani pelan. Bhumi mengerutkan dahi mendengar permintaan maaf Kalani. "Maaf karena apa?" "Kayaknya kamu lagi sibuk. Maaf kalau harus buang-buang waktu buat ketemu saya. Tadi saya udah nolak, tapi mama saya maksa." Bhumi langsung merasa tidak enak. Dia melambaikan tangannya di udara. "Nggak, kok, saya nggak ngerasa buang-buang waktu." Kalani tersenyum miring. Dari bagaimana Bhumi datang terlambat dan tampak tidak nyaman saja Kalani tahu jika Bhumi terpaksa datang ke sini. "Kamu pesan apa?" "Carbonara," jawab Kalani. Sembari menunggu carbonara miliknya, Kalani memakan onion ring yang telah datang. Bhumi sekarang bingung. Mengingat perkataan Kalani membuat dia merasa tidak enak jika bersikap acuh pada Kalani. Lagi pula perempuan di depannya ini tidak salah apapun. Dia juga ke sini karena paksaan mamanya, persis seperti Bhumi. "Kamu mau?" Bhumi mendorong piring berisi udang goreng tepung yang ia makan sebagai camilan. Siapa tahu Kalani ingin memakannya. Kalani menggeleng. "Saya alergi." "Oh, maaf, saya nggak tahu." Bhumi menarik lagi udang goreng tepungnya. "Nggak apa-apa, kamu juga nggak tahu, kok." Pelayan kembali menyela Bhumi dan Kalani. Kini dia membawa makanan lain yang mereka pesan. "Kamu ke sini bawa mobil?" "Nggak, saya naik taksi. Tempatnya nggak terlalu jauh dari kantor saya, jadi daripada ribet ngeluarin mobil, mending saya naik taksi aja." Bhumi tidak langsung menanggapi. Dia tengah memakan sesuap pasta udang yang ia pesan. "Kayaknya kita bakal susah kabur gitu aja," ucap Bhumi. "Kabur?" "Mama sama Mbak Dara terus maksa saya buat ketemu sama kamu." "Kayaknya mama saya juga," timpal Kalani. "Mungkin besok lusa kita bakal dipaksa ketemuan lagi. Jadi, walaupun kita bakal nolak, paling nggak kita bisa temenan, kan?" Kalani tersenyum, lalu mengangguk. "Boleh," ucap Kalani. "Kalau gitu saya boleh bilang aku aja, kan? Jadi aku-kamu." "Oke," ujar Bhumi menyetujui. "Tapi saya suka tahu sama Fa... aw!" Kalani mengaduh ketika sesuatu yang dingin terasa di kulitnya. Seorang pelayan yang tidak sengaja menumpahkan air ke Kalani langsung terlihat panik. Dia menunduk berkali-kali pada Kalani. "Maaf, Bu, maaf," ucap pelayan itu takut-takut. Tadi dia salah nomor meja. Saat berbalik, dia malah menginjak tali sepatunya sendiri dan oleng hingga minuman yang ia bawa mengenai Kalani. "Nggak apa-apa, Mbak." Dibantu Bhumi, Kalani mengambil banyak lembaran tisu dan mengelap bajunya. Baju kalani yang berwarna putih kini berubah menjadi merah. Dari baunya, Kalani menduga jika ini adalah jus semangka. "Kamu nggak yakin nggak apa-apa, Kal?" "Aku ke kamar mandi dulu, ya?" "Mau aku temenin?" "Hah? Nggak usah, aku bisa sendiri." Kalani kemudian pergi untuk mencari kamar mandi. Bhumi duduk kembali di tempatnya. Sembari menunggu Kalani, Bhumi membantu pelayan tadi. Bhumi menyingkirkan piring dan gelas agar si pelayan bisa lebih mudah menyingkirkan air yang juga tumpah ke meja. "Maaf, Pak, nanti makanan dan minumannya kami ganti," ucap pelayan lain yang tampaknya memiliki jabatan lebih tinggi. Bhumi hanya merespons dengan senyuman. Sementara itu, Kalani akhirnya menemukan toilet. Dia sedikit kesal karena blus ini baru dibeli dua hari yang lalu saat ia bosan dan jadi impulsif. Tapi mau bagaimana lagi? Toh pelayan tadi juga tidak sengaja. Hanya tinggal beberapa meter lagi Kalani sampai di kamar mandi yang berada di belakang mushala kecil ini. Akan tetapi, Kalani malah menghentikan langkahnya. Tubuh Kalani membeku dan jantungnya berdegup kencang. Apa yang baru dilihatnya membuat Kalani gemetar selama beberapa saat. Sontak, Kalani langsung berjalan cepat kembali ke mejanya. Bhumi yang melihat Kalani telah kembali mengernyit heran. Cepat sekali? Sepertinya Kalani tidak jadi membersihkan bajunya. "Udah selesai?" "Saya mau pulang," potong Kalani. Kalani memasukkan ponsel ke dalam tas. Dia mengeluarkan beberapa lembar uang dan menaruhnya di meja. "Maaf, Bhumi, saya mau pulang dulu." Bhumi yang melihat Kalani bagai dikejar setan tentu kebingungan. Dia hendak bertanya, namun Kalani telanjur peegi keluar dari restoran. Bhumi menyambar ponsel dan setengah berlari menyusul Kalani. Itu dia! Bhumi menghela nafas lega saat menemukan Kalani masih berada di pinggir jalan. Tampaknya dia sedang mencari taksi. "Kamu kenapa, Kal?" Bhumi memegang tangan Kalani. Saat Kalani berbalik, Bhumi dapat melihat mata perempuan itu berkaca-kaca. "Maaf, tapi saya mau pulang aja." Tangan Kalani bergerak untuk melepaskan pegangan Bhumi. "Tapi kenapa?" "Nggak kenapa-kenapa, saya cuma mau pulang," jawab Kalani dengan suara sedikit bergetar. Bhumi memijit alisnya pelan, pertanda sedang berpikir. "Saya antar pulang aja, ya." "Nggak usah..." "Saya antar pulang, Kalani." Kalani menatap Bhumi. d**a Kalani naik turun karena berusaha keras menahan tangis. Mengingat akan lama untuk mencari taksi, Kalani akhirnya mengiyakan tawaran Bhumi. Sepanjang perjalanan, mereka berdua hening. Hanya sesekali Kalani berbicara untuk menunjukkan arah. Baju Kalani yang ternoda membuatnya tidak mungkin kembali ke kantor. Jadi, Bhumi mengantarnya pulang ke rumah. "Makasih, ya." Kalani mengangguk pada Bhumi sebelum berlari menuju rumah. Saat Kalani masuk, saat itu juga Cici tengah keluar. Dia hendak menahan Kalani, namun gagal. Cici lalu berjalan mendekati Bhumi. "Nak Bhumi," sapa Cici. "Tante" Bhumi menyalami tangan Cici. "Gimana makan siang kalian? Itu kenapa Kalani lari kayak gitu?" "Saya juga kurang tahu, tante. Tadi Kalani ketumpahan jus, terus pamit ke kamar mandi. Belum ada semenit dia langsung balik terus minta pulang." "Oh gitu, nggak sopan banget Kalani. Maaf, ya." "Nggak apa-apa kok, Tante. Malah saya minta tolong tante ngomong sama Kalani, takutnya ada apa-apa." Cici tersenyum. "Iya, habis ini tante tanyain." "Kalau gitu saya pamit, ya." "Nggak mampir dulu?" "Nggak, Tante, permisi." "Salam buat Faya, ya." "Iya, Tante." Cici menunggu sampai mobil Bhumi menghilang dari pandangan. Baru setelahnya Cici masuk ke dalam rumah. Dia akan memarahi Kalani atas kelakuannya tadi. "Kalani! Kamu kenapa nggak sopan gitu, sih?" bentak Cici begitu memasuki kamar Kalani. Melihat Kalani yang hanya terdiam di ranjang, Cici mendekat. Dilihatnya Kalani telah berurai air mata. Dia memainkan kuku gelisah. Salah satu kuku palsunya bahkan sampai lepas. "Kamu kenapa, Sayang?" Cici duduk di sebelah Kalani. Dia mengelus rambut putri bungsunya pelan. "Aku ketemu dia, Ma." "Dia?" "Aku nggak sengaja ngeliat dia di restoran tadi. Rasanya aku pengin muntah." Dahi Cici berkerut. "Yudha?" Kalani mengangguk pelan. Cici langsung merengkuh tubuh Kalani. "Kok bisa? Bukannya dia udah lama pergi?" "Nggak tahu, Ma." "Ya udah nggak usah diinget-inget." Cici memeluk Kalani erat. "Sayangnya mama." *** Bhumi membuka pintu rumahnya. Hari ini dia pulang tidak selarut biasanya. Bhumi menebak jika di dalam rumah ada Arum, terlihat dari sebuah high heels yang ada di almari sepatu dekat pintu. Benar saja. Bhumi menemukan sosok Arum sedang membaca majalah di sofa ruang tamu. Begitu melihat Bhumi, Arum segera meletakkan majalah yang ia bawa. Arum berdiri dan tersenyum pada Bhumi. "Mau aku bantuin?" Arum mengulurkan tangan. Niatnya, dia ingin membantu Bhumi membawa tas kerjanya. Sayangnya, Bhumi menolak. Laki-laki itu membawa tasnya ke sisi lain tubuh hingga tidak dapat diambil Arum. "Kamu udah makan malam? Tadi aku pakai dapur kamu, aku masak..." "Faya!" panggil Bhumi. Dia tidak sabar bertemu bidadari kecilnya. "Ayaaaah!" Terdengar suara langkah kecil yang berlari cepat. Faya dengan tergesa menghampiri ayahnya. "Nggak usah lari, sayang." Bhumi merentangkan tangan, lalu menangkap Faya dan membawanya ke dalam gendongan. "Ayah udah pulang? Kok cepet? Biasanya ayah pulang kalau Faya udah tidur." Dada Bhumi sedikit perih mendengar ucapan Faya. Memangnya sejarang itu Bhumi pulang awal? "Iya, dong, kan ayah kangen Faya." Bhumi mengecup pipi Faya. "Anak ayah udah mandi belum, nih?" "Udah, ayah!" "Udah? Sini cium lagi." Bhumi mencium pipi, dagu, dan ketiak Faya hingga gadis cilik itu tertawa kegelian. "Tadi aku mau nyiapin kamu air panas buat mandi, tapi kamar kamu dikunci." Bhumi menoleh ke Arum, lalu tersenyum. "Nggak usah repot-repot. Aku bisa pakai water heater sendiri," ucap Bhumi. Dengan Faya yang masih ia gendong, Bhumi berjalan ke dalam rumah. Arum tanpa basa-basi mengekor Bhumi. Saat sampai di dapur, Arum sengaja berjalan mendahului Bhumi. Arum pergi ke meja makan. "Aku tadi juga bikinin kamu kue. Sayang oven di sini nggak pernah dipakai" Arum membuka tudung saji. Dia tersenyum bangga memperlihatkan kuenya. Bhumi mengernyit. "Mana kuenya?" Arum menunduk. Tatakan lingkaran dari kaca yang tadi berisi kue chiffon kini telah sempurna kosong. Sama halnya dengan Bhumi, Kalani juga kebingungan. Tadi dia yakin menaruh sisa kue untuk Bhumi di sini. Arum melirik ke Faya. Faya yang langsung menoleh membuat Arum curiga. "Faya, kamu makan kuenya?" Faya menggerakkan bibirnya seolah tidak mendengar pertanyaan Arum. "Faya, tante lagi nanya sama kamu. Jangan pura-pura nggak denger, deh." Faya mengerucutkan bibir. "Tante gimana, sih? Faya kan makan karena enak. Kan harusnya tante seneng soalnya kuenya habis." "Tapi kan yang ini buat ayah kamu, Fay." "Udah nggak apa-apa," ujar Bhumi melerai Arum dan Faya. "Ck! Kamu, nih," kesal Arum pada Faya. "Maaf, ya, Mas." Bhumi mengangguk pelan. "Nggak apa-apa, kok." Bhumi menggelitik leher Faya. Faya memang "Kakak mana, Fay?" "Itu kakak!" Faya menunjuk Alika yang baru keluar dari kamar. "Ayah tumben pulang cepat." Alika menyalami tangan Bhumi. "Iya, tadi ayah habis rapat udah nggak ada kerjaan lagi, jadi langsung pulang." "Emm, gimana kalau Mas Bhumi mandi dulu? Terus habis itu kita makan malam bareng." "Iya, Yah. Hari ini Tante Arum masak semur daging, lho. Pasti enak." Arum tersenyum karena mendapat pujian dari Alika. "Arum, apa nggak sebaiknya kamu pulang aja?" Telunjuk Bhumi terangkat untuk menggaruk ujung alisnya. "Kok pulang? Aku kan mau makan malam di sini sekalian." "Kayaknya kalau kamu di sini sampai makan malam bakal kemaleman." "Nggak apa-apa, kok. Aku nggak masalah pulang agak malam." "Bukan gitu. Tapi gimana pun juga kita kan orang asing? Nggak enak sama tetangga." "Orang asing?" Arum menghela nafas. "Mas, aku ini adiknya Mbak Desita. Mbak Desita titip kalian ke aku. Aku di sini karena keponakan-keponakan aku juga. Orang asing dari mananya, sih?" "Lagian kan Tante Arum di sini buat jagain aku sama Faya, masa makan malam aja nggak boleh." "Kalau gitu biar Onti Inggid aja yang jagain." Semua menoleh ke asal suara. Inggid dengan dandanan super modis memasuki dapur. Bhumi akhirnya bernafas lega karena kehadiran Inggid. Dia benar-benar tidak nyaman dengan Arum. "Udah ada aku di sini, jadi Arum bisa pulang." Arum menatap Inggid dengan tatapan kesal. "Kenapa, Rum? Hari ini aku mau nginep, jadi kamu nggak usah repot-repot." Inggid membalas tatapan Arum dengan tatapan tajam. "Atau kamu takut pulang sendiri? Mau dianter sama supirku aja?" Dari dulu, Inggid dan Dara tidak pernah menyukai Arum. Kepada Desita sih mereka suka, tapi tidak pada adiknya itu. Inggid dan Dara merasa bahwa Arum kecentilan dan sering caper pada Bhumi. Beberapa kali mereka mendapati Arum tengah menatap Bhumi dengan tatapan tak biasa. Padahal, status Bhumi adalah kakak iparnya. "Nggak usah, aku bisa pulang sendiri," ucap Arum sebelum bersiap untuk pergi. Dia sebenarnya merasa kesal mendapat usiran halus seperti tadi. "Onti Inggid beneran mau nginep sini?" tanya Alika setelah Bhumi naik ke atas untuk mandi. "Beneran, dong. Nih, dedek bayi mau dekat-dekat kalian terus." Inggid mengelus perutnya yang membuncit. fit dress yang ia kenakan membuat perut itu semakin terlihat. "Onti! Faya mau elus dedek bayi boleh?" "Oh boleh, dong." Dara mendekat ke Faya. Tangan mungil Faya Dara letakkan ke bagian perut yang tegang akibat pergerakan si jabang bayi. "Kerasa nggak?" "Kerasa, Onti!" seru Faya antusias. Karena penasaran, Alika ikut menyentuh perut tantenya. "Nggak sakit?" "Sakit, sih. Kadang kalau dedek lagi nendang keras gitu sakit banget. Sakitnya bisa sampai ke jantung." Inggid meringis mengingat dadanya yang sesak saat janinnya bergerak heboh. "Tapi ya itu lebih baik daripada dedeknya nggak gerak-gerak, kan?" Bhumi yang baru menuruni tangga tersenyum melihat apa yang sedang dilakukan Inggid, Faya, dan Alika. Dia jadi sedikit teringat momen-momen ketika Desita hamil dulu. "Lagi pada ngapain, nih?" tanya Bhumi. Bhumi menarik salah satu kursi makan dan mendudukinya. "Yah, perut Onti jelas banget karena dedek bayi." "Oh ya?" Tangan Bhumi menyendok nasi dan semur. Gerakan Bhumi itu diikuti oleh yang lainnya. "Faya nggak berdoa?" tanya Bhuni yang melihat Faya memakan semur. "Udah ayah, berdoanya dalam hati." "Tadi makan siangnya gimana, Bhum?" Bhumi melirik panik ke Inggid. Inggid terdiam, lalu teringat jika di meja makan ada Alika dan Faya. Bisa-bisanya Inggid tidak mengindahkan permintaan Bhumi untuk tidak membicarakan apapun soal perjodohan di depan anak-anak. "Makan siang apa, Yah?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD